Pura-pura Cupu

Pura-pura Cupu
hutan angker


__ADS_3

Happy Reading


Setelah mendengar Tama yang mengatakan bawah Illona berlari ke luar villa dari arah belakang, Marcello langsung beranjak dari duduk nya dan meninggalkan sarapan nya begitu saja. Ia sangat khawatir jika nanti Illona sampai tersesat.


Riki baru saja datang, ia melihat Marcello berlari ke luar dengan tergesa-gesa. Ia pun bertanya pada yang lain.


" Kenapa dia? " Tanya nya sambil mengambil duduk di samping Viona dan meminum teh hangat yang sudah di sediakan oleh Viona untuk nya


" Seperti nya dia mau menyusul Lona " Seru Tama


" Emang si Lona ke mana harus di susul segala. Dasar pria agresif " Cibir Riki, ia pun menyuapi sereal ke dalam mulut nya


" Joging, tadi Tama lihat Lona sedang berlari ke luar dari villa melalui taman belakang " Seru Viona


Uhuk


Riki tersedak makanan nya


" Honey, pelan pelan makan nya. Kenapa sih? " Viona memberi air minum pada Riki dan menepuk-nepuk punggung Riki


" Apa? Lewat mana? " Tanya Riki setelah minum dan ia tak memperdulikan ocehan Viona


" Taman belakang " Jelas Olivia


" Astaga " Riki langsung beranjak dengan wajah panik " Ayo kita cari mereka " Ajak Riki


" Honey "

__ADS_1


" Rik, ada apa? " Tanya Tama


" Itu jalan menuju hutan. Kata orang hutan itu sangat angker, tidak ada orang yang bisa keluar dari hutan itu dengan selamat " Riki menatap mereka satu persatu


" Honey, bagaimana dengan Lona ? " Viona menutup mulutnya terkejut dan juga takut mendengar perkataan Riki


Olivia dan Tama pun ikut terkejut dan melebarkan mata. Pantas saja Marcello tadi langsung berlari untuk mencari Illona. Marcello dan Tama sudah pernah mendengar cerita horor itu dari Riki, tapi Tama lupa jika dari halaman belakang villa itu bisa menuju ke hutan angker.


Riki berteriak memanggil penjaga villa. Mereka berjalan menuju belakang villa. Dan penjaga yang Riki cari pun muncul.


" Ada apa tuan ? " Nya nya sambil menunduk hormat


" Siapa yang membuka pintu pagar belakang? " Tanya Riki dengan wajah memerah menahan marah


Pintu gerbang itu sudah lama di kunci agar tidak ada yang keluar masuk. Dan tentunya untuk menjaga agar tidak ada orang yang pergi ke hutan. Karena itu villa keluarga jadi siapa pun pihak keluarga besar Riki boleh ke sana. Dan di keluarga mereka ada yang memiliki anak kecil. Takut nya anak anak mereka tanpa sengaja bermain ke sana, maka dari itu pintu gerbang belakang di kunci.


Penjaga villa memang sering membakar sampah di luar villa, karena ia tidak mau asap nya masuk ke dalam dan bisa mengotori semua isi villa.


Riki, Tama, Viona dan Olivia pun tidak mau berlama-lama. Dan mereka langsung menyusul jejak Marcello yang sudah terlebih dahulu mencari Illona. Tadi nya Riki menyuruh Viona dan Olivia untuk tetap berada di dalam villa namun Viona kekeh ingin ikut mencari Illona karena ia merasa bersalah dan bertanggungjawab atas Illona.


Mereka saling bersautan memangil nama Illona. Hingga terdengar bergema ke seluruh isi hutan. Sedangkan Marcello ia sudah jauh berjalan menelusuri hutan. Sudah beberapa kali ia bertemu dengan hewan buas seperti ular.


Marcello terus berjalan tanpa arah, hingga ia mendengar suara gemuruh air. Ia berjalan mengikuti suara air yang ia yakin itu pasti air terjun. Dan benar saja dugaan nya beberapa meter dari tempat nya ternyata ada air terjun yang sangat indah. Di sisi kiri dan kanan terdapat bebatuan, air nya sangat jernih. Ia memutuskan untuk beristirahat sejenak sambil menikmati keindahan alam yang ada di depan mata nya.


Marcello duduk di atas batu yang cukup besar, ia memejamkan mata nya dan menghirup udara segar. Sangat nyaman. Di kota ia tidak bisa menikmati udara sesegar ini. Sedang asik duduk Marcello mendengar suara teriakan orang yang memangil nama nya dan juga nama Illona.


Marcello menajamkan pendengaran nya dan benar apa yang ia dengar. Itu suara sahabat nya yang juga sedang mencari nya dan Illona. Marcello pun berteriak memanggil Riki dan Tama.

__ADS_1


Tak lama kemudian muncul lah empat orang itu yakni Riki, Tama, Viona dan Olivia di dekat Marcello.


" Wahhh, keren " Seru Viona berbinar melihat pemandangan air terjun di depan mata nya


" Cello, bagaimana? Apa ketemu jejak Lona? " Tanya Riki ketika ia sampai di depan Marcello


Marcello mendes*h " Tidak ada jejak " Ucap nya lemah


Setelah beristirahat kurang lebih lima belas menit mereka pun kembali mencari Illona. Sudah hampir dua jam lama nya mereka berada di hutan itu. Namun mereka belum juga menemukan Illona. Bahkan mereka sudah beberapa kali memutari tempat yang sama. Lagi dan lagi mereka berakhir di titik yang sama. Lelah? Itu sudah pasti, tapi mereka tidak menyerah untuk tetep mencari Illona.


Viona terus saja menangis, ia merasa bersalah karena tidak menjaga Illona dengan baik. Ia bertanggung jawab atas keselamatan Illona, karena ia yang memaksa Illona untuk ikut dengan nya ke villa.


Mereka semua merasa bersalah, Tama merutuki kebodohan nya karena melupakan tetang hutan itu padahal tadi ia sempat memangil Illona ketika Illona berlari ke luar. Ia menyesali kenapa tadi ia tidak berusaha dengan keras memangil Illona.


Riki juga lupa untuk mengatakan supaya mereka menjauhi halaman belakang apalagi sampai keluar dari sana. Ia tidak berpikir akan terjadi hal seperti ini karena pintu gerbang selalu di kunci.


Olivia menenangkan Viona, tadi pagi Illona sempat mengajak nya untuk joging mengelilingi villa. Namun ia malas karena masih mengantuk akibat bergadang semalam. Alhasil Illona pergi sendiri. Olivia juga melihat Illona yang benar-benar mengelilingi villa namun itu masih di dalam villa, ia juga tidak tahu jika Illona pada akhirnya ke luar dari villa karena ia mengikuti Viona olahraga kecil di taman.


Di sisi Illona, ia terus saja berjalan mengikuti arah jalan yang sudah di tunjuk kakek Dadang. Ia harus terus berjalan mengikuti jalan setapak di depan nya, kiri dan kanan nya terdapat pohon pinus yang sangat tinggi. Illona mengingat ingat jalan ini, ia bingung sendiri. Pasal nya tadi waktu ia pergi, ia tidak melewati jalan setapak ini.


Sepanjang jalan Illona terus melihat ke atas, ia merasa melihat pohon pinus yang menjulang tinggi ke atas sangat indah dan mengagumkan. Hingga ia tidak memperhatikan jalan yang ada di depan nya. Dan...


" Aaaaaaaa " Pekik Illona


bersambung...


❄❄❄

__ADS_1


minta like nya dong buat penyemangat


__ADS_2