Rachel Dan Malvin

Rachel Dan Malvin
Salah tingkah


__ADS_3

Laura dan Kevin telah bertemu dilokasi, disebuah kafe sederhana yang bertema bunga bunga, disana keduanya duduk menunggu pesanan datang tanpa berbicara sedikit kata pun. Sampai akhirnya Laura pun membuka suara yang awalnya ragu untuk ia katakan.


"A-aku suka sama kamu" gumam Laura.


Kevin pun mendongak, dan membulatkan mata, cowok itu menunjuk dirinya menggunakan telunjuknya, ia tetap diam dan mencoba untuk membaca pikiran Laura.


Ternyata Laura terpaksa mengatakannya, Laura ingin mengubah perjodohan dirinya dengan Kevin karena tak ingin memisahkan Rachel dan Malvin.


"Malvin cuek banget sama aku, aku ga nyaman, dan dia pernah terus terang kalo dia suka sama Rachel, jadi kita ga cocok karena kita sama sama ga ada rasa, sebenarnya aku sukanya ke ka-kamu, aku mau ubah perjodohan sama kamu, apa kamu mau?" terang Laura sembari menunduk, sama sekali tak berani menatap Kevin.


'gue tau perasaan lo ra, aslinya elo cinta sama Malvin, elo cewek yang baik' batin Kevin terus menatap Laura yang hanya menunduk sedari tadi.


Kevin menghembuskan nafasnya perlahan, "iya gue mau, tapi pertunangannya kan besok malam, gimana cara kita bilang ke keluarga?" jawab Kevin.


'demi Rachel dan Malvin bersama, gue rela sama Laura, mungkin Laura emang yang terbaik buat gue, tapi untungnya gue ga punya pacar' batin Kevin.


"Gini-" Laura pun membisikkan sesuatu pada Kevin, Kevin terdiam lalu mengangguk sebagai jawabannya.


Laura sangat ingin sekali menangis namun gadis itu mencoba untuk menahannya, dadanya sangat sesak, mungkin pilihannya adalah jalan yang terbaik, meskipun dalam hati kecilnya, ia sangat berat melepas Malvin.


'gue akan coba cinta sama elo' batin Kevin sembari menarik nafas dalam dalam.


Pesanan pun tiba, keduanya pun menikmati makanan dan minuman tersebut dengan diselingi beberapa obrolan ringan.


"Gimana kalo kita cari cincinnya sekarang aja? maksudnya kalo makanan ini udah habis" tawar Kevin.


Laura pun mengangguk, "boleh, nanti anterin aku ke butik juga ya, mau ambil gaunnya yang udah aku pesen"


"Iya"


****


Laura dan Kevin berada di toko perhiasan, keduanya memilih cincin yang cocok untuk mereka pakai di hari pertunangan.


"Ini bagus, gimana?" tanya Laura.


"Iya, beli aja. Terserah elo deh yang mana"


"Ehmm..... yang kanan sama yang kiri bagusan yang mana?"


"Kayaknya bagusan yang ini" jawab Kevin memilih yang kiri.


"Oke, mbak jadi yang ini ya" jawab Laura sembari tersenyum, gadis itu pun mengeluarkan kartu nya namun segera dihadang oleh Kevin.


Kevin langsung mengeluarkan kartunya dan membayar sepasang cincin tersebut. Laura tersenyum tipis melirik Kevin.


"Pembayaran telah selesai, terimakasih"


"Sama sama" jawab Laura ramah, kemudian keduanya pun keluar dari toko perhiasan itu dan langsung menuju ke butik yang dimaksud Laura.


Butiknya tak jauh dari toko perhiasan itu, hanya membutuhkan waktu 5 menit saja untuk sampai disana. Sesampainya di butik.


"Gue tunggu diluar aja" ucap Kevin dengan wajah datarnya. Laura hanya mengangguk lalu masuk kedalam butik.


Dari kejauhan nampak seorang lelaki berjaket hitam dengan logo serigala, menatap Kevin dengan sengit, lalu lelaki tersebut pun menghampiri Kevin yang tengah menunggu Laura.

__ADS_1


"Hei bro! udah lama kita ga ketemu" ucapnya dengan senyum smirk.


Kevin hanya melirik lalu memutar bola matanya, "mau apa lo?"


"Lama nih kita ga balapan motor! kemana aja lo selama ini? anak buah lo udah gue bantai habis habisan, tinggal bosnya aja yang belum" bisiknya dengan seringai.


"Gue ga mau balapan! mereka bukan anak buah gue tapi temen gue!" ketus Kevin.


'lagian temen temen gue masih sehat, lo kira gue bodoh, temen temen gue ada diantara anak buah lo sebagai penyusup dan mereka akan bubarin geng pembuat onar punya lo' batin Kevin, terus menatap musuhnya.


"Kevin!!! udah, yuk!" seru Laura sembari berjalan kearah Kevin.


Lelaki itu melirik ke arah Laura, kemudian tersenyum smirk. "Ohh ini cewek lo? cantik juga" ucapnya turun dari motor kemudian berjalan mendekat ke arah Laura.


"Jangan sentuh dia atau gue habisin lo!!!" bentak Kevin yang sudah dibaluti amarah jika berhubungan dengan seorang wanita.


Kevin memanglah sosok lelaki yang lembut dan perhatian, dia sangat menghargai wanita dan tak ingin menyakiti wanita, karena jika dia menyakiti wanita sama saja dia menyakiti mamanya, itulah pikirnya.


"Veroo!!!!" bentak Kevin saat melihat musuhnya mulai memegang tangan Laura.


Bugh!


Kevin menendang punggung Vero hingga lelaki itu terpental jauh, Laura pun bersembunyi dibalik badan kekar Kevin dengan penuh ketakutan.


"Dia siapa?" bisiknya, badannya benar benar gemetar.


"Ayo cepet kita pulang!" titah Kevin menarik tangan Laura, menyuruhnya agar cepat naik keatas motornya sebelum Vero mengejar mereka.


"Kevin!!! awas aja lo!" Vero beranjak bangun dan mengejar Kevin dengan motor balapnya.


Kevin melajukan motornya dengan kecepatan penuh, dan selalu sigap melihat ke arah sepion, memantau Vero yang masih mengikuti mereka dibelakang.


"Kevin, aku takut!" pekik Laura mengeratkan pegangannya dipinggang Kevin.


"Pegangan yang kuat!!" teriak Kevin agar Laura mendengarnya.


Kevin terus melajukan motornya, namun Vero tetap mengejarnya, hingga akhirnya Vero dapat menghadang Kevin dari arah lain, sontak Kevin ngerem secara mendadak. Kevin dan Laura pun turun dari motor, jalanan sangat sepi, sepertinya akan ada baku hantam antara Kevin dan Vero.


"Mau lo apa?!!!" bentak Kevin.


"Kevin jangan" gumam Laura terus menggenggam tangan Kevin, mencegah Kevin yang hendak berkelahi dengan Vero, amarah Kevin sudah memuncak, matanya memerah.


"Elo minggir, jangan hadangin gue" jawab Kevin sembari mendorong pelan tubuh Laura.


"Gue cuma mau ngehabisin elo! sekarang juga disini! biar cewek lo menyaksikan kematian lo ditangan gue" ucap Vero berjalan mendekat ke arah Kevin.


"Sebelum elo bunuh gue, gue yang akan bunuh lo lebih dulu!!"


Bugh!


Vero mengawali perkelahian, cowok itu langsung memukul pipi kanan Kevin, sontak membuat Laura menjerit ketakutan.


"Aaaaaaa tolong!!! Kevin! udah jangan diladenin, dia cowok gila!" teriak Laura.


Kevin membalas pukulan Vero, cowok itu memukul habis habisan perut dan wajah Vero, Vero berulang kali membalas namun kekuatannya melemah akibat pukulan yang terus diberikan Kevin diarea perutnya.

__ADS_1


"Uhukhhh" Vero memuntahkan cairan darah kental akibat pukulan terakhir dari Kevin.


Kevin kembali menendang Vero dengan seluruh kekuatannya hingga terpental ke tumpukan kayu. Vero tertunduk lemah, tak sanggup lagi untuk berjalan, bahkan wajahnya sudah dipenuhi dengan lumuran darah segar.


"Ayo kita pulang!" Kevin menggandeng tangan Laura dan memasangkan helm pada Laura.


Keduanya pun langsung menuju ke rumah Laura dengan keadaan wajah Kevin yang besam dan sedikit darah diarea pojok matanya.


****


"Sore om" ucap Kevin sembari mencium punggung tangan lelaki paruh baya didepannya.


"Nak Kevin ya?" tanya Adnan yang hanya diangguki oleh Kevin. "Itu kenapa berdarah?"


Kevin menoleh ke arah Laura, kemudian menjawab dengan berbohong, "ehmm.... tadi habis kebentur meja om"


"Ya ampun, Laura cepet kamu obatin lukanya saudara ipar kamu" titah Adnan.


Laura mengangguk lalu mengambil kotak p3k juga air dingin untuk mengompres luka, menghambat darah yang terus keluar.


"Kalian habis dari mana? dan nak Malvinnya kemana kok kamu yang antar anak saya?" tanya Adnan.


"Tadi kebetulan lewat kantor om dan ga sengaja ketemu Laura diluar kantor, dia udah mau masuk ke taxi, akhirnya sekalian aja saya antar dia pulang" terang Kevin.


"Nak Malvinnya kemana? ga nunggu Laura dikantor?" tanyanya kekeh.


"Pa, Malvin lagi ada pertandingan basket makanya dia ga bisa nunggu Laura di kantor, lagian ngapain juga Malvin nungguin Laura, kan kasihan.." timpal Laura.


Adnan hanya mengangguk, "yaudah, papa ke belakang dulu ya"


"Iya pa, bibi!!! tolong anterin papa" titah Laura pada asisten rumah tangganya.


Setelah Adnan pergi, Laura pun mulai mengobati luka diwajah Kevin dengan hati hati.


"Aw!" pekiknya kesakitan.


"Ehh maaf maaf, sakit banget ya?"


"Enggak sih cuma perih aja"


Disaat Laura masih fokus mengompres luka, Kevin menatap wajah Laura yang begitu dekat dengan wajahnya, gadis itu terlihat tulus dan penuh perhatian.


Kevin yang masih tertegun dengan ketulusan dan kecantikan Laura, tiba tiba Laura menatap wajah Kevin sehingga membuat mata keduanya saling bertemu.


Sempat saling tatap beberapa menit, hingga akhirnya dibuyarkan dengan suara deheman Adnan, Laura pun memalingkan wajahnya, wajahnya memerah bagai udang rebus, entah mengapa ia merasa sangat malu ditatap oleh Kevin, jantungnya pun tiba tiba berdegup sangat kencang.


'aaaa kenapa sih' batin Laura sembari memejamkan matanya.


"Ehh om, yaudah saya pamit pulang ya" ucap Kevin langsung berdiri dari duduknya dan mencium punggung tangan Adnan.


"Iya nak Kevin, hati hati dijalan ya, salam buat keluarga, sampai jumpa besok malam" ucap Adnan sembari tersenyum.


"Iya om, permisi" Kevin pun keluar dari rumah megah Laura tanpa melirik ke arah Laura sama sekali.


'gila! kenapa gue jadi salah tingkah sih!!' batin Kevin mengacak rambutnya.

__ADS_1


~•~


__ADS_2