
"Rafa, gue boleh liat liat foto foto yang ada didepan? tadi gue liatnya kurang puas" pinta Rachel.
"Boleh kok, yuk gue temenin" ajak Rafa dengan senang hati. Lalu Rafa dan Rachel pun berjalan keruang tamu melihat foto foto keluarga yang terpajang disana.
Keduanya melihat foto satu persatu dari ujung ke ujung, lalu terlihat foto seorang laki laki menggendong bayi.
"Ini ayah elo?" tanya Rachel.
Rafa mengangguk, "iya, kenapa?"
Rachel berfikir sejenak, 'kayak pernah liat orang ini, dimana ya?' batin Rachel.
"Hel?" Rafa menggoyangkan tangan kanan Rachel membuat Rachel tersadar dari lamunannya.
"Ehh, gapapa kok" jawabnya dengan tersenyum.
Setelah puas melihat foto foto, Rachel pun memilih pamit pulang karena senja telah terlihat sebentar lagi adzan Maghrib akan berkumandang.
"Gue pamit pulang ya" pamitnya sembari tersenyum.
__ADS_1
"Iya hel, gue anter ya?" balas Rafa.
"Eh ga usah fa, gue pulang sendiri masih berani kok, lagian langit belum gelap" tolak Rachel.
"Yaudah, hati hati ya" Rafa melambaikan tangannya, Rachel pun membalas dan keluar dari rumah Rafa, menyalakan motornya dan pergi pulang dari rumah Rafa.
****
Tak terasa 4 bulan telah berlalu, Rachel yang asik dengan ponselnya tiba tiba terbelalak saat melihat Malvin yang tiba tiba masuk keruang kelasnya. Karena selama ini Rachel yang selalu menghampiri Malvin lebih dulu namun kali ini ia berfikir kalau Malvin yang menghampirinya balik.
Benar seperti dugaannya, Malvin menghampiri mejanya, seperti biasa Rachel memberikan senyuman manisnya berharap Malvin membalasnya, itulah yang Rachel harapkan selama ini. Namun, yang Malvin respon hanyalah muka datar dan jutek tanpa ada rasa tertarik sedikitpun melihat senyuman manis Rachel.
"Hmm... gue cuma mau ngomong, mama tadi nyuruh buat lo sampein ke tante Nindi, buatin kue ulang tahun kayak yang ada difoto yang gue kirim di WhatsApp. Ini uangnya dan besok harus jadi, jam 7 malam acaranya mulai.." Malvin menyodorkan beberapa lembar uang ratusan yang sepertinya jumlahnya lebih.
"Ini kebanyakan kayaknya, ntar gue bilang tante Nindi kok"
"Kalo kebanyakan, besok sekalian antar kuenya balikin uang lebihnya" jawab Malvin jutek.
Rachel pun mengangguk dan memasukkan uang itu kedalam tas, lalu wajahnya tiba tiba berubah kusut saat melihat Malvin yang tersenyum pada Rini. Senyuman hangat yang slalu Rachel impikan selama ini, namun malah muncul bukan untuknya.
__ADS_1
Sekilas Rachel melirik Rini disamping kanannya, gadis itu tersenyum manis pada Malvin membuat Rachel curiga pada Rini.
"Gue balik ke kelas ya, takut dosen udah masuk ke kelas" pamit Malvin dengan senyumannya, yang diberikan untuk Rini.
"Iya" jawab Rini terlihat begitu senang.
Rachel terdiam, dirinya merasa sakit hati karena keakraban Malvin dan Rini. Selama ini memang Rachel selalu bercerita apapun pada Rini, dan juga bercerita tentang perasaannya pada Malvin, bercerita semua tentang Malvin juga pada Rini. Karena Rachel menganggap Rini sebagai sahabat barunya yang dapat dipercaya.
"Rini, lo sama Malvin deket ya?" tanya Rachel menyelidik.
Rini menoleh pada Rachel yang sebelumnya memandangi Malvin meskipun sudah keluar dari ruang kelasnya.
"Lumayan akrab sih.... udahlah lupain" jawab Rini mengalihkan.
Rachel sedikit curiga pada Rini, sepertinya ada hubungan tersembunyi antara Malvin dengan Rini, apakah mungkin Rini berkhianat?
Tetapi betapa teganya Rini jika berkhianat pada Rachel, padahal selama ini Rachel berbuat baik padanya, dan sudah menganggapnya sebagai sahabat, bahkan juga telah sepenuhnya percaya pada dia.
~•~
__ADS_1