Rachel Dan Malvin

Rachel Dan Malvin
Naik kelas


__ADS_3

2 Minggu kemudian ~


Senyum terulas cantik di bibir Rachel, ia berlari untuk memeluk tantenya. "Selamat sayang, kamu naik kelas.." ucap tante Nindi saat baru keluar dari ruang kelas Rachel.


"Beneran tante? Alhamdulillah.... makasih tante" ucap Rachel.


Keduanya pun duduk dibangku dengan melihat rapot Rachel bersama sama, terpampang nilai Rachel yang tak terlalu bagus juga tak terlalu jelek namun Rachel masuk kedalam 10 besar.


"Maaf ya tante, nilai Rachel ga seperti yang tante harapkan" ucap Rachel sedikit kecewa dengan nilainya.


"Gapapa sayang, sekolah ini memang favorite.... kamu bersaing dengan banyak murid yang memiliki prestasi tinggi, tetapi kamu ga terlalu mengecewakan kok karena kamu masih masuk kedalam 10 besar" terang tante Nindi.


"Sekolah ini memiliki kompetisi ketat di bidang pendidikan, kamu masuk sini saja tante udah bangga karena sulit bagi siswa siswi yang akan masuk kesini kecuali anak yang memang berprestasi juga anak anak dari keluarga elit" tambahnya.


"Kamu bisa bersekolah disini berarti kamu termasuk anak yang berprestasi sayang"


"Iya tante, makasih banyak ya.... Rachel sayang banget sama tante"


Keduanya pun berpelukan hangat. saat masih hangat berpelukan, tiba tiba terdengar suara teriakan anak perempuan yang sungguh familiar ditelinga Rachel.


"Rachel!!" teriaknya, sontak Rachel pun menoleh ke arah kanan melihat seorang gadis yang berlari kearahnya sembari membawa buku rapot, dan senyum manis terpampang dibibirnya.


"Gimana... naik kelas?" tanyanya sembari menetralkan nafasnya akibat berlarian tadi.


Rachel melepas pelukannya, ia pun bergeser tempat duduk, dan menyuruh gadis tersebut duduk disebelahnya.


"Alhamdulillah iya, meskipun nilainya ga sesuai harapan" jawab Rachel.


"Liat" gadis tersebut mengulurkan tangannya dan Rachel pun memberikan buku rapot nya.


"Gapapa hel, ini udah bagus kok, tetapi dari nilai ini lo harus bisa menambah semangat belajar lo supaya lebih bagus lagi dari ini" jelasnya.


"Makasih ya al" Rachel tersenyum senang. "Gimana rapot lo?" tanya Rachel.


"Alhamdulillah bagus, gue peringkat pertama" jawabnya sungguh terlihat bahagia.


Mendengar ucapan Alya, Rachel menunduk merasa tak percaya diri, merasa jika ia melukai hati Rachel, Alya pun dengan cepat memeluk Rachel.


"Gapapa, ntar kalo lo ga bisa salah satu materi pelajaran, kita bisa belajar bareng, itu juga hasil nilai lo sendiri kan, itu yang terbaik" gumamnya.


Rachel tersenyum sembari mengangguk cepat.


"Makasih ya" ucapnya. "Oh ya, gue mau tanya"


"Apa?"


"Kok lo tiba tiba mau temenan sama gue? trus elo ga malu temenan sama gue? dan kemana temen temen lo sekarang? Nina sama Lisa" tanya Rachel.


"Ngapain gue malu sama lo, lo kan temenan dengan tulus, gue suka sama temen yang tulus" jawab Alya.


"Dan soal Nina sama Lisa itu, mereka bukan teman yang tulus, buktinya semenjak harta gue jatuh ke tangan om dan semua keluarga gue tiada, mereka menghindar dari gue, mereka gengsi temenan sama gue karena gue udah ga ada kekuasaan, bahkan sekolah ini aja udah jadi milik keluarga Valerie kan" jelas Alya.


"Mereka ga setulus lo hel, mereka cuma temenan sama gue karena harta, karena dulu mereka sering gue ajak belanja dan makan di restoran mahal, mereka yang memberi pengaruh buruk bagi gue, sampai sampai gue dulu ngehina dan ngebully lo selalu, maaf ya" tambahnya.


Rachel mengangguk, hatinya merasa sangat kasihan pada Alya. "Iya gapapa" ucapnya sembari mengelus lengan Alya.


"Gue seneng temenan sama lo, apalagi dengan lo yang sekarang, yang udah berubah" Rachel tertawa renyah.

__ADS_1


Saat Alya akan memeluk Rachel, namun tiba tiba Rafa datang.


"Rachel! selamat ya naik kelas" Rafa tersenyum hangat pada Rachel.


"Makasih ya, selamat juga elo ranking 2" balas Rachel.


"Makasih, oh ya... emang lo naik kelas nenek lampir?" tanya Rafa pada Alya.


"Lo ngatain gue nenek lampir?! sialan! sembarangan aja lo ngatain gue nenek lampir, peringkat gue lebih tinggi dari lo, gue peringkat 1 tau wleee" ledek Alya.


"Sombong amat, asal lo tau peringkat 1 IPS belum tentu peringkat 1 MIPA, MIPA tuh terkenal susah loh" ucap Rafa.


Rachel dan tante Nindi hanya diam menyimak pembicaraan Rafa dan Alya.


"Udah udah, ga boleh bertengkar" ucap tante Nindi.


"Kalian kenapa sih setiap ketemu selalu bertengkar, ada masalah apa? ayo selesaikan baik baik" ucap Rachel mencoba menenangkan keduanya.


"Banyak! dia slalu buat gara gara!" ucap keduanya secara bersamaan sembari saling memberi tatapan tajam.


Rachel hanya tersenyum canggung.


"Rachel!!" teriak Malvin yang berlari kearah mereka.


Namun Malvin tak sampai mendekat, ia tau pasti Malvin malas jika bertemu dengan Alya, ia pun berdiri dari duduknya dan berjalan menghampiri Malvin.


Ia tak menghiraukan Alya dan Rafa yang masih berdebat, biar tante Nindi saja yang mengurus mereka.


"Apa?" tanya Rachel.


"Lo naik kelas kan? rangking berapa?" tanya Malvin.


"Oh, gue peringkat 1 tau"


"Wihh selamat, tapi jangan ngejek gue" ucap Rachel.


"Lagian siapa yang mau ngejek lo, yuk ikut gue" Malvin berjalan sembari menggandeng tangan Rachel.


"Ish modus! lo hobi banget sih gandeng tangan gue, meskipun ga usah digandeng, gue bisa kali jalan ngikutin lo" ucap Rachel.


Malvin memutar bola matanya, dan dengan kasar ia melepaskan gandengan tangannya.


"Huh!!" geram Rachel yang berjalan di belakang Malvin.


'kasar banget' batinnya yang jelas didengar oleh Malvin.


Mereka berhenti didepan kantin, Rachel mengernyit melihat Kevin yang terlihat kesal memukuli meja kantin.


'kevin kenapa ya?' batinnya.


"Ga tau, coba lo urus dia, tenangin dia, gue udah capek, ga tau lagi apa yang harus gue lakuin" ucap Malvin.


"Cepet kesana, gue tunggu sini" titah Malvin. "Iya iya sabar dong" jawab Rachel lalu berjalan menghampiri Kevin.


"Kevin udah!" teriak Rachel mendekati Kevin.


Kevin menoleh, melihat Rachel yang berjalan kearahnya dengan gemetar.

__ADS_1


"Ngapain lo kesini?" sinis Kevin.


"Lo yang ngapain! kenapa lo mukul mukul meja kantin gini? bikin takut murid lainnya aja" balas Rachel.


Kevin tertawa kecil sembari tersenyum smirk, "udah deh pergi sana! pasti lo disuruh Malvin kan, bilang ke dia, gue ga BUTUH bantuan dia!!" ucap Kevin terlihat sangat marah sembari menekan kata 'butuh' .


"Loh, emang kalian berdua kenapa? berantem?" tanya Rachel.


Kevin menghela nafas berat sembari menetralkan amarahnya, dan menyuruh Rachel duduk disebelahnya.


"Iya kita lagi berantem, gue ga suka sama dia dari dulu, sifatnya dan cara bicaranya, kita ga pernah akur, dan jarang ngobrol ngebuat persaudaraan kita hancur!" terang Kevin.


"Terus?"


"Gue dapat peringkat terakhir dikelas, karena gue sering bolos. mama papa marah sama gue, mereka banding bandingin gue sama Malvin sialan! papa juga ngancem gue, kalo gue ga ada perubahan, gue bakal dibawa ke Singapura ke rumah om, gue ga suka om itu karena galak dan keras, ini semua gara gara Malvin yang sok baik didepan" jelas Kevin.


"Mencoba jadi anak yang baik supaya disayang mama papa, jadi anak yang berprestasi sengaja biar gue disingkirin" perasaan iri muncul dihati Kevin membuat persaudaraan mereka dipertaruhkan.


Brak!!!!


Lagi lagi, Kevin menggebrak meja kantin, membuat Rachel terkejut sembari mengelus dada nya, ia sangat takut jikah melihat Kevin marah seperti ini.


"Sabar kev, mending lo berubah deh biar mama sama papa lo sayangin lo seperti mereka sayangin Malvin juga"


"Mungkin dengan ancaman itu, mereka bermaksud baik supaya lo bisa berubah, mereka pingin anak anak mereka jadi anak yang baik dan sukses kelak, apalagi lo kan bakal mimpin perusahaan papa lo juga kan?" ucap Rachel.


"Udah deh, lo pasti belain Malvin kan! mending lo pergi kalo lo masih belain Malvin didepan gue!" bentak Kavin.


"Enggak, bukan gitu kev"


"Halah, mending gue yang pergi kalo lo ga mau pergi!" Kevin pun mengambil jaket dan buku rapotnya, dan berjalan entah mau kemana.


"Kev, gue mohon elo jangan ngelakuin hal yang aneh, demi masa depan lo" gumam Rachel yang terdengar samar oleh Kevin.


Pikiran Rachel pun semakin berantakan, ia takut jika kemarahan Kevin membuat Kevin merusak masa depannya.


"Gue ga bakal lakuin yang aneh aneh!" saut Kevin.


Setelah Kevin pergi, Malvin pun menghampiri Rachel.


"Lo nyuruh gue karena lo takut kan sama Kevin?" tanya Rachel.


"Halah berandalan pasar ga ada apa apanya, gue ga takut sama dia, gue cuma pingin nenangin dia tapi ga tau cara ngomongnya, karena dari kecil sampai Sekarang, kita ga pernah dekat bahkan ngobrol aja kalo ada hal penting aja" jawab Malvin panjang lebar.


"Lo itu cuek tapi peduli, lo pingin ngungkapin rasa kepedulian lo dengan perbuatan, tapi lo ga bisa caranya, gue kagum sama sifat kepedulian lo" ucap Rachel.


Malvin pun tersenyum tipis, Rachel yang melihat itu langsung membelalakkan matanya tak percaya.


'what dia senyum? momen langka nih, keajaiban... ganteng banget kalo senyum' batinnya.


"Gue udah ganteng dari dulu" saut Malvin.


Rachel menyengir kuda, "tapi kayaknya ini pertama kali gue liat lo senyum, ternyata lo bisa senyum ya, andai lo ramah dan rajin senyum, gue udah terpesona dengan ketampanan lo" seru Rachel dengan polosnya.


Deg deg deg


Seketika, jantung Malvin berdetak lebih kencang setelah mendengar pujian dari Rachel, wajahnya memerah.

__ADS_1


Ia pun berjalan berlalu meninggalkan Rachel sendiri, ia memegangi dadanya sedari tadi mencoba menetralkan detak jantungnya.


~•~


__ADS_2