
Bugh!!
Rachel terpental kebelakang, menggelinding sembari menutupi kepalanya.
Tinggal beberapa detik saja, jarak truk tersebut dengan Rachel sudah dekat sekali, tentu saja truk tersebut tak mampu mengerem kendaraannya.
Dengan cepat, Malvin berlari menyelamatkan Rachel, ia mendorong Rachel hingga terpental kebelakang, jadilah dirinya yang tertabrak.
Suara benturan tabrakan tersebut sangat keras, Rachel terduduk lemas sembari memegangi kepalanya yang berdarah, ia sangat terkejut saat melihat tubuh Malvin terlempar beberapa meter dari truk itu.
Rachel tak kuasa menahan tangis, rasanya ia seperti lemah seketika, lemas dan tak kuasa untuk bangun. Ia menguatkan dirinya, mengabaikan kepalanya yang keluar darah, ia berjalan menghampiri Malvin yang bersimbah darah.
Rachel membelalakkan matanya, tak percaya dengan apa yang terjadi, kejadiannya sungguh cepat tidak bisa diprediksi.
Banyak darah keluar dari tubuh Malvin. "Mal-vin..." lirihnya, air matanya mengalir deras melihat sosok laki laki yang selama ini selalu bersamanya, tergeletak lemah dengan darah sekujur tubuh.
Rasa takut dan cemas muncul diperasaannya, pikirannya sangat kacau, jantungnya berpacu lebih cepat saat Malvin tak kunjung sadar.
"TOLONG!!!" teriak Rachel meminta bantuan, sungguh panik.
Mendengar teriakan Rachel, banyak orang menghampiri Rachel dan Malvin. Banyak yang membantu Malvind dan Rachel, namun ada juga yang diam saja tak peduli.
Rachel menggigit bibir bawahnya, badannya sungguh bergetar ketakutan. Shock, itulah yang sekarang Rachel alami.
__ADS_1
Saat beberapa orang membawa Malvin ke pinggir, trotoar. Tak lama mobil ambulans beserta mobil polisi datang ke tempat kejadian, mereka turun dari mobil dan menghampiri pak supir pick up tadi untuk mewawancarainya, supir tersebut terlihat ketakutan dan sedang membela dirinya. sedangkan para petugas medis segera membawa Malvin dan Rachel kerumah sakit.
Saat ambulans datang dan para medis menyuruh Rachel masuk kedalam mobil, ia pun masuk, duduk disebelah Malvin, menggenggam tangannya erat.
'ya Allah tolong selamatkan lah Malvin' batin Rachel dengan air mata yang masih deras turun.
Ambulans kini melaju dengan cepat menuju rumah sakit terdekat, Rachel melihat dengan jelas Malvin yang terlihat parah, dibagian Kaki kanan, kedua tangannya beserta kepalanya, semua mengeluarkan darah.
Rachel terus berdoa dalam hati, kepalanya sangat pusing, entah mungkin karena kepalanya tadi terbentur ke aspal, ia masih terbayang bayang kecelakaan tadi, karena ini pertama kalinya ia melihat dengan jelas kecelakaan lalu lintas apalagi korbannya adalah Malvin lelaki yang selalu bersamanya, ditambah lagi kecelakaan ini disebabkan oleh Malvin yang berusaha menolongnya.
'andai gue tadi ga ngejar Malvin' batinnya.
"Udah mbak jangan terlalu panik, berdoa saja semoga pacarnya baik baik saja" ucap salah satu petugas medis disebelah supir.
****
"Udah hel tenang aja, Malvin pasti baik baik aja kok" ucap tante Nindi menenangkan keponakannya, ia merangkul Rachel.
Mereka berdua sedang menunggu Malvin di depan ruang UGD.
"Hel! gimana keadaan Malvin?" tanya Alya yang tiba tiba datang dengan berlari cepat kearah Rachel.
"Sekarang Malvin sedang ditangani dokter, kalian berdua tenang ya, doakan Malvin" ucap tante Nindi mencoba setenang mungkin, walau sebenarnya ia sangat khawatir.
__ADS_1
Alya menghela nafas berat, ia mengusap wajahnya frustasi, lalu duduk disamping Rachel. Nampak dari kejauhan, terlihat keluarga Valerie yang berjalan dengan terburu buru.
"Malvin mana?" tanya Kevin terlihat sangat panik.
Silvia mama dari Malvin tak sanggup berkata apa apa, ia hanya bisa menangis didepan UGD sembari memeluk sang suami yaitu tuan Valerie.
Ia begitu terkejut mendengar kabar anaknya kecelakaan, disana hanya ada Silvia, tuan Valerie dan Kevin saja, sedangkan neneknya tak diberitahu kabar tentang kecelakaan ini.
Beberapa menit kemudian, dokter keluar dari ruangan. "Keluarga pasien?," tanyanya.
Silvia dan Aiden Valerie langsung menghampiri dokter tersebut. "Kita orangtuanya" ucap mereka secara bersamaan.
"Dia kehilangan banyak darah ditubuhnya. kepalanya mengalami keretakan juga dikaki kanannya, maka dari itu saya merujukkan ananda Malvin ke poli bedah, apakah keluarga mengizinkan ananda Malvin?"
"Iya, laksanakan. Apapun yang terbaik bagi anak saya lakukan saja dokter" jawab Aiden.
"Saya akan membayar berapapun biayanya, asalkan nyawa anak saya terselamatkan, pilih dokter bedah yang terbaik!!" titahnya kembali.
"Jika kakak saya kekurangan darah, saya bersedia mendonorkan darah saya dok" saut Kevin, badannya sungguh bergetar dan matanya mulai berkaca kaca.
"Baik" jawab dokter seraya mengangguk, dirinya pun segera mengomando bawahannya untuk membawa Malvin ke ruang operasi.
Mereka semua mengikuti Malvin dengan perasaan sedih dan takuy juga khawatir. Sedangkan Rachel, ia berjalan paling belakang bersama Alya, ia terus menggenggam tangan Alya, begitu juga Alya yang mencoba menenangkan Rachel.
__ADS_1
~•~