
Rachel dan Alya kini tengah mengobrol di kantin.
"Oh ya, setelah sekian lama, gimana hubungan lo sama bang Dika?" tanya Rachel penasaran.
"Gue sama dia ya masih saling suka tapi ga ada hubungan apa apa, dia takut mau ngomong tentang hubungan kita ke mamanya, gue juga ga berani buat ngomongnya. Karena kita kan saudara meskipun ga sedarah sih.... tapi gue coba jalani aja dulu, siapa tau suatu saat gue ada keberanian buat ngomong" jelas Alya.
"Iya sih, susah banget sih buat kalian ngomong yang sebenarnya ke tante lo, tapi elo jangan nyerah, semangat ya!" balas Rachel dengan tersenyum.
"Makasih banyak hel"
"Btw, Rafa sama Kevin kok ga masuk ya?" tanya Rachel.
"Ga tau" jawab Alya sembari mengendikkan bahunya.
"Bisa barengan gitu loh, aneh..."
"Mungkin udah janjian sebelumnya" jawab Alya yang hanya asal bicara.
"What! ga mungkin. Mereka ga pernah akur, dari SMA sampe sekarang pun tetep ga akur, dulu setiap Kevin punya masalah yang ngurusin kan Rafa, jadi sampe sekarang dia males banget, ke si kembar terutama!" ucap Rachel enggan menyebut nama Malvin.
__ADS_1
Alya terdiam sejenak, menatap Rachel dalam, ia yakin ada yang Rachel sembunyikan darinya sehingga membuat ia terlihat sangat membenci Malvin.
****
Sesampainya dirumah, Malvin melihat Kevin yang duduk santai di sofa sembari memainkan ponselnya.
"Dari mana lo? bolos lagi? lo mau dikirim ke canada lagi?!" sindir Malvin.
"Habis main tadi sama Rafa, jangan bilang ke papa, awas aja lo!" ancam Kevin.
Malvin berdecak sebal lalu meninggalkan Kevin begitu saja menuju kamar, Namun Kevin ikut berjalan mengekori Malvin.
"Gimana rasanya dijauhin sama Rachel?" tanya Kevin sembari menekuk kedua tangannya didada.
"Gimana kalo Rachel beneran benci sama lo?" Kevin menaikkan satu alisnya.
Malvin menghela nafas, "bodoamat. Dari dulu gue ga peduli sama dia, kalo dia beneran benci sama gue, ya syukur dong. Lagian dia bukan siapa siapa gue"
"Kenapa sih lo se benci itu sama Rachel? dia kan ga salah apa apa, masa cuma suka sama elo aja, elo sampe benci kayak gitu" geram Kevin.
__ADS_1
"Udah deh, capek gue. Intinya gue ga suka sama dia, apapun alasannya. Lagian ga cuma Rachel kok, ke semua cewek gue juga ga peduli!" jelas Malvin.
"Rini juga?" Kevin tersenyum smirk.
"Ya enggak lah bego! Rini itu beda dari yang lain, gue suka sama dia"
"Elo ga mau cari tau gimana sifat asli Rini? apa lo yakin dia cewek baik baik?"
Malvin memutar bola matanya malas, "emangnya kenapa? gue kenal dia udah lama kok, dan gue juga yakin kalo dia emang cewek yang baik. Gue sering denger batin dia kalo dia ga bakal selingkuh atau plorotin uang gue"
"Kan cuma batin! batin itu bisa membohongi, kalo pikiran enggak! gue bisa baca pikiran dia, apa yang semua dia pikirkan gue tau! elo itu banyak dibohongi sama dia!" Kevin menyentil dahi Malvin, sebal.
"Jangan fitnah! bilang aja elo iri kan karena cewek gue cantik dan sempurna?!"
"Gue ga iri! gue juga ga butuh yang sempurna, yang penting setia dan benar benar cewek yang baik!" terang Kevin membuat Malvin kesal.
"Dan yang terpenting. Harus Lo ingat! Rachel itu cewek yang baik, dia tulus. Lo pasti bakal nyesel udah sia siain dia. Suatu saat kalau semua terbongkar dan elo pasti menyesal, gue ga akan rebut Rachel kok. Karena hati gue yakin kalo Rachel emang jodoh lo! gue juga bersedia bantuin elo buat dapetin Rachel, tapi untuk sekarang gue cuma mau elo kapok! gue cuma mau elo sadar dan tau tentang kebohongan Rini!" ujar Kevin panjang lebar.
Malvin berkacak pinggang. "Oke, dan gue yakin gue bukan jodoh sama Rachel! dia bukan jodoh yang tepat buat gue. Dan harus lo ingat kalo gue ga bakal nyesel udah sia siain Rachel!"
__ADS_1
Kevin menggelengkan kepalanya, lelah menghadapi kakak kembarnya yang keras kepala itu, dia sangat menyebalkan akhir akhir ini.
~•~