
Happy Reading
Mobil Marcello memasuki kawasan gedung One Entertainment. Setelah memarkirkan mobil nya di parkiran khusus, Marcello langsung memasuki bangunan tinggi itu dengan langkah terburu-buru.
Melewati lobi dan mengabaikan sapaan dari para karyawan nya. Marcello langsung masuk ke dalam lift khusus petinggi yang baru saja terbuka. Ia mengabaikan teriakkan seseorang yang memanggil nya.
" Aish ada apa dengan bocah itu? " Ucap nya dengan ke dua tangan di pinggang pandangan nya masih berada di lift yang sudah tertutup rapat
" Honey, kau masuk saja dulu. Aku mau menemui Marcello terlebih dahulu " Kini pandangan nya sudah beralih pada gadis yang ada di samping nya
" Baik lah, ayo " Ajak gadis itu
" Apa kau juga mau ikut menemui Marcello? " Tanya pria itu bingung
" Tidak " Ia menggeleng kepala
" Lalu? "
" Apa kau lupa jika ruangan ku berada di lantai empat? " Seru gadis itu sambil berjalan menuju lift
" Astaga aku lupa, maaf honey " Pria itu menepuk jidat nya sendiri, kemudian ia segera menyusul kekasih nya yang sudah masuk ke dalam lift
Sepasang kekasih itu masuk ke dalam lift dengan tujuan berbeda. Pintu lift terbuka di lantai empat dan gadis itu segera ke luar.
" Selamat bekerja honey " Ucap pria itu
" Ya, bye honey " Gadis itu melambaikan tangan setelah berada di luar lift
Pintu lift kembali tertutup dan kembali melanjutkan pekerjaan nya untuk mengantar pria itu ke tempat tujuan nya.
Pria itu tiba di depan ruang Marcello bersamaan dengan asisten Tara yang kebetulan hendak masuk ke dalam. Sebelum masuk asisten Tara mengetuk pintu terlebih dahulu.
Setelah mendapat izin untuk masuk, baru lah asisten Tara masuk bersama dengan pria tadi.
__ADS_1
" Ada apa pak? " Tanya asisten Tara saat ia sudah berada di depan Marcello. Tadi saat tiba di ruangan nya Marcello langsung menghubungi asisten nya untuk segera ke ruangan nya.
" Tolong kau cek seluruh rumah sakit yang ada di kota ini. Apakah ada pasien korban tabrakan masuk ke sana hari ini " Perintah Marcello
" Kalau boleh tahu siapa nama nya pak? " Tanya asisten Tara. Bukan nya ia harus tahu siapa yang kecelakaan bukan, untuk mendapatkan informasi yang akurat.
" Ah ya benar. Aku sampai lupa memberi tahu nama nya " Seru Marcello, ia lupa karena terlalu khawatir " Lona " Seru Marcello
" Baik " Seru asisten Tara, kemudian ia berbalik hendak ke luar namun di cegah oleh Marcello.
" Tetap di sini, aku juga akan mencari nya " Seru Marcello, ia tidak mau menunggu lama. Maka dari itu ia meminta asisten nya untuk bekerja dari ruangan nya agar ia bisa langsung bertanya mengenai hasil nya.
Asisten Tara mengangguk dan ia duduk di sofa bersebelahan dengan pria yang menatap Marcello.
" Cello, apa yang terjadi pada Lona? " Ia juga ikut khawatir setelah mendengar perkataan Marcello barusan.
" Riki, kau juga ada di sini? " Bukan nya menjawab Marcello malah bertanya, ia terkejut melihat Riki ada di ruangan nya. Karena panik ia sampai tidak menyadari kehadiran Riki, sahabat nya.
" Ya, kau tidak menyadari nya? " Marcello menggeleng sebagai jawaban
" Apa sebenarnya terjadi? " Tanya Riki lagi
" Lona mengalami kecelakaan saat hendak bertemu dengan ku, tapi aku tidak tahu ia di bawa ke rumah sakit mana " Lirih Marcello, ia sangat yakin jika Illona kecelakaan pasti saat hendak menemui nya. Karena Illona mengirim pesan akan datang pada nya.
" Ya ampun, aku juga akan ikut mencari nya " Seru Riki, kemudian tiga pria itu sibuk menghubungi setiap rumah sakit yang ada di kota itu. Bukan hanya rumah sakit saja yang mereka hubungi, puskesmas dan klinik juga mereka hubungi.
Ada begitu banyak korban kecelakaan yang di bawa ke rumah sakit hari ini, namun sayang tidak ada pasien yang bernama Lona di semua rumah sakit di kota itu. Marcello menatap Riki dan asisten Tara secara bergantian untuk bertanya hasil nya. Namun mereka hanya menggeleng yang berarti tidak ada.
" Di mana mereka membawa Lona " Marcello menghempaskan punggung nya di senderan kursi kerja nya, kepala nya mendongak ke atas dengan tangan di atas dahi.
" Apa sebenarnya dia tidak di bawa ke rumah sakit " Riki melihat asisten Tara, ia berpikir positif mungkin Illona hanya mendapat luka kecil jadi ia tidak di bawa ke rumah sakit
" Tapi teman nya mengatakan jika dia di bawa ke rumah sakit" Marcello kembali membenarkan posisi tubuh nya
__ADS_1
" Ya, mungkin karena luka nya tidak parah jadi dia tidak di rawat inap dan sekarang ia sudah di antar pulang ke rumah nya atau ke tempat dia bekerja " Pendapat Riki
" Benar juga itu " Timpal asisten Tara membenarkan
Marcello diam sejenak, mendengar perkataan Riki dan mengaitkan dengan usaha mereka yang tidak mendapatkan hasil, kemungkinan perkataan Riki benar jika Illona tidak apa apa. Tidak terjadi sesuatu yang mengkhawatirkan.
Dengan adanya ucapan positif dari Riki, Marcello dapat sedikit lega.
Marcello mengangguk " Seperti nya begitu "
Beberapa detik kemudian Marcello beranjak dari kursi kebesaran nya. Ia memasukkan ponsel nya ke dalam saku jas nya. Melihat itu, Riki pun segera bertanya.
" Mau ke mana kau? "
" Aku akan menemui Lona di rumah nya "
" Hah, kau ingin menemui nya? Apa kau tahu dia tinggal di mana sekarang? " Pertanyaan itu sukses membuat langkah kaki Marcello yang sudah melewati sofa terhenti
Marcello berbalik menoleh pada Riki.
" Maksud mu, Lona sudah tidak tinggal di sana lagi? " Tanya Marcello
" Kata Viona si begitu. Lona sudah pindah kemarin"
" Lalu di mana sekarang dia tinggal? "
Riki menaikan ke dua pundak nya bertanda ia tidak tahu. Riki benar-benar tidak tahu, karena waktu Viona bercerita ia hanya mendengarkan saja tanpa bertanya lebih. Ia tidak mau terlalu banyak bertanya yang ujung-ujungnya, membuat Viona kesal dan cemburu. Padahal ia sendiri yang mulai bercerita, wanita memang benar-benar aneh pikir Riki.
" Panggil Viona, suruh dia kemari " Pinta Marcello pada Riki
Riki pun segera menghubungi kekasih nya, Viona dan meminta nya untuk segera naik ke atas ke ruangan Marcello. Dan asisten Tara pun pamit undur diri karena ia masih harus mengerjakan tugas-tugas nya yang menunggu di ruangan nya.
bersambung.....
__ADS_1
❄❄❄
minta like nya ya guys