Pura-pura Cupu

Pura-pura Cupu
Part~18


__ADS_3

Part~18


Mendengar perkataan lqbal, Bella


merasa tak enak dan kemudian


membuka matanya kemudian


menjelaskan bukan itulah


alasannya.


"Iqbal, aku tidak pernah berpikir


seperti itu. Maafkan aku," ucap


Bella.


"Tidak apa-apa, jawab lqbal


langsung memeluk Bella dengan


erat.


Bella terkejut ketika lqbal


memeluknya sambil berkata,


"Maafkan aku! Aku benar-benar


minta maaf, dan terimakasih


sudah sadar. Aku tidak tahu harus


melakukan apa jika kamu tidak


sadarkan diri. Maafkan aku," lirih


lqbal dengan menitikkan air mata.


Bella melihat bagaimana


lembutnya hati lqbal yang tampak


sekali ia tak bisa menyakiti


seseorang membuat Bella semakin


yakin jika lqbal mungkin tak ada


hubungan dengan kematian Billa.


Ketika momen itu berlangsung dari

__ADS_1


luar ruangan bayangan seseorang


terlihat, kemudian memecahkan


jendela dengan batu yang


tertempel surat disana.


Seketika bunyi kaca pecah


itu membuat lqbal dan Bella


terkejut. Bella tampak ketakutan


melihat apa yang sedang terjadi,


sedangkan lqbal mengambil batu


dan surat itu.


"Apa ini? Surat?" tanya lqbal.


"Surat apa?" tanya Bella.


"Disini tertulis .."


Jangan terus ikut campur dalam


sekolah! Jika kau masih saja


ikut campur, seseorang akan


melakukan hal yang sama seperti


yang di lakukan kepada Billa.


Untuk: Bella.]


lqbal dan Bella sama-sama terkejut


mendengar isi dari surat ancaman


itu.


Pura-pura Cupu


#Part9 [Penyamaran terbongkar]


***


Iqbal tanpa berpikir panjang lagi langsung keluar dari ruangan itu dan berharap dapat menemukan siapa orang dibalik surat ancaman yang di tujukan kepada Bella itu.


Bella menunggu di ruangan itu dengan harap-harap cemas. Di satu sisi ia mengkhawatirkan rencananya, di sisi lain ia memikirkan Iqbal yang tanpa berpikir panjang mengejar orang yang melemparkan batu itu.

__ADS_1


“Siapa yang mengirimkan aku surat itu? Kathryn? David? Atau … ada orang lain yang tidak aku ketahui?” Bella terdiam, kemudian teringat akan sesuatu. “Mungkinkah ini perbuatan Iqbal?” Bella hanya bisa terdiam sesaat memikirkan bagaimana bisa ia melupakan Iqbal yang merupakan orang yang berkuasa di antara semua pelaku bully di sekolah.


“Apa ini benar-benar perbuatan Iqbal? Dan, apakah dengan pura-pura mengerjar orang itu Iqbal ingin membuat aku percaya jika dia bisa aku percaya? Apa tujuan dari semua ini? Kurasa saat ini aku salah mengambil jalan. Aku salah memilih mengikuti Iqbal, seharusnya aku melawannya bukannya malah berjalan bersama dengannya.” Bella bangun dari tempat tidurnya dan kemudian berjalan keluar dari ruangan tersebut dengan langkah terbirit-birit.


Bella berjalan dengan langkah kecilnya sambil berusaha menahan rasa sakit di kepalanya, kemudian dari kejauhan Bella tak segaja melihat Pak Bima yang sibuk membantu orang-orang tua di rumah sakit tersebut.


Bella berjalan menghampiri Pak Bima dan meminta tolong sesuatu kepadanya.


“Permisi Pak,” panggil Bella.


“Eh, Bella? Kenapa kamu disini? Ada apa?” tanya Pak Bima.


“Saya ingin minta tolong,” jawab Bella.


“Minta tolong apa? Apa yang bisa Bapak bantu, katakan saja!”


“Saya mau keluar dari rumah sakit ini sesegera mungkin,” ungkap Bella.


“Kenapa?”


“Saya takut.”


“Takut dengan apa? Apa David menganggu kamu lagi?”


“Entahlah Pak, tapi seseorang melempar batu ke ruangan Saya dengan surat ancaman sekaligus. Saya takut, jadi Saya ingin keluar dari sini sekarang juga. Bisa Bapak tolong Saya?”


“Oh … begitu? Baiklah, kamu tunggu disini Bapak akan uruskan segala sesuatunya. Oke.”


Bella menggangguk kecil.


***


Di tempat lain Iqbal terus berlari mengejar orang yang sudah memberikan surat ancaman kepada Bella, dan akhirnya dengan susah payah Iqbal berhasil mendapatkan orang tersebut.


Tetapi wajah Iqbal tampak terkejut melihat wajah orang tersebut, dan itulah bukanlah wajah yang asing bagi Iqbal.


“Loe ...?”


“Gue mohon jaga Bella baik-baik,” pintanya.


“Hah? Maksud loe?” tanya Iqbal.


“Saat ini tanpa sadar Bella masuk ke dalam dunia di mana nyawanya bisa saja direnggut darinya. Tolong ingatkan dia untuk tidak terlalu ingin tahu tentang kasus kematian Billa. Aku tidak bermaksud membuatnya takut, tetapi aku hanya mengkhawatirkan dia saja,” jelasnya.


“Baiklah. Sekarang loe boleh pergi,” ujar Iqbal dengan mudah melepaskan pemuda itu.


Pemuda itu kemudian berlari pergi menjauh meninggalkan rasa penasaran di hati Iqbal.


“Bella … siapa loe sebenarnya? Apa hubungan loe dengan Billa? Teka teki apa ini? Gue harus cari tahu apa yang sebenarnya terjadi di sini!”


bersambung...


jangan lupa vote like and coment nya,😊🤗

__ADS_1


__ADS_2