
Happy Reading
Baru saja Illona menutup pintu mobil Marcello, ketika ia membalikkan tubuh nya, ia di kejutkan dengan sosok pria dan wanita yang berdiri di depan nya, di samping wanita itu ada anak kecil.
Illona mengelus dada nya karena terkejut. Ia menatap ketiga orang itu secara bergantian.
" Maaf jika sudah mengejutkan anda, nona " Seru pria itu
" Ah, tidak apa apa " Seru Illona tersenyum
" Ada apa, Tara? " Tanya Marcello dari dalam mobil yang hanya terlihat wajah nya saja
" Ini tuan, ibu dari anak kecil yang menyebabkan kecelakaan tadi ingin meminta maaf pada tuan " Seru pria itu yang tak lain adalah asisten Tara
" Tuan maaf kan saya, ini semua karena kesalahan saya yang sudah lalai dalam menjaga anak saya sehingga ia menyebrang jalan sembarangan. Tolong maafkan saya dan anak saya " Seru wanita itu penuh sesal
" Seharusnya anda juga meminta maaf pada gadis ini. Karena dia yang sangat di rugikan di sini " Seru Marcello menunjuk Illona yang masih berdiri di sana
Ya, Marcello tahu jika kecelakaan ini, Illona lah yang paling banyak menanggung kerugian. Motor nya rusak, tubuh nya mengalami banyak luka, belum lagi ia merasa harus bertanggung jawab karena sudah menabrak seseorang yang tanpa di sengaja. Wanita itu pun beralih menatap Illona dan meminta maaf sama seperti yang ia lakukan pada Marcello.
" Sudah tidak apa apa, jadikan ini pelajaran berharga untuk anda. Agar lebih berhati-hati dan menjaga anak anda dengan lebih baik lagi. Agar ke depan nya hal seperti ini tidak terulang lagi " Seru Illona, kemudian ia pandang nya beralih ke bawah melihat anak kecil yang sangat mengemaskan
Illona berjongkok menyamakan tinggi nya dengan anak kecil itu.
" Hai adik cantik " Sapa Illona pada anak kecil itu " Kalau kakak boleh tahu, nama adik cantik ini siapa ya? " Tanya Illona ramah sambil mengelus pipi cabi di depan nya
__ADS_1
" Gisel " Seru anak kecil itu memberi tahu nama nya dengan gaya anak anak
" Nama yang cantik sama seperti orang nya cantik " Puji Illona
" Memang nya tadi Gisel mau kemana, hem? " Tanya Illona lembut
" Mau liat boneka besal, di sana " Tunjuk gadis kecil itu menunjuk ke seberang jalan di mana ada boneka balon yang sedang menari sendiri tanpa henti
Illona dan yang lain melihat ke arah yang tunjuk oleh anak kecil itu. Dan Illona pun tersenyum.
" Oh mau ke sana, mau bermain sama boneka besar itu ya? " Tanya Illona dan di angguki oleh anak kecil itu dengan polos
" Gisel, kalau mau ke sana ajak mama nya ya. Gisel kan masih kecil, jadi gak boleh pergi sendiri, bahaya. Terus Gisel, kalau mau menyeberang jalan gak boleh langsung jalan ya, di mana pun itu. Gisel harus lihat ke kiri dan ke kanan untuk memastikan tidak ada kendaraan yang lewat. Ok " Seru Illona menjelaskan pada anak kecil itu akan bahaya
" Ok kakak " Angguk Gisel, anak kecil itu dengan mengangkat ke dua jempol nya tanda setuju
Marcello menyunggingkan senyuman nya melihat Illona. Gadis itu tidak marah sama sekali pada mereka, padahal sudah membuat ia celaka dan terluka. Jika itu terjadi pada orang lain, mungkin ibu dari anak kecil itu sudah habis di maki orang tersebut atas kelalaiannya dan di anggap tidak becus menjaga anak. Dan pasti akan di minta bertanggung jawab, dengan menganti rugi motor nya yang rusak dan meminta biaya pengobatan ke rumah sakit. Namun itu semua tidak di lakukan sama sekali oleh Illona.
Di dalam cafe di mana Evan sedang duduk menunggu Illona, sesekali melihat jam yang ada di tangan nya. Sudah sepuluh menit tapi Illona belum juga datang. Makanan yang ia pesan sudah datang.
Evan mendengar suara orang orang sedang membicarakan kecelakaan yang terjadi di depan cafe. Evan paham dengan apa yang sedang di bicarakan orang karena ia sudah banyak belajar bahasa negara ini hanya saja ia belum bisa dengan benar melafazkan nya atau berbicara menggunakan bahasa negara ini.
Evan mendengar mereka menyebutkan ciri ciri orang yang mengalami kecelakaan itu, ciri ciri yang di kata kan oleh mereka sama seperti ciri ciri Illona saat ini. Evan pun mengambil ponsel nya dan mencoba menghubungi Illona. Namun tak ada jawaban sama sekali, membuat ia cemas.
Tanpa menunggu lama lagi, Evan ke luar meninggalkan makanan nya di sana yang belum tersentuh sama sekali. Evan berjalan ke arah kecelakaan itu terjadi. Masih ada beberapa orang di sana, ia melihat motor yang ia kenal di sana. Terlihat motor itu yang bentuk nya sudah tidak seperti sebelumnya. Kaca spion nya pecah, kepala kap motor juga ada yang pecah, serta terlihat body motor juga terdapat goresan.
__ADS_1
Evan terlihat panik, motor itu saja sudah seperti itu bagaimana dengan keadaan Illona. Evan mencari cari keberadaan Illona, namun ia tidak melihat nya. Evan mencoba bertanya ke pada orang-orang yang ada di sana, apakah mereka melihat Illona. Dengan terbata-bata Evan berbicara menanyakan keberadaan Illona dengan menggunakan bahasa yang campur aduk. Dan akhirnya ia mendapat jawaban dari orang itu, yang memberi tahu di mana Illona sekarang.
Setelah mengucapkan terima kasih, Evan segera berlari mencari Illona. Evan melihat Illona yang sedang berjongkok di hadapan anak kecil, ia pun segera menghampiri Illona.
" Cinta ku " Suara Evan membuat semua orang yang ada di sana menatap nya
Illona berdiri dan melihat Evan yang terlihat sangat khawatir. Ia berjalan pelan mendekati Evan. Evan melihat nya dengan teliti mulai dari atas sampai ke bawah. Ia memutari tubuh Illona untuk memastikan keadaan Illona.
" Apa kau baik baik saja? Di mana yang terluka? Apa sakit? Apa mau aku antar ke rumah sakit? " Evan memberondong kan banyak pertanyaan pada Illona sangat jelas ke khawatiran nya
" Ya, kaki ku sakit " Tunjuk Illona pada kaki nya yang terluka, ia tidak akan bohong dengan Evan. Ia akan mengatakan apa yang ia rasakan.
" Mau ke rumah sakit? " Tanya Evan dan Illona mengangguk kecil
" Apa masih bisa berjalan? Atau mau aku gendong? " Tanya Evan penuh perhatian
" Tidak perlu, aku masih bisa berjalan. Kamu papah saja aku " Illona menggeleng kepala
Sebenarnya Illona mau saja di gendong oleh Evan, karena kaki nya memang sakit. Namun ia malu jika di lihat banyak orang, ia masih bisa menahan rasa sakit itu sampai menuju rumah sakit.
Evan pun mengangguk dan merangkul pundak Illona untuk membantu memapah nya berjalan. Setelah berpamitan pada ke tiga orang yang berdiri di sana, Illona dan Evan pergi meninggalkan tempat itu dengan Illona yang berjalan di papah oleh Evan.
Wajah Marcello langsung berubah datar ketika melihat Illona dan Evan yang sangat mesra itu.
bersambung...
__ADS_1
✨✨✨✨
minta like nya ya