Pura-pura Cupu

Pura-pura Cupu
Perjanjian


__ADS_3

Happy Reading


Bukkk


Terdengar suara tendangan yang cukup keras. Suara itu bukan berasal dari suara tendangan pada manusia ya, melainkan suara tendangan pada suatu benda yang cukup keras.


Suara tendangan itu berasal dari seseorang yang dengan sengaja menendang ban mobil nya karena kesal. Umpatan pun tak lupa ia berikan pada ban mobil yang malang.


" Si*l " Umpat Marcello sambil menendang ban mobil nya


Entah berapa banyak kata kata mutiara yang keluar dari mulut Marcello untuk mengumpati ban mobil nya yang terlibat kempis. Ia melihat jam mahalnya yang terpasang di pergelangan tangan nya. Semakin kesal saja wajah nya dan di tambah cuaca yang panas seakan menambah kesi*lan nya. Padahal hari masih di bilang pagi tapi matahari sangat menyengat hari ini.


Marcello merogoh saku jas nya dan mengambil ponsel nya. Ia hendak menghubungi seseorang, namun ternyata kesi*lan sedang berada di dekat nya. Ponsel nya ke habisan daya, ia tadi pergi dengan terburu-buru sehingga tidak mengecek keadaan ponsel nya. Dan sekarang ia menyesal karena sudah menolak tawaran asisten nya Tara untuk pergi bersama.


Siang ini Marcello ada meeting penting di luar kantor dengan rekan bisnis nya. Setengah jam lagi meeting akan di mulai namun ia terjebak di sini, bukan terjebak macet melainkan di karena kan ban mobil nya bocor.


Marcello melihat ke kiri dan ke kanan tak ada taxi yang lewat, abang abang berjaket ijo pun tak ada yang lewat, ada yang lewat pun itu sudah ada penumpang nya. Sungguh apes nasib Marcello pagi ini. Serep ban mobil ada di dalam mobil nya, namun ia tidak bisa mengantikan nya sendiri. Yang biasa melakukan perawatan mobil nya itu sang supir yang ada di kediaman mereka. Supir lah yang rutin membawa mobil ke bengkel dan perawatan lain sebagainya.


" Apa tidak ada kendaraan yang bisa aku pesan? " Tanya Marcello pada diri nya sendiri yang melihat sekitar nya tidak ada tanda tanda taxi atau ojol yang kosong.


" Tuhan tolong kirim kan saya seseorang sekarang. Saya berjanji jika ada seseorang yang datang menolong saya, saya akan membalas kebaikan nya " Marcello memohon dalam doa nya

__ADS_1


Ini kali pertama nya melakukan hal seperti ini. Sebelumnya ia tidak pernah berdoa seperti ini yang mengajukan perjanjian dalam doa nya ke pada Tuhan. Seperti melakukan perjanjian terhadap manusia. Ini semua Marcello lakukan karena meeting yang akan ia lakukan pagi ini sangat penting.


Terlihat Marcello mondar-mandir di depan mobil nya sesekali ia melihat ke arah jalan. Namun sudah hampir sepuluh menit ia menunggu tidak ada tanda tanda orang yang akan membantu nya.


Penampilan nya yang rapih kini mulai lusuh karena kering. Jas yang tadi ia kenakan kini sudah ia buka, kemeja kerja nya sudah mulai sedikit basah. Beruntung kemeja nya berwarna gelap sehingga bagian yang basah tidak ketara.


Marcello berniat menganti ban mobil nya sendiri, namun setelah ban cadangan sudah ia keluarkan. Niat nya tadi ia urungkan, karena ia tidak tahu caranya bagai mana. Marcello menggaruk kepala nya melihat ban itu. Dalam berbisnis mungkin Marcello memang hebat, namun ada hal lain juga yang Marcello tidak bisa lakukan. Ya, salah satu nya ini, ia tidak bisa menganti ban mobil sendiri.


Sebuah motor berhenti di dekat mobil Marcello. Marcello yang sedang melihat ban mobil nya seketika memalingkan wajah nya ke suara motor yang berhenti di dekat nya. Marcello menutup mata nya melihat siapa yang menghampiri nya.


Oh tidak, kenapa harus dia lagi yang hadir di hadapan Marcello. Ini yang ke dua kali nya wajah itu muncul di hadapan nya di kala ia sedang membuat perjanjian. Seperti nya takdir memang sedang mempermainkan nya.


" Oh ban nya bocor " Seru nya lagi ketika ia melihat ban mobil yang kempis


" Apa pak Cello bisa menganti nya? " Marcello menggeleng


" Terus, apa sudah menghubungi pihak bengkel? " Dan Marcello kembali menggeleng


" Kenapa belum? "


" Ponsel saya mati " Marcello menunjukkan ponsel nya yang ke habisan daya

__ADS_1


Marcello melihat jam di pergelangan tangan nya, waktu yang tersisa masih tinggal dua puluh menit lagi. Ia harus segera pergi ke tempat di mana ia akan melakukan meeting. Mau tidak mau akhirnya Marcello meminta tumpangan pada orang yang ada di hadapan nya.


" Nona Lona, apa anda sedang sibuk? " Illona berfikir mengingat jadwal nya kemudian ia menggeleng karena ia tidak terlalu sibuk hari ini


" Apa anda tidak keberatan jika mengantarkan saya ke suatu tempat? Saya sedang terburu-buru, ada meeting penting yang harus saya hadiri. Tidak ada kendaraan lain yang bisa tumpangi sedari tadi " Jelas Marcello penuh harap jika gadis di depan nya mau memberi tumpangan pada nya


Illona melihat sekitar nya, memang susah mencari taxi atau ojol. Dan ia melihat pakaian Marcello sudah sedikit lusuh ia pun merasa kasihan. Kemudian ia teringat beberapa hari yang lalu ia sudah menabrak pria itu, akhirnya Illona mengiyakan permintaan Marcello sebagai bentuk perminta maafan nya.


" Baik lah " Seru Illona kemudian ia memberi helm pada Marcello untuk di gunakan


Sebelum mereka pergi, Illona meminjamkan ponsel nya pada Marcello untuk Marcello menghubungi orang nya agar segera mengurus mobil nya di sini. Illona meminta Marcello yang mengendarai motor nya, karena ia tidak tahu di mana lokasi Marcello akan melakukan meeting.


Marcello menjalankan motor bebek Illona dengan kecepatan yang cukup tinggi. Ini ia lakukan karena ia sudah tidak memiliki waktu yang banyak, sedangkan tempat yang ia tuju cukup jauh dari tempat mereka sekarang.


Illona reflek memeluk pinggang kokoh Marcello karena ia takut terjatuh jika ia tidak berpegangan dengan kuat.


Deg


Marcello terkejut melihat tangan Illona melingkar di pinggang nya. Apa lagi punggung nya merasakan ada sesuatu yang menempel di sana. Konsentrasi nya hampir hilang merasakan sesuatu di punggung nya. Marcello menggeleng kan kepala nya untuk kembali konsentrasi.


Sedangkan Illona, ia tidak perduli jika nanti Marcello berfikir yang aneh aneh pada nya. Yang ia fikirkan hanya keselamatan nya saja. Illona tidak pernah berkendara dengan kecepatan seperti ini. Maka dari itu, ia sangat takut ketika Marcello mengendarai motor dengan cepatan seperti ini. Sepanjang jalan Illona hanya memejamkan mata nya saja dan terlihat mulutnya komat kamit seperti mbah dukun membaca mantra. Entah doa apa saja yang ia ucap kan, hal itu tidak luput dari penglihatan Marcello. Marcello tersenyum melihat wajah Illona yang napak tegang. Walaupun Marcello fokus melihat jalan di depan nya, tapi sesekali ia melihat Illona yang di belakang nya dari kaca spion. Ia sangat terhibur melihat wajah Illona, menurut nya wajah Illona sangat lucu.

__ADS_1


__ADS_2