
Rachel tertawa senang, akhirnya hari ini ia bisa menghabiskan waktu bersama Rafa berdua.
Rafa tersenyum simpul melihat Rachel yang marah marah karena berulang kali gagal mengambil boneka.
"Ihh susah banget sih, ayolah plis.." oceh Rachel.
Jika sekarang Rafa dan Rachel sedang bergembira, tapi tidak dengan Malvin yang hanya diam melamun dikamarnya ditemani oleh Kevin yang sedang bermain game.
Suasana hati Malvin tidak baik, ia tidak mood sejak tadi pagi, karena yang dia inginkan hanya Rachel tetap dirumahnya menemaninya namun sang mama menolak menyuruh Rachel pulang kerumahnya karena merasa kasihan pada Rachel yang terlihat lelah menunggu Malvin.
"Arghhhh nyebelin!!!" pekik Malvin sembari melempar bantal kearah tembok.
"Woi!!" teriak Kevin terkejut akibat teriakan Malvin, lalu ia pun menghentikan game nya sejenak. "Lo kenapa sih vin? daritadi ngelamun mulu, lo bete ya gara gara Rachel pulang?" tanya Kevin.
Bukannya menjawab, Malvin malah melempar bantal kearah saudaranya yang berada duduk dibawah kasur, untuk melampiaskan amarahnya.
"Lo suka ya sama Rachel?" tanya Kevin dengan menaruh handphonenya dinakas.
Malvin hanya diam tak menjawab lagi pertanyaan Kevin.
Kevin berdecak kesal "kalo ada orang tanya tuh dijawab!!" kesal Kevin kembali melemparkan bantal kearah Malvin.
Malvin tetap diam tak menjawab pertanyaan Kevin, ia merebahkan badannya diatas kasur lalu menatap ke langit langit kamarnya.
"Ehmm tapi menurut gue ya, si Rachel tuh ga suka sama elo, dia sukanya ke Rafa" tambah Kevin.
Malvin tetap diam, tentu saja dia sudah lebih tau dulu sebelum Kevin mengetahuinya dan mengatakannya.
"Jujur ya, sebenarnya gue juga suka sama dia dulu, tapi gue ga mau maksa cewek, kalo dia ga mau sama gue, yaudah byee.." tambah Kevin dengan santainya, ia duduk di sebelah Malvin yang merebahkan badannya.
"Lo suka sama Rachel? sejak kapan? kenapa gue ga pernah denger batin lo.... ditambah lagi pas lo deket sama Rachel, ga ada tuh perasaan yang muncul yang gue denger dari batin lo" respon Malvin.
Kevin tersenyum smirk, "emang, gue ga pernah ngebatin tentang Rachel disaat gue tau kalo ada lo disekitar gue, gue lebih pinter dari lo, gue tau maksud jalan pikiran lo apa, kemampuan gue kan bisa membaca pikiran orang jadi gue lebih tau dulu daripada lo" jelas Kevin.
"Nyebelin lu!!" balas Malvin.
Kevin hanya tertawa kecil, ia pun ikut merebahkan badannya disebelah Malvin sembari menatap langit langit kamar.
"Lo mau deketin Rachel? gue bakalan bantuin elo. gue ikhlas kalo dia sama lo asalkan lo jaga dia baik baik dan jangan pernah sakiti dia atau gue bisa lakuin hal kejam ke elo karena udah sakitin cewek yang pernah gue suka, btw soal deketin cewek tuh hal yang gampang buat gue loh" tawar Kevin.
"Ga usah makasih, dia ga suka ke gue, bahkan dia sering ngebatin kalo gue nyebelin dan jahat, ga berperasaan juga" jawab Malvin ketus.
__ADS_1
Kevin tertawa terbahak bahak mendengar jawaban dari Malvin. "Kan emang lo jahat sama dia, makanya dia ngebatin kayak gitu. Elo kan suka suruh suruh dia, kasihan tau vin.... hidupnya udah susah makin dibuat susah sama lo"
Malvin menghela nafas berat, lalu ia kembali diam.
"Atau jangan jangan lo sengaja nyuruh Rachel buat jadi asisten lo?, biar lo bisa deket dia setiap waktu?" tanya Kevin lagi.
Malvin memutar bola matanya, "ga gitu bego! gue emang beneran suruh dia jadi asisten gue karena awal dia punya masalah sama gue. waktu itu dia menendang kaleng kosong sampe kena jidad gue dan jidad gue benjol, yaudah gue suruh dia tanggung jawab jadi assiten gue selama 1 tahun. dan sekarang entah gue mulai ada perasaan ke dia," jelas Malvin panjang lebar.
Kevin tertawa kecil mendengar penjelasan Malvin yang cukup panjang, hanya dengan Kevin lah Malvin dapat berbicara panjang lebar.
"Kasihan banget si Rachel jadi asisten lo tanpa bayaran" celetuk Kevin.
"Cuma setahun aja, bentar lagi kenaikan kelas dia udah ga jadi asisten gue lagi kok.." jawab Malvin.
"Oh gitu.... terus kenapa lo tadi bete? marah marah ga jelas gitu? mau lo apa? sampe nimpuk gue pake bantal segala" Kevin menoleh kearah Malvin.
Malvin pun bangun dari tidurnya, "yang gue mau cuma dia, gue mau dia ga berfikiran buruk lagi tentang gue, dan gue mau dia deket sama gue sampai gue berani ngungkapin perasaan gue ke dia.." ucap Malvin.
"Cihh cemen banget sih saudara gue, tinggal ngomong aja tentang perasaan lo masa ga berani sih? awas keburu Rachel diambil si Rafa loh" goda Kevin.
"Diem lo ah! sana lo pergi dari kamar gue! nyebelin banget!" ucap Malvin sembari mendorong Kevin hingga terjatuh ke lantai.
Alis Kevin mulai meruncing tandanya ia sedang kesal, "iya iya! awas aja lo minta bantuan gue!" Kevin pun keluar dari kamar Malvin.
Kevin menghela nafas, ia pun kembali ke kamar Malvin dan membanting pintu kamar Malvin sekencang kencangnya.
Bruak!!!
****
Kini Rachel dan Rafa berada di taman kota, duduk berdua sembari memakan es krim.
"Hel, gue pingin ngomong sesuatu, serius" ucap Rafa memulai obrolan.
Rachel menoleh ke arah Rafa, "apa?" tanya nya dengan masih menjilat es krim nya.
"Bentar" ucap Rafa saat melihat bibir Rachel yang belepotan, ia pun mengelap sudut bibir Rachel dengan ibu jarinya.
Lalu ia tersenyum menatap Rachel yang nampak tersipu malu.
"Udah langsung aja mau ngomong apa?" tanya Rachel mengalihkan pandangannya.
__ADS_1
"Mau ga lo jadi pac-" "Rachel!!"
Belum sempat melanjutkan ucapannya, tiba tiba Alya datang memanggil Rachel.
Membuat Rachel mengalihkan pandangannya kearah Alya yang terlihat sedang berlari kecil ke arahnya.
Rafa terlihat kesal, ia mendengus nafas sebal lalu memasukkan semua es krim nya kedalam mulutnya, es krimnya masih banyak hingga terlihat mulut Rafa yang menggembung.
"Lo sama siapa kesini al?" tanya Rachel basa basi.
Alya duduk bergabung bersama Rachel dan Rafa. Wajah Rafa semakin kusut, ie mentap Alya dengan penuh kekesalan.
"Tadi gue nemenin tante gue cari hadiah ulang tahun buat sepupu gue anaknya si tante trus gue bosen yaudah gue kesini. ehmm... kalian berdua lagi kencan ya?" Alya menatap curiga.
Rachel membelalakkan matanya, lalu ia menggeleng malu "engga kok, cuma main berdua aja" jawabnya.
"Gue ga ganggu kalian kan?" tanya Alya.
'Lo ganggu banget mak lampir!!!' batin Rafa.
Rachel tersenyum tipis, "engga kok."
Alya diam diam menahan tawanya melihat wajah kusut Rafa, karena ia tadi tau kalau Rafa akan mengajak Rachel berpacaran.
Lalu Rafa menatap Alya, ia memberi Alya tatapan tajam yang menakutkan seolah akan menerkam Alya sekarang juga, tetapi bukannya takut, Alya malah meledek Rafa dengan membuat wajah jelek.
"Btw hel, gimana keadaan Malvin sekarang? gue denger denger katanya Malvin udah balik kerumahnya ya?" tanya Alya yang sengja memanas manasi Rafa dengan menyebut nama Malvin.
"Udah lumayan sehat sih, tadi gue anterin dia kerumahnya dan gue langsung pulang, soalnya keadaannya juga udah membaik" jawab Rachel.
"Ohh syukurlah.... sebenarnya gue mau jenguk Malvin, tapi gue ga yakin kalo dia mau ketemu sama gue, karena dia kan sukanya ke elo" tambah Alya semakin membuat Rafa marah.
"Kata siapa? ga mungkin, udahlah jangan dibahas.." sela Rachel.
"Ehh gue balik ke mobil dulu ya, takutnya tante gue udah nungguin daritadi, byee semua" Alya tersenyum dan melambaikan tangannya pada Rachel dan Rafa, lalu benar benar pergi meninggalkan mereka berdua.
Rachel melihat jam di ponselnya, jam menunjukkan kalau sekarang sudah pukul 2 siang, "fa pulang yuk, udah jam 2 nih takut tante Nindi nyariin soalnya gue ada janji ikut tante ke rumah temennya" ajak Rachel.
Rafa menghembuskan nafasnya kasar, lalu mengangguk mengiyakan, "yaudah ayo pulang" jawabnya.
'kurang ajar! ini semua gara gara si Alya gue jadi gagal nembak Rachel, awas aja lo besok al!' batin Rafa merasa sanga sangat kesal.
__ADS_1
Rafa dan Rachel pun pulang, Rafa mengantarkan Rachel lebih dulu ke rumahnya lalu barulah dia pulang ke rumahnya.
~•~