
Keesokan harinya, sesampainya disekolah Rachel langsung menuju ke kelasnya dan menaruh tasnya di bangkunya.
Ia melihat tas Malvin yang sudah berada dibangkunya namun tak ada Malvin disitu, Rachel pun keluar kelas dan mencari keberadaan Malvin untuk memarahinya.
terlihat Malvin berada di taman sekolah sembari memainkan ponselnya dan memakai earphone, Rachel pun berlari menghampiri Malvin dengan raut wajah kesal.
"Malvin!!!!" teriak Rachel dari belakang Malvin namun Malvin tetap diam.
Berulang kali Rachel meneriaki Malvin dari belakang tapi tak ada balasan dari Malvin, karena Malvin memakai earphone ia tak mendengar apapun.
Hingga akhirnya Rachel semakin kesal, dan ia memukul kepala Malvin dari belakang menggunakan buku, sontak Malvin pun menoleh dengan raut wajah kesal.
"Apa sih!!" bentaknya sembari melepas earphonenya.
'pantes aja gue panggil dia teriak teriak ga denger, ternyata pake earphone' batin Rachel dengan menepuk dahinya.
"Ya makanya kalo manggil orang tuh dari depan, jangan dari belakang" sewot Malvin.
"Maaf"
"Hmm"
"Oh ya, gue marah sama elo!!" ucap Rachel dengan menekuk kedua tangannya didada.
"Terus? gue ga rugi lo marah sama gue" Malvin menautkan satu alisnya.
"Ihhh!!!, kenapa sih lo tolak si Alya! kasian tau dia itu udah banyak berubah, dia itu cinta dan sayang banget sama elo tau bahkan pas lo kecelakaan aja dia rela nunggu lo 24 jam asal lo tau, sampai sampai dia tidur diluar ruangan lo, dan lo ga ada rasa terimakasihnya gitu? bahkan elo ngehirauin dia waktu itu, apa salah dia vin?" oceh Rachel mengutarakan unek uneknya.
"Oh, gue males aja sama dia"
"Cuma itu jawabannya? heii!! gue ngomong panjang lebar, kenapa sih lo itu ga ada perubahan, dimana letak rasa kemanusiaan lo, lo ga punya perasaan ya? Plis lah coba balikan sama Alya, kayaknya elo juga belum ngucapin terimakasih waktu Alya jaga lo dirumah sakit"
"cerewet! lo yang pergi atau gue yang pergi?" balas Malvin.
"Dih kayak guru aja" sewot Rachel. "Jawab dulu, kenapa lo ga mau balikan sama Alya, dia baik loh, cantik, pinter banyak prestasi juga"
"Karena gue ga suka sama Alya! perasaan itu ga bisa dipaksakan! gue sukanya sama elo!" jawab Malvin kesal lalu pergi meninggalkan Rachel sendiri yang masih tercengang.
__ADS_1
'suka gue?' batin Rachel yang masih tercengang.
Hingga akhirnya bel masuk berbunyi dan Rachel pun tersadar dari lamunannya, ia pun segera berlari menuju kelasnya.
Pelajaran pertama pun dimulai ~
****
Di jam istirahat, Malvin langsung keluar kelas tanpa berkata apapun terlebih lagi menatap Rachel pun tidak, yang ia fokuskan hari ini adalah mengawasi adik kembarnya yaitu Kevin karena disuruh oleh papanya.
Ia disuruh untuk mengawasi Kevin agar tidak membolos dan melanggar peraturan sekolah, sebenarnya ia merasa tidak enak pada Kevin namun karena perintah sang ayah mau tak mau ia pun menurutinya.
Malvin masuk ke kelas Kevin, mengendarkan pandangannya melihat sekeliling mencari Kevin, dia terasa sangat lega saat Kevin berada di kelasnya memainkan ponsel dengan tenang dibangkunya yang berada di paling belakang.
"Aduh Malvin!! ganteng banget pangeran gue" histeris salah satu perempuan.
"Dih Malvin juga pasti sukanya ke gue" sewot satunya.
Dan semua siswi perempuan berebut Malvin, namun tak dihiraukan oleh Malvin. ia pun langsung keluar dari kelas Kevin namun tiba tiba terasa tangannya ada yang memegangnya membuatnya berhenti dan menoleh kebelakang dan itu ternyata adalah Kevin.
Malvin duduk berhadapan dengan Kevin, didepannya sudah ada 2 mangkuk mie ayam beserta 2 gelas es jeruk. Namun keduanya hanya diam tanpa ada obrolan diantara mereka, rasanya sangat canggung.
Malvin hanya mengaduk mie nya tanpa memakannya sedkit pun, begitu juga dengan Kevin dia hanya diam sambil meminum es jeruknya.
"Vin, lo disuruh papa ya buat ngawasin gue?" tanya Kevin.
'aduh kok bisa tau sih, padahal gue tadi berusaha ga mikirin itu biar Kevin ga tau' batin Malvin yang tak bisa diketahui Kevin.
"Maaf, iya gue ngawasin elo karena perintah papa, gue ga berani nentang perintah papa, gue juga ga mau jadi anak durhaka" jawab Malvin menatap mata Kevin.
Kevin pun menghela nafas, lalu berhenti menyedot minumannya, kemudian menatap Malvin. "Papa kayaknya udah mulai keras deh sekarang" ujar Kevin.
"Bukan keras, lo nya aja yang keterlaluan, bandel dibilangin" seru Malvin.
Kevin pun tertawa kecil, "Lo nya aja yang terlalu rajin dan tertib, hidup itu dibuat seneng seneng mumpung masih muda, jangan ngurusin hal yang membosankan terus, hadehh.." balas Kevin mengejek.
Malvin berdecak kesal sembari menggelengkan kepalanya, "gue capek kasih tau lo, ga tobat tobat.... gue juga bingung dengan cara pola pikir lo"
__ADS_1
Kevin memutar bola matanya, "iya iya emang lo yang paling baik, pola pikir lo yang selalu bagus dibanding gue yang berandalan.." ucap Kevin kesal.
Malvin tersenyum smirk, "emang gue lebih segalanya daripada lo, dalam bidang apapun!" jawabnya jutek, menyombongkan diri sendiri.
Kevin hanya diam menatap malas Malvin, merasa sangat menyesal telah memuji Malvin dan serasa ingin menyiram es jeruk ke muka saudaranya yang menyebalkan itu, tetapi ia mencoba untuk tenang. Sebenarnya Malvin hanya memancing amarah Kevin supaya Kevin sadar juga akan berusaha menjadi lebih baik daripada dirinya.
"Inget ya, gue lebih segalanya dari elo! lebih ganteng, lebih tinggi, lebih pinter, lebih rajin, lebih diidolakan, dan lebih lebih daripada elo!" tambahnya dengan senyum smirk, terlihat wajah kusut Kevin yang sangat kesal dengan ucapan Malvin.
Malvin tertawa terbahak bahak, baru kali ini Malvin tertawa terbahak bahak seperti itu, rasanya sangat puas melihat wajah kusut Kevin, ia sangat senang bisa menggoda saudaranya tersebut.
"Nyesel gue muji lo, dasar bebek" balasnya dengan bergumam.
"Gue tau isi hati lo, lo kesel kan sama ucapan gue?"
"Udahlah lo ga usah mantau gue terus terusan, lagian juga 5 hari lagi gue dikirim ke Canada, gue akan berubah mulai sekarang dan jadi murid baik disekolah baru gue, percaya deh ntar gue pulang dari Canada akan lebih baik dari elo" ujar Kevin.
'nah itu yang gue harap dari elo kev, gue pingin elo berubah, gue suka dengan semangat lo ini' batin Malvin, tersenyum tipis.
"Halah gue ga percaya" ledek Malvin dengan wajah serius namun hati yang sangat ingin tertawa.
Kevin pun tertawa kecil, "udahlah gue tau permainan elo, gue serius vin gue bakalan berubah, jangan kira gue bercanda"
Tanpa mereka sadari, semua pandangan terarah pada mereka, semua murid dikantin apalagi khususnya para siswi terpesona dengan mereka, mereka tersenyum senyum melihat keakraban si kembar tersebut yang jarang nampak akrab didepan umum.
"Tapi lo telat Kevin, harusnya lo berubah dari dulu, asalkan lo berubah dari dulu mungkin papa ga akan ngirim lo ke Canada dan nerima didikan militer om Erick" ujar Malvin dengan wajah lesu.
Kevin tertawa terbahak bahak, "emang kenapa woi? elo ga rela ya gue pergi? jangan Sampek ntar lo telfon gue malem malem cuma mau ngomong lo kangen sama gue, ishh jijik" jawab Kevin dengan tertawa terbahak bahak didepan Malvin, sungguh puas menggoda saudaranya yang amat dingin itu.
Malvin sangat malu, memang dalam hati kecilnya ia tidak rela ditinggal saudara kembarnya, karena hanya dengan Kevin ia bisa mengobrol panjang lebar dan bercanda tawa walau harus bertengkar lebih dulu.
Ctak!!
Malvin pun menyentil dahi Kevin cukup keras. "Gak lah!, kepedean.... pergi sono gue mau sendiri" usir Malvin.
Lalu Kevin pun pindah tempat duduk yang tak jauh dari Malvin sembari membawa es jeruknya yang tinggal separuh dan mie ayamnya yang masih banyak tapi sudah tak panas lagi, namun tetap ia makan daripada mubazir.
~•~
__ADS_1