
Part~28
***
Iqbal menjatuhkan Bella ke lantai sambil menatap Bella dengan aneh.
“Kurang ajar bangat ya loe!” seru Iqbal, sontak membuat Bella terkejut dengan sikap kasarnya.
“Maaf Iqbal, tapi tadi aku nggak segaja,” jelas Bella.
“Nggak segaja? Loe tadi cari kesempatan buat di pegang sama gue kan? Ya, gue tau gue itu ganteng dan sempurna, tapi bukan begini caranya buat deketin gue! Loe itu bukan tipe gue!” tegas Iqbal.
Mendengar apa yang dikatakan Iqbal benar-benar membuat Bella ingin muntah dibuatnya. Hatinya bertanya-tanya entah apa yang terjadi kepada Iqbal sebenarnya, sampai-sampai dia bersikap seperti orang gila. Setidaknya itu menurut Bella.
“Iqbal, udah-udah. Loe masih belum sehat banget, jadi jangan cari ribut deh sama murid lain. David, loe bawa aja gih Iqbal ke ruang UKS. Dan Bella, bisa ikut aku sebentar?” tanya Nathan.
“Kemana?” tanya Bella.
“Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan,” jawabnya.
“Baiklah.”
Kemudian Iqbal dan Bella terpisah. Iqbal yang mengikuti David ke ruang UKS, sedangkan Bella mengikuti Nathan sambil terus melihat kebelakang berharap Iqbal akan melihat kebelakang juga.
Tetapi nyatanya Iqbal tak melihat sedikit pun kearah belakang, dan entah kenapa itu menyakitkan hati Bella.
Bella berjalan dibelakang Nathan tanpa melihat kemana ia akan dibawa, sedangkan kini kepala Bella hanya penuh dengan berbagai pertanyaan tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Iqbal.
Bella terus berjalan tanpa melihat jalanan hingga akhirnya langkahnya terhenti ketika tubuhnya membentur tubuh Nathan yang ternyata sudah berhenti di taman.
“Awwww …,” lirih Bella pura-pura merasa kesakitan untuk menghilangkan rasa malunya atas apa yang ia lakukan.
Bella merasa malu karena tadi ia hampir saja mencium dada Nathan.
“Kamu kenapa? Kenapa kamu yang merasa kesakitan? Bukannya harusnya aku,” ucap Nathan seketika membuat Bella tak berkutik.
“Maaf. Aku tidak segaja, bibirku tidak sempat mencium apa-apa. Aku bersumpah!” seru Bella.
Melihat tingkah Bella yang malu-malu dan ketakutan di waktu yang bersamaan membuat Nathan tertawa.
“Kenapa tertawa?” tanya Bella.
“Karena kamu lucu,” jawab Iqbal.
“Haruskah aku anggap itu pujian, atau apa?”
“Anggap saja itu pujian.” Nathan berusaha menghentikan tawanya yang tak berkesudahan.
“Lalu, apa yang ingin kamu katakan kepada aku?” tanya Bella.
“Sebenarnya begini, ini tentang Iqbal,” ungkap Nathan.
“Iqbal? Ada apa dengannya?”
“Dia kehilangan separuh ingatannya.”
Bella yang mendengar itu langsung saja kaget. “Apa? Kehilangan ingatan?”
“Iya. Itulah yang Dokter katakan. Jadi aku disini ingin meminta tolong kepada kamu buat bantu kembalikan ingatan Iqbal yang hilang,” ucap Nathan.
“Kenapa aku?”
“Karena beberapa hari terakhir ini kalian dekat bukan? Bahkan Iqbal sampai memukul David sampai babak belur hanya untuk kamu, jadi kurasa kalian punya hubungan spesial.”
Mendengar itu dengan cepat Bella membataha tuduhan Nathan. “Tidak! Kami tidak punya hubungan apa-apa, hanya saja kami hanya saling mengerti satu sama lain. Dia temanku,” jawab Bella.
“Teman? Pasti asik mendapatkan teman seperti kamu. Aku juga ingin punya teman seperti kamu, jadi mau jadi temanku?” tanya Nathan.
Tanpa ragu-ragu Bella pun menerima tawaran itu. “Baiklah.”
“Bagus. Jadi, sebagai teman kamu pasti mau 'kan membantu mengembalikan ingatan Iqbal yang hilang?”
“Aku akan bantu. Tapi, bagaimana caranya?”
“Emmm, yang perlu kamu lakukan hanyalah terus menjadi babunya dan dengan sedikit-sedikit buatlah dia melihat kembali sesuatu yang sebelumnya pernah dia lihat. Mungkin dengan cara itu dia bisa mengingat sedikit demi sedikit,” jelas Nathan.
“Itu bisa saja aku lakukan dengan mudah, tapi bagaimana dengan David? Aku takut dengan dia,” ucap Bella.
“Kamu tenang saja. David tidak akan mengganggu kamu, karena aku akan selalu bersama dengan kamu. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan apa pun,” jelas Nathan.
Bella menggangguk kecil.
Kemudian Nathan dan Bella pun mulai bekerja untuk mengembalikan ingatan Iqbal yang hilang.
Di satu sisi David ingin memanfaatkan amnesia yang diderita Iqbal untuk mencuci otaknya, dan di sisi lain Nathan dan Bella berusaha mengembalikan ingatan Iqbal yang hilang.
Kemudian tanpa menunggu lebih lama lagi Nathan membawa Bella kepada Iqbal dan menjelaskan bahwa Bella itu adalah babunya, dan kini terserah Iqbal mau melepaskan atau tetap memakai Bella.
Lalu Iqbal menjawab jika akan tetap menggunakan Bella sebagai babunya, dan itulah dimana neraka mengelilingi Bella.
“Babu, beliin gue jus jeruk di kantin!” titah Iqbal.
“Baik.” Dengan cepat Bella berlari ke kantin membeli apa yang diinginkan Iqbal, kemudian dengan cepat pula kembali mengantar jus itu kepada Iqbal.
Iqbal menerima jus itu tetapi ia membuangnya dengan alasan jus itu sudah tak dingin lagi. “Itu jusnya udah nggak dingin lagi! Gue mau minuman yang dingin! Loe paham nggak?”
Dengan menahan emosi Bella hanya terus memasang senyuman kecil dan kembali berlari membelikan Iqbal minuman dingin, dan kali ini Bella membeli jus beserta es langsung agar Iqbal tak mengatakan lagi jika jusnya tak dingin lagi.
“Ini.” Bella menyerahkan jus itu kepada Iqbal bersama dengan es 'nya.
__ADS_1
“Bagus. Sekarang loe kerjain tuh tugas-tugas gue, David, dan Nathan!” titah Iqbal lagi.
Bella pun sontak terkejut, karena baru saja ia ingin beristirahat Iqbal sudah mulai memerintahnya lagi.
“Iqbal … tapi ….”
“Loe jangan banyak omong deh, lebih baik cepat selesaikan semua itu!” titah Iqbal.
“Iqbal, loe jangan kasar begitu dong.” Nathan bangkit dari tempat duduknya, kemudian menghampiri Bella.
“Bella, lebih baik kamu pergi ke kelas kamu saja sekarang,” ujar Nathan.
“Hah? Lalu bagaimana dengan tugas yang diberikan Iqbal?” tanya Bella.
“Kamu tenang aja. Tugas ini biar aku yang kerjakan. Lebih baik sekarang kamu pergi saja,” jawab Nathan.
“Than, loe kenapa sih? Biarin aja kali dia kerjain tugas itu. Loe kenapa jadi belain dia sih?” Iqbal bangkit dari tempat duduknya dan langsung medekati Bella dan Nathan.
“Loe harus ngerti dong Bal! Dia ini juga murid disini dan dia disini bukan untuk jadi babu loe 24 jam penuh! Dia disini buat belajar, dan loe harus pahami itu. Paham?”
“Kok loe jadi ngegas gitu sih sama Iqbal?” tanya David ikut-ikutan dalam debat itu.
“David, mending loe tutup mulut aja deh! Jangan buat suasan jadi lebih buruk!” seru Nathan.
“Oke gue diam.” David yang tidak ingin mendengar ocehan Nathan pun menjauh dari sana dan kembali memainkan ponselnya.
“Babu, loe nggak boleh pergi dari sini sebelum loe selesaikan tugas itu!” tegas Iqbal.
“Iqbal ….”
“Ini keputusan gue. Dan loe nggak bisa ngerubah apa pun disini!”
“Tapi ….”
“Udah Nathan! Cukup! Nggak papa kok. Aku bisa kerjakan semua tugas ini, tapi boleh aku semua bawa tugas ini ke kelasku saja? Aku juga harus belajar,” pinta Bella.
“Kalau itu baiklah, tapi ingat satu hal. Jangan sampai ada jawaban yang salah!”
Bella menggangguk kecil, kemudian pergi meninggalkan Iqbal dan yang lainnya.
Nathan yang tak bisa melakukan apa pun hanya bisa melihat Bella pergi dengan kasihan. “Kasihan dia,” lirihnya.
Iqbal yang melihat perhatian Nathan kepada Bella tiba-tiba merasa tak senang dengan hal itu. Ia merasa jika Nathan sudah mengambil sesuatu yang berharga darinya, tapi apa? Itulah yang terus dipertanyakan hati Iqbal.
***
Dengan hati yang kesal Bella membawa semua tugas yang Iqbal berikan kepadanya.
“Dasar sampah! Jadi ini sikap aslinya? Dia benar-benar bukan manusia, tapi penjahat! Bagaimana dia bisa setega ini denganku? Dia benar-benar jahat,” lirih Bella sambil menangis menutup wajahnya.
“Ini ambilah, dan hapus air matamu,” ucap Gino memberikan sapu tangan kepada Bella.
“Gino? Kapan kamu keluar dari rumah sakit?” tanya Bella.
“Kemarin malam,” jawab Gino.
“Benarkah? Baguslah. Apa luka kamu parah?”
“Menurutmu bagaimana? Bukankah kamu melihat sendiri bagaimana brutalnya David memukuli aku?”
Mendengar itu sontak saja Bella terkejut dan langsung mengelak apa yang dikatakan Gino. “Apa maksudmu? Aku tidak tahu apa-apa. Yang aku tahu kamu babak belur karena di rampok bukan?”
“Jangan berbohong. Aku tahu saat David memukuli aku kamu ada disana, dan merekam semua kejadian yang terjadi. Bukankah itu benar?” tanya Gino yakin dengan apa yang ia katakan.
Bella yang kini tak bisa mengelak lagi pun hanya bisa pasrah dan mengaku. “Iya, itu benar.”
“Lalu bagaimana dengan rekaman itu?” tanya Gino.
“Aku menyimpannya dengan aman. Apa kamu ingin melaporkan David ke polisi?” tanya Bella.
“Tidak. Aku ingin memusnahkan bukti itu,” jawab Gino dingin.
Mendengar itu Bella sontak saja kaget. “Hah? Kamu gila? Kenapa kamu ingin memusnahkan bukti video itu? Dengan video itu kamu bisa bebas dari David! Apa kamu tidak mengerti juga?”
“Kamu yang tidak mengerti! Kamu tidak tahu kamu sedang bermain dengan siapa! Bukankah sudah aku peringatkan beberapa kali untuk tidak melibatkan diri dalam masalah di sekolah ini? Tapi kamu masih saja penasaran. Aku kira dengan memberikan kamu foto-foto itu rasa penasaran kamu akan terobati, tapi ternyata kamu malah semakin penasaran,” ujar Gino.
“Maksud kamu?” tanya Bella yang tak mengerti dengan apa yang dikatakan Gino.
“Maksud aku, aku lah orang yang sudah meneror kamu dan meminta agar kamu menjauh dari masalah ini! Aku tidak korban terus bertambah! Jadi, berhentilah mencampuri masalah ini,” pinta Gino.
“Jadi, kamu yang memberikan foto-foto itu?” tanya Bella.
“Iya.”
“Dari mana kamu mendapatkan foto itu?”
“Foto itu adalah potongan gambar dari video yang aku rekam saat pelecehan terhadap Billa dilakukan,” ungkap Gino.
“Lalu dimana video itu sekarang?”
“Video itu sekarang ada pada David. Dia mengambilnya dengan paksa dariku. Jadi, kumohon berhenti saja,” pinta Gino.
“Aku tidak akan berhenti! Aku tidak bisa berhenti setelah aku sudah sampai sejauh ini! Aku harus melanjutkan apa yang sudah aku rencanakan,” jelas Bella.
“Apa yang kamu rencanakan?” tanya Gino.
“Membuka kedok David,” jawab Bella.
Tiba-tiba Gino tertawa.
__ADS_1
“Kenapa kamu tertawa?” tanya Bella.
“Kenapa hanya David? Di sekolah ini bukan hanya David yang terlihat, tapi semua orang terlibat disini,” ungkap Gino.
“Maksud kamu?”
“Kathryn, Stela, Lisa, Nathan, David, dan Iqbal. Mereka semua itu sama saja. Mereka ada orang yang paling berperan penting dalam membuat Billa depresi,” ungkap Gino.
“Apa Iqbal juga melakukan hal itu?”
“Bagaimana menurutmu?”
“Menurutku Iqbal tidak mungkin melakukan itu!”
“Itu menurutmu karena kamu belum mengenal Iqbal dengan baik. Dia memang hanya disekolah ini satu tahun saja dan kemudian dia pergi, tapi sebelum pesta itu dilangsungkan Iqbal sudah kembali. Dan kamu bisa bayangkan sendiri apa yang terjadi dipesta itu,” jelas Gino.
Mendengar penjelasan Gino seketika amarah pun mulai menguasai diri Bella. Bella mengepalkan kedua tangannya, kemudian membuang semua buku yang diberikan Iqbal kepadanya.
Melihat perubah sikap Bella, Gino merasa takut.
“Bella, kamu kenapa?”
“Tutup mulutmu!” gertak Bella.
“Kamu mau kemana?” tanya Gino.
“Membunuh Iqbal,” jawab Bella berjalan dengan cepat menuju kembali ke ruangan istirahat Iqbal dan teman-temannya.
“Apa? Membunuh?” Gino yang ketakutan pun langsung mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang untuk segera temui Iqbal sebelum sesuatu terjadi kepadnya, dan setelah itu Gino juga menelpon polisi.
***
Dengan dibakar api emosi Bella berjalan dengan cepat sambil membuka ikat rambutnya, kaca mata, serta pin namanya dan membuang semua itu ke tong sampah.
Dengan rambut panjangnya yang terurai tertiup angin Bella yang menatap tajam denga penuh kebencian pun berlari untuk mempercepat aksinya.
Sesampainya di ruangan itu Bella mencari dimana keberadaan Iqbal, dan ternyata saat itu Iqbal tengah membuat kopi. Dengan langkah pelan Bella mengambil pisau buah yang ada di meja dan berjalan mendekat kepada Iqbal.
Tetapi tiba-tiba ….
“Siapa loe?” tanya Iqbal yang menyadari kehadiran Bella.
Dengan cepat Bella menyembunyikan pisau yang ada di tangannya.
“Loe siapa? Kenapa bisa masuk kesini?” tanya Iqbal yang kembali tak mengenali Bella dengan penampilan aslinya.
“Gue Isha,” jawabnya.
“Isha? Loe murid sini juga? Gue kok baru dengar ya. Terus loe apa kesini?” tanya Iqbal mendekat kepada Bella.
Bella menatap tajam ke mata Iqbal, kemudian berjalan mendekati dan sebuah tamparan keras pun mendarat di wajah Iqbal.
Sontak Iqbal kaget. “Hey, apa-apaan ini?”
“Itu belum cukup! Loe harus dapat lebih daripada itu!” Dengan berutal Bella terus menampar Iqbal.
Iqbal yang tak diberikan waktu untuk menarik napas pun hanya bisa terus menerima serangan dari Bella, sampai tiba-tiba ia mendapatkan kesempatan untuk mendorong tubuh Bella hingga kepala Bella terbentur dinding dan berdarah.
“Wah, loe kurang ajar banget ya. Loe mau bunuh gue?” tanya Iqbal.
“Kalau iya kenapa? Takut?” tanya Bella dengan tak takut apa pun lagi.
Iqbal tertawa kecil. “Tadinya gue nahan diri nggak mau lawan loe, tapi karena sekarang loe bilang tujuan loe adalag buat bunuh gue jadi gue punya hak buat ngebela diri!”
“Banyak omong loe, dasar pembunuh!” Bella kembali memukul Iqbal, tetapi dengan cepat Iqbal menangkis pukulan Bella dan kini malah Bella yang terjebak.
Iqbal menahan tangan kanan Bella, dan menarik keras rambut panjang Bella sambil tertawa puas.
“Lihat, kalau gue mau melawan gue bisa aja kalahin loe dalam satu kali pukulan,” ujar Iqbal.
“Jangan sok loe,” ketus Bella.
“Kalian itu wanita semua lemah, jadi jangan berharap bisa melawan kaum pria! Paham?”
Mendengar itu Bella pun berusaha meludah ke wajah Iqbal sambil berkata, “Enggak ada wanita lemah di dunia ini! Kami kaum wanita jauh lebih kuat daripada kalian,” ungkap Bella sambil memukul keras kepala Iqbal dengan pas bunga yang ada di dekat tangan kirinya.
Mendapatkan pukulan keras itu Iqbal pun langsung terjatuh, dan kemudian dengan cepat Bella menarik rambut Iqbal agar ia ia bisa berlutut tanpa harus jatuh ke lantai.
Kemudian tak lama kemudian David, Nathan, Gino, Kathryn, Stela, dan Lisa pun datang dan terkejut melihat semua kekacauan yang terjadi.
“Iqbal …!” teriak Nathan yang terkejut melihat kondisi Iqbal yang babak belur berlumuran darah.
“Ya Tuhan. Astaga, apa gadis itu yang melakukan semua ini? Wah, dia benar-benar tipe aku,” ucap David bertepuk tangan untuk apa yang dilhat matanya.
Gino yang melihat bukannya Bella yang ada disana melainkan gadis lain pun merasa bingung.
“Siapa gadis itu? Jika dilihat dari seragamnya dia murid sini, tapi siapa dia?” Gino bertanya-tanya.
“Kalian semua jangan ada yang mendekat, kalau nggak gue putusin leher Iqbal!” Bella mengarahkan pisau ke leher Iqbal yang kini kesadarannya mulai hilang sedikit demi sedikit.
“Jangan!” teriak Nathan dan yang lain secara bersamaan.
Walaupun hati Bella sangat ingin membunuh Iqbal, tetapi jauh dari lubuk hatinya yang paling dalam ia tak sanggup jika harus melakukan hal keji itu. Hingga tiba-tiba ….
“Bella …,” lirih Iqbal seketika membuat Bella terkejut mendengar Iqbal menyebut namanya.
***
Bersambung.
__ADS_1