
Tak lama, Alya kembali dengan membawa sekantong kresek putih yang entah apa itu isinya. Ternyata Alya tadi pergi ke toilet lalu ke kantin rumahsakit untuk membeli minuman agar tak dehidrasi.
Ia membeli 4 botol Aqua, yang tiga dibagikannya ke teman temannya yaitu Rachel, Kevin dan Rafa.
"Nih minum dulu takut dehidrasi, daritadi ngelamun mulu" Alya memberikan 1 botol Aqua. Rachel pun menerima botol Aqua tersenyum dengan senyuman dan ucapan "terimakasih".
Alya mengangguk dan kembali berjalan memberikan 2 Aqua, untuk Kevin dan Rafa.
"Kok lo ada disini?" tanya Rafa, bukannya terimakasih malah bertingkah menyebalkan.
"Suka suka gue mau ada dimanapun, lo ga ada hak! emang nih rumahsakit milik keluarga lo?!" jawab Alya jutek.
"Bikin badmood kalo ada lo disini, nih gue balikin" Rafa mengembalikan botol Aqua yang belum sempat ia buka dan belum diminum sedikitpun.
"Yaudah pulang sono! gue juga badmood ada lo disini, lagian siapa yang nyuruh lo datang kesini?!" Alya berkacak pinggang.
"Ya suka suka gue! lagian gue kesini mau jenguk Malvin" Rafa memutar bola matanya.
"Halah!! biasanya lo musuhan sama Malvin, modus aja pingin ketemu Rachel"
Perdebatan diantara keduanya pun dimulai, dimanapun mereka berada dan kapanpun itu jika bertemu, keduanya tak pernah akur, selalu bertengkar meskipun hanya masalah sepele.
"Cihh pikiran lo selalu negatif tentang gue, gue kesini cuma mau jenguk Malvin doang, dia lagi kena musibah, ya kali gue benci dia pas lagi sakit, dasar mak lampir!" terang Rafa.
"Ngeles aja lo kek bajai" saut Alya.
Rachel dan Kevin hanya diam menyimak perdebatan mereka, keduanya lelah terus terusan melerai Alya dan Rafa jika bertemu selalu bertengkar.
"Dasar ketua kelas jelek!!, udah jelek nyebelin lagi huuuu!!" ledek Alya.
Merasa kesal, Rafa pun mulai berdiri dari duduknya, dengan cepat Rachel dan Kevin menghampiri keduanya dan mencoba melerai.
"Udah woi!! berisik! pening gue nih mikirin Malvin daritadi belum sadar sadar, ditambah lagi kalian yang slalu berantem" Rachel menghadang keduanya.
"Udah! ini rumahsakit, banyak pasien yang sakit kalian ga boleh rame!! bisa ga sih kalian kalo ketemu itu ga usah berantem, akurlah.... masalah kecil aja digede gedein kaya bocah aja" sambar Kevin.
Seketika keduanya pun terdiam, Rafa kembali duduk dan Alya mengikuti Rachel, duduk dibangku seberang terpisah dengan Rafa dan Kevin agar tak kembali bertengkar.
Untuk mengecek keadaan saudara kembarnya, Kevin pun kembali masuk kedalam ruangan, namun tak lama kemudian Kevin kembali keluar dari memberitahukan pada ketiga temannya yang setia menunggu daritadi.
"Malvin udah sadar, yang mau masuk silahkan, tapi 2 orang aja yang boleh masuk, gantian" ujarnya dengan raut wajah sumringah.
"Gue sama Rachel duluan ya" sambar Alya dengan antusias.
Kevin hanya mengangguk, lalu ia pun kembali duduk disebelah Rafa, dan Rafa mulai mengajak ngobrol Kevin agar suasana tak terlalu canggung diantara keduanya.
"Mama sama papa lo mana?" tanya Rafa.
__ADS_1
"Pulang, ntar malem balik lagi kesini, siang ini gue yang jaga, ntar malem mama, papa tidur dirumah sama gue" jelas Kevin.
"Ohhh, tapi papa lo kesini tadi?"
"Iya, papa sama mama kesini dari tadi pagi bahkan sebelum Malvin dioperasi, masih di ruang UGD"
"Hah operasi? operasi apa?" Rafa dibuat kebingungan, pasalnya Rachel tadi tak menceritakan kalau Malvin di operasi.
Lalu Kevin pun menceritakannya.
****
Rachel dan Alya bergegas masuk. Didalam ruangan, terlihat Malvin tengah berbaring ditanjang dengan kondisi lemah dan mata tertutup. Perlahan Rachel dan Alya menghampirinya dengan hati hati agar tak menimbulkan suara yang bisa membuat Malvin terganggu.
Rachel dan Alya tak berani membangunkan Malvin yang mungkin masih terkena obat tidur. Namun entah kenapa Malvin bisa merasakan kehadiran Rachel.
"Rachel" panggilnya dengan suara lemah, namun matanya masih tertutup.
Sontak Alya dan Rachel saling tatap dengan mata membelalak. "Iya vin" jawab Rachel.
Mendengar suara Rachel, Malvin pun membuka matanya perlahan, sorot matanya nampak sangat lemah menatap Rachel.
"Gimana keadaan Lo? udah enakan belum?" tanya Rachel mendekat kearah Malvin.
"Lo nungguin gue?" bukannya menjawab, Malvin malah balik bertanya.
Alya tersenyum, ia meringis melihat banyak luka ditubuh Malvin, ditambah lagi perban yang melekat di kaki kanan dan kepala Malvin.
"Malvin.... gue minta maaf ya, ini salah gue.." Rachel menunduk, masih merasa kalau ini salahnya.
"Apaan sih, ga usah minta maaf hel, ini bukan salah lo kok" jawab Malvin.
"Ini salah gue, andai gue ga cari gara gara mungkin kita ga akan kejar kejaran dan berujung kecelakaan yang mengakibatkan lo dioperasi vin.." Rachel masih menunduk, ia merasa menyesal dengan perbuatannya tadi.
"Ga usah dipikirin hel, ini udah takdir. bentar lagi udah balik sembuh kok, oh ya.... lo baik baik aja kan?" tanya Malvin seraya melihat Rachel dari bawah hingga atas, namun pandangannya sedikit kabur.
"Gapapa kok" Rachel tersenyum simpul.
Melihat Malvin yang begitu perhatian pada Rachel, wajah Alya nampak masam, ia merasa hanya dijadikan patung disana, diam dan tidak diperdulikan. Sebenarnya dia cemburu, namun ia berusaha menutupinya dan menahannya sebisa mungkin.
"Tapi, ehh.... itu dikepala lo kok ada perban? kepala lo juga kebentur aspal ya?" tanya Malvin saat Rachel bertambah dekat dengannya.
"Iya, eheh cuma luka kecil gapapa kok kata perawatnya.." jawab Rachel.
Malvin hanya mengangguk, namun ada yang aneh, ia pun memutar lengan kiri Rachel dan nampak siku Rachel yang ada bekas darah juga luka goresan disana.
"Ini, masih ada luka... kenapa perawatnya ga teliti sih, bisa bisanya ada luka disini ga diobati juga" oceh Malvin.
__ADS_1
Rachel tersentak, ia baru menyadarinya kalau tangannya terluka, ia melihat lengannya sekilas lalu menyembunyikannya dibelakang badannya. "Udah vin gapapa, cuma luka kecil.... ntar sembuh, gue obatin dirumah"
Malvin membuang nafas kasar, lalu ia pun melirik ke arah Alya yang hanya diam berdiri seperti patung.
"Al, tolong ambilin kotak obat obatan dong disana sama air hangat ya" pinta Malvin.
"Ehh.." Rachel merasa tak enak pada Alya apalagi saat melihat wajah masam Alya. "Udah gue aja yang ambil al, gue bisa sendiri kok" saut Rachel beranjak pergi.
Namun Malvin segera menarik tangan Rachel, tak memperbolehkan Rachel pergi.
"Biar Alya aja, lo disini temenin gue" ujar Malvin.
"Gapapa kok hel, gue ambilin ya" Alya tersenyum pahit.
"Ya ampun Vin, huh!! untung lo lagi sakit, tapi tetep nyebelin aja. peka dong!! Alya tuh suka sama lo tau, dan pastinya lo juga udah tau isi pikiran dia kan, jangan permainkan perasaan dia dong vin, kasihan" kesal Rachel.
"Kalo lo ga suka ke Alya, setidaknya jangan giniin Alya, jangan permainkan hati dia, awas aja ntar lo yang kena karmanya vin" tambah Rachel.
"Lah kok lo yang marah sih? bodoamat dong terserah gue" balas Malvin.
"Ya kan tapi kasian Alya vin.." Rachel menurunkan nada bicaranya mencoba sabar menghadapi lelaki menyebalkan yang berada didepannya tersebut.
Tak lama, Alya datang membawa kotak obat obatan beserta air hangat, dan dia taruhnya diatas nakas sebelah kasur pasien yang ditempati Malvin.
Malvin pun beranjak duduk dengan sangat hati hati, karena kakinya masih terasa sangat sakit jika dibuat gerak.
"Lo mau ngapain vin? lo masih sakit, jangan banyak gerak" ucap Alya dan Rachel bersamaan, keduanya nampak cemas.
"Sttt!!" jawab Malvin. Dia punmulai mengompres luka Rachel, ia juga menaruh beberapa obat obatan yang ditaruh diarea siku Rachel yang terluka.
Alya melihat kejadian tersebut, hatinya semakin sakit, ia tak tahan lagi dan memutuskan keluar dari ruangan. Sementara Rachel merasa sangat tidak enak pada Alya.
"Nah udah, nih balikin disana" titah Malvin yang hanya diangguki oleh Rachel.
"Vin, ini loh cuma luka kecil, pake nyuruh Alya segala, kasian tau" ketus Rachel.
"Ini luka lo kan gara gara gue, jadi gue mau bantu obatin doang" jawab Malvin tak mau mengalah.
Rachel hanya diam, ia menaruh kotak obat lalu beranjak keluar dari ruangan, namun karena Malvin kembali menanggilnya, membuat Rachel mengurungkan niatnya keluar dari ruangan.
"Apalagi?" tanya Rachel nampak kesal.
"Jangan pergi. Gue mau lo ada disini temenin gue.." pinta Malvin.
Deg!
Entah mengapa tiba tiba jantung Rachel serasa berhenti berdetak sejenak setelah mendengar ucapan Malvin.
__ADS_1
~•~