Pura-pura Cupu

Pura-pura Cupu
perhatian


__ADS_3

Happy Reading


Keluar dari ruang meeting Marcello langsung menuju ruangan nya di ikuti oleh asisten nya Tara. Tara meletakkan berkas berkas penting di atas meja kerja Marcello kemudian ia pamit undur diri. Ia harus mengerjakan pekerjaan nya yang menunggu di ruangan nya yang tak jauh dari ruangan Marcello.


Marcello duduk di kursi kebesaran nya, ia tidak langsung kembali bekerja. Marcello merogoh saku yang ada di dalam jas nya dan mengeluarkan benda pipih yang selalu menjadi teman setia setiap orang.


Marcello menempelkan jempol nya di icon sidik jari, seketika ponsel nya menyala. Dan terlihat lah wajah seorang wanita berkaca mata di layar ponsel nya. Wanita itu yang tak lain dan tak bukan adalah Illona. Foto itu di ambil Marcello secara diam-diam saat mereka berada di bogor waktu itu. Dan sekarang Marcello menjadikan foto itu sebagai wallpaper di ponsel nya.


Marcello sangat suka melihat foto itu, terlihat sangat alami. Marcello tersenyum dan jari nya segera menuju aplikasi hijau pengantar dan pengirim pesan. Ia mencari nama Illona dan mengirim pesan untuk Illona.


Me


Bagaimana keadaan mu hari ini?


Pesan terkirim dan satu menit kemudian ponsel nya berbunyi tanda ada pesan yang masuk. Itu adalah pesan balasan dari Illona.


Lona


Sangat baik


Marcello tersenyum membaca balasan dari Illona dan ia kembali mengirim pesan


Me


Syukur lah kalau begitu, aku lega mendengar nya. Apa kau meminum obat mu dengan teratur?


Lona


Tentu.. Karena itu lah aku cepat sembuh


Me


Gadis pintar. Jangan telat makan, jangan sampai kamu sakit lagi. Aku tidak mau kamu sampai sakit lagi


Lona


Baik, Terima kasih perhatian nya. Kamu juga jangan telat makan, jika sudah waktunya makan segera lah makan. Jangan terlalu lelah bekerja

__ADS_1


Me


Siap laksanakan tuan putri


Setelah itu tidak ada lagi balasan dari Illona. Marcello pun kembali bekerja. Dan sekarang ia semakin bersemangat.


Marcello benar-benar menuruti perkataan Illona, ia meminta Tara untuk memesankan makanan untuk makan siang nya. Karena pekerjaan nya sangat banyak, Marcello memutuskan untuk makan di ruangan nya saja. Agar tidak membuang banyak waktu, selesai makan ia bisa langsung mengerjakan pekerjaan nya.


Marcello mengambil ponsel nya dan mengambil foto makan nya yang sudah di buka tutup waduh nya oleh Tara. Dan dengan segera ia mengirim foto itu pada Illona sebagai laporan jika ia sedang makan siang.


Ada ada saja Marcello, ia sudah seperti seorang gadis saja yang selalu mengirim foto kegiatan nya pada sang kekasih.


Me


Aku sedang makan siang, apa kamu sudah makan?


Lona


Aku baru selesai makan. Selamat menikmati makan siang mu


Lona juga mengirim foto piring yang sudah kosong, bersih bekas makan siang nya. Itu juga sebagai bukti jika ia baru selesai makan.


Marcello bekerja dengan serius dan fokus. Satu yang ia lupa dari pesan Illona. Illona meminta nya untuk tidak bekerja terlalu berlebihan yang mana akan membuat nya kelelahan.


Marcello selesai bekerja saat para karyawan nya sudah pulang ke rumah masing-masing. Marcello melihat jam yang sudah menunjukkan pukul setengah tujuan malam. Ia pun bergegas merapihkan meja nya dan segera pulang, karena sebentar lagi waktu nya makan malam.


Beruntung rumah nya tidak terlalu jauh dari kantor dan jalanan juga tidak terlalu macet. Empat puluh menit ia sudah berada di rumah nya. Marcello memasuki kamar nya, ia meletakkan tas kerja nya di atas meja sofa dan tangan satu nya menarik dasi untuk melepaskan nya dari leher. Marcello memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri, tidak butuh waktu lama untuk nya membersihkan diri. Lima belas menit ia sudah keluar dari kamar mandi dengan tubuh dan wajah yang lebih fresh.


Marcello turun dari kamar nya yang kebetulan ada di lantai atas. Ia segera bergabung di meja makan di mana kedua orang tua dan kakek nya sudah berada di sana.


" Malam semuanya, maaf kalian menunggu ku terlalu lama " Seru nya seraya mendaratkan b*k*ngnya di kursi


" Malam juga nak, kami juga baru berkumpul kok " Seru nyonya Emily seraya menimba nasi serta lauk pauk untuk suami nya


Marcello mengambil nasi untuk nya sendiri dan mengambil ikan bakar serta sayur bening untuk menu makan malam nya kali ini.


Selesai makan malam bersama yang selalu rutin mereka lakukan. Kini mereka duduk di ruang keluarga. Mereka membahas perkembangan perusahaan di sela sela obrolan mereka, tentu itu membuat nyonya Emily kesal.

__ADS_1


Wanita paruh baya itu tidak suka jika sedang berkumpul seperti ini mereka malah bawa bawa pekerjaan di sana. Cukup di kantor saja pekerjaan itu jangan di bawa di rumah saat mereka sedang berkumpul menikmati waktu keluarga bersama. Jika ingin membahas masalah pekerjaan sebagai nya selesai itu di kantor atau di ruang kerja.


Nyonya Emily berdehem untuk memberi kode agar para pria itu tidak membahas pekerjaan. Para pria itu pun dengan segera menyudahi obrolan mereka dan beralih ke hal yang lain.


Kini kakek Janshen beralih pada Marcello.


" Cello, kakek lihat lihat seperti nya kamu sedang bahagia " Seru nya memperhatikan Marcello yang sekarang ini lebih banyak tersenyum


" Ah, iya kek " Marcello tidak mengelak


" Apa yang membuat mu begitu bahagia? " Tanya kakek Janshen kepo, Robert dan nyonya Emily hanya menyimak saja obrolan kakek dan cucu itu


" Kek, bagaimana menurut kakek tentang Lona? " Tanya nya dengan semangat, ingin mengetahui penilaian kakek Janshen pada Illona, yang sebenarnya ia juga tahu kakek Janshen pasti akan berkata hal yang baik mengenai gadis itu, karena kakek Janshen sangat menyukai Illona


" Maksud mu apa? " Tanya kakek Janshen bingung


" Ya menurut kakek, Lona itu bagaimana dan seperti apa di mata kakek? "


Kakek Janshen memicing kan mata nya menatap Marcello dengan penuh arti.


" Dia gadis yang baik dan juga jujur. Jangan katakan jika kau sedang menyukai nya " Selidik kakek Janshen


" Apa aku tidak boleh menyukai nya? Bagaimana jika aku berpacaran dengan nya? Apa kakek setuju? " Tanya Marcello bertubi


" Tentu saja ***.. " Ucapan kakek Janshen terpotong


" Apa kau yakin ingin berpacaran dengan nya? " Tanya nyonya Emily terkejut, dan Marcello mengangguk yakin


" Apa tidak ada lagi gadis lain yang bisa kamu jadikan pacar? " Tanya nyonya Emily lagi, seperti nya ia tidak setuju


" Sudah lah, biar kan saja Cello menentukan gadis mana yang akan menjadi pacar nya " Sela kakek Janshen


" Tapi " Suara nyonya Emily tertahan


" Papa setuju saja, yang penting kamu bahagia. Dengan siapapun itu pilihan mu" Seru Robert menatap Marcello " Sudah lah ma, kita juga terlalu ikut campur urusan asmara Cello. Tugas kita hanya mendoakan dan mensuport nya. Bukan nya kamu juga sudah menyukai gadis itu? " Tanya Robert, nyonya Emily hanya mengangguk saja. Ia juga tidak ada pilihan lain. Pernah ia mengenalkan gadis cantik pada Marcello namun semua gadis itu tidak ada yang benar. Semua hanya menginginkan harta saja dan terlalu serakah plus sombong.


bersambung

__ADS_1


❄❄❄


minta like nya ya


__ADS_2