Pura-pura Cupu

Pura-pura Cupu
Part~27


__ADS_3

Part~27


***


Bella menelpon ambulans sesegera mungkin, dan tidak lupa juga ia menelpon polisi untuk menangkap para preman yang sudah membuat Iqbal kehilangan banyak darah.


Tak lama kemudian ambulans datang dan langsung membawa Iqbal ke rumah sakit. Dalam perjalanan ke rumah sakit Bella senantiasa menggenggam erat tangan Iqbal sambil terus berdoa.


“Kumohon, kumohon, kumohon, kumohon jangan ambil Iqbal. Kumohon, biarkan dia hidup. Kumohon, selamatkan dia. Kumohon, kumohon, kumohon …,” pinta Bella dalam doa'nya.


Setelah menempuh perjalanan yang sedikit memakan waktu akhirnya Bella pun sampai ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit Iqbal pun langsung dilarikan ke UGD untuk mendapatkan penanganan lebih dulu.


Tetapi Dokter datang kepada Bella dan mengatakan jika Iqbal harus mendapatkan penanganan lebih lanjut, dan oprasi pun harus dilakukan. Oleh sebab itu pihak rumah sakit membutuhkan tanda tangan dari wali Iqbal.


“Untuk melanjutkan penanganan itu, sebelumnya kami memerlukan izin dari wali pasien,” ungkap Dokter.


“Jadi, maksud Dokter, Dokter perlu tanda tangan dari orangtua Iqbal?” tanya Bella dengan panik.


“Iya, betul sekali. Jika kami belum mendapatkan persetujuan dari wali pasien, kami tak bisa melakukan apa pun jika belum mendapatkan izin,” jelas Dokter.


“Baiklah kalau begitu Saya akan segera dapatkan tanda tangan dari orangtua Iqbal.”


“Lebih cepat akan lebih baik bagi pasien.”


Bella hanya mengangguk kecil, kemudian mengeluarkan ponsel Iqbal yang ada dalam tasnya dan mencari dimana nomor telpon orangtuanya.


Setelah mencari-cari akhirnya Bella berhasil menemukan nomor telpon itu dan tanpa berlama-lama lagi Bella pun langsung menghubungi nomor tersebut.


[Halo. Apa ini Ayah Iqbal?]


[Benar. Ini siapa?]


[Saya teman Iqbal Om. Sekarang kondisi Iqbal lagi kritis di rumah sakit, dan saat ini pihak rumah sakit perlu tanda tangan dari Om buat memberikan penanganan lebih lanjut bagi Iqbal. Jadi apa Om bisa kesini secepatnya?]


[Baik. Saya segera kesana. Kamu sekarang lagi dirumah sakit apa?]


[Gold Medical, Om.]


[Om akan segera kesana.]


[Aku tunggu Om.]


Bella pun menutup panggilan telpon itu dan duduk dengan cemas memikirkan kondisi Iqbal yang saat ini kritis.


Perasaan bersalah mulai menyelimuti Bella. Bella merasa kondisi yang saat ini dialami oleh Iqbal adalah tanggung jawabnya.


“Ini semua kesalahan aku. Andai saja aku tidak terbakar amarah saat itu, pasti semua ini tak akan terjadi. Tetapi jika preman aku yang bayar datang terlambat, lalu siapa para preman itu? Aku harus mencari tahu soal itu nanti, sekarang aku hanya harus pikirkan kondisi Iqbal saja.”


Bella menunggu dengan harap-harap cemas. Lalu tak lama kemudian Pak Haris pun datang dengan raut wajah cemas.


“Om, orangtua Iqbal?” tanya Bella.


“Iya. Saya Ayahnya Iqbal. Bagaimana kondisi Iqbal? Bagaimana dia bisa seperti ini? Apa yang terjadi?” tanya Pak Haris.


“Saat ini Iqbal kritis. Aku juga bingung dan syok, tapi tadi saat kami sedang ngobrol di taman tiba-tiba beberapa preman datang dan memukuli Iqbal,” jelas Bella.


“Lalu bagaimana dengan para preman itu?”


“Saat itu aku langsung menelpon polisi, dan saat ini mereka sedang ada di kantor polisi untuk penyelidikan lebih lanjut.”


“Kalau begitu terimakasih. Ini sudah larut malam, lebih baik kamu pulang saja. Urusan Iqbal biar Om yang tangani. Apa kamu mau supir Om yang mengantarkan kamu pulang?”


“Tidak. Tidak perlu Om. Aku bisa pulang pakai taxsi saja. Kalau begitu aku pergi dulu.”


“Hati-hati di jalan.”


“Ya, Om.” Bella pun pergi meninggalkan rumah sakit dengan berat hati.


***


Bella pulang ke hotel dengan menggunakan taxsi, dan di tengah perjalanan ia mendapatkan telpon dari Ibunya.


[Assalamualaikum, Bu.]


[Waalaikumsalam.]


[Ada apa ya, Bu?]


[Ibu cuman mau tanya, kamu mau berapa lama lagi nginap di rumah teman kamu itu? Ibu sangat merindukan kamu, kapan kamu pulang?]


[Maafkan aku Bu. Mungkin aku akan sedikit lebih lama disini, karena orangtua teman aku pulangnya masih satu minggu lagi. Tidak papa kan Bu?]


[Hmmm, baiklah. Tapi kamu jangan lupa makan yang teratur ya.]


[Iya Bu. Ibu juga jangan lupa makan, dan minum obat Ibu. Aku tidak mau Ibu sakit.]


[Iya. Sekarang kamu lagi dimana?]


[Emm … lagi di kamar Bu. Bella mau siap-siap tidur.]


[Oh. Yaudah kalau begitu, kamu tidur saja sekarang. Selamat malam.]


[Malam, Bu.]


Bella pun menutup telponnya dengan hati yang merasa bersalah karena berbohong kepada Ibunya. Tetapi kebohongan itu ia lakukan supaya Ibunya tak melihat luka-luka yang ada pada tubuhnya.


Jika Bella pulang kerumah dengan luka di sekujur tubuhnya Ibunya pasti akan sangat khawatir. Oleh sebab itu Bella berbohong dengan mengatakan ia tak akan bisa pulang ke rumah untuk beberapa minggu karena harus menemani teman sekolahnya yang di tinggalkan pergi ke luar negeri oleh orangtuanya.


“Maafkan aku Ibu karena sudah berbohong, tetapi ini semua akan lakukan agar Ibu tidak merasa khawatir. Jika aku pulang dengan kaadaan seperti ini Ibu pasti akan bertanya-tanya apa yang terjadi padaku. Aku tidak ingin rencana aku hancur begitu saja hanya karena Ibu mengkhawatirkan aku. Sekali lagi maafkan aku.”

__ADS_1


***


Bella sudah sampai ke hotel dan sesampainya di sana Bella langsung membersihkan diri dan mengganti bajunya, kemudian berjalan menuju kulkas.


Saat Bella membuka kulkas ia terkejut melihat kulkasnya terisi penuh dengan jus, dan di sana juga terdapat kertas yang bertuliskan [Minumlah jus setiap hari agar kamu sehat selalu, dan rasa sakitnya sedikit berkurang. Ttd : Iqbal gans.].


Ternyata kulkas itu diisi oleh Iqbal dengan berbagai jus sehat, dan itu pun membuat Bella semakin merasa bersalah dan kembali menitikkan air mata.


“Maafkan aku …,” lirihnya.


Kemudian Bella duduk di sofa dan kemudian memikirkan tentang banyak hal, salah satunya adalah tentang siapa sebenarnya yang memberikan foto itu kepadanya.


Sejak kejadian tadi kecurigaan Bella kepada Iqbal semakin menipis. Kini Bella mulai berpikir jika foto itu hanya untuk membuatnya bingung dengan semua teka teki ini.


“Entah dengan siapa saat ini aku bermain, tetapi kurasa dia bukan orang jauh. Orang itu pasti salah satu murid di sekolah, tetapi dia murid yang tidak terlalu menojol tetapi punya pengaruh besar. Tapi, siapa dia?”


Bella terus berpikir siapakah orang yang mampu melakukan semua ini tanpa dicurigai oleh siapa pun.


***


Ketika Bella tengah berpikir siapakah orang yang tengah bermain dengan dirinya, di rumah sakit Pak Haris tampak panik menunggu hasil oprasi yang dilakukan Iqbal.


“Nathan, bagaimana?” tanya Pak Haris dengan cemas.


“Tenang Om. Tadi Nathan sudah bicara dengan pihak kepolisian, dan katanya preman-preman itu hanya preman biasa yang memang suka menganggu orang di kawasan taman itu. Mereka bukan orang bayaran,” jelas Nathan.


“Kamu yakin?”


“Yakin, Om. Soalnya tadi Nathan sudah bicara dengan mereka, terus Nathan juga sudah beritahu apa yang harus mereka lakukan dengan para preman itu.”


“Bagus.”


“Lalu, bagaimana kondisi Iqbal? Apa oprasinya sudah selesai?”


“Belum. Dia masih didalam. Ini sudah hampir satu jam, tapi Dokter belum juga memberikan berita apa pun. Tadi beberapa kali Suster keluar dan mengambil banyak darah.”


“Astaga. Apa luka yang ada dikepalanya separah itu?”


“Om juga belum tahu pasti.”


“Lalu tadi bagaimana Iqbal bisa sampai kesini?”


“Seorang gadis bersamanya tadi disini, dan dia juga yang menghubungi Om soal kondisi Iqbal.”


“Gadis? Siapa?”


“Om juga belum tahu siapa nama gadis itu. Mungkin dia teman Iqbal.”


“Seorang gadis? Teman Iqbal? Apa dia cupu?”


“Tidak. Dia memiliki gaya yang bagus. Dia tidak cupu sama sekali. Kenapa kamu bertanya?”


“Perasaan cuman Bella deh teman cewek yang Iqbal punya. Apa ada cewek lain selain Bella? Hah, sudahlah. Bukan itu yang terpenting sekarang. Sekarang aku harus menemui David.” Dengan wajah kesal Nathan pun bergegas menemui David yang dirawat di rumah sakit yang sama.


Sesampainya di ruangan David, Nathan langsung membuang selimut yang dipakai oleh David dan berteriak.


“Hey, bangun!” teriak Nathan.


“Ih, apaan sih? Ganggu orang tidur aja,” keluh David.


“Loe kan yang bayar preman itu buat ngejahar Iqbal?” tanya Nathan seketika mengundang gelak tawa David.


“Kalau iya kenapa?” tanya David.


“Dasar sialan ya loe! Apa loe tahu gara-gara loe Iqbal sekarang kritis tuh!” seru Nathan.


David yang mendengar itu kaget. “Apa?”


“Jangan berpura-pura terkejut. Bukankah memang itu yang loe inginkan? Loe mau cari mati hah? Untung aja tadi gue nyelamatin loe dari Om Haris, kalau aja tadi gue nggak bohong sama dia mungkin saat ini loe udah habis,” ujar Nathan.


“Tapi gue nggak bermaksud buat bikin Iqbal sekarat. Gue cumab bayar mereka buat mukulin dia doang, nggak lebih,” jelas David.


“Tapi preman bayaran loe itu kerjanya nggak becus! Pokoknya ini terakhir kalinya gue bantu loe, tapi jika sesuatu yang buruk terjadi sama Iqbal gue nggak tahu lagi gimana marahnya Om Haris.” Nathan angkat tangan.


“Terus, gimana kaadaan Iqbal?”


“Dia lagi di oprasi. Kayaknya dia kehilangan banyak darah.”


“Arghh … sialan tu preman.”


“Makanya, sebelum ngelakuin sesuatu itu dipikir dulu pake otak!”


“Iya, iya, gue salah. Gue minta maaf. Terus sekarang gimana?”


“Sekarang kita hanya bisa berharap dan berdoa supaya Iqbal baik-baik aja.”


***


Keesokan paginya Pak Haris, Nathan, dan David menunggu dengan tidak sabar saat-saat Iqbal sadarkan diri.


Dan tidak lama kemudian Iqbal pun mulai membuka matanya dan manatap aneh orang-orang disekitarnya.


“Kenapa wajah kalian seperti itu? Dan, kenapa kepala aku sakit?” tanya Iqbal.


“Iqbal, loe baik-baik aja kan?” tanya David.


“Iya gue nggak papa kok. Ini gue ada dimana sih? Kok bau obat-obatan?” tanya Iqbal.


“Loe dari di rumah sakit, kemarin loe habis digebukin sama preman di taman,” jelas Nathan.

__ADS_1


“Apa? Gue? Digebukin? Yang benar aja? Tapi, kenapa gue nggak ingat apa-apa ya?” Tiba-tiba Iqbal mulai merasa sakit dikepalanya tak kala ia berusaha mengingat kejadian tadi malam.


“Iqbal, kamu baik-baik saja? Dimana yang sakit?” tanya Pak Haris.


“Kepala Iqbal rasanya mau pecah,” ungkapnya.


“Nathan, cepat panggil Dokter!” titah Pak Haris.


“Oke Om.” Dengan cepat Nathan berlari memanggil Dokter, kemudian Dokter pun memberikan obat penenang kepada Iqbal dan ia pun mulai memerikasa Iqbal.


Tak lama kemudian Dokter selesai memeriksa kondisi Iqbal.


“Bagaimana Dok?” tanya Pak Haris.


“Iqbal dia baik-baik saja, hanya saja dia kehilangan sedikit ingatannya karena benturan keras di kepalanya itu mengakibatkan dia tidak bisa mengingat apa pun hal yang terjadi dua tahun terakhir,” jelas Dokter.


“Jadi ingatannya hilang setengah gitu Dok?” tanya David.


“Iya. Ini mungkin terjadi, tapi kami harus memerikaa kondisi Iqbal lebih lanjut lagi. Ada kemungkinan dia tidak akan mendapatkan ingatannya dua tahun lalu,” ungkap Dokter.


“Tapi ada cara lain kan Dokter agar Iqbal sembuh?” tanya Pak Haris.


“Saat ini yang perlu kalian lakukan hanyalah mengingatkan dia tentang semua kenangan dua tahun terakhir agar dia bisa mengingat semuanya,” jelas Dokter kemudian pergi untuk memeriksa pasien lain.


Pak Haris tampak bingung memikirkan kondisi Iqbal.


“Bagaimana ini?” tanya Pak Haris gelisah.


“Ada apa Om? Apa ada masalah?” tanya Nathan.


“Iya Nathan. Sebenarnya hari ini Om harus berangkat ke China untuk urusan pekerjaan, tapi Om tidak mungkin bukan meninggalkan Iqbal di saat seperti ini? Tapi di sisi lain juga Om tidak bisa melepaskan pekerjaan ini, kalau sampai Om lepaskan Om juga rugi ratusan juta,” ungkap Pak Haris.


“Emmm … gimana kalau Om pergi aja ke China, dan urusan Iqbal biar aku dan Nathan yang urus. Kami bertiga sudah lama bersahabat, jadi tidak akan susah bagi kami berdua untuk membantu Iqbal mendapatkan ingatannya kembali,” ujar David.


“Kamu yakin David?” tanya Pak Haris.


“Yakin Om. Iyakan Nathan?”


Nathan mengangguk dengan cepat.


“Kalian memang teman yang baik. Baiklah kalau begitu Om titip Iqbal ya, ingat jangan sampai terjadi sesuatu kepada Iqbal!”


“Siap, Om.”


“Kalau begitu Om harus cepat-cepat kejar pesawat. Om pergi dulu.” Pak Haris berlari dengan cepat meninggalkan rumah sakit.


Tak lama setelah Pak Haris pergi Nathan menatap curiga kepada David yang tiba-tiba baik kepasa Iqbal.


“Kali ini apa lagi rencana loe?” tanya Nathan menatap curiga David.


“Than, loe apa-apaan sih? Curigaan mulu sama gue! Eh, gue ngelakuin semua ini karena gue merasa bertanggung jawab atas kondisi Iqbal. Lagipula dia juga kan sahabat gue, jadi apa salahnya gue bantu dia?”


“Bagus deh kalau begitu. Maaf gue udah salah sangka sama loe. Tapi, ingat! Jangan sampai loe ngelakuin hal bodoh lagi. Kalau sampai loe ngelakuin itu lagi gue nggak akan ada lagi buat bantu loe!” tegas Nathan kembali masuk ke ruangan Iqbal.


“Tenang aja Nathan. Kali ini gue nggak akan buat Iqbal celaka, tapi kali ini gue cuman mau Iqbal yang dulu balik lagi dan balas si cupu itu! Gara-gara tu cewek cupu gue jadi begini, jadi sekarang target gue adalah Bella! Dan untuk itu gue nggak perlu ngelakuin apa-apa, karena Iqbal yang bakal ngurus tu si cupu!” David tersenyum puas dengan rencana bagusnya.


***


Nathan dan David senantiasa menjaga Iqbal yang masih terbaring di tempat tidur, lalu kemudian tiba-tiba Iqbal bangun dan mengajak Nathan serta David untuk sekolah.


“Eh, kita sekolah aja yuk,” ajak Iqbal.


“Iqbal, kaadaan loe masih belum sembuh total! Lebih baik loe diam aja deh di tempat tidur,” ujar Nathan.


“Tapu gue bosan disini! Lagian disini baut obat-obatan, gue pusing tau. Loe berdua tau kan gue paling nggak betah kalau tinggal di rumah sakit,” jelas Iqbal.


“Nathan, biarin ajalah. Gue juga udah bosan disini,” sahut David.


“Yoi bro. Kalau begitu yuk kita siap-siap.”


Nathan pun tak bisa mengatakan apa-apa lagi, dan akhirnya hanya bisa mengikuti Iqbal dan David.


***


Hari ini dengan raut wajah sedih Bella pun bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah dengan penampilan cupunya.


“Entah kenapa rasanya aku malas sekali pergi sekolah. Pikiranku semua teralihkan kepada Iqbal! Bella!” teriaknya sambil menampar wajahnya sendiri.


“Bella, sadarlah! Jangan hanya gara-gara Iqbal kamu melupakan Billa! Aku harus tetap fokus! Fokus!”


Dengan menguatkan hatinya Bella pun berangkat ke sekolah.


***


Tak butuh waktu lama akhirnya Bella pun sampai ke sekolah, tetapi sesampainya di sana tiba-tiba Kathryn menyerahkan setumpuk buku kepadanya sampai-sampai Bella tak bisa melihat apa-apa.


“Kathryn, ini apa?” tanya Bella merasa keberatan dengan semua buku itu.


“Itu semua buku! Tugas loe adalah ngembaliin buku-buku itu ke perpustakaan! Cepat!” titahnya.


Karena tak ingin mendapatkan masalah di pagi hari ini Bella pun menurut dan membawa buku itu ke perpustakaan dengan hati-hati, dan meminta agar orang-orang yang ada di hadapannya menyingkir karena Bella sama sekali tak bisa melihat jalan.


Awalnya semua baik-baik saja sampai tiba-tiba Stela datang dan segaja melemparkan kulit pisang ke lantai dan akhirnya membuat Bella hilang keseimbangan dan terjatuh bersamaan dengan buku-buku itu, tetapi dengan memejamkan matanya Bella berharap seseorang akan menolongnya dan benar saja.


Seseorang dengan sigap menangkap tubuh Bella agar tak jatuh ke lantai, dan orang itu tidak lain adalah Iqbal.


Senyuman manis langsung terukir di wajah Bella ketika ia melihat Iqbal ada di depan matanya, tapi tiba-tiba ….


***

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2