
Part~29
“Bella …,” lirih Iqbal seketika kehilangan kesadarannya.
Bella yang mendengar Iqbal menyebutkan namanya pun langsung melepaskan Iqbal dan kehilangan konsentrasi hingga akhirnya ia pun di tangkap oleh Nathan.
“David, cepat hubungi ambulans!” titah Nathan.
“Untuk apa?” tanya David.
“David ini bukan waktunya untuk bercanda! Cepat telpon ambulans!” teriak Nathan.
“Ya, ya, ya. Baiklah aku akan segera telpon.” David mengambil ponselnya dan langsung menelpon ambulans.
Tidak lama setelah itu polisi pun juga datang dan tanpa berpikir panjang lagi langsung menangkap Bella dan menyeratnya ke kantor polisi, sedangkan Iqbal kembali dilarikan ke rumah sakit.
***
Sesampainya di rumah sakit Iqbal kembali mendapatkan penanganan dari Dokter, dan untuk kali ini Nathan tidak memberitahu Pak Haris tentang apa yang terjadi, karena jika sampai ia mengetahui hal ini entah apa yang akan terjadi.
“Kenapa tidak memberitahu Om?” tanya Kathryn.
“Loe **** apa? Loe pikir dengan kita kasih tahu Om soal itu cuman cewek tadi doang yang kena masalah? Kita juga pasti akan kena,” jelas Nathan.
“Yang dikatakan Nathan ada benarnya juga. Kalau sampi Om Haris tau Iqbal babak belur lagi bisa-bisa kita dikeluarkan dari sekolah,” ucap David.
“Jadi sekarang bagaimana?” tanya Lisa.
“Lebih baik kalian bertiga ke kantor polisi dan cari tahu siapa cewek itu!” titah Nathan.
“Kenapa harus kami bertiga? Kalian aja, dan soal Iqbal biar gue yang jaga,” ucap Kathryn.
“Itu sih maunya loe aja! Gue nggak bisa meninggalkan Iqbal dengan cewek kayak loe! Cepat pergi sana!”
“Loe ngusir kita?” tanya Stela.
“Iya,” sahut Nathan.
“Dasar kurang ajar ya loe. Ayo gays kita pergi!” seru Kathryn berjalan pergi dari rumah sakit diikuti oleh Stela dan Lisa.
“David,” panggil Nathan.
“Apa?”
“Menurut loe siapa cewek tadi?”
“Gue sih kurang tau ya, tapi yang jelas dia cewek tipe gue banget. Loe lihat bukan bagaimana cara dia menodongkan pisau ke Iqbal? Wah itu benar-benar keren.”
“David, ini bukan waktunya untuk itu. Loe tadi lihat nggak sebelum Iqbal kehilangan kesadarannya dia seperti menyebutkan nama seseorang gitu. Iya 'kan?”
“Apaan sih loe? Gue nggak tau dan nggak yakin. Yang gue tau saat ini gue harus dapat nomor telpon tu cewek,” ucap David.
“Loe mau ke penjara?”
“Iya. Loe jaga aja Iqbal disini, dan gue mau minta nomor telpon tu cewek. Bye.” David melambaikan tangannya, kemudian pergi ke penjara juga.
“Dasar playboy cap kaleng,” ketus Nathan.
Tidak lama setelah David pergi Gino datang kepada Nathan dan bertanya tentang bagaimana kondisi Iqbal saat ini.
“Bagaimana kondisinya?” tanya Gino.
“Menurut Dokter dia baik-baik saja, sekarang dia hanya perlu istirahat,” jawab Nathan.
“Nathan, sebenarnya ada yang ingin aku katakan,” ungkap Gino dengab ragu-ragu ingin mengatakan tentang keanehan antara Isha dan Bella.
“Mengatakan apa?” tanya Nathan.
Setelah berpikir lagi Gino membatalkan niatnya untuk mengatakan hal itu. “Emmm … bukan apa-apa. Kalau begitu aku akan kembali ke sekolah dan memberitahu Guru tentang ini.”
“Baiklah. Terimakasih atas bantuanmu.”
Gino pun pergi meninggalkan rumah sakit dan kembali ke sekolah.
Dalam perjalanan menuju sekolah Gino terus berpikir tentang apa sebenarnya kaitan antara Isha dan Bella, hingga akhirnya sebuah pemikiran tentang Isha dan Bella adalah satu orang yang sama pun terlintas.
“Mungkinkah mereka satu orang yang sama dengan penampilan berbeda? Tapi, kenapa? Arghh, ini benar-benar rumit. Aku harus mencari tahu tentang kebenaran ini sebelum orang lain tahu dan membuat masalah.”
***
Kathryn, Stela, dan Lisa sudah sampai lebih dulu di penjara dan kemudian ia meminta kepada petugas agar diberikan izin untuk bertemu dengan Isha.
__ADS_1
Petugas memberikan izin kepada mereka, tapi dengan jangka waktu yang singkat.
Saat ini Kathryn, Stela, dan Lusi berhadapan dengan Bella tanpa tahu jika itu adalah Bella.
“Siapa loe sebenarnya?” tanya Kathryn.
Bella hanya diam dan memandangi Kathryn dan teman-temannya.
“Loe bisu, ya?” tanya Stela.
“Mungkin loe benar. Dia bisu,” sahut Lisa.
“Eh, loe jangan diam aja! Jawab!” gertak Kathryn.
Bella tertawa kecil. “Dasar sampah,” ketusnya.
“Apa katamu?” Mendengar perkataan Bella seketika membuat Kathryn and the geng kesal.
“Aku bilang kalian semua itu sampah yang dalam waktu dekat ini harus aku singkirkan sebelum kalian menyebarkan wabah penyakit ke orang lain,” ungkap Bella.
“Dasar kurang ajar ya loe! Loe pikir dengan apa yang loe lakuin hari ini loe bisa keluar dari sini dengan mudah? Nggak! Loe enggak akan bisa keluar dari sini dengan mudah!” tegas Kathryn.
“Benarkah? Kurasa aku akan dengan mudah keluar dari sini, dan itu tepat di depan matamu,” ujar Bella.
“Kita lihat saja nanti. Aku akan pastikan kamu tidak akan keluar dari sini selamanya!” tekan Kathryn.
“Oya? Kalau begitu aku juga akan pastikan sebelum besok pagi aku pasti sudah akan keluar dari sini!” tekan Bella.
“Kita liat aja nanti.” Kathryn yang kesal pun langsung meninggalkan Bella diikuti oleh Stela dan Lisa.
Tak lama setelah Kathryn and the geng pergi, David datang dengan membawakan bunga mawar merah dan kemudian memberikannya kepada Bella.
“Bunga itu untukmu,” ucapnya.
“Untukku? Kau yakin? Apa kau tidak tahu siapa aku? Aku gadis yang hampir membunuh sahabatmu. Kau tidak takut?” tanya Bella.
“Buat apa aku takut dengan gadis yang punya misi sama kayak aku? Aku sangat suka saat kamu memukuli Iqbal sampai babak belur begitu,” ungkapnya.
“Jadi kamu senang saat aku menghajar Iqbal?”
“Tentu saja. Karena itu aku datang kesini untuk berterimakasih kepada kamu karena sudah memberikan sesuatu yang sangat aku inginkan, yaitu melihat Iqbal menderita.”
Sambil menahan rasa sakit itu David tertawa kecil. “Wah, kamu benar-benar tipe gadis idaman aku. Kamu kuat dan brutal. Kita bisa jadi pasangan yang serasi,” ujar David.
Mendengar perkataan David, Bella tertawa kemudian melepaskan tangan David dari genggaman tangannya. “Sayangnya kamu buka tipe pemuda idaman aku!”
“Benarkah? Kamu yakin tidak akan merubah pemikiran kamu itu?”
“Yakin! Karena dendam tak akan mungkin berubah jadi rasa suka, apalagi cinta!”
“Dendam? Kamu punya dendam padaku? Memang apa yang aku lakukan sampai kamu miliki dendam?” tanya David.
“Dimalam pesta terakhir yang kamu adakan di rumahmu, kau melecehkan seorang gadis lugu bernama Billa! Gara-gara tindakan hina kalian dia hamil, dan akhirnya mengakhiri hidupnya sendiri! Asal kamu tahu saja, gadis lugu itu saudaraku!” seru Bella tak tahan lagi untuk mengatakan semua kebenaran.
Mendengar hal itu David pun merasa kaget, ketakutan, serta bingung dengan situasi yang terjadi. “Apa maksudmu? Saudara? Jangan bercanda! Itu tidak mungkin! Dan jika itu mungkin, kenapa kamu ada disini? Ingin menangkap aku? Sungguh sayang karena sekarang kamu lah yang di tangkap,” ucap David tertawa kecil.
“Mungkin saat ini aku yang ada disini, tapi tidak tahu bagaimana dengan besok bukan? Aku tidak akan membiarkan kamu masuk ke penjara dengan mudah, aku akan menghukum atas semua tindakan hina yang kau lakukan kepada Billa!” tegas Bella.
“Wah, aku sangat takut dengan ancaman kamu, tapi itu bohong. Saat ini kamu hanya bicara omong kosong! Kamu pikir kamu akan bisa dengan mudah melakukan rencanamu itu? Tidak! Aku akan gagalkan semua itu, dan aku akan lakukan hal yang sama kepadamu dengan apa yang aku lakukan kepada Billa.” David mengedipkan matanya pada Bella, kemudian pergi.
Bella yang melihat itu hanya bisa mengepalkan kedua tangannya dan berusaha menahan emosi.
***
Di rumah sakit Nathan dengan sabar menunggu Iqbal sadar, dan tak lama kemudian Iqbal pun sadar dan langsung meneriakan nama “Bella”.
“Bella …!” teriak Iqbal.
Sontak saja Nathan terkejut mendengar Iqbal berteriak.
“Ada apa?” tanya Nathan.
“Gue ada dimana?”
“Loe di rumah sakit.”
“Rumah sakit? Terus dimana Bella?”
“Bella? Maksud loe Bella yang babu loe itu?”
Iqbal mengangguk.
__ADS_1
“Dia mungkin ada di sekolah sekarang. Tadi waktu loe di serang sama cewek yang namanya Isha itu dia nggak ada kelihatan sama sekali,” jelas Nathan.
“Isha? Dimana Isha sekarang?” tanya Iqbal langsung bangun dari tempat tidur dan memasang sepatunya untuk bersiap pergi.
“Loe mau kemana?” tanya Nathan berusaha menghentikan Iqbal.
“Ketemu Isha. Dimana dia?”
“Dia ada di penjaralah. Menurut loe dia bakal ada di hotel bintang lima gitu setelah hampir aja ngebunuh loe? Nggak lah!”
“Penjara? Loe gila ya masukin dia ke penjara!” seru Iqbal kesal kepada Nathan.
“Lah kok loe malah kesel sama gue sih? Harusnya kan emang dia di penjara! Dia itu hampir aja bunuh loe! Loe sadar nggak sih?”
“Gue sadar Nathan! Karena gue saat ini sangat sadar, makanya gue mau nemuin Isha!” tegas Iqbal kemudian berlari dengan cepat meninggalkan rumah sakit.
Nathan kini benar-benar bingung dengan apa yang tengah terjadi saat ini.
“Ini semua sangat membingungkan. Dan, di saat-saat seperti ini di mana Bella? Kenapa dia tidak ada disini? Apa dia masih di sekolah tanpa tahu kabar tentang Iqbal? Aku akan menyusul kesana saja.” Nathan mengambil tasnya dan kemudian pergi.
***
Di saat Kathryn and the geng, dan David pergi dari penjara, Iqbal datang dan langsung membuat keributan dengan mengatakan jika ia ingin bertemu dengan Isha.
Setelah menunggu beberapa saat Iqbal pun mendapatkan izin untuk bertemu Bella. Saat pertama kali melihat kondisi Bella yang tak kauran dengan kondisi yang benar-benar kacau dengan cepat Iqbal memeluk Bella sambil meminta maaf.
“Maafkan aku …,” lirih Iqbal.
Bella hanya terdiam kaku mendapatkan pelukan hangat dari Iqbal dan hanya menatap dingin kearah Iqbal, dan tiba-tiba ia pun melayangkan tamparan kepadanya Iqbal.
“Itu satu tamparan untuk kebohongan yang kamu katakan kepada aku!”
Kemudian Bella kembali menampar Iqbal dengan keras.
“Dan itu satu tamparan karena sudah berani melecehkan saudaraku!” teriak Bella.
Iqbal yang melihat betapa marahnya Bella hanya bisa diam menerima setiap tamparan yang Bella berikan kepadabya.
“Kenapa? Kenapa kamu melakukan ini kepada aku? Kenapa kamu melecehkan Billa? Kenapa? Kenapa?” tanya Bella sambil menangis terisak-isak.
“Harus berapa kali aku katakan, aku bersumpah aku tidak terlibat dalam pelecehan Billa. Mungkin dulu aku memang pernah menganggu dia, tapi aku bersumpah aku tidak pernah melecehkan dia!” tegas Iqbal.
“Benarkah? Kamu ingin aku percaya dengan apa yang kamu katakan?”
“Iya.”
“Kalau begitu cabut laporan atas diriku, dan buat aku keluar dari sini!” titah Bella.
“Hanya itu yang kamu minta? Aku akan lakukan apa pun itu asalkan aku mendapatkan kata maaf dari kamu.”
“Jangan banyak bicara, dan banyaklah bertindak karena mulai sekarang kalian aku melihat kegilaan aku! Cepat lakukan!” titah Bella.
“Aku akan segera kembali.” Iqbal kemudian pergi untuk mencabut laporan atas tindakan Bella kepadanya.
Tidak lama kemudian akhirnya Bella pun bebas.
“Aku akan mengantarkan kamu pulang,” ucap Iqbal membukakan pintu mobil untuk Bella.
Tanpa mengatakan apa pun Bella masuk ke dalam mobil Iqbal, dan kemudian diikuti oleh Iqbal.
“Sebelum kamu mengantarkan aku pulang, tolong antar aku ke alamat ini.” Bella menujukan sebuah alamat kepada Iqbal dari ponselnya.
“Itu tempat apa?” tanya Iqbal.
“Kamu mau mengantar aku, atau aku pergi sendiri saja menggunakan taxsi?” tanya Bella dengan tatapan dingin.
“Aku akan mengantarkan kamu.” Dengan kecepatan tinggi Iqbal mengendarai mobilnya hingga akhirnya sampai di sebuah gudang tua yang tampak terbengkalai.
“Kenapa kita kesini?” tanya Iqbal masih tidak tahu apa lagi yang ingin Bella lakukan di tempat itu.
“Ikuti aku.”
Bella memimpin jalan di depan diikuti oleh Iqbal yang berjalan dengan langkah hati-hati mengikuti Bella hingga akhirnya Bella stop di lantai dua gedung itu, dan betapa terkejutnya Iqbal melihat Kathryn and the geng, dan David terikat dengan tali dengan mata tertutup.
“Apa-apaan semua ini?” tanya Iqbal.
“Mau bagaimana lagi Iqbal? Aku sudah tidak tahan lagi terus menunggu dan menunggu agar mereka mendapatkan hukuman atas tindakan mereka, jadi aku akan gunakan cara yang sama. Aku akan membalaskan dendam Billa, dan kemudian menyerahkan diri kepada polisi,” ungkap Bella dengan tatapan mata kosong.
***
Bersambung.
__ADS_1