
Suatu keajaiban terjadi, jemari Rachel bergerak perlahan.
"Rachel sadar, jarinya gerak!!" heboh Alya saat menyadari hal yang aneh.
Mereka pun melihat jemari Rachel yang memang bergerak, mereka mengucap syukur akhirnya dihari bahagia ini Rachel tersadar dari komanya.
Malvin pun berlari keluar ruangan, memanggil dokter yang biasa menangani Rachel. Dokter pun tiba, semua orang diarahkan untuk keluar ruangan lebih dulu, karena dokter dan perawat lainnya akan memeriksa keadaan Rachel.
Selang beberapa menit, dokter dan perawat keluar, dokter memberitahukan keadaan Rachel yang sudah stabil, lalu mereka pun diperbolehkan kembali masuk kedalam ruangan.
"Rachel.." gumam Malvin menghampiri Rachel yang keadaannya lemas dan pucat.
"Alhamdulillah kamu udah sadar sayang..." ucap Malvin dan Nindi bersamaan.
Rachel hanya diam, mendongak menatap Malvin, ia masih belum tau kalau dirinya telah menikah disaat koma.
"Kalian mau kemana?" tanya Rachel kebingungan, karena melihat orang orang didepannya mengenakan pakaian yang bagus. "Kok Malvin pake jas? habis darimana?" tanyanya lagi.
Malvin meneteskan air matanya, cowok itu mencium tangan Rachel berulang kali sembari mengucap syukur pada Allah.
"Sayang.... sekarang kita udah nikah, aku suami kamu..." ucapnya pelan dengan suara yang bergetar.
Rachel terdiam, "ki-kita?..... mimpi itu jadi kenyataan" jawab Rachel.
"Maksudnya?" Malvin mengernyit.
__ADS_1
"Didalam mimpiku, aku nikah sama kamu. Tapi kita ga bisa selamanya bersama, ada sebuah benteng besar yang menghalangi kita, aku ga bisa liat kamu, aku ga bisa merasakan kebahagiaan itu, tapi aku beruntung dalam kenyataan kita sudah melakukan pernikahan.." terangnya dengan air mata yang tiba tiba menetes.
"Semoga benteng itu tidak menghalangi kita dalam kehidupan nyata" balas Malvin sembari mencium kening istrinya, Rachel hanya diam.
Orang orang yang melihat romantisnya pasangan suami istri tersebut, mereka menangis bahagia, bahkan Laura pun ikut menangis, selama satu bulan ini benih benih cinta tumbuh diantara Laura dan Kevin, sehingga membuat mereka saling mencintai dan menyayangi walau awalnya tiada cinta sedikitpun dihati mereka untuk satu sama lain.
"Tante...." panggil Rachel. Nindi pun berjalan perlahan ke arah Rachel.
"Makasih karena selama ini tante udah merawat Rachel dengan penuh kasih sayang, sampai Rachel tumbuh jadi gadis yang baik, maaf Rachel belum bisa balas semua kebaikan tante" ucap Rachel dengan suara serak.
"Jangan pikirkan itu, kamu itu sudah seperti putri tante sendiri, kamu sudah lebih dari cukup membalas semua kebaikan tante. Kamu sudah jadi anak yang baik juga tante udah seneng banget, sekarang kamu fokus sama kesehatan kamu" balas Nindi.
Rachel hanya mengangguk, "makasih atas semua kebaikan yang tante Silvia dan om Aiden berikan ke Rachel, terimakasih untuk keempat sahabat aku karena selalu ada disaat susah maupun senang, dan Rachel juga minta maaf ke kalian kalo selama ini ada salah terutama ke tante Nindi yang telah membesarkan Rachel"
'kenapa perasaan gue ga enak ya' batin Kevin merasakan sesuatu yang mengganjal dihatinya namun tak bisa dijelaskan lewat kata kata.
Alya dan Rafa saling tatap, seolah mereka sedang melakukan telepati karena sepertinya mereka juga merasakan hal yang sama seperti Kevin.
"Mas.." panggil Rachel dengan suara lembutnya, yang ditujukan untuk Malvin, dengan panggilan tersebut sontak membuat Malvin membelalak dengan perasaan yang sungguh senang.
"Apa sayang?" jawab Malvin mendekat ke arah sang istri.
"Terimakasih atas semua cinta dan kenangan yang kamu kasih ke aku, aku beruntung karena udah pernah mengenal kamu walau mungkin aku hanya singgah namun tidak untuk menetap, aku hanyalah wanita sementara yang hadir dikehidupanmu, maaf atas semua kesalahan yang aku perbuat selama ini.." imbuhnya dengan suara yang mulai melemah dan nafas yang berulang kali tersendat.
Rachel merasakan hal yang begitu sakit di sekitar kakinya, yang perlahan mulai mati rasa diarea tubuh bagian bawahnya, nafasnya sungguh berat, matanya pun sudah tak sanggup lagi untuk terbuka, pandangannya kabur.
__ADS_1
"I-iya sayang, ka-kamu kenapa?" Malvin begitu panik, badannya bergetar, air matanya deras turun menatap istrinya yang terlihat melemah. "A-aku panggilin dokter ya"
Rachel menggenggam tangan Malvin sembari menggeleng pelan.
"Hal ya-ang terindah ba-bagiku adalah mencintaimu, memperjuangkanmu hingga akhir khayatku, ma'af jika a-aku hanya datang sementara di kehidupanmu, a-aku harap kita a-akan bertemu kembali di surga... lupakan aku dan co-cobalah membuka hati untuk seseorang yang baru, maaf untuk ha-hari ini..." lanjutnya dengan air mata yang tak sanggup lagi menggenang.
"Laa Ilaaha Illallah.." kalimat terakhir yang Rachel ucapkan, genggaman tangannya mulai melemah dan matanya perlahan terpejam.
"Rachel!!!" teriak semua orang didalam ruangan.
Malvin, Kevin dan Aiden mengecek nafas beserta urat nadi Rachel, sedangkan Rafa berlari memanggil dokter yang biasa menangani Rachel.
"Inalillahi wa innailaihi roji'un" gumam Malvin, Kevin, dan Aiden bersamaan.
"Rachel!!! bangun sayang... kamu jangan tinggalin tante" teriak Nindi histeris, tangisnya mulai pecah.
"Rachel!!!" teriak Alya sembari terus menggoyang goyangkan tubuh Rachel.
Dinyatakan, hari ini Rachel telah meninggal dunia, secepat itu ia meninggalkan semua orang yang mencintainya.
Tangis semua orang pun mulai pecah terdengar didalam ruangan tersebut, setelah dokter datang, dokter juga memastikan kalau Rachel memang benar benar telah meninggal dunia, dada Rafa sesak saat mengetahui kalau orang yang pernah ia cintai telah meninggal dunia.
Malvin terduduk lemas, ia hanya diam menatap istrinya yang sudah tak bernyawa dengan air mata yang terus turun, dadanya begitu sesak, mengapa kenyataan pahit ini akan ia terima dihari yang seharusnya adalah hari kebahagiannya.
~•~
__ADS_1