Rachel Dan Malvin

Rachel Dan Malvin
Duka


__ADS_3

1 Minggu kemudian, terdapat kabar duka yang menyelimuti Alya, 2 hari yang lalu kedua orangtua dan juga nenek dari Alya mengalami kecelakaan yang mengakibatkan ketiganya mati ditempat.


Mobil yang dikendarai keluarga Alya mengalami rem blong yang mengakibatkan kecelakaan menabrak sebuah truk.


Kabar duka tersebut sangat membuat Alya terpuruk, dan yang tambah membuatnya terpuruk adalah harta yang seharusnya jatuh ke tangannya kini telah dikuasai oleh om nya atau adik sepupu dari papa nya.


Alya kini tinggal dirumah sederhana, tinggal bersama tantenya, adik dari ibunya. Rumahnya dan semua hartanya diambil alih oleh om nya yang serakah.


Kini Alya tak memiliki hak kuasa apapun, dan sekolah swasta tersebut pun telah dibeli oleh keluarga Valerie, keluarga dari twins Malvin dan Kevin.


****


Pagi ini, Rachel duduk dibangkunya sembari membaca novel online di aplikasi canggih dihandphone nya. Di pintu, terlihat Alya datang menghampirinya dengan wajah lesu.


Rachel beranjak bangun ketika melihat Alya datang. "Lo kenapa?" tanya Rachel.


Alya datang memeluk hangat tubuh Rachel, membuat seisi kelas kaget begitu juga Rachel. Alya menangis sesegukan, Rachel sangat memahaminya dengan keadaan Alya sekarang, ia mengelus punggung Alya lembut, mencoba membuatnya tenang.


"Kalo lo mau cerita apapun, gue bisa jadi pendengar yang baik" ucap Rachel.


"Maafin gue hel, gue sadar selama yang gue lakuin ke elo itu salah, gue jahat banget sama elo, gue ngerasa bersalah hel... hiks... hiks.." Alya mencoba menatap Rachel.


"Dan ga seharusnya juga gue ngatain mama lo yang udah ga ada, gue juga ngerasain sekarang saat papa mama gue udah ga ada, maafin gue hel..." tambahnya.


Melihat Alya yang seperti ini, Rachel pun ikut menangis melihatnya, ia sangat tau bagaimana kesedihan yang Alya alami sekarang.


"Gue udah maafin elo kok al" ucap Rachel memeluk hangat Alya.


"Makasih banyak hel, dengan kejadian ini gue bisa sadar akan kejahatan gue dulu, gue yang sok berkuasa, hel gue boleh jadi temen lo?" pinta Alya.


Rachel terdiam, "Lo serius?" tanya Rachel meyakinkan.


Rachel sangat bingung, ia masih belum yakin kalau Alya akan berubah secepat itu dan mau menjadi temannya, atau ada tujuan lain dibalik itu.


Melihat kejadian itu, seisi kelas mengabadikan momen tersebut, dengan foto dan Video.


"Iya hel, gue pingin banget jadi temen lo sekarang, gue tulus pliss..."


Rachel masih terdiam, lalu ia pun mengangguk menyetujuinya. Alya tersenyum simpul dengan kembali memeluk erat Rachel, Rachel pun membalas pelukan Alya.


"Makasih banyak hel"

__ADS_1


"Iya sama sama"


Melihat keduanya berbaikan, Rafa yang ada dikelas pun ikut tersenyum melihat pemandangan hangat tersebut. Namun Malvin yang melihatnya dari balik jendela, ia tetap dengan ekspresi datarnya, barsikap acuh dan tak percaya dengan ucapan Alya.


****


Di taman kota ~


Rachel dan Malvin berada ditaman kota sepulang sekolah, menikmati angin sore yang sejuk dibawah pepohonan.


"Kok lo mau temenan sama Alya? dia belum tentu beneran berubah loh" tanya Malvin.


Rachel mengernyit "gue tau perasaan Alya, dia itu tulus dan beneran berubah, apalagi dengan berita kesedihan yang menimpa Alya, kasihan banget.." jawab Rachel.


"Serah deh, lo terlalu baik emang"


Rachel tertawa terbahak bahak menanggapi sikap Malvin. "Bukan gue yang terlalu baik, lo aja yang terlalu acuh dan ga peduli, terlalu dingin juga pelit suara" ucap Rachel.


"Dasar Malvin ahahha, coba deh lo belajar jadi orang yang hangat dan berperasaan, pasti gue suka sama lo ahaha" tambahnya, sukses membuat Malvin salah tingkah dan jantungnya berdetak lebih kencang.


"Apaan sih, ga jelas. Btw lo punya hp ya?" tanya Malvin mengalihkan pembicaraan.


Rachel mengerutkan dahinya "kok lo tau?" tanya Rachel bingung.


Rachel memutar bola matanya "Halah, biasanya lo ga pernah peduli dengan apapun dan siapapun, tapi kenapa lo bisa tau kalo gue punya hp?"ucap Rachel.


Ucapan Rachel sontak membuat Malvin membelalakkan matanya, bingung akan menjawab apa.


"Emmmm"


Sifat jail Rachel pun kembali datang, ia tersenyum smirk mencoba untuk menggoda Malvin yang nampak gugup.


"Jangan jangan.... lo stalker gue ya?" Rachel tertawa terbahak bahak melihat wajah Malvin yang kebingungan.


"Apa sih, udah diem deh... kalo lo terus ketawa ntar masa perbabuan lo gue tambah 1 tahun" ancam Malvin membuat Rachel terpaksa menahan tawanya.


"Engga deh maaf" Rachel memanyunkan bibirnya.


Malvin memalingkan wajahnya mencoba menetralkan jantungnya, bahkan wajahnya juga hampir memerah.


"Kenapa lo ga simpen nomer gue?" ucap Malvin jutek.

__ADS_1


"Ngapain gue nyimpen nomer lo, ga penting juga sih.... lo ngarep ya?" goda Rachel lagi.


"Ihh apaan sih gr banget, gue cuma mau lo nyimpen nomer gue biar ga ribet cari lo, karena lo kan babu gue!" jawab Malvin membuat Rachel mendengus kesal.


"Yaudah mana nomer lo"


"Nih... jangan lupa save, trus lo chat gue" Malvin memberikan handphone nya untuk Rachel menyimpan nomornya.


Rachel pun membuka tasnya untuk mengambil handphone miliknya, namun tak sengaja foto Rafa yang lupa ia tak kembali selipkan kedalam buku, terjatuh kebawah.


Malvin menautkan alisnya melihat foto tersebut yang sangat familiar baginya, secepat mungkin, ia mengambil foto tersebut sebelum Rachel meraihnya, namun ia menatapnya dengan wajah suram.


"Ini foto Rafa ngapain lo simpen?" tanyanya dengan nada dingin dan wajah datar.


Dengan cepat, Rachel menyaut foto tersebut dari tangan Malvin. "Apaan sih, serah gue deh, kalo lo mau simpan foto Alya juga ga masalah, gue ga marah.." ucap Rachel.


"Lo masih suka sama Rafa?" tanya Malvin.


Rachel tersenyum malu "Iya, tapi pastinya lo udah tau deh, jangan bilang Rafa ya"


Malvin hanya terdiam, ia pun beranjak bangun dari tempat duduknya. Rachel segera mencatat nomor Malvin dan membereskan tasnya, lalu berjalan mengekori Malvin.


Langkah Malvin semakin cepat, Rachel mencoba mensejajarkan langkahnya namun sulit, karena kakinya dan kaki Malvin sungguh jauh berbeda.


"Vin, hp lo gimana?!" teriak Rachel.


Malvin pun menghentikan langkahnya, ia baru ingat kalau handphone nya masih ditangan Rachel.


Ia hanya mengulurkan tangannya tanpa berkata apa apa, dan Rachel pun memberikan handphone tersebut.


Malvin kembali melangkahkan kakinya, sungguh cepat.


"Vin tunggu! pelan pelan dong jalannya!!, kaki lo panjang, kaki gue pendek woi!!" teriak Rachel karena ia sangat tertinggal jauh dari Malvin.


Malvin tetap melangkah mengabaikan Rachel yang mengoceh sendiri dibelakangnya, ia pun menaiki motornya dan pergi meninggalkan Rachel begitu saja.


"Ya ampun, sabar hel sabar" gumam Rachel mengelus dada nya.


****


Sesampainya dirumah, Rachel membersihkan badannya, menyapu rumahnya, lalu kembali membuka handphone nya, menyimpan nomor milik Malvin lalu menchattingnya.

__ADS_1


~•~


__ADS_2