Pura-pura Cupu

Pura-pura Cupu
Part~33


__ADS_3

Part~33


***


Nathan terdiam kaget melihat David yang bermandikan darah, dan di sisi lain Bella yang menangis ketakutan dengan pakaian dan wajahnya yang berlumuran dengan darah juga.


“Apa semua ini? Apa yang terjadi?” tanya Nathan.


Iqbal mendekati Nathan dan meminta Nathan agar sedikit tenang agar Bella tak semakin menjadi ketakutan.


“Nathan, tenanglah. Tenangkan dirimu,” ujar Iqbal.


“Bagaimana? Bagaimana aku bisa tenang? Lihat! Lihatlah apa yang sudah dia lakukan kepada David. Entah dia masih hidup atau sudah tiada,” ucap Nathan.


“Iya aku tahu. Tapi lebih baik sekarang kamu telpon ambulans dan segera bawa David ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut!” titah Iqbal.


“Baiklah.” Nathan langsung menelpon ambulans, sedangkan Iqbal kembali kepada Bella dan menghapuskan darah yang ada di wajah Bella.


“Semua akan baik-baik saja,” ujar Iqbal.


Bella tidak mengatakan apa pun, Bella hanya terus diam dan menangis karena merasa bersalah dengan kondisi David.


“Berhentilah menangis. David akan baik-baik saja. Dia baik-baik saja, lebih baik kamu segera pergi dari sini jika tidak polisi akan menemukan kamu!” titah Iqbal.


Mendengar jika Iqbal ingin melepaskan Bella membuat Nathan terkejut dan tak setuju akan hal itu.


“Iqbal, apa kau tidak waras? Kau ingin melepaskan gadis ini begitu saja? Dia itu Isha bukan?” tanya Nathan yang masih tak mengenali bahwa itu adalah Bella. “Dia itu gadis yang sama yang waktu itu hampir membunuhmu! Jangan lepaskan dia dengan mudah!” seru Nathan.


“Tapi ….”


“Tidak ada tapi-tapi! Dan, dimana Bella? Aku tidak melihatnya. Apa jangan-jangan gadis itu membunuhnya juga?”


“Nathan hentikan! Dia tidak mungkin menghabisi dirinya sendiri!”


Nathan bingung. “Maksudnya?”


“Gadis ini Bella. Isha dan Bella itu gadis yang sama,” ungkap Iqbal.


“Apa? Apa-apaan semua ini?” tanya Nathan tak mengerti dengan situasi yang terjadi.


“Aku akan jelaskan semuanya nanti, lebih baik kau bawa saja David ke rumah sakit. Itu ambulans sudah datang.”


“Baiklah, tapi aku ingin kalian menjelaskan semua kepada aku. Jika tidak aku akan menyerat Isha atau Bella itu ke penjara!”


“Baiklah. Aku berjanji akan menceritakan semuanya. Ayo kita pergi dari sini Bella, sebelum ada yang melihat kamu ada disini dengan tubuh penuh darah seperti ini.” Iqbal menggenggam tangan Bella dan kemudian kabur lewat jalan lain, sedangkan Nathan pergi membawa David ke rumah sakit.


***


Iqbal dan Bella bersembunyi di dalam mobil untuk menghindari polisi, dan kemudian Iqbal pun mengendarai mobilnya kembali ke rumahnya.


Sesampainya di rumah Iqbal memberikan segelas air kepada Bella. Lalu Bella menghabiskan air itu, kemudian kembali menangis membayangkan hal buruk apa yang sudah ia lakukan.


“Apa yang sudah aku lakukan Iqbal? Aku melukai dia, jadi sekarang aku sama saja dengannya. Aku ini monster!” teriak Bella.


Melihat kaadaan Bella yang saat ini benar-benar buruk Iqbal hanya bisa menenangkannya dengan kata-kata manis dan lembut.


“Bella, tenanglah. Jangan katakan jika kamu itu moster. Kamu bukan moster! Kamu melakukan itu untuk membela dirimu, jadi jangan merasa bersalah,” ucap Iqbal.


“Tapi, tetap saja aku sama seperti David. Jika David sampai meninggal, berarti aku sama saja seperti dia. Aku takut,” lirih Bella.

__ADS_1


Iqbal memeluk Bella dengan erat dan memberikan dia sedikit ketenangan dan rasa aman dalam pelukannnya sambil berkata, “David akan baik-baik saja. Dia tidak akan mati dengan mudah sebelum mendapatkan hukuman atas perbuatan buruknya kepada Billa, dan kepadamu. Aku tidak akan mengampuni dia!”


“Dia benar-benar bukan manusia. Dia melecehkan Billa, dan tadi dia juga ingin melakukan hal yang sama kepadaku,” ungkap Bella.


Mendengar perkataan Bella sontak Iqbal kaget. “Apa? Dia ingin melecehkan kamu?”


“Iya. Dia ingin melakukan hal itu kepada aku, jadi untuk melindungi diri aku memukulnya dengan batu itu hingga darah mulai ….” Bella kembali menangis karena tak sanggup melanjutkan ceritanya.


“Tidak papa. Semua akan baik-baik saja,” ucap Iqbal sambil mengelus lembut rambut Bella.


“Semua akan baik-baik saja bukan?” tanya Bella.


“Tentu saja.”


“David tidak akan mati dengan semudah itu 'kan?”


“Ya. Dia tidak boleh mati semudah itu setelah apa yang dia lakukan kepada wanita. Aku bersama denganmu, jadi jangan takut. Terus genggam tanganku, dan jangan pernah lepaskan. Paham?”


Bella menggangguk kecil, kemudian kembali memeluk Iqbal.


“Sekarang bersihkan dirimu, nanti aku akan siapkan baju untukmu.”


“Baiklah. Dimana kamar mandinya?”


“Kamu bisa gunakan kamarku, dan kamar mandiku.”


“Dimana?”


“Diatas, kamar di samping kanan.”


“Baiklah.” Dengan langkah kecil Bella pun pergi ke kamar Iqbal untuk membersihkan diri.


“Tuan, siapa gadis itu? Kenapa tubuhnya penuh dengan darah?” tanya Bi Inah dengan takut.


“Dia pacarku. Tolong Bibi siapkan baju ganti untuk dia dan letakkan di kamar aku, dan jangan lupa berikan dia makanan. Aku akan pergi sebentar.”


“Baik, Tuan.”


Kemudian Iqbal pun pergi untuk melihat bagaimana kondisi David, sekaligus mencegah Nathan untuk melaporkan hal ini kepada polisi.


***


Sesampainya di rumah sakit Iqbal pun langsung menjelaskan dan memberitahu Nathan tentang kebenaran tentang Bella.


Setelah mendengar kisah itu Nathan pun akhirnya mengerti apa yang di rasakan oleh Bella saat mengetahui saudaranya meninggal dalam kaadaan hamil.


“Jadi, dia ingin agar David mengakui kejahatan yang dia lakukan? Begitu?” tanya Nathan.


“Iya. Itu benar. Aku membantunya karena aku pikir mungkin dengan melakukan kebaikan ini kesalahan yang aku lakukan di masa lalu dapat di maafkan oleh murid-murid lain. Kau tahu bukan keinginan terakhir Ibuku adalah agar aku bisa menolong orang lain, bukan mengacaukan hidup mereka. Jadi, kumohon jangan buat laporan tentang kasus ini,” pinta Iqbal.


“Tenang saja. Aku akan tutup mulut tentang masalah ini. Tetapi, kita tidak tahu nanti saat David tlah sadar. Dia mungkin akan membuat Bella mendekam di penjara dengan kebohongan dia. Jika itu terjadi, apa yang bisa kita lakukan?” tanya Nathan.


“Yang kau katakan ada benarnya juga. Kita harus memikirkan bagaimana caranya kita bisa membuktikan jika David lah yang sebenarnya melakukan tindak kejahatan. Bella memukulnya hanya untuk membela diri,” jelas Iqbal.


Nathan dan Iqbal pun mulai berpikir bagimana caranya agar hal yang tidak diinginkan itu dapat di cegah.


***


Bella sudah membersihkan tubuhnya dan berganti pakaian yang sudah disiapkan Bi Inah untuk ia pakai, tetapi saat Bella turun kembali ke bawah Bella tak bisa menemukan Iqbal.

__ADS_1


Melihat Bella yang tampak kebingungan Bi Inah pun bertanya.


“Non, sedang mencari siapa? Tuan Iqbal?” tanya Bi Inah.


Bella menggangguk kecil.


“Tadi Tuan Iqbal bilang dia ingin keluar sebentar karena ada urusan penting,” ungkap Bi Inah.


“Urusan penting? Urusan penting apa?” tanya Bella.


“Bibi juga kurang tahu Non. Emm … Non sudah makan? Mau Bibi siapkan makanan?” tanya Bi Inah.


Bella yang saat itu merasa lapar pun tidak bisa menolak tawaran itu. Kemudian Bi Inah menyiapkan makanan di meja dan mempersilakan Bella untuk memakan makanan tersebut.


“Bi, bisa tolong duduk disini? Aku tidak bisa makan sendirian. Ini menyedihkan,” kata Bella.


“Hmm … baiklah Non. Bibi akan duduk disini menemani Non makan.” Bi Inah duduk di depan Bella.


Bella menyantap makanan itu dengan lahap awalnya, tapi tiba-tiba ia berhenti makan saat bayangan tindakan yang ia lakukan kepada David terlintas.


“Ada apa Non? Kenapa berhenti makan? Makanannya kurang enak ya?” tanya Bi Inah.


“Bukan kok Bi. Hanya saja aku sedang memikirkan hal lain,” jawab Bella.


“Benarkah? Oya Non, boleh Bibi bertanya sesuatu?”


“Bertanya apa Bi?”


“Sudah berapa lama Non dan Tuan Iqbal pacaran?”


Mendengar pertanyaan Bi Inah, Bella langsung tersedak.


“Apa? Pacaran? Kami tidak pacaran Bi!” tegas Bella.


“Yakin? Tapi tadi Tuan Iqbal bilang kalian pacaran. Non, jangan bohong dong.”


“Saya nggak bohong Bi. Saya benar-benar nggak pacaran sama Iqbal!” tegas Bella.


Di sela-sela pembicaraan Bella bersama Bi Inah, tiba-tiba bel berbunyi dan dengan cepat Bi Inah membuka pintu. Tetapi saat ia membuka pintu, Bi Inah kaget melihat polisi datang.


“Apa ini benar kediaman Tuan Haris?” tanya polisi.


“Iya benar Pak. Ada apa ya?” tanya Bi Inah.


“Kami baru saja mendapatkan laporan percobaan pembunuhan yang dilakukan oleh seorang gadis bernama Bella. Dan menurut informasi yang kami dapatkan dia ada di rumah ini,” jelas polisi.


Bella yang mendengar keributan di luar pun langsung memeriksa apa yang terjadi. Tapi tiba-tiba Bella terkejut melihat polisi datang.


“Ada apa ini?”


“Anda saudari Bella?” tanya polisi.


“Iya benar. Ada apa?” tanya Bella dengan takut.


“Anda kami tahan atas tuduhan pencobaan pembunuhan, dengan korban yang bernama David.” Polisi kemudian memborgol tangan Bella dan menyeretnya untuk di interogasi lebih lanjut.


***


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2