Pura-pura Cupu

Pura-pura Cupu
Part~21


__ADS_3

Part~21


Mendengar perkataan Bella seketika Iqbal pun murka dan langsung meremas keras tangan Bella.


“Awww ...,” rintih Bella kesakitan.


“Kenapa loe bisa berpikir sejauh itu Bella? Kenapa?” Iqbal meremas tangan Bella semakin keras hingga membuat Bella kesakitan.


“Iqbal, lepasin! Sakit,” lirih Bella.


Iqbal tak memperdulikan apa yang dikatakan Bella. Ia terus saja mengajukan banyak pertanyaan kepada Bella.


“Apa loe pikir gue ada hubungannya dengan kasus Billa?” tanya Iqbal.


Bella terdiam mendengar pertanyaan Iqbal, kemudian ia menatap tajam kearah matanya dan menjawab. “Kalau loe tanya gue, gue bakal bilang kalau loe pasti ada hubungannya dengan kasus Billa. Tapi jika loe tanya hati gue, dia bilang loe nggak ada hubungannya dengan semua itu. Jadi, tolong! Tolong biarkan aku sendiri,” pinta Bella dengan berlinang air mata.


Iqbal yang tak tega melihat Bella menangis pun langsung melepaskan tangannya, kemudian langsung memeluk Bella dengan erat.


“Gue nggak akan ninggalin loe sendiri.”


“Maksud loe?” tanya Bella.


“Ya, gue bakal bantu loe buat cari bukti tentang kasus Billa,” jelas Iqbal.


“Loe serius?”


“Iya.”


“Tapi, kenapa tiba-tiba loe mau bantu gue?”


“Jangan salah paham! Gue bantu loe buat cari bukti itu biar loe nggak lagi berpikir kalau gue ada hubungannya dengan kasus Billa. Jadi, apa langkah loe selanjutnya?” tanya Iqbal.


“Terimakasih, Iqbal.”


Iqbal yang mendengar kata terimakasih dari Bella hanya bisa tersenyum malu. “Tidak perlu mengatakan hal itu,” ucapnya dengan malu-malu.


“Ternyata kamu orang yang baik,” ucap Bella lagi-lagi membuat Iqbal bertingkah malu-malu.


“Loe baru tau?”


“Ya.”


Mendengar jawaban jujur Bella seketika ekspresi malu-malu berubah menjadi kesal, tetapi itulah kehidupan. Tidak selamanya kau akan merasakan kebahagiaan, begitu juga dengan kesedihan.

__ADS_1


Dunia pasti akan berputar, karena itulah dia berbentuk bulat.




Hari kini sudah mulai sore. Iqbal dan Bella kini tengah sibuk membahas rencana untuk membuat pelaku bully itu mengakui kejahatan yang mereka lakukan dengan sendirinya.



“Gue baru tahu kalau Billa punya saudara kayak loe. Kalian berdua beda banget,” ucap Iqbal.



“Benarkah? Kurasa tidak. Kami mirip dalam segi pemikiran, tetapi dalam segi penampilan mungkin benar kami berbeda. Penampilan aku seperti ini karena pengaruh budaya di Amerika,” jelas Bella.



“Loe sebelumnya tinggal di Amerika?”



“Iya. Kenapa?”




“Oya? Berapa lama?”



“Dua tahun.”



“Wow, lumayan lama. Kalau boleh tau kenapa kamu pindah kesana?”



“Masalah keluarga. Gue sempat sekolah di SMA disana hampir satu tahun setengah, tapi gue nggak betah.”


__ADS_1


“Kenapa? Apa disana nggak ada orang yang bisa kamu bully?”



“Bukan itu. Gue pindah karena nggak ada alasan lagi buat gue tetap tinggal disana.”



“Kenapa?”



“Ibu gue meninggal, jadi buat apa gue tetap disana? Jadi gue lebih milih balik kesini. Gue juga baru beberapa bulan disini.”



“Beberapa bulan?”



“Iya. Kenapa? Apa sekarang loe mau singkirkan gue dari daftar tersangka? Jangan singkirkan gue, karena sebelum Billa meninggal gue udah ada disini tapi saat itu gue nggak ada keingin lagi buat ngelakuin apa pun dan sama siapa pun. Jadi gue diamin aja dan biarin dia di ganggu sama yang lain. Tapi di hari terakhir gue lihat dia, itu waktu satu hari mau ujian gue liat dia lagi ngomong serius banget sama Gino.”



“Gino?”



“Iya. Gino. Loe tau kan Gino itu siapa? Dia orang yang dipukulin sama David. Gino itu satu\-satunya teman buat Billa,” ungkap Iqbal.



“Jadi, Gino itu temannya Billa?”



“Iya.”



bersambung...


__ADS_1


please vote like and coment ♥❤


__ADS_2