Pura-pura Cupu

Pura-pura Cupu
Part~35


__ADS_3

Part~35


***


Iqbal pergi meninggalkan rumah sakit dalam kaadaan kesal dan marah. Awalnya Iqbal datang untuk memberikan kabar baik ini kepada Nathan, kemudia memberitahu kepada Bella juga.


Tetapi saat melihat kejadian tadi Iqbal membatalkan niatnya dan kemudian pergi begitu saja tanpa mengatakan apa pun, atau bahkan menyapa Bella.


Nathan dan Bella yang tidak menyadari akan kehadiran Iqbal pun tidak tahu jika Iqbal kini tlah pergi dalam kaadaan marah, serta kesal.


“Emm, Bella. Sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku tanyakan,” ucap Nathan.


“Bertanya apa?”


“Bukankah kamu sedang di interogasi? Lalu bagaimana kamu bisa ada disini?”


“Oh itu? Ayahku menjamin diriku, dan aku bebas bersyarat. Setelah aku bebas, aku langsung kesini untuk melihat bagaimana kondisi David. Sekarang aku sudah tahu, jadi aku akan kembali sekarang.”


“Kamu mau kemana?”


“Untuk saat ini aku akan kembali ke rumah Ibuku. Aku sudah lama berbohong kepada Ibu dengan mengatakan banyak kebohongan, jadi kali ini aku akan pulang supaya Ibu tidak mengkhawatirkan kaadaan aku.”


“Kalau begitu, aku akan mengantarkan kamu.”


“Lalu bagaimana dengan David? Apa dia akan baik-baik saja sendiri?”


“Disini banyak suster, jadi tidak ada terjadi sesuatu hal buruk kepadanya. Mereka pasti akan menjaga David dengan baik. Kalau begitu, ayo aku akan antar kamu pulang.”


“Baiklah. Sebelum itu, maaf aku merepotkan kamu.”


“Tidak merepotkan sama sekali.”


Nathan mengantarkan Bella pulang dengan menggunakan motor. Disepanjang jalan Bella terus memikirkan bagaimana caranya ia bisa mengungkapkan semua masalah ini dalam jangka waktu satu bulan.


Bella terus berpikir di sepanjang perjalanan sampai ia tak sadar jika mereka sudah sampai ke rumah Bu Rani.


“Bella, kita sudah sampai.” Nathan membangunkan Bella dari lamunan.


“Hah?” Bella terkejut. “Kita sudah sampai?” Bella melihat sekeliling, dan benar saja jika mereka sudah sampai.


Bella kemudian turun dari motor Nathan, kemudian mengucapkan terimakasih kepada Nathan atas bantuannya.


“Terimakasih, Nathan. Dan, maaf membuat kamu repot.”


“Santai aja kali. Nggak ngerepotin kok. Emmm, kalau begitu aku langsung pulang aja ya. Udah malam juga,” ucap Nathan.


“Nggak mau mampir dulu? Minum kopi, atau teh gitu?” tanya Bella.


“Emang ada kopi sama teh 'nya?”


“Nggak ada. Paling cuman ada air putih,” sahut Bella sambil tertawa kecil.


“Kalau begitu tidak perlu. Aku harus pulang sekarang. Aku akan mampir lain kali,” ujar Nathan.


“Baiklah. Kalau begitu hati-hati di jalan, utamakan keselamatan bukan kecepatan. Semoga selamat sampai tujuan,” ucap Bella.


“Entah kenapa dialog itu terdengar tak asing. Bukannya itu dialog pemeran Mawar di sinetron preman pensiun?”


“Benar.”

__ADS_1


“Hmm, baiklah. Kalau begitu sampai jumpa.” Nathan melambaikan tangannya kemudian pergi dengan motornya.


Setelah Nathan pergi dengan langkah kecil Bella pun masuk ke dalam rumah dan berharap agar ia tak membangunkan Ibunya dari tidurnya, tetapi tiba-tiba tamparan keras mendarat di wajah Bella.


Tamparan itu tidak lain di layangkan oleh Bu Rani yang kesal dengan Bella.


“Kamu dari mana saja? Kamu bilang ke Ibu kamu cuman temani dia sebentar saja? Ini sudah berapa hari? Apa kamu mau buat Ibu mati karena mengkhawatirkan kamu?” tanya Bu Rani.


“Nggak Bu.” Air mata langsung jatuh dari wajah Bella. “Aku nggak bermaksud buat Ibu cemas ….”


“Bermaksud atau tidak, tapi yang jelas kamu hampir membuat Ibu kehilangan akal karena terus memikirkan kamu. Dan, kenapa wajahnya ada bekas luka? Kamu kenapa? Dan ini juga bibirmu. Ada apa ini Bella? Apa seseorang memukuli kamu?” tanya Bu Rani.


Dengan cepat Bella menggelak akan hal itu. “Tidak! Itu tidak mungkin Bu. Nggak ada orang yang mukul Bella. Dan soal bekas luka ini, ini bekas luka lama. Kemarin nggak kelihatan sama Ibu karena Bella pakai make up, tapi sekarang kan Bella lagi nggak pake. Jadi beginilah jadinya,” jelas Bella.


“Benar? Kamu nggak lagi bohong 'kan sama Ibu?”


“Benar.”


“Baiklah kalau begitu. Apa kamu sudah makan?”


Bella menggeleng.


“Kalau begitu bersihkan dulu dirimu, lalu kita akan makan bersama.”


Dengan segera Bella menggangguk, kemudian sesegera mungkin membersihkan tubuhnya yang terasa sangat sakit. Rasa sakit itu tentu saja diakibatkan oleh semua hal yang terjadi beberapa hari terakhir.


Setelah selesai membersihkan tubuh Bella pun mengganti pakaiannya, dan kemudian duduk di depan meja makan dan menikmati makanan bersama dengan Bu Rani.


***


Sesampainya di depan rumah Nathan dikejutkan oleh kedatangan Iqbal yang sesungguhnya sudah menunggu dirinya sejak lama.


“Gue kesini cuman mau nanya beberapa hal sama loe.”


“Nanya soal apa?”


“Bagaimana perasaan loe ke Bella?”


“Hah?” Nathan terkejut mendengar pertanyaan itu. “Kenapa loe tiba-tiba nanya begitu?”


“Loe cuman perlu jawab aja! Apa susahnya coba? Gimana perasaan loe ke Bella?” tanya Iqbal sambil berteriak.


“Loe suka sama Bella?” tanya Nathan.


“Nggak,” jawab Iqbal.


“Yakin?”


“Iya.”


“Menurut loe bagaimana jadinya loe kalau nanti Bella bersama orang lain?”


Mendengar itu bola mata Iqbal membesar. “Gue nggak bisa! Gue nggak bisa terima itu!” tegas Iqbal.


“Jadi, loe suka sama dia?”


“Gue rasa iya.”


“Kalau begitu ungkapan. Sebelum semua terlambat.”

__ADS_1


“Ngomong itu gampang, tapi bertindak itu sulit. Loe tahu sendiri 'kan dendam apa yang Bella punya buat kita? Dia nggak mungkin mau terima gue.”


“Mungkin benar, tapi menurut yang gue liat Bella itu bukan tipe orang yang sulit untuk memaafkan. Kalau loe minta maaf dengan bersungguh-sungguh sama dia, mungkin dia bakal maafin loe dan juga besar kemungkinan kalau dia mau nerima loe.”


Mendengar saran dari Nathan, Iqbal pun sadar. “Benar juga dengan apa yang loe bilang. Tapi, loe belum jawab tuh soal pertanyaan gue. Gimana perasaan loe ke Bella?”


“Kalau untuk saat ini loe tanya gimana perasaan gue ke Bella, gue cuman bisa jawab kalau dia itu cuman sebatas sahabat bagi gue. Tapi, itu untuk saat ini. Kalau ke depannya gimana gue nggak tau.”


Mendengar jawaban Nathan itu Iqbal sontak merasa kesal sekaligus senang dengan kejujuran Nathan.


Kemudian setelah mengobrol beberapa saat bersama Nathan, Iqbal pun memutuskan untuk pergi bertemu dengan Bella.


Iqbal mengirimkan sebuah pesan kepada Bella jika ia ingin bertemu dengannya, dan saat ini Iqbal menunggu Bella di taman dekat rumah Bu Rani.


Bella yang membaca pesan itu sontak langsung berhenti makan dan bersiap-siap bertemu dengan Iqbal.


“Kamu mau kemana lagi?” tanya Bu Rani.


“Emmm … itu … aku, aku mau pergi ke warung depan sebentar,” jawab Bella berbohong kepada Bu Rani.


“Mau beli apa?”


“Ada barang yang lupa Bell beli.”


“Barang apa?”


“Emm, pembalut.”


“Pembalut? Tidak bisa belinya besok saja? Ini sudah larut malam.”


“Nggak bisa Bu. Pembalut aku sudah habis, jadi aku harus beli sekarang.”


“Tapi ini udah larut malam. Kamu mau Ibu temenin aja?”


“Nggak perlu Bu! Bella bisa sendiri. Lagian nggak ada juga yang bisa sentuh Bella. Ibu tenang aja disini, dan habisin makanan Ibu. Bella pergi dulu. Bye, Bu.” Bella langsung berlari pergi.


“Semoga saja tidak terjadi sesuatu yang buruk terjadi pada Bella.” Doa Bu Rani untuk keselamatan Bella.


***


Bella yang tidak ingin membuat Iqbal terlalu lama menunggu, akhirnya berlari dan berhasil sampai ke taman dengan tidak memakan banyak waktu.


Tetapi saat Bella tiba di taman tidak ada siapa pun disana, dan malahan di taman itu tampak sangat gelap.


Di kegelapan itu Bella berusaha mencari di mana keberadaan Iqbal, lalu tiba-tiba kaki Bella tak segaja menyentuh sebuah tali hingga tiba-tiba bunga mawar jatuh menghujani dirinya dan semua lampu di taman pun kembali bersinar dengan terang dan dengan berbagai warna.


Bella terpesona melihat betapa indahnya taman itu yang kini di penuhi dengan lampu berwarna-warni.


“Wah, indahnya ....”


Lalu tiba-tiba Iqbal datang dengan membawa setangkai bunga untuk Bella. Sambil berlutut di depan Bella, Iqbal mengungkapkan isi hatinya kepada Bella.


“Bella, aku menyukai kamu,” ungkap Iqbal.


“Apa?” Bella kaget.


“Iya. Mungkin ini tidak terdengar gila dan tidak mungkin, tapi aku suka pada kamu!”


***

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2