Rachel Dan Malvin

Rachel Dan Malvin
Pelaku ditemukan


__ADS_3

Kini Rachel sudah tak lagi kuliah, alasan yang pertama karena gadis itu tidak sanggup lompat semester, dan yang kedua kurangnya biaya untuk kuliah sehingga Rachel memutuskan untuk melanjutkan bisnis kue tantenya yang sudah lama berhenti sejak dirinya diculik.


Hari ini, setelah selesai membersihkan rumah, rasanya sangat melelahkan, gadis itu duduk disofa untuk bersantai melihat televisi.


"Pelaku penculikan wanita bernama Larissa Diamanda Rachel berumur 22 tahun sudah ditemukan, yaitu 3 orang perempuan berinisial R, N dan L sebagai dalangnya, pelaku menyekap korban selama 5 bulan lamanya disebuah rumah tidak terpakai dipelosok hutan dengan alasan motif dendam" ujar sang pembawa berita.


Rachel membelalak saat melihat berita itu disiarkan di stasiun televisi, yang dia tau pelakunya hanyalah Rini namun ternyata tidak, ada 2 pelaku lain yang tidak ia ketahui.


Gadis itu pun buru buru menelefon Malvin.


πŸ“ž Kenapa elo ga kasih tau gue? tentang pelaku penculikan gue


πŸ“ž Ga penting


πŸ“ž Emang pelakunya siapa lagi selain Rini?


πŸ“ž Elo liat sendiri aja dikantor polisi, ajak si Alya juga


Tanpa balasan, Rachel langsung mematikan sambungan telfon, lalu kembali menelfon Alya untuk diajaknya ke kantor polisi.


Selama menunggu Alya menuju kerumahnya, ia berganti baju lebih dulu, bersiap siap. Selang beberapa menit, Alya datang dan mereka berdua pun langsung menuju ke kantor polisi.


****

__ADS_1


"Pak saya Larissa Diamanda Rachel, boleh saya tau siapa pelaku penculikan saya?" tanya Rachel tergesa gesa.


"Boleh, mari saya antar" jawab polisi tersebut.


Rachel dan Alya mengekori dibelakang polisi itu yang mengantarkannya ke sel tahanan pelaku penculikannya.


"Itu pelakunya mbak, mereka bertiga yang melakukan penculikan kepada anda"


Rachel dan Alya sontak membelalak, benar benar tak menyangka, kalau ketiga perempuan itu memang seseorang yang pernah mereka kenal. Mereka bertiga adalah, Rini, Nina dan Lisa.


Tentunya tak asing dengan Nina dan Lisa. Nina dan Lisa adalah mantan sahabat Alya, banyak yang bilang mantan sahabat itu tidak pernah ada, sahabat akan tetap sahabat, namun nyatanya tidak, bagi Alya mereka berdua adalah mantan sahabat yang selama ini meninggalkannya, Alya tak ingin mengenal mereka lagi.


Karena Nina dan Lisa menghianatinya, mereka bukanlah sahabat yang baik, mereka yang membuat Alya menjadi cewek pembuat onar, dan mereka hanya memanfaatkan uang Alya, setelah kedua orang tua Alya meninggal dan hartanya diambil oleh pamannya yang serakah, maka sejak saat itu Nina dan Lisa pergi meninggalkan Alya dan tak pernah mau berteman dengan Alya lagi.


Ingin sekali menampar Nina dan Lisa tetapi mereka dihalangi oleh jeruji besi.


Cewek itu tersenyum smirk, kata licik sangat tampak diwajahnya, "Gue benci sama elo al! gue juga benci sama Rachel! elo selalu berfikiran buruk tentang kita! padahal kita masih mau temenan sama elo walaupun elo udah ga punya harta! kita bukan orang yang seperti itu! kita ga mau uang lo! yang kita mau temenan sama elo! tapi elo selalu menjauh dari kita, anggap kita matre!" bantah Lisa.


"Jelas jelas elo yang menjauh dari gue! jelas jelas elo sendiri yang bilang kalo kalian berdua ga mau temenan sama gue karena gue miskin! dan yatim piatu! gue denger sendiri elo ngomong gitu!" bentak Alya.


"Elo malah temenan sama dia! cewek centil! miskin! culun! elo udah rebut sahabat kita!" balas Nina menunjuk Rachel.


Kini perdebatan antara Nina, Lisa dan Alya terus berlanjut, Rachel tetap berusaha menenangkan Alya yang emosinya memuncak sedangkan Nina dan Lisa terus memancing emosi Alya.

__ADS_1


Rini, hanya diam menyimak pertengkaran itu, jangan ditanya lagi apa motif Rini menculik Rachel, yang tentunya karena cewek itu iri karena Malvin malah mencintai Rachel dan membenci dirinya, juga sakit hati karena dikeluarkan dari kampus dan nama baiknya tercoreng.


Karena pertengkaran terus berlanjut, Rachel pun memanggil polisi untuk menghentikan pertengkaran itu. Untungnya polisi dapat menghentikan mereka.


"Sukurin lo! dipenjara 12 tahun!! wleee nikmatin hidup lo disini! byee byee kawan!" ejek Alya kemudian berjalan keluar menggandeng tangan Rachel.


****


Setelah dari kantor polisi, mereka berdua memutuskan untuk ke rumah sakit jiwa, menemui tante Nindi. Lagi lagi, air mata Rachel tak bisa dibendung jika bersangkutan dengan tantenya, melihat tantenya dari kejauhan gadis itu sudah mengeluarkan air mata begitu deras.


"Tante..." lirihnya.


"Al... gimana ini? gue cengeng banget hiks hiks... gue pingin tante gue sembuh, gue kasihan liat dia... ini semua gara gara gue al hiks hiks..." rengek Rachel.


"Udah tenang... jangan nangis, jangan terus salahin diri lo, ini bukan sepenuhnya salah lo, pokoknya elo harus sabar dan semangat buat sembuhin tante, apa perlu kita bawa dia ke psikiater?" jawab Alya.


"Tapi orang gila ga bisa sembuh al... masa tante tetep disini? ntar kalo gue nikah dan hidup bahagia apa tante ga bisa merasakan kebahagian gue juga? gue kasihan liat dia"


"Iya sih.... sabar ya hel"


"Kalo gue ada uang, gue akan bawa dia ke dokter spesialis jiwa yang paling bagus, setidaknya dia bisa sadar kalo gue keponakannya, setidaknya dia bisa terobati meskipun ga sepenuhnya gila nya sembuh"


Alya hanya mengangguk menenangkan sahabatnya, mereka berdua pun menghampiri Nindi yang bernyanyi nyanyi sembari menggendong boneka yang dianggapnya itu Rachel.

__ADS_1


~β€’~


__ADS_2