Pura-pura Cupu

Pura-pura Cupu
wanita bermuka tembok


__ADS_3

Happy Reading


Seorang wanita berpakaian s*ksi berjalan dengan angkuh memasuki perusahaan One Entertainment. Ia memasuki kotak persegi yang akan membawa nya ke lantai yang ia tuju.


Pintu lift terbuka, wanita itu langsung ke luar dan menuju pintu yang bertuliskan CEO. Asisten Tara yang baru saja ke luar dari dalam ruangan nya menahan wanita itu yang mana tangan nya sudah memegang handle pintu.


" Maaf nona,, anda tidak bisa masuk ke dalam tanpa izin " Tegur Tara dengan wajah datar nya


Tara melihat ke meja sekertaris, ternyata tidak ada orang. Entah kemana pergi nya sang sekertaris.


" Saya hanya ingin bertemu dengan Cello " Dengus wanita itu tak suka


" Apa anda sudah membuat janji sebelum nya? " Tanya Tara


" Aku tidak perlu membuat janji dulu sebelum bertemu dengan nya " Ketus wanita itu


" Tapi maaf nona, siapa pun yang ingin bertemu dengan tuan maka mereka harus membuat janji terlebih dahulu " Tegas Tara


" Siapa kau berani nya melarang ku bertemu dengan Cello? " Wanita itu menatap Tara sinis


" Saya asisten nya jika anda lupa. Dan silahkan anda pergi " Usir Tara


Wanita itu masih kekeh ingin masuk ke dalam, namun sama hal nya dengan Tara. Ia juga terus menahan wanita itu agar tidak masuk.


" Sebaik nya anda segera pergi dari sini selagi saya masih memperingati dengan baik baik. Jika tidak terpaksa saya akan memangil petugas keamanan untuk menyeret anda ke luar dari gedung ini " Gertak Tara dengan sinis


Mau tak mau akhirnya wanita itu meninggalkan Tara dengan bersungut-sungut.


" Awas saja kau, setelah aku kembali pada Cello. Orang pertama yang akan aku singkirkan adalah kau " Tuding nya dengan jari telunjuk pada wajah Tara


" Silahkan " Tantangan Tara dingin


Setelah kepergian wanita itu Tara menghela napas panjang dan merapikan kemeja nya seolah kemeja nya berantakan padahal kemeja nya masih rapih. Tara kembali melanjutkan melangkah kan kaki nya ke tempat yang ia tuju.

__ADS_1


Malas sekali ia meladeni wanita itu, entah kenapa wanita itu bisa kembali lagi ke sini. Padahal sudah lama wanita itu tidak menampakkan batang hidung nya di sana.


Wanita itu terus saja mendatangi gedung One Entertainment dengan tujuan yang sama. Setiap hari ia datang dan setiap hari juga ia selalu di tolak. Antara pantang menyerah sebelum berjuang atau tidak tahu malu itu lah yang di lakukan wanita itu. Berbagai alasan yang ia berikan dan berbagai alasan juga sekertaris Marcello menolak nya.


" Maaf nona, tapi tuan Marcello sedang tidak ada di tempat " Jelas seorang wanita yang merupakan sekertaris Marcello dengan sopan padahal dalam hati nya sudah merutuki wanita itu yang tidak tahu malu.


" Kemana? Apa dia sedang meeting di luar? " Tanya nya kepo


Sekertaris Marcello hanya menggeleng tidak tahu membuat wanita itu menekuk kan wajah nya kesal. Ia pergi meninggalkan sekertaris Marcello dengan kesal karena sudah beberapa hari ia ke sana tapi tidak mendapatkan hasil.


Asisten dan sekertaris Marcello benar-benar membuat nya marah. Selalu mempersulit nya untuk bertemu dengan Marcello. Ia mengutuk bawahan Marcello dalam hati nya.


Sekertaris Marcello menatap punggung wanita itu yang semakin menghilang dari pandangan mata nya dengan tatapan jijik. Menyesal dulu ia sempat menyukai wanita itu. Wanita sombong dan arogan.


" Hah dasar wanita bermuka tembok " Cibir nya kemudian melanjutkan pekerjaan nya yang tertunda gara gara meladeni wanita tadi.


---------------


" Untuk apa wanita itu ingin menemui ku? " Tanya Marcello pada seseorang di seberang sana


" Katakan pada nya aku tidak ingin bertemu dengan nya " Kesal Marcello tak ingin bertemu dengan orang yang ingin bertemu dengan nya


" Baik " Ucap nya patuh


Setelah segala urusan sudah di sampaikan, Marcello memutuskan sambung mereka. Ia kembali memasuki ruang rawat Illona. Sudah beberapa hari Illona di rawat di rumah sakit dan selam itu pula Marcello berada di sana untuk menemani Illona.


Marcello duduk di sofa menyandarkan punggung nya di sana. Ia memijit pelipis nya pusing, mendengar laporan dari asisten nya mengenai wanita masa lalu nya yang setiap hari datang ke kantor ingin menemui nya.


Illona melihat Marcello yang duduk di sofa. Ia merasa bersalah karena sudah membuat Marcello terjebak di sini bersama nya sehingga Marcello mengabaikan pekerjaan nya. Illona berpikir pasti pria itu sedang pusing memikirkan pekerjaan nya yang menumpuk.


" Cello " Panggil Illona


Mendengar nama nya di panggil, Marcello pun menoleh ke ranjang Illona dan menghampiri gadis itu.

__ADS_1


" Kau butuh sesuatu? " Tanya Marcello sudah duduk di samping Illona


" Tidak ada " Illona menggeleng


" Lalu? " Marcello menaikan sebelah alis nya


" Sebaiknya kau pulang saja " Ucap Illona pelan, ada rasa tak rela ketika ia mengatakan nya. Ia sudah nyaman beberapa hari ini bersama Marcello.


" Kau mengusir ku? " Marcello menatap Illona sengit


" Tidak.. Bukan seperti itu " Illona menunduk


" Lalu? "


" Pekerjaan mu jauh lebih penting, aku tak masalah sendiri di sini. Beberapa hari lagi aku sudah bisa pulang " Jelas Illona yang tak enak hati karena Marcello mengabaikan pekerjaan nya yang pasti sangat banyak di sana


Saat kecelakaan waktu itu keadaan Illona cukup memprihatinkan. Sehingga dokter menyarankan Illona untuk di rawat di rumah sakit.


" Aku tidak akan meninggalkan mu sendiri di sini " Ketus Marcello menolak Illona yang meminta nya untuk pulang


" Tapi "


" Aku akan pulang dengan mu. Aku bisa menyelesaikan pekerjaan ku dari sini tidak harus aku berada di sana " Marcello memotong ucapan Illona


" Baik lah " Illona membuang napas panjang, ia tidak mau berdebat dengan Marcello. Yang sebenarnya ia juga masih ingin Marcello ada di samping nya menemani nya. Jujur saja ia tidak kenal siapa siapa di kota ini.


Keadaan Illona juga sudah semakin membaik. Luka luka memar dan goresan nya sudah berangsur memudar. Marcello merawat nya dengan telaten. Mulai dari menyuapi nya makan, minum obat, membantu nya turun naik tempat tidur untuk pergi ke kamar mandi, menemani nya mengobrol dan Marcello juga ikut menginap di sana. Ia rela tidur di sofa yang sangat sempit untuk ukuran tubuh nya yang tinggi.


" Gadis pintar " Marcello menepuk pelan kepala Illona " Sebaik nya kau istirahat yang banyak agar kau cepat sembuh dan kita bisa pulang segera " Tutur Marcello seraya tersenyum


Illona mengangguk dan kembali berbaring. Ia memejamkan mata nya, mata yang memang sudah mengantuk efek dari obat yang baru saja ia minum.


Marcello menatap Illona yang sudah memejamkan mata nya, ia tersenyum senang karena beberapa hari bersama Illona mereka semakin dekat. Marcello kembali ke sofa untuk mengerjakan pekerjaan nya yang sudah di kirim asisten nya Tara melalui e-mail.

__ADS_1


bersambung....


__ADS_2