
Sungguh tak terasa cepatnya waktu berlalu, kini 6 bulan sudah terlewati Rachel menjadi babu seorang Malvin Alana Valerie, putra dari CEO tuan Valerie.
Rachel dan Malvin berada dibangku taman, tepatnya ditaman belakang rumah mewah milik keluarga tuan Valerie.
"Vin masih lama?" tanya Rachel yang merasa sangat bosan.
"bentar lagi, sabar dong"
Sudah 2 jam lamanya, ia menunggu Malvin yang sibuk mengerjakan tugas kantornya, memangku laptop.
"Gue bosen disini terus, lo juga ga ngebolehin gue kemana mana"
"Bentar lagi, diem disini"
Rachel hanya berdecak kesal, menatap tajam wajah Malvin yang masih fokus pandangannya menatap laptop.
"Vin"
"Hmm?"
"Gue kok bisa jadi babu lo ya?"
"Belum tua udah pikun"
"Banyak pikiran"
Malvin pun menceritakan kejadian 6 bulan yang lalu awal Rachel menjadi babu nya, ia menceritakannya dengan sungguh singkat.
Rachel tertawa terbahak bahak mengingat kejadian waktu itu.
"ehmm... btw gue kebelet nih vin"
"Yaudah sana, balik lagi kesini"
Rachel hanya mengangguk cepat, sebenarnya itu hanyalah manipulasi Rachel agar ia bisa kabur dari Malvin, ia bosan jika hanya menemani Malvin mengerjakan tugas kantornya.
Ia pun segera mengambil sepedanya dan mengayuhnya pulang kerumah tante Nindi tanpa sepengetahuan Malvin.
****
Keesokan paginya, sesampainya diparkiran, ia memparkirkan sepedanya berlari kecil menuju kelas, namun suara yang cukup familiar terdengar menyebut namanya.
"Rachel" ucapnya dengan tegas.
Sontak Rachel pun menghentikan langkahnya, memejamkan matanya sebentar dan membuang nafas kasar.
__ADS_1
"Eh Malvin. pagi, apa kabar?" Rachel basa basi.
"Pergi, kemana lo kemarin?" tanyanya dengan tatapan tajam.
Rachel tak menjawabnya, pandangannya terfokuskan pada Rafa yang berjalan dari belakang Malvin sembari menyapanya.
"Pagi Rachel!" ia tersenyum manis sembari melambaikan tangannya.
"Pagi juga Rafa" matanya sungguh bening saat melihat Rafa, ia tersenyum semangatnya kembali.
Malvin menekuk wajahnya, merasa tak suka dengan keadaan saat ini, ia pun menarik tangan Rachel yang masih senyum senyum sendiri akibat bawa perasaan sama Rafa, Malvin membawanya ke ruang OSIS yang masih sepi.
"Berhenti senyum!" bentak Malvin.
"Biarin aja, itu tandanya gue masih punya rasa humor, ga kayak elo yang hidupnya selalu serius" balas Rachel ketus.
"Dibilangin!"
"Biarin, kan gue yang ketawa!"
"Gue ga suka lo ketawa sama dia, gue maunya lo ketawa sama gue!" Malvin memutar bola matanya.
"Ma-maksudnya?"
"Jangan pura pura ga denger deh"
Malvin pun merasa sangat kesal, ia kembali menarik tangan Rachel membawanya kembali kekelas Rachel.
Selama diperjalanan menuju kelas, mereka berdua melangkah bersama dengan tangan yang masih bergandengan, membuat Rachel mendapat tatapan tajam dari para cewek cewek sekolah tersebut, mereka adalah para fans Malvin.
Selama ini, Malvin tak pernah mendekati cewek, bahkan cewek yang mendekati Malvin pun menyerah karena sifat Malvin yang sungguh dingin, yang membuat julukan kulkas berjalan melekat pada dirinya.
Melihat Malvin menggandeng tangan Rachel dengan santai membuat mereka merasa iri.
****
Bel istirahat telah berbunyi, Rachel meregangkan jemarinya akibat terlalu lama menulis saat jam pelajaran.
Saat Rachel memasukkan buku bukunya kedalam tas, tiba tiba Rafa datang menghampirinya, ingin menanyakan sesuatu.
"Rachel" panggilnya, sontak membuat Rachel menoleh kearah Rafa.
"Ya?"
"Lo punya hp?"
__ADS_1
Rachel hanya menggeleng pelan.
"Ohh, gue kira punya"
"Kenapa?"
"kan ada grup kelas tuh, kadang disana ada ngeshare pengumuman penting juga kadang ngeshare kisi kisi buat ujian gitu"
"Yahh, gue ga tau kisi kisi nya dong, ehmm gue boleh minta tolong sama elo?"
"Minta tolong apa?"
"tolong fotocopy in kisi kisi itu ya, ntar gue bayar" pinta Rachel dengan raut mimik wajah memelas.
"Rachel!" panggil Malvin yang tiba tiba datang. "Ikut gue!"
"Bentar Vin"
Saat akan berbicara lagi, Malvin segera menarik tangan Rachel membawanya ketaman sekolah yang hanya ada beberapa murid saja disana.
Rafa hanya terdiam dengan menggelengkan kepalanya menatap Malvin yang sungguh posesif.
"Apa sih vin?" Rachel nampak sangat kesal.
"Lo ga usah minta tolong ke dia, gue yang kasih kisi kisi buat lo"
"what! beneran?" tanya Rachel meyakinkan.
Malvin hanya mengangguk sekilas "tumben? kenapa lo jadi baik banget" refleks Rachel meloncat loncat kegirangan didepan Malvin.
Malvin hanya mengendikkan bahu nya masih melihat Rachel yang meloncat loncat kegirangan bagai bocah yang sudah dibelikan es krim.
Membuat Malvin tak sengaja tertawa kecil melihat tingkah lucu gadis imut didepannya yang selama 6 bulan ini selalu disampingnya.
Mendengar tawa kecil Malvin, Rachel pun menghentikan tingkahnya, ia pun memperhatikan Malvin.
"Lo ketawa?"
"Mana ada"
"Enggak! lo bohong ya, wahh si kutub ketawa senangnya, akhirnya selama ini gue bisa denger ketawa lo meskipun cuma sekilas" Rachel tertawa girang.
Seketika wajah Malvin berubah menjadi merah muda bagai udang rebus, ia pun berjalan pergi meninggalkan Rachel yang masih asik tertawa.
Ia menghindar agar Rachel tak melihat wajahnya yang merona akibat malu.
__ADS_1
"Gue kenapa sih, bodoh!" Malvin menepuk kedua pipinya, lalu berjalan menuju toilet untuk mencuci mukanya.
~•~