Pura-pura Cupu

Pura-pura Cupu
jangan sesumbar


__ADS_3

Happy Reading


Langit biru di hiasi awan putih bersih yang bergerak perlahan di atas langit menandakan betapa indahnya pemandangan di atas sana dan juga menandakan bahwa hari itu adalah hari yang sangat cerah. Matahari dengan beraninya menampakkan diri nya di atas sana. Angin berhembus meniup apa saja yang ada di sekitar nya. Deru ombak menari nari sangat cantik kemudian menggulung pasir di pesisir. Suara burung camar saling bersahutan, bernyanyi merdu.


Di bawah pohon kelapa dua pasangan anak manusia sedang duduk menikmati keindahan alam yang sangat cantik. Rok plisket Illona berkibar kibar karena tiupan angin. Mata mereka terus tertuju lurus ke depan melihat anak anak kecil yang sedang bermain pasir pantai. Ada yang membuat rumah pasir, ada yang membuat tumpukan pasir di atas tubuh seseorang, ada yang bermain bola, ada yang selfie, dan masih banyak lagi kegiatan yang orang orang lakukan.


" Cello " Panggil Illona tanpa memalingkan wajah nya dari pemandangan di depan nya


" Ya honey " Jawab Marcello sontak membuat Illona memalingkan wajah nya ke arah Marcello


" Ada apa? " Tanya Marcello polos


" Kau memanggil ku apa tadi? " Illona ingin memastikan jika ia tidak salah dengar


" Honey, kenapa? " Tanya Marcello merasa panggilan nya untuk Illona tidak salah


" Ah terserah pada mu mau memanggil dengan sebutan apa " Illona tertawa geli, ia merasa lucu dan geli mendengar Marcello memang mesra diri nya seperti itu


" Apa kau keberatan? " Tanya Marcello


" Tidak juga, kan sudah aku katakan terserah pada mu panggil apa " Illona tersenyum


Marcello tersenyum senang Illona menerima panggilan sayang nya. Ia sedikit tidak suka mengingat Evan dan Illona memiliki panggilan sayang. Jadi ia juga tidak mau kalah, ia harus memiliki panggilan sayang juga untuk Illona dan nanti ia akan meminta Illona juga memanggil nya sama seperti yang ia berikan pada Illona.


" Tadi kenapa kau memanggil ku? " Tanya Marcello lembut sambil menyelipkan anak rambut Illona yang tertiup angin ke telinga.


" Apa kau akan marah jika aku memiliki rahasia? " Tanya Illona sedikit ragu dengan pertanyaan nya


" Rahasia? Apa itu semacam kebohongan misalnya? " Tanya Marcello menyatukan ke dua alisnya


" Bu-buka seperti, ah entah lah " Seru Illona terbata dan ia bingung juga. Bisa di katakan itu juga seperti kebohongan, tapi lebih tepatnya sesuatu yang di tutupi maka dari itu Illona mengatakan jika itu suatu rahasia.

__ADS_1


" Apa itu? " Marcello penasaran ingin tahu


" Itu " Illona ragu " Nanti akan aku katakan, tapi kau harus berjanji tidak akan marah pada ku " Illona menunjukkan jari kelingking nya di depan wajah Marcello meminta Marcello untuk mengaitkan kelingking nya.


" Baik lah aku akan berjanji " Marcello mengaitkan jari kelingking nya pada jari kelingking Illona " Bisa kau katakan sekarang honey? " Tanya Marcello penuh harap


" Sebenarnya aku.. " Suara Illona terhenti karena melihat wajah Marcello yang berubah masam menatap lurus ke depan, ia pun mengikuti arah pandang Marcello


" Astaga sempit sekali dunia ini. Apa aku harus membawa mu ke bulan honey, agar tidak bertemu dengan mereka? " Terdengar suara frustasi dari Marcello


" Jika kau membawa ku ke bulan, nanti juga kita akan bertemu astronot di sana " Kekeh Illona menutup mulut nya


" Tidak masalah asal jangan bertemu dengan mereka saja, bisa gagal lagi kencan romantis kita " Keluh Marcello


" Bagaimana jika ternyata astronot nya mereka juga? " Goda Illona


Illona cekikikan mendengar Marcello dan ia melihat Marcello yang mengusap wajah nya dengan kasar. Wajah nya terlihat sangat frustasi. Illona kembali melihat ke depan, di sana ada seorang pria tampan yang tidak asing di mata nya sedang berjalan mendekati mereka dengan wajah tersenyum.


" Kenapa kau bisa ada di sini? Dengan siapa kau ke sini? " Tanya Marcello celingukan melihat sekeliling


" Bisa lah, apa kau lupa bangunan itu milik siapa? " Tunjuk pria itu pada bangunan hotel yang berdiri kokoh tak jauh dari mereka sontak Marcello dan Illona melihat ke arah telunjuk pria itu


" Astaga " Marcello menepuk jidatnya merasa bodoh kenapa ia bisa sampai lupa jika sahabat nya memiliki hotel di pantai ini dan besar kemungkinan mereka akan bertemu, seperti ini contoh nya. Marcello mendes@h pasrah.


" Apa itu hotel milik kak Tama? " Tanya Illona dan di angguki pria tampan yang ternyata Tama salah satu sahabat Marcello


" Iya, itu hotel miliki keluarga ku. Aku sudah dari kemarin berada di sini bersama kekasih ku " Seru nya tersenyum


" Ohh, terus kekasih kak Tama mana? " Tanya Illona ia melihat Tama hanya sendiri kemari


" Dia sudah pulang tadi pagi " Tama tersenyum melihat Marcello yang nampak memasang wajah masam

__ADS_1


" Kalian sedang kencan? Apa aku mengganggu kalian? " Tanya Tama basa basi padahal ia sangat jelas tahu jika Marcello dan Illona sedang menikmati waktu berdua seperti sepasang kekasih


" Tidak juga kak " Illona tak enak hati jika mengatakan 'iya'


" Honey, kau memanggil nya 'kak' tetapi memanggil ku dengan sebuah nama. Kau sungguh tak adil " Protes Marcello mendramatisir menggeleng kepala


" Hah? " Illona dan Tama saling pandang


" Kan kak Tama lebih tua dari ku. Sudah sewajarnya aku memanggil nya kakak kan? " Bela Illona melihat Marcello dan Tama


" Aku juga lebih tua dari mu, tapi kamu tidak memanggil ku seperti itu " Marcello masih protes


" Baik lah " Illona mengalah " Lalu aku harus memanggil mu apa? " Tanya nya


Marcello tersenyum puas, Illona terpancing dengan umpannya. Ia memang senang protes agar Illona mau merubah panggilan nya seperti yang ia mau.


" Kau bisa memanggil ku honey, sayang, beb apa saja yang penting terdengar manis " Marcello tersenyum


" Apakah Marcello yang aku kenal dining dan arogan dulu telah berubah atau memang dia seperti ini asli nya? " Illona menatap Tama mencari jawaban namun sayang ia tidak menemukan kunci jawaban dari wajah Tama, itu karena Tama juga sama seperti nya heran melihat tingkah Marcello.


" Baik lah nanti akan aku pikirkan akan memanggil mu dengan sebutan apa " Illona belum tahu harus memanggil apa


" Sepertinya kau sudah sangat mencintai Lona sekarang. Tidak seperti dulu saat pertama kali kalian bertemu. Dulu kau sangat tidak menyukai nya dan mengatakan jika kau tidak akan mau menjadi kan Lona sebagai kekasih mu walaupun itu hanya pura-pura saja " Cerocos Tama menginginkan perkataan Marcello dulu


" Sudah jangan kau ingat kan lagi yang dulu dulu " Putus Marcello, malu juga ia jika mengingat ke arogan nya dulu


" Makan nya jangan sesumbar " Kekeh Tama


bersambung....


❄❄❄

__ADS_1


minta like nya ya


__ADS_2