
Sepulang sekolah, selesai mandi dan berganti baju, Rachel menghampiri tante Nindi yang berada didapur.
"Tante, Rachel izin ya" izin Rachel.
"Kemana?"
"Nyari kisi kisi, ga akan pulang malem kok"
"Yaudah, hati hati dijalan ya"
Rachel pun mengangguk dan mencium punggung tangan tante Nindi dan pergi mengambilnya sepedanya, mengayuhnya menuju rumah yang selama ini slalu ia datangi setiap pulang sekolah.
Beberapa menit kemudian, Rachel telah sampai dirumah mewah tersebut, sudah tak asing lagi setiap kali Rachel kesini, pak satpam slalu menyapanya dengan sebutan 'Nona Cantik'
"Permisi pak"
"Iya nona cantik"
Ia pun mendorong sepedanya menjauh dari pak satpam lalu kembali mengayuhnya mendekat ke arah depan pintu rumah.
Terlihat tepat didepan rumah, seorang remaja laki laki berparas tampan sedang duduk tenang sembari memangku laptopnya duduk di bangku bawah pohon.
Rachel pun melambaikan tangannya berusaha menyapa dengan senyuman yang slalu terpampang di bibirnya.
Malvin menyadarinya, ia hanya melihat Rachel dengan wajah datar seperti biasa dan ia hanya membalasnya.
"Kesini" ucapnya yang hanya diangguki oleh Rachel.
Rachel pun memarkirkan sepedanya, lalu ia berjalan menghampiri Malvin yang masih duduk tenang, ia mengintip sekilas isi laptop yang Malvin pegang.
"Ga usah kepo!" lirik Malvin. Sontak Rachel menampilkan cengir kudanya, ia pun duduk disebelah Malvin.
"Mana kisi kisi nya?"
"Nih" Malvin menyodorkan beberapa lembar kertas kisi kisi tersebut pada Rachel, Rachel pun tersenyum senang.
"Makasih"
"Hmm. Jangan pulang dulu, temenin gue" titahnya.
"Lahh" "duduk!" ucap keduanya secara bersamaan.
Rachel pun menurutinya, ia duduk disebelah Malvin.
15 menit berlalu, Rachel berdecak kesal, ia merasa sangat bosan jika harus duduk tanpa beraktivitas sedikitpun.
__ADS_1
"Vin masih lama? gue bosen"
"Bentar lagi"
"Lo ga bosen apa jadiin gue budak?"
"Enggak!"
"Loh, awas nanti lama lama lo suka sama gue" goda Rachel dengan sengaja.
Rachel sengaja menggoda Malvin, dari godaan itu entah tiba tiba jantung Malvin terhenti beberapa detik.
Malvin memejamkan matanya sembari menggelengkan kepalanya berulang kali, mencoba menepis pikirannya mengenai rasa sukanya pada Rachel.
"Kalo boleh tau, lo pernah pacaran ga? gimana rasanya? cewek nembak cowok duluan boleh ga ya?" banyak pertanyaan yang muncul di bibir Rachel membuat Malvin merasa kesal.
"Diem!, kenapa lo mulai berani sama gue?" Malvin memberi tatapan tajam pada Rachel.
Rachel pun diam, ia merasa sangat kecewa, ia kira selama ini ia dan Malvin sudah sebagai teman akrab namun dugaannya salah.
Dari ucapan Malvin tadi, membuat Rachel sadar kalau dirinya hanyalah asisten Malvin, bukan selebihnya.
"Ga gitu juga Rachel" saut Malvin saat mendengar batin Rachel yang terdengar jelas.
"Apanya?" sungguh polos, Rachel tak paham dengan maksud ucapan Malvin. Padahal Rachel sudah tau kalau Malvin bisa mendengar batin seseorang.
Rachel terdiam, ia tak menyangka jika Malvin yang selama ini menyebalkan dan sombong menganggapnya teman.
"Oh teman, ehe" Rachel menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Malvin menatap datar Rachel, ia menautkan alisnya "emang lo ga punya temen?" tanya Malvin.
Sontak, Rachel menganga, baru kali ini Malvin bertanya padanya.
"gue ga punya temen, tapi kalo orang yang baik sama gue disekolah sih ada"
"Siapa?"
"Kevin sama Rafa" jawab polos Rachel.
Malvin pun menajamkan alisnya "cuma mereka berdua doang? jadi gue?"
"Ha? Ehmmm..... lo baik sih ta-tapi gue takut mau ngomongnya"
Malvin hanya memutar bola matanya, dan tersadar dengan pertanyaan yang ia lontarkan tadi, kenapa ia berharap jika Rachel menjadikannya orang yang baik bagi Rachel.
__ADS_1
Selama ini, disekolah hanyalah Kevin dan Rafa saja yang baik padanya, Malvin sebenarnya baik namun karena dia slalu memperbudak Rachel, jadi Rachel menganggapnya sebagai orang yang menyebalkan.
"Makasih ya vin, lo mau jadi temen gue, gue ga punya temen selain elo, itu aja karena lo barusan yang ngomong" Rachel tersenyum hangat.
Malvin hanya mengangguk "iya" jawab Malvin seperti biasa dengan wajah datar dan nada dingin.
Meskipun sikap Malvin seperti itu, tetapi Rachel merasa sangat senang jika orang yang selama ini ia anggap sombong mau berteman dengannya, seorang gadis miskin yang slalu menjadi bahan bully disekolah.
Saat ditengah tengah percakapan, tiba tiba ayah twins datang menghampiri mereka berdua, seketika Rachel pun segera mencium punggung tangan lelaki paruh baya didepannya itu.
"Kalian akhir akhir ini deket banget ya, sebenarnya ada hubungan apa nih, temen atau hmmmm" goda tuan Valerie.
"Temen pa, jangan ngada ngada" saut Malvin dengan cepat.
"Ohh begitu, tapi kalo mau dijadikan pacar gapapa sih, dia baik cantik lagi, papa sangat mendukung apalagi dia keponakannya temen mama kamu kan" ucap tuan Valerie membuat kedua remaja yang duduk berdua tersebut salah tingkah, malu setengah mati.
"Apa sih pa, sana deh" sangkal Malvin.
"Iya iya, lanjutin gih" tuan Valerie pun kembali masuk kedalam rumah.
'wah mama papa sama adeknya ramah, tapi kenapa dia doang yang kulkas, anak kandung bukan sih?' batin Rachel yang terdengar jelas ditelinga Malvin.
Sontak, Malvin pun menoleh kearah Rachel dengan tatapan tajam elangnya, ia baru ingat kalau Malvin bisa mendengar batin seseorang.
"Maaf" Rachel tersenyum kikuk.
"...." tak ada balasan sedikitpun dari Malvin.
"Marah vin?"
Malvin tetap diam, tak membalas pertanyaan Rachel.
Rachel menoleh kekanan dan kirinya mencari seseorang yang ia kenal, siapa lagi kalau bukan Kevin.
"Btw Kevin mana?"
"Main sama temen" jawabnya singkat.
"Elo ga main sama temen juga?" tanya Rachel lagi.
"Males" sungguh singkat, dingin dan jelas.
"Gue udah selesai, kalo mau pulang, silahkan"
"Beneran nih? oke gue pulang byee, makasih kisi kisi nya ya" Rachel terlihat sungguh sumringah.
__ADS_1
Malvin hanya mengangguk, Rachel pun melambaikan tangannya dan mengayuh sepedanya menuju pulang kerumah tante Nindi.
~•~