
Jam istirahat masih berlangsung, Rachel duduk dibangku kosong kantin sembari menunggu jus melonnya datang, saat masih dalam keadaan menunggu tiba tiba Malvin datang menghampirinya dengan membawa sekotak Tupperware yang tak tau apa itu isinya.
"Ini dari mama" ucapnya sembari memberikan kotak tersebut pada Rachel.
Tanpa bertanya, Rachel langsung membuka kotak tersebut dan isinya adalah sebuah kue kering buatan tante Silvia, kue kering berbentuk wajah manusia yang terlihat imut, sayang sekali untuk dimakan.
"Makasih" ucap Rachel tersenyum pada Malvin, Malvin hanya mengangguk tanpa melihat wajah Rachel, lalu ia berlalu pergi begitu saja, Rachel merasa sedih saat Malvin kembali cuek padanya, senyumannya seketika hilang.
Namun ternyata, Malvin duduk dibelakang Rachel berjarak 2 bangku saja, sebenarnya dia ingin berada didekat Rachel namun rasa gengsi menyelimutinya.
Jus melon pesanan Rachel telah datang, saat akan menegaknya tiba tiba Rafa datang menyapanya.
"Hai hel" sapa Rafa, lalu duduk begitu saja didepan Rachel.
Penolakan yang diterima Rafa waktu itu tak membuat pertemanan mereka retak, mereka mengesampingkan ego dan gengsinya masing masing sehingga membuat pertemanan masih aman berjalan dengan baik.
"Apa ini?" tanya Rafa.
"Kue kering pemberian dari mamanya Malvin" jawab Rachel.
"Wahh, boleh coba?" tanya Rafa.
"Boleh, silahkan" Rachel menyodorkan kotak tersebut pada Rafa sehingga Rafa dapat mengambilnya. Rafa mengambil 2 kue kering tersebut dan langsung dimakannya.
Dari kejauhan Malvin yang melihat duo R akrab, moodnya seketika berubah, ia menggebrak meja lalu pergi meninggalkan kantin.
__ADS_1
Rachel menoleh kebelakang, terkejut dengan gebrakan meja yang berada dibelakangnya, ia melihat Malvin yang terlihat kesal. Sebenarnya dia bingung dengan Malvin yang sekarang sifatnya telah berubah, bahkan Malvin tanpa sebab menghindarinya.
'Malvin kenapa?' batin Rachel, tatapannya berubah sendu.
****
Jam kosong, tak ada mata pelajaran dilaksakan dikarenakan para guru sedang rapat, tetapi semua murid dilarang keluar kelas.
Rachel menghampiri Malvin yang duduk anteng dibangkunya sembari memainkan ponselnya.
"Vin, elo kenapa?" tanyanya.
Melihat Rachel yang berdiri didepannya, mendongak pun tidak ia malah tetap fokus pada handphonenya, sengaja tak memperhatikan Rachel.
"Gue ada salah sama elo ya?"
"Apa karena gue ga mau disuruh suruh lagi sama elo? gue mau kok jadi asisten lo lagi" ucap Rachel asal Malvin kembali hangat.
"Lo kenapa dingin ke gue? lo serem loh kalo gini" celetuk Rachel dengan cengir kudanya.
"Vin, mau lo apa?" tanya Rachel.
"Gue cuma mau jangan deketin gue lagi!" mata elang itu menatap Rachel dengan tatapan dingin.
"Salah gue apa? gue cuma mau alasan elo, dan gue akan perbaiki kesalahan gue, kita kan teman vin.." Rachel memegang tangan Malvin dengan lembut.
__ADS_1
Dengan kasar Malvin menghempas tangan Rache, "pergi!" bentak Malvin.
"Tapi vin-"
Bruak!!!!
Malvin menggebrak meja membuat semua pasang mata menoleh kearah mereka berdua, "Gue bilang pergi ya pergi!" Bentaknya.
Rachel pun menunduk dan kembali ke bangkunya, ia merenung dengan menulis di buku diary nya, tentang perubahan sifat Malvin yang sangat membuatnya tidak nyaman.
Setelah menulis sebuah diary, ia pun mulai menggambar sketda wajah Malvin dari kejauhan, rasanya ingin sekali mengobrol dengan Malvin.
****
Bel pulang telah berbunyi, kali ini Rachel tak membawa sepedanya karena tadi pagi tante Nindi mengantarnya menaiki taxi sekalian pergi ke toko klontong.
Rachel berdiri sendiri didekat pohon menunggu angkot lewat didepannya, ia melihat Malvin yang keluar dari sekolah menaiki motornya.
"Vin!!" panggilnya. namun menoleh pun tidak, lelaki dingin itu pergi begitu saja acuh tak acuh menghiraukan Rachel, tidak seperti biasanya yang akan memaksa Rachel ikut bersamanya, namun kali ini berbeda.
Dan tak lama setelah Malvin, ia melihat Alya yang dijemput tantenya menaiki motor berdua, Rachel yang melihat Alya langsung menyapanya diselingi dengan senyuman, Alya pun membalas senyuman Rachel dan pergi bersama tantenya.
Angkot lama sekali tak kunjung datang, ia harus pulang bersama siapa, Rafa pun belum pulang karena masih belajar bersama guru untuk olimpiade matematika, ya menjadi murid pintar memang slalu jadi andalan para guru.
Sampai akhirnya, 15 menit kemudian angkot datang, dan Rachel pun menaikinya menuju pulang kerumah.
__ADS_1
~•~