Pura-pura Cupu

Pura-pura Cupu
Part~31


__ADS_3

Part~31


***


Iqbal dan Bella sudah sampai ke sekolah dan akhirnya mereka pun datang memulai rencana mereka, tetapi sebelum itu Bella harus menenangkan Iqbal terlebih dahulu.


“Hey, tenanglah. Tenangkan dirimu. Jangan takut. Mereka itu hanya memakai kostum, mereka bukan hantu sungguhan!” tegas Bella.


“Tapi bagaimana jika mereka itu hantu sungguhan yang menyamar sebagai hantu palsu? Aku tidak tahu kapan mereka akan membawa aku ke dunia mereka, bukan? Aku takut,” ujar Iqbal.


Bella menggenggam kedua tangan Iqbal. “Iqbal, tenangkan dirimu. Tarik napas panjang, kemudian keluarkan. Jangan takut. Hantu itu tidak ada, setidaknya saat kamu berpikir jika mereka memang tidak ada.”


Mendengar perkataan Bella, Iqbal merasa sedikit tenang dan akhirnya bisa bernapas dengan lega.


“Baiklah. Aku baik-baik saja. Semua baik-baik saja, dan hantu itu tidak ada. Oke, aku baik-baik saja. Lalu bagaimana sekarang?” tanya Iqbal.


“Kita kembali ke rencana awal. Kamu punya ponsel bukan?”


Iqbal menggangguk.


“Keluarkan ponselmu dan siapkan kamera kamu, karena kamu harus mendapatkan gambar terbaik. Oke?”


Iqbal mengedipkan matanya. “Oke.”


Melihat Iqbal mengedipkan matanya membuat Bella merasa ingin muntah. “Huh, menjijikkan. Ayo cepat, kita tidak bisa membuang-buang waktu.”


“Baiklah.”


Bella dan Iqbal pun mulai beraksi tanpa tahu jika David menguping semua pembicaraan mereka. Tetapi, walaupun David mendengar semua percakapan Iqbal tetap saja David belum tahu siapa yang di ajak bicara oleh Iqbal.


“Siapa gadis yang berbicara dengan Iqbal itu? Suaranya mirip dengan gadis yang di ajak bicara oleh Iqbal saat gue di culik kemarin. Jadi, Iqbal ada hubungannya dengan semua ini? Gue nggak akan biarin rencana kalian berjalan dengan mudah!” seru David.


Dengan hati-hati tanpa diketahui oleh Iqbal maupun Bella, David mengikuti mereka sampai akhirnya berhenti di ruangan istirahat Kathryn and the geng.


David memperhatikan mereka dari kejauhan, dan tidak bisa mendengar apa pun tetapi hanya bisa melihat tindakan apa saja yang dilakukan Iqbal dan Bella.


“Kalau gue terlalu mendekat, gue bisa ketahuan. Gue nggak mau ambil resiko, jadi gue amati mereka dari sini aja.” Dengan hati-hati David memperhatikan setiap gerak gerik Iqbal dan Bella.


“Oke, kamu tahu bukan apa tugas kamu? Ingat, aku hanya ingin gambar terbaik yang bisa buat Kathryn and the geng malu di depan murid-murid lain,” ucap Bella.


“Kamu tenang aja, itu bukan hal yang sulit. Aku akan dapatkan gambar terbaik untuk itu. Tenang saja,” ujar Iqbal bersiap dengan kamare ponselnya.


“Aku akan mulai beraksi.” Bella pun mulai bersiap dengan rambut panjangnya, dan kemudian masuk ke dalam ruangan itu untuk menakuti Kathryn and the geng.


Sebelum masuk ke dalam ruangan itu Bella terlebih dahulu mematikan listrik agar memberikan kesan horor yang lebih mendalam. Kemudian dengan langkah kecil ia pun mulai mendekati Kathryn and the geng dengan tatapan mata kosong, layaknya hantu sungguhan.


Melihat hal itu Kathryn, Stela, dan Lisa berteriak ketakutan. Ketakutan itu semakin bertambah saat mereka melihat pin nama yang bertuliskan nama Billa.


“Billa? Siapa loe?” tanya Kathryn dengan ketakutan.


“Kamu tidak ingat aku? Ini aku Kathryn. Kamu tidak ingat aku? Aku Billa. Kalian lupa dengan apa saja yang kalian lakukan kepada aku? Lihat saja aku akan membalas kalian, aku akan membawa kalian ke dunia aku agar aku punya teman.” Bella berjalan mendekati Kathryn and the geng perlahan-lahan, hingga saat ia sudah mendekat Kathryn and the geng tak bisa berbuat apa-apa lagi karena ketakutan mereka pun akhirnya pingsan.


Melihat Kathryn, Stela, dan Lisa pingsan dengan mudahnya membuat Bella terkejut.


“Wah, ternyata semua murid disini takut dengan hantu? Benar-benar lawak.” Bella tertawa kecil, kemudian memanggil Iqbal untuk datang kepadanya.


“Wah, mereka semua langsung pingsan?” tanya Iqbal yang ikut terkejut melihat Kathryn and the geng sudah pingsan dengan wajah ketakutan.


“Iya. Mereka semua pingsan dengan sangat mudah. Ini benar-benar kejutan besar. Murid-murid tukang bully di SMA Rembulan, takut sama hantu.” Bella tertawa terbahak-bahak.


Melihat tawa di wajah Bella, Iqbal juga ikut tersenyum melihatnya.


“Tersenyumlah selalu,” ucap Iqbal.


“Hah?”


“Tersenyumlah selalu, karena senyuman kamu itu bisa mengukir senyuman di wajah orang lain juga. Salah satunya aku. Jadi, kumohon tersenyumlah,” pinta Iqbal.


Bella pun tersenyum, kemudian tiba-tiba Bella memeluk Iqbal dengan erat. “Terimakasih,” ucapnya.

__ADS_1


Iqbal tidak bisa berkata apa-apa lagi saat Bella tiba-tiba memeluknya. Iqbal hanya merasa senang dan bahagia saat bersama dengan Bella.


“Kamu akan dapat piring cantik karena terus mengucapkan terimakasih,” ujar Iqbal.


Bella melepaskan pelukannya, kemudian kembali tersenyum. “Aku akan terima piring cantik itu. Tapi, bagaimana? Kamu sudah dapatkan foto-foto yang aku inginkan?” tanya Bella.


“Sudah. Aku sudah dapatkan semuanya. Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Iqbal.


“Emm, untuk sekarang kita nikmati saja pestanya. Tapi kamu pergilah lebih dulu, aku harus kekamar mandi dulu,” ujar Bella.


“Kamu meninggalkan aku sendiri? Bagaimana jika nanti aku bertemu hantu?”


“Jika kamu bertemu hantu kedipkan saja matamu kepadanya, maka hantu itu lari ketakutan. Percaya padaku.” Bella pun pergi meninggalkan Iqbal bersama dengan rasa takutnya.


“Kedipkan mata? Kurasa ini bukan ide yang bagus, karena kalau hantu itu terpesona dengan aku dia bisa saja membawa aku ke dunia lain. Ini menakutkan …!” teriak Iqbal sambil berlari meninggalkan ruangan gelap itu.


***


Bella berjalan dengan langkah kecil menuju kamar mandi, tapi tiba-tiba seseorang menutup kepalanya dengan karung hitam dan kemudian menyeretnya pergi.


Bella tidak bisa berteriak karena karung itu membuatnya sulit berpanas, dan akhirnya Bella pun pingsan dan tak sadarkan diri. Ia bahkan tak tahu kemana ia di bawa? Oleh siapa? Dan kenapa dia di culik?


Tiba-tiba ….


Byurrr … suara semburan air terdengar keras sehingga membuat Bella tersadar dengan tubuh yang basah dengan air.


“Wah …!” teriak Bella berusaha memulihkan pengaturan napasnya.


“Apa-apaan ini? Hey, siapa kamu?” tanya Bella berusaha melepaskan ikatan yang mengikat dirinya duduk di sebuah kursi.


Bella berusaha memperjelas penglihatannya untuk mengenali siapa orang yang tlah menculiknya, dan saat penglihatan matanya sudah normal terlihatlah sosok David yang duduk di depannya sambil memasang senyuman di wajahnya.


“Kamu …?” Bella langsung jengkel saat melihat wajah David.


“Hay.” David melambaikan tangan kepada Bella.


“Kenapa raut wajahmu tak senang seperti itu? Kamu tidak senang bertemu denganku lagi?” tanya David.


“Tidak sama sekali. Aku merasa muak saat melihat wajahmu,” ungkap Bella.


David yang masih tak mengetahui jika Bella adalah Bella masih mengira jika Bella itu adalah Isha.


“Isha, kenapa loe kerja sama dengan Iqbal?” tanya David.


Mendengar pertanyaan David, Bella terkejut mengetahui bagaimana bisa David tahu tentang kerja sama antara dirinya dan Iqbal.


“Apa maksudmu? Kami tidak punya hubungan apa-apa,” ujar Bella.


“Oh benarkah? Apa kalian benar-benar tidak punya hubungan apa-apa? Tapi jika memang kalian tidak punya hubungan apa-apa, kenapa Iqbal rela melepaskan kamu dari penjara dengan semudah itu? Jangan berbohong, itu tidak cocok untuk gadis manis seperti kamu,” ucap David sambil mengelus lembut rambut Bella.


Bella yang mendapatkan sentuhan dari David merasa jijik akan hal itu.


“Jangan santuh aku!” seru Bella.


“Wah … wah, kamu benar-benar berbahaya. Tapi kamu tetap saja wanita yang pasti akan lemah saat bersama dengan pria.”


Bella yang melihat tindakan aneh David mulai merasa takut dengan apa yang akan dilakukan oleh David kepadanya.


“Apa yang akan kamu lakukan?” tanya Bella dengan ketakutan.


“Menurutmu apa yang akan aku lakukan pada gadis cantik seperti kamu? Kita akan lihat nanti, aku akan segera kembali.” David mengedipkan matanya pada Bella, kemudian pergi meninggalkan Bella.


Melihat David yang tlah pergi Bella pun berusaha melepaskan diri dari tali yang mengikatnya.


“Aku harus bisa melepaskan dari dari David, jika tidak entah apa yang akan dilakukan David kepadaku.” Bella berusaha dengan keras melepaskan tali yang mengikatnya, sedangkan David sedang sibuk dengan ponselnya.


***


Di sekolah Iqbal yang tidak tahu apa-apa jika saat ini Bella tlah di culik oleh David hanya bisa terus menunggu kedatangan Bella, tetapi Bella tak kunjung datang.

__ADS_1


“Dimana Bella? Kenapa dia ke kamar mandi lama banget sih? Arghh …!” teriak Iqbal bosan menunggu.


Nathan yang melihat Iqbal berteriak langsung berlari kearah Iqbal dan bertanya tentang apa yang terjadi. “Hey, apa yang terjadi? Loe baik 'kan?” tanya Nathan.


“Iya. Gue baik, tapi hati gue nggak,” jawab Iqbal.


“Kenapa?”


“Gara-gara Bella.”


“Bella? Ada apa dengan Bella?”


“Dia udah buat gue nunggu dia disini hampir satu jam. Dia bilang mau ke kamar mandi, tapi sampai sekarang tu si cupu belum balik-balik juga.”


“Cupu? Loe nggak merasa kata itu terlalu kasar apa?”


“Nggak. Menurut gue biasa aja. Kenapa?”


“Nggak papa, tapi menurut gue loe itu harus jauh lebih baik dan lembut sama Bella. Jangan kasar sama dia. Dia itu imut loh.”


Mendengar perkataan Nathan, Iqbal kaget dan menatap Nathan dengan tajam. “Apa loe bilang? Imut?”


“Iya. Dia itu imut, baik, lembut, polos, lugu lagi.”


Iqbal hanya bisa terdiam mendengar apa yang dikatakan Nathan. Dalam hati Iqbal berkata, “Saat ini loe mungkin bilang begitu, tapi kalau loe sampai tahu sikap asli Bella gue nggak tau lagi deh serangan jantung tingkat berapa yang bakal loe alamin.”


Di sela-sela pembicaraan mereka tiba-tiba ponsel Iqbal berdering dan ternyata itu telpon dari Bella.


[Halo. Bella! Loe kemana aja sih? Gue udah nunggu loe lama banget! Loe kemana?]


[Loe mau ngapain? Menjauh dari gue!]


Suara teriakan Bella terdengar sehingga membuat Iqbal terkejut.


[Bella! Ada apa? Apa yang terjadi? Dimana kamu?]


[Siapa pun tolong aku! David, menjauh dariku! Tolong! Tolong aku! Siapa pun tolong aku!]


Bella berteriak-teriak meminta pertolongan, lalu tiba-tiba panggilan telpon terputus.


Iqbal tampak panik membayangkan apa yang terjadi pada Bella, dan kenapa tadi Bella menyebutkan nama David.


“Iqbal, ada apa?” tanya Nathan kebingungan melihat ekspresi wajah Iqbal yang tampak panik.


“David … dimana David? Dimana si berengsek itu?” tanya Iqbal.


“Tadi dia bilang dia akan pergi untuk melihat pembangunan gedung baru Ayahnya,” jawab Nathan.


“Dimana tempatnya?”


“Tapi, ada apa ini sebenarnya?”


“David menculik Bella, dan sepertinya dia akan melakukan sesuatu yang buruk kepadanya!” seru Iqbal.


“Apa?” Nathan pun terkejut mendengar hal itu.


Kemudian tanpa menunggu lebih lama lagi Iqbal dan Nathan pun langsung berangkat menuju tempat dimana berkemungkinan besar David dan Bella ada disana.


***


Bella sudah berhasil melepaskan diri dan berhasil menelpon Iqbal, tetapi David kini mendapatkan dirinya.


“David, menjauh dariku! Jangan mendekat!” teriak Bella.


“Hey kenapa kamu terus saja berteriak? Bukankah waktu itu aku sudah katakan apa yang akan aku lakukan kepadamu? Ingat? Ya, benar! Aku akan melakukan hal yang sama padamu dengan apa yang aku lakukan kepada Billa,” ungkap David sontak membuat Bella ketakutan.


***


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2