Pura-pura Cupu

Pura-pura Cupu
malu


__ADS_3

Happy Reading


Illona terdiam membeku, tidak ada lagi rasa panas di lidah nya. Rasa panas itu sekarang sudah menjalar ke seluruh tubuhnya. Pipi nya sudah memerah seperti memakai blush on yang kemerahan.


Jantung nya berdetak kencang, mata nya terpaku pada wajah Marcello yang berada dekat dengan wajah nya hanya berjarak beberapa centimeter saja. Mulut nya masih terbuka seolah tak bisa tertutup lagi. Ia baru benar-benar menyadari jika pria yang ada di hadapan nya ini sangat tampan.


Selama ini hati dan mata nya sudah tertutup rapat untuk pria lain. Hati dan mata nya hanya terbuka lebar hanya untuk satu nama, yaitu Evan. Semua pria yang berada di sekitar nya terlihat biasa saja di mata nya, tidak ada yang spesial dan sangat tampan. Terkecuali para kakak kakak nya, daddy nya dan kakek nya. Selain itu seperti tidak memiliki warna wajah di mata Illona.


Marcello masih saja meniup bagian mulut Illona berusaha untuk mengurangi rasa panas akibat makan jagung bakar yang masih panas. Beberapa detik kemudian gerakan nya tertahan, mata nya fokus melihat wajah Illona yang memerah.


Marcello menikmati wajah Illona yang menurut nya sangat lucu sekaligus cantik. Dengan pipi berwarna merah alami seperti itu. Marcello menatap mata Illona kemudian pandangan nya turun ke bawah ke arah bibir ranum Illona. Marcello mendekatkan wajah nya semakin dekat ke wajah Illona. Illona yang terpana akan ketampanan Marcello seperti terhipnotis ia langsung memejamkan mata tak kala Marcello semakin mendekatkan wajah nya.


Dari arah belakang, mereka memang seperti orang yang sedang berciuuman. Apa lagi posisi mereka memang sangat dekat dan intim. Tama baru saja datang dengan membawa sepiring makanan berupa sosis dan jagung hasil dari bakaran nya tadi.


" Ehmmmm "


Suara deheman seseorang membuat Marcello menghentikan gerakan nya. Hampir saja Marcello berhasil menikmati bibir ranum Illona yang sangat menggoda. Padahal bibir Marcello sudah menempel tipis di bibir Illona.


Marcello membalikkan tubuh nya melihat siapa yang sudah mengganggu nya. Terlihat Tama yang sedang berdiri di belakang nya dengan wajah tanpa dosa dan senyum jenaka Tama mengambil duduk di samping nya.


Illona membuka mata, ia membenarkan posisi duduk nya dan menundukkan kepala nya karena malu. Ingin sekali Illona menghilang sekarang juga, jika ia bisa bersembunyi di dalam lubang semut pasti sudah ia lakukan sekarang.

__ADS_1


" Hah, cuaca dingin seperti ini memang sangat enak jika ada pasangan kita yang menemani. Bisa saling menghangatkan satu sama lain " Singgung Tama, mata nya melirik Marcello dan Illona


" Di sana, ada dua manusia yang sedang kasmaran. Serasa dunia milik mereka berdua " Seru Tama melihat ke depan ada Viona dan Riki yang sedang saling suap suapan jagung bakar " Di sini juga ternyata sama " Tama menoleh ke arah Marcello dan tersenyum mengejek


Marcello diam saja tidak merespon perkataan Tama. Marcello yakin jika Tama sekarang sedang jengkel ke pada nya. Pasal nya tadi Marcello melarang keras Tama membawa kekasih baru nya. Marcello mengatakan tidak boleh membawa pasangan terkecuali Riki yang sudah mengajak mereka. Ini liburan hanya untuk mereka saja tidak boleh ada orang lain selain mereka.


Tama selalu saja berceloteh, sesekali ia menggombali Illona. Namun Illona tidak baper sama sekali dengan gombalan Tama. Marcello tidak menyukai Tama yang selalu menggoda Illona. Ia pun meraih tangan Illona dan membawanya pergi dari sana meninggalkan Tama sendiri.


Melihat Marcello yang membawa Illona pergi, Tama menggelengkan kepala nya.


" Ck, kata nya tidak suka. Dulu saja menolak, tapi sekarang lihat lah. Ckckck " Tama bedecak teringat waktu pertama kali mereka bertemu Illona di cafe, Marcello sangat menolak Illona untuk menjadi wanita yang akan ia kencani karena Illona wanita pertama yang masuk cafe.


Jika saja Riki tidak melarang nya untuk mendekati Illona, maka ia yang akan mendekati Illona dan berusaha untuk mendapatkan Illona. Ia merasa tertantang dengan Illona, karena ia belum pernah menjalin hubungan dengan gadis cupu. Dan ia bisa melihat jika Illona itu seperti nya gadis cantik, ia akan mempermak Illona agar menjadi gadis cantik, pikir Tama.


Ketika sudah sampai di depan pintu kamar Illona, baru lah Marcello melepaskan genggaman nya. Marcello membalikkan tubuh nya menghadap Illona.


" Sudah larut malam, sebaiknya kamu istirahat saja " Seru Marcello seraya melihat jam yang ada di pergelangan tangan nya.


Waktu memang sudah menunjukkan ke angka dua belas yang artinya waktu pun akan segera berganti dengan hari berikutnya. Ternyata mereka sudah lama berada di luar.


" Ya " Illona mengangguk

__ADS_1


Baru saja Illona memutar tubuh nya ke samping dan sebelah tangan nya sudah memegang handle pintu. Namun pergerakan nya terhenti karena tiba-tiba Marcello menahan nya dengan menarik tangan sebelah nya lagi.


Illona bergerak sedikit untuk melihat Marcello. Baru saja ia ingin membuka mulut nya untuk bertanya. Marcello sudah mendaratkan sebuah kecupan di dahi nya.


" Selamat malam, semoga mimpi indah " Seru Marcello menampilkan senyum nya


Lagi lagi Illona di buat terdiam dengan perbuatan Marcello malam ini pada nya. Kembali pipi Illona merona, tersadar dari keterkejutan nya dengan segera Illona membuka pintu dan masuk ke dalam kamar tanpa mengucapkan apa pun pada Marcello yang masih berdiri di sana dan menatap nya.


Marcello melihat reaksi Illona yang langsung menghindar ia menundukkan kepala nya lesu. Ia berpikir apa yang sudah ia lakukan tadi sangat keterlaluan sehingga membuat Illona ilfeel pada nya. Tapi tadi ia sempat melihat wajah Illona yang merona. Ia pun berfikir berbagai macam kemungkinan.


Yang pertama Illona malu, yang ke dua Illona marah. Tapi jika ia marah kenapa tadi Illona diam saja. Harus nya Illona menampar dan memaki nya yang sudah lancang menciuum nya.


Marcello melihat pintu kamar yang baru saja di tutup oleh Illona. Kemudian ia memutar tubuh nya dan berjalan menuju kamar nya yang jarak antara kamar mereka tidak terlalu jauh hanya terpisah oleh ruang santai.


Marcello sengaja memilih kamar itu agar ia bisa leluasa memantau Illona. Dan ia bisa merasa lebih dekat dengan Illona dengan kamar yang berdekatan. Bahkan Marcello sudah terlebih dahulu masuk kedalam kamar itu saat mereka sibuk memilih kamar, sebelum Riki atau Tama yang mendahului nya memasuki kamar itu.


Riki sampai di buat mendes*h saat melihat kelakuan Marcello saat itu dan berjalan menuju kamar yang berada di sebelah nya lagi. Yang masih satu lantai hanya saja dari pintu kamar itu tidak bisa melihat kamar yang di tempati oleh Illona, Viona dan Olivia.


bersambung...


❄❄❄

__ADS_1


minta like nya ya


__ADS_2