
Part~30
***
“Apa-apaan ini?” tanya Iqbal yang terkejut melihat Kathryn and the geng, dan David yang terikat dengan tali dengan mata tertutup.
“Aku akan menghukum mereka! Aku tidak tahan lagi menunggu dan menunggu, jadi aku akan gunakan cara ini untuk mengakhiri semuanya kemudian aku akan serahkan diri ke polisi,” ungkap Bella.
“Hey, apa kamu sadar dengan apa yang kamu katakan?” tanya Iqbal.
“Ya! Ya! Aku sadar dengan apa yang aku katakan! Aku tidak tahu harus bagaimana lagi, aku terbakar api dendam! Iqbal, apa yang harus aku lakukan?” tanya Bella menangis dalam pelukan Iqbal.
“Tenangkan dirimu dan lepaskan mereka semua. Ini tidak benar. Jika kamu melakukan hal ini kamu tidak jauh berbeda dengan mereka. Jadi, lepaskan saja mereka,” ujar Iqbal.
“Melepaskan? Begitu saja? Setelah apa yang mereka lakukan? Aku tidak melakukan itu,” ucap Bella.
“Kamu bukanlah orang yang tepat untuk menghukum mereka, tetapi hukumlah yang akan memberikan hukuman yang adil bagi mereka. Kamu tidak perlu khawatir, aku akan membantumu. Nanti aku akan menjadi saksi untuk kasus Billa,” ujar Iqbal.
Mendengar perkataan Iqbal, Bella pun tampak terkejut serta senang. “Benarkah? Kamu akan melakukan itu?”
“Iya. Aku akan lakukan itu. Mungkin dengan aku melakukan itu Billa dan kamu akan memaafkan aku atas tindakan bodoh yang aku pernah lakukan,” ucap Iqbal.
Ekspresi wajah Bella mulai berubah dan senyuman pun kembali menghiasi wajah Bella. “Terimakasih.”
“Kamu tidak perlu mengatakan hal itu. Lebih baik sekarang kita pikirkan cara bagaimana membawa mereka kembali ke rumah masing-masing,” ucap Iqbal.
“Itu mudah. Kita tinggal lakukan hal yang sama saat aku bawa mereka kesini,” jawab Bella.
“Bagaimana caranya?”
“Aku membayar orang untuk menculik mereka dan membawa mereka kesini. Jadi yang harus kita lakukan sekarang kembali membayar orang-orang itu untuk membawa mereka kembali ke rumah masing-masing,” jelas Bella.
“Intinya kita bayar orang buat mengantar mereka kembali?”
“Ya, begitulah.”
“Penjelasan kamu terlalu panjang. Tapi, itu bukan ide yang buruk. Dan lebih baik sekarang aku mengantar kamu pulang, saat ini kamu tampak sangat kacau.”
Bella tersenyum kecil, kemudian berjalan bersama Iqbal meninggalkan gedung itu tanpa mereka sadari jika saat itu David sudah sadar dari pingsannya dan ia pun mendengar semua yang dikatakan Iqbal dan Bella.
“Wah, ini benar-benar permain besar. Iqbal terlibat dalam masalah ini, dan dia malah bersama dengan gadis itu? Dia bahkan ingin menjadi saksi? Dasar pengkhianat! Tidak akan aku biarkan semua berjalan sesuai dengan keinginan kalian.”
***
Dalam perjalanan kembali pulang ke hotel Bella, Iqbal tak mengatakan sepatah kata apa pun hingga Bella lah yang memulai pembicaraan lebih dulu.
“Maaf …,” ucapnya.
“Untuk apa?” tanya Iqbal.
“Mengancam ingin membunuh kamu,” jawab Bella.
“Tidak masalah.” Iqbal tertawa kecil.
“Kenapa tertawa?” Bella menatap Iqbal dengan aneh.
“Bukan apa-apa. Hanya saja aku terkejut melihat bagaimana brulatnya kamu saat menyerang aku. Jika dilihat sekelis, kamu dan Billa tampaknya bukan saudara. Billa itu gadis yang lembut, sedangkan kamu bagaikan sisi lain dari Billa. Kenapa kalian bisa sangat berbeda?”
“Mungkin karena Billa tubuh dengan kasih sayang, sedangkan aku tumbuh dengan siksaan.”
“Kenapa bisa seperti itu?”
“Dulu kedua orangtua kamu bercerai dan hak asuh anak di bagi dua, aku ikut bersama Ayah, sedangkan Billa bersama Ibu. Kamu tahu bukan Ibu adalah pribadi penuh kasih sayang, sedangkan Ayah pribadi penuh dengan aturan. Jadi kamu bisa pahami bukan apa yang terjadi.”
Mendengar kisah Bella, Iqbal menggapai tangan Bella dan kemudian menggenggam erat tangan Bella. “Semangat.”
Bella tersenyum kecil. “Terimakasih.”
“Jangan mengucapkan terimakasih terus menerus, jika tidak kamu akan daoat piring cantik.”
“Siapa yang memberikan piring cantik itu?”
“Aku.”
__ADS_1
Tawa pun menghiasi wajah Bella dan Iqbal. Saat bersama Iqbal, Bella melupakan rasa sakit dan dendamnya kepada Kathryn and the geng, dan juga David.
Tetapi walaupun senyuman menghiasi wajahnya, luka tetap saja menghiasi hatinya yang sampai saat ini masih terluka dengan kepergian Billa yang membawa sejuta luka padanya.
Tak kala Bella teringat kembali akan Billa, ia kembali menangis. Melihat tangisan itu Iqbal tak ingin menghentikan Bella, karena Bella sesungguhnya benar-benar membutuhkan hal itu.
Iqbal hanya menggenggam erat tangan Bella dan memberikan ia kekuatan agar dapat melewati badai ini.
***
Iqbal sudah mengantarkan Bella kembali ke hotel, tetapi Iqbal tak langsung pulang karena ia juga harus membersihkan diri dan ingin istirahat sebentar.
Melihat kondisi Iqbal yang benar-benar tidak memungkinkan lagi untuk pulang, Bella pun menawarkan agar Iqbal untuk malam ini menginap saja disini.
“Malam ini kamu menginap saja disini,” ujar Bella.
Mendengar perkataan Bella wajah Iqbal tiba-tiba memerah. “Hah? Kamu ingin aku menginap disini? Bersama denganmu?” tanya Iqbal dengan senyuman aneh di wajahnya.
“Tentu saja tidak! Kamu akan tidur di luar. Ini bantal dan selimut.” Bella melemparkan bantal dan selimut itu tepat di wajah Iqbal.
“Awww …,” rintih Iqbal kesakitan.
“Maafkan aku, aku tidak segaja.”
Iqbal tertawa kecil. “Tidak perlu meminta maaf. Aku baik-baik saja.”
“Baguslah kalau begitu. Baiklah kalau begitu aku masuk kamar dulu, selamat malam.” Bella mematikan lampu di ruang tamu dan kemudian masuk ke dalam kamar meninggalkan Iqbal yang kini tampak ketakutan.
“Kenapa dia matikan lampunya? Wah, ini menyeramkan.” Iqbal mengambil selimut yang diberikan Bella kepadanya kemudian menutupi dirinya dengan selimut itu.
Di dalam selimut Iqbal terus menggerutu dengab mengatakan ada hantu disini, ada hantu disana, dan ada hantu dimana-mana.
“Astaga. Ini menyeramkan. Kenapa dia matikan lampunya? Bagaimana jika didalam kegelapan ini nanti muncul hantu? Arghh … membayangkannya saja sudah ingin membuatku teriak.”
Sisi lembut dan kekanak-kanakan dari Iqbal adalah ia percaya dengan adanya hantu, dan itu membuatnya takut oleh imajinasinya sendiri.
Jam sudah menujukan pukul 00.00 WIB, dan Iqbal masih juga belum tertidur. Walaupun dia ingin memejamkan matanya, tetapi ia tak berani untuk hal itu karena ia berpikir jika ia memejamkan matanya hantu akan membawanya ke alam lain.
“Mau sampai aku terjaga seperti ini? Aku harus bangkit dan menghidupkan lampunya lagi agar aku bisa tidur dengan nyaman.”
Seseorang tidak lain adalah Bella yang tak bisa tidur karena Iqbal terlaly berisik.
Bella menghidupkan lampu itu kembali dan langsung menyemprot Iqbal.
“Hey, karena kamu aku tidak bisa tidur! Apa yang kamu lakukan di jam segini belum tidur juga?” tanya Bella dengan mata yang masih mengantuk.
“Maafkan aku, tapi aku tidak bisa tidur,” jawab Iqbal sambil terus memeluk bantal.
“Kenapa?”
“Karena aku takut dengan hantu.”
“Apa?” Bella terkejut mendengar jawaban Iqbal.
“Kenapa? Kamu tidak percaya dengan adanya hantu? Bella, aku akan katakan yang sebenarnya ya. Sebenarnya hantu itu beneran ada, dan dia itu bakal muncul di saat gelap kayak tadi. Jadi karena itulah aku tidak bisa tidur,” ungkap Iqbal dengan malu-malu.
“Jadi, kamu tidak bisa tidur hanya karena hantu?” tanya Bella dengan wajah tak percaya.
Dengan cepat Iqbal mengangguk.
“Dasar bodoh!” teriak Bella sambil melemparkan selimut ke wajah Iqbal.
“Hey, kenapa kamu malah marah padaku? Harusnya kamu marah pada hantunya!” seru Iqbal.
“Disini aku yang **** apa kamu sih? Hantu itu nggak ada Iqbal! Sadar, sadar, sadar.” Bella yang kesal hanya bisa mengguncang tubuh Iqbal.
Ketika Bella berhenti mengguncang tubuh Iqbal, mata mereka saling menatap satu sama lain. Tidak Bella mau pun Iqbal sama-sama hanyut dan tenggelam dalam tatapan mata masing-masing, dan hingga tiba-tiba ….
Plakk … suara tamparan keras yang dilayangkan Bella ke wajahnya sendiri sambil menjauh dari Iqbal.
“Astagfirullah! Pahit! Pahit! Pahit! Setan, jauh-jauh deh!” teriak Bella membuat Iqbal kebingungan.
“Maksud loe setan itu apa ya? Loe bilang gue setan gitu?” tanya Iqbal.
__ADS_1
“Aku nggak bilang ya, tapi kamu yang bilang,” sahut Bella tertawa kecil.
“Wah, sekarang loe udah berani banget sama gue ya. Gue mungkin emang mau bantu loe, tapi ingat lu itu masih babu gue! Ingat itu cupu!” seru Iqbal.
“Iqbal, aku bukan babu kamu! Dan, aku tidak cupu! Aku hanya pura-pura cupu! Jadi, jangan melewati batas kamu. Oke, selamat malam.” Bella melambaikan tangan pada Iqbal, kemudian kembali mematikan lampu dan masuk ke kamarnya.
“Hey! Hidupkan kembali lampunya! Bella! Woy! Hidupkan dong lampunya! Woy, gue takut! Gimana kalau entar gue dibawa ke alam lain coba? Bella! Bella! Bella!” teriak Iqbal terus menerus tetepi tak di hiraukan oleh Bella.
***
Keesokan paginya Bella dan Iqbal sudah bersiap untuk berangkat ke sekolah. Bella kembali ke penampilan awal, dengab gaya yang cupu dan lugu.
“Lihat, lihat, dia bagaikan orang lain,” ketus Iqbal yang masih kesal dengab tindakan Bella kemarin malam.
“Ayo kita berangkat sekarang,” ajak Bella.
“Tapi sebelum pergi ke sekolah kita harus beli kostum dulu,” ujar Iqbal.
“Kostum apa?” tanya Bella.
“Hari ini ada hari yang paling aku benci di sekolah. Hari ini satu sekolah libur, dan setiap hari libur ini anak-anak buat pesta kostum tema horor. Jadi, kalau kita mau masuk kita harus punya kostum. Kalau tidak, kita nggak boleh masuk,” jelas Iqbal.
“Kalau begitu ayo kita beli saja.”
Iqbal dan Bella masuk ke mobil kemudian pergi untuk membeli kostum, tetapi saat di tengah perjalanan sebuah ide bagus terlintas dalam pikiran Bella.
“Gue punya ide bagus,” ucap Bella.
“Ide apa? Buat apa?” tanya Iqbal.
“Ide buat mempermalukan Kathryn and the geng,” jawab Bella sambil tersenyum kecil.
“Apa rencananya?” tanya Iqbal.
“Loe lihat aja nanti. Dan disini tugas loe cuman harus ambil foto dan video sebanyak-banyaknya biar kita bisa tempel foto-foto itu di mading sekolah. Gimana?”
Iqbal menggangguk kecil. “Itu bukan tugas yang susah. Tapi Bella, berhati-hati jangan sampai kamu tertangkap. Aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada kamu,” ujar Iqbal.
Mendengar perkataan Iqbal jantung Bella berdebar kencang. Hatinya bertanya-tanya, ada apa dengan Iqbal? Kadang dia nyebelin, tapi kadang dia sangat baik dan romantis sampai-sampai membuat Bella salah tingkah.
***
Iqbal dan Bella sudah sampai di toko kostum. Saat Iqbal memilih ingin memakai kostum apa, Bella pergi ke kamar mandi untuk membuat kostumnya sendiri.
Setelah beberapa lama memilih akhirnya Iqbal memutuskan untuk menjadi vampir agar ketampanan wajahnya tidak hilang.
“Lebih baik begini. Dengan begini aku tetap tampan,” ucapnya sambil bergaya di depan cermin.
Tetapi tiba-tiba Iqbal berteriak histeris ketika melihat di cermin ada sesosok wanita dengan memakai seragam sekolah dengan rambut panjangnya yang menutupi hampir separuh wajahnya, dan ada cairan merah seperti darah di matanya kirinya bagikan ia sedang menangis darah.
“Aaaaaaaaa … hantu …!” teriak Iqbal menutup kedua matanya hingga wanita itu mengatakan jika ia adalah Bella.
“Hey penakut! Ini aku! Aku Bella,” ungkap Bella.
Mendengar hal itu Iqbal yang masih kurang percaya jika itu adalah Bella pun langsung mencubit pipi Bella, dan ternyata benar. Benar itu adalah Bella.
“Wah, aku kira tadi hantu sekarang juga berkeliaran di pagi hari.” Iqbal tertawa kecil.
“Dasar penakut! Lalu, bagaimana penampilan aku? Apa meyakinkan sebagai hantu?” tanya Bella bergaya layaknya seorang hantu.
“Ya. Kamu persis seperti hantu asli,” jawab Iqbal menjauh dari Bella.
“Dasar penakut! Ayo kita berangkat sekarang.”
“Baiklah.”
Iqbal dan Bella pun berangkat ke sekolah dengan rencana untuk mengerjai Kathryn and the geng dengan berpura-pura menjadi hantu Billa dan akan mempermalukan mereka.
Berhasilkah rencana Iqbal & Bella? Tunggu kelanjutannya dalam jangka waktu yang belum ditentukan.
***
Baca saja apa yang ada, hidup adalah anugrah. Jangan lupa bersyukur, dan selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankannya.
__ADS_1
***
Bersambung.