Rachel Dan Malvin

Rachel Dan Malvin
Pepet terus


__ADS_3

Hari ini adalah waktu keberangkatan Kevin ke Canada sendirian, Malvin dan mamanya mengantarkan Kevin ke bandara Soekarno Hatta, pesawat yang akan dinaiki Kevin berangkat pukul 9 pagi.


Sesampainya di bandara ~


"Kevin pamit ya ma, vin..... jaga mama papa baik baik ya, sampein permintaan maaf gue ke papa semoga papa mau menerima permintaan maaf gue" ucap Kevin setelah mencium tangan mamanya.


"Iya kev, hati hati ya.... lo juga jaga diri baik baik, jangan nakal" balas Malvin.


"Jangan nakal nakal ya sayang, mama percaya kamu pasti bisa berubah" ucap Silvia mencium kedua pipi putranya.


"Iya ma, yaudah Kevin berangkat ya" Kevin melambaikan tangannya lalu berjalan pergi meninggalkan mama dan saudara kembarnya.


"Jangan lupa kabarin gue kalo udah sampai!!!" teriak Malvin supaya Kevin mendengarnya.


"Oke!!" balas Kevin.


Setelah Kevin berangkat, Silvia dan Malvin pun kembali untuk pulang, namun sebelum pulang mereka memilih untuk menjenguk nenek lebih dulu karena sudah lama mereka tak menjenguknya dan juga mereka akan memberitahu tentang keberangkatan Kevin ke Canada hari ini.


Selama dimobil, Malvin mencoba mencairkan suasana dengan mencoba mengobrol dengan mamanya.


"Kenapa harus dibawa ke Canada sih ma?" tanya Malvin.


"Biar dia tobat dari kelakuannya, sebenarnya sih mama ga tega tapi Kevin susah dibilangin udah diperingatin berulang kali tetep aja yaudah akhirnya papanya marah dan bertindak seperti itu" jawab Silvia.


"Biarlah vin, biar Kevin berubah doakan saja kakakmu"


"Iya ma" jawab Malvin menghela nafas.


Meski mereka jarang akur, namun keduanya tak pernah dipisahkan seperti sekarang, Malvin merasa sangat kesepian dengan kepergian Kevin, padahal baru 1 bulan mereka akur.


Sesampainya dirumah nenek ~


"Nenek" ucap Malvin mencium punggung tangan neneknya.


"Cucu nenek yang ganteng, udah lama kalian ga kisini" jawab nenek.


"Iya ma, suasana rumah lagi ga baik baik aja" ujar Silvia.


"Kenapa? ada masalah apa? ayo cerita" tanya nenek penasaran.


"Kevin dikirim ke canada nek, ke om Erick" saut Malvin.


"Kok bisa? kenapa emangnya? cucu nenek buat masalah lagi?" tanyanya sangat khawatir pada Kevin, jika Kevin sampai dikirim ke Canada berarti anak nenek atau tuan Aiden sedang marah besar.


"Iya nek, ga lama ini beberapa minggu yang lalu Kevin tawuran lagi, dan banyak korban jiwanya sampai sampai Kevin hampir masuk penjara tapi papa sewa pengacara buat bebasin Kevin, dan papa marah besar.... akhirnya Kevin dibawa ke Canada biar om Erick yang kasih pelajaran buat dia" jelas Malvin panjang lebar, tumben tumbennya Malvin mau berbicara panjang lebar seperti itu.


"Ya ampun Kevin, sebenarnya dia anak yang baik dan ramah, tapi dia pemarah..... itu juga mungkin karena faktor pertemanan Kevin bisa jadi seperti anak liar, nenek udah kasih dia nasehat berulang kali tapi tetep aja ga didengerin" respon nenek sembari mengelus dada dan menggelengkan kepalanya perlahan.


"Iya nek"


"Iya ma, semoga dengan Kevin dikirim ke Canada dia bisa berubah, entah tindakan apa lagi yang mas Aiden lakukan kalau Kevin masih belum bisa berubah" sela Silvia.


"Tapi Malvin yakin Kevin bakal bisa berubah ma, Kevin itu seseorang yang bakal nurut kalo udah dikasarin sekali tapi dia ga akan dendam kok" ucap Malvin yang memang paham akan karakteristik saudaranya.

__ADS_1


"Semoga saja"


****


Setelah cukup lama mengobrol dengan nenek, Malvin dan mamanya memutuskan untuk pulang kerumah.


Sesampainya dirumah ~


"Daripada galau, mending ajak main Rachel gih, sekalian ntar pulangnya ajak kesini dulu mama mau ngobrol sama dia" titah Silvia.


Malvin memutar bola matanya malas, "ngga deh ma, males. Malvin ke kamar dulu mending baca komik" ucap Malvin berlalu menaiki anak tangga.


Malvin memang sedang malas kalau berurusan dengan Rachel, karena Rachel akhir akhir ini dekat dengan Rafa jadi Malvin kira mereka berdua berpacaran. Karena pada saat itu tak sengaja Malvin mendengar batin Rafa kalau Rafa akan mengajak Rachel berpacaran sontak membuat Malvin marah sekaligus kesal pada Rachel dan Rafa.


Hingga sekarang masih belum tau kebenarannya, Malvin tetap kesal dan berusaha untuk melupakan Rachel dari pikirannya dan hatinya walau sebenarnya itu berat, ditambah lagi sekarang mereka satu kelas akan bertemu setiap hari pastinya.


Sekarang Malvin menjauhi Rachel sama seperti dia menjauhi perempuan yang mendekatinya kecuali nenek dan mamanya.


****


Rachel keluar rumah saat disuruh membeli garam oleh tantenya, saat akan memakai sandalnya ia berhenti saat melihat Alya datang bersama kakak sepupunya, ia pun langsung menghampiri Alya.


"Loh Alya, kok lo ga ngomong sih kalau mau kesini?" tanya Rachel. Tak lupa dia tersenyum pada sepupu Alya yang berada disamping Alya, dia memiliki paras yang tampan dan imut dengan memakai kacamata bulat, bertubuh tinggi dan berkulit putih juga hidung yang mancung, namun sayangnya dia memiliki kekurangan yaitu gangguan pendengaran.


"Hehe iya lupa ngasih tau hel, tapi lo ga berpergian kan hari ini?" tanya Alya.


Rachel menggeleng kecil, "enggak kok, masuk aja gih kerumah, gue mau beli garam bentar di toko depan" ujar Rachel.


"Gue sama bang Dika masuk ya" seru Alya.


Setelah itu, Rachel pun buru buru ke toko depan untuk membeli garam suruhan tantenya.


Nama sepupu Alya adalah Dika, seseorang dengan gangguan cacat pendengaran, umurnya beda 1 tahun lebih tua dari Alya dan Rachel, yaitu 19 tahun.


Selama ini Dika bersekolah dirumah, atau biasa disebut homeschooling, karena gangguan pendengaran maka Dika malu untuk pergi ke sekolah.


****


"Ini tante garamnya" ujar Rachel sembari memberikan garam ke tantenya.


Tante Nindi tersenyum, "makasih ya, yaudah kamu lanjutin ngobrol sama Alya dan sepupunya, tante mau masak dulu"


"Iya tante"


Rachel duduk disebelah Alya, sedangkan Alya sedang asyik memakan gorengan buatan tante Nindi dan Dika sibuk membaca komiknya yang ia bawa dari rumah.


"Lo kenapa pagi pagi kesini al?" tanya Rachel.


"Cuma mau main aja sih, ganggu ya?"


"Enggak sih"


"Gue mau ngomong sesuatu sama elo" ucap Alya mulai serius.

__ADS_1


Rachel mengerutkan keningnya, "apa?"


Alya menegak teh hangat didepannya lebih dulu sebelum berbicara, lalu menaruh kembali tehnya dan menatap Rachel lamat lamat.


"Malvin terang terangan nolak gue, gue bisa ikhlas nerima ini karena emang sih cinta itu ga bisa dipaksakan" ucap Alya, raut wajahnya terlihat sedih sepertinya Alya mencoba untuk melupakan Malvin yang sangat sangat ia cintai.


"Kenapa al? ayo terus perjuangkan cinta lo itu, kenapa lo tiba tiba nyerah?" tanya Rachel.


"Gue capek hel mau sampek kapan? emang udah takdirnya gue ga bisa bersama sama Malvin, ini emang faktanya kalo Malvin ga suka sama gue dan gue nya aja yang berharap terlalu dalam" terang Alya.


"Mending sih kalo dia mau kasih kesempatan buat gue, tapi gue udah berubah gue bukanlah gue yang dulu hel, tapi tetep aja Malvin ga suka sama gue, dia selalu cuek sama gue bahkan kalo ada gue aja dia selalu malingkan muka berasa males banget liat muka gue, gue capek diginiin terus. Dan mungkin Malvin cintanya sama lo" jelas Alya yang kenyataannya begitu sangat sakit.


Rachel menggeleng, "enggak al, ga mungkin. akhir akhir ini aja dia menghindar dari gue, dia beda.... dan kalo gue main kerumahnya dia mesti pamit pergi atau dia cuma diem dikamarnya" balas Rachel yang merasakan ada perubahan pada Malvin.


"Elo sedih Malvin beda sama elo?" tanya Alya.


"Ehh, enggak juga sih. Tapi aneh aja tau karena biasanya dia yang slalu ganggu ketenangan hidup gue, berasa arwah gentayangan aja" kilah Rachel.


"Lo suka ya sama Malvin?" tanya Alya lagi merasa penasaran dengan sikap Rachel.


Rachel memasang wajah datar walau sebenarnya dia terkejut dengan pertanyaan Alya, dia juga masih bingung dengan perasaannya.


"Eng-"


"Udah lah jangan bohong hel, kita sahabat ga usah ada rahasia rahasiaan bilang aja ke gue, lagian gapapa kok kalo elo suka sama dia, gue ga mau kejar kejar dia lagi capek tau... karena gue juga...." ujar Alya tak melanjutkan ucapannya.


"Karena apa?!" tanya Rachel antusias.


Namun Alya tetap diam dengan cengir kudanya menahan tawa melihat Rachel yang begitu penasaran.


"Ayolah al, karena apa?!"


"Hahahaha!!" Alya tertawa terbahak bahak.


"Sebegitu pensarannya lo ya hel, karena gue suka sama bang Dika" bisik Alya terus terang.


"Hah!!!" Rachel memasang wajah terkejutnya, ia membulatkan matanya merasa tak percaya.


Meski memasang alat pendengar mungkin Dika tak mendengar ucapan Alya karena dia masih sibuk membaca komiknya. Memang sih diliat liat Dika tampan cocok dengan kriteria seseorang yang dicari Alya, hanya saja dia memiliki kekurangan itu tetapi Alya tak memandang kekurangannya.


"Lo serius al? tapi kan kalian saudara, sepupu 1 nenek" ucap Rachel.


"Iya hel serius lah, lagian ya bang Dika bukan anak kandung tante gue, kan tante gue ga punya anak semenjak perceraian itu, dan dia mengadopsi bang Dika ini sejak bang Dika umur 12 tahun. Dan entah mulai darimana dan kapan gue bisa suka sama bang Dika, lama lama perasaan gue ke Malvin hilang semenjak penolakan itu, sakit rasanya hel" jelas Alya.


Rachel mengangguk paham, Rachel menyengir dan menceritakan isi hatinya pada sahabat satu satunya tersebut yaitu Alya.


"Hehe, kayaknya bener deh al kalo gue suka ke Malvin.... tapi kayaknya Malvin ga suka deh sama gue, gue banyak kekurangannya. Gue ga cantik, ga pinter make up, ga tinggi, ga kaya dan juga ga pinter kayak elo" ucap Rachel.


"Haduh Rachel.... dia suka sama elo percaya deh sama gue, liat aja dari gerak geriknya. Jadi yang perlu lo lakuin deketin dia Pepet terus aja hahaha, tapi jangan kayak gue juga sih takutnya dia risih. Elo deketin dia secara perlahan, elo kan udah Deket tuh sama mamanya jadi peluangnya gampang buat dapetin Malvin" ujarnya, tutorial yang diberikan Alya sungguh pelatih ya handal.


Rachel menyunggingkan senyumnya, "ehmm... oke oke" jawab Rachel sesingkat itu. "Jadi gimana hubungan lo sama bang Dika?" tanya Rachel mengalihkan pembicaraan.


Alya melirik sekilas Dika yang masih serius membaca komik, "dia juga suka gue, tapi gue masih bingung gimana jelasinnya ke tante, tapi gapapa lah sabar dulu aja lagian kita juga masih terlalu kecil untuk seriusin hubungan ini" terang Alya. Rachel mengangguk paham sebagai responnya.

__ADS_1


~•~


__ADS_2