
Cepatnya waktu berlalu, tak terasa hari ini diadakannya ujian kenaikan kelas atau biasa disebut UAS ujian akhir semester.
Rachel yang baru sampai, ia cepat cepat memarkirkan sepedanya dan berlari keruang kelasnya, namun ia masih menyempatkan melihat handphone nya untuk melihat jam berapakah ini.
Beruntung kurang 15 menit lagi ujian akan dimulai dan gerbang sekolah ditutup, ia menghela nafas lega dan berjalan santai karena jaraknya sekarang dengan kelas sudah dekat.
Sebentar lagi Rachel akan menaiki kelas 12 butuh waktu semalaman untuk Rachel belajar semua materi beserta kisi kisi mata pelajaran jadwal ujian hari ini.
"Alhamdulillah untung ga telat" gumam Rachel lalu melangkah masuk kedalam kelasnya.
Ia pun duduk dibangkunya dan menaruh tasnya dibawah kursi, lalu ia segera membuka buku buku nya untuk kembali membaca semua materi mata pelajaran jadwal hari ini.
Saat masih sibuk membaca bukunya, tiba tiba seseorang dengan suara yang sangat familiar datang menghampirinya membuat Rachel mendongak menatap.
"Pagi hel" sapa seseorang tersebut.
"Ehh pagi juga Rafa" jawab Rachel dengan senyum simpul.
"Semangat ujian!" ucap Rafa.
"Semangat selalu eheh, semangat juga Rafa"
Rafa hanya mengangguk dan duduk di kursi yang sesuai absen. Bel masuk berbunyi dan pengawas ujian pun datang dengan tepat.
Mengawali ujian dengan berdoa pada kepercayaan masing masing, lalu segera melaksanakan ujian.
Melihat soal soal ujian yang sangat sulit, Rachel tampak frustasi, berkali kali menggaruk kepalanya, ujian hari pertama disuguhi dengan mata pelajaran matematika, sangat tepat sekali menguras pikiran.
****
Hingga tak terasa, jam istirahat tengah berlangsung.
Rachel tersenyums simpul, mata pelajaran pertama telah ia lalui meskipun sedikit ada kesulitan namun semaksimal mungkin ia kerjakan dengan baik dan hasil sendiri.
"Semoga hasilnya bagus" gumamnya.
Rachel pun mengambil botol minumnya dan membukanya, ia pun meminumnya agar pikiran kembali fresh untuk melanjutkan mata pelajaran kedua nanti.
Untuk menenangkan pikiran, Rachel keluar dari kelasnya dan berjalan hendak menuju taman sekolah, namun matanya menangka sosok Malvin dan Alya sedang bersama.
Malvin yang sibuk bermain ponsel tak menghiraukan Alya yang berusaha menggodanya, merasa muak Malvin pun menghindar dari Alya namun Alya tetap mengejarnya, dan dapat menggapai tangan Malvin.
Malvin segera menghempas genggaman tangan Alya dengan raut wajah kesal.
"Jangan pergi lah vin, gue mau berduaan sama lo" ucap Alya dengan manja.
"Apa sih! jangan sentuh gue!" bentak Malvin.
Tak jengah meskipun dengan bentakan Malvin, ia tetap saja mengganggu Malvin mengikutinya kesana kemari. Sangat menyebalkan batin Malvin.
Rachel melihat mereka berdua, ia tak terlalu menghiraukannya, ia mengalihkan tujuannya menuju kantin karena perut terasa lapar, ia memutuskan untuk makan saja dulu sebelum ujian kedua dimulai.
Melihat Rachel menuju kantin, Malvin pun berfikiran untuk mengejar Rachel dan menarik tangan Rachel lalu menggenggamnya berjalan bersama sengaja membuat Alya cemburu.
Rachel hanya terdiam, namun ia tak menolaknya, dia turuti saja kemauan Malvin.
__ADS_1
Melihat hal itu, Alya sangat marah, ia menggebrak meja kantin.
"Rachel!! lo ga ada takutnya ya sama gue!" bentak Alya sangat marah.
"Jangan berisik woi!! ganggu orang makan aja lo nenek lampir!!" teriak salah seorang siswa, siapa lagi kalau bukan Rafa.
"Serah gue! ini juga sekolah milik nenek gue, papa gue juga kepala sekolah disini, lo ga punya kekuasaan apa apa dasar ketua kelas jelek!!" saut Alya ketus.
"Ngaca dong!! emang situ juga cantik? Lo juga jelek makannya ga ada yang suka sama lo, udah wajah jelek sifat juga jelek lagi ahahah" tawa Rafa sungguh terbahak bahak.
Kini mereka berdua menjadi bahan tontonan anak anak dikantin tersebut.
Amarah Alya pun semakin memuncak, ia melotot sembari berjalan menghampiri Rafa yang sedang memakan soto.
"Apa lo bilang? lo berani sama gue?! gue bisa aja keluarin lo dari sekolah ini" ancam Alya.
"Cihh ancam aja terus gue ga takut! emang lo siapa? bukan tuhan gue juga bukan orangtua gue, ngapain gue takut sama elo? kalo lo keluarin gue dari sekolah ini hanya karena hal sepele gue bisa aja tuntut loh! papa gue tentara, dan kakek gue siapa? menteri pendidikan bukan?" terang Rafa membuat semua orang disana menganga tak percaya.
Memang, kakeknya Rafa adalah menteri pendidikan, hanya Alya, Kevin dan Malvin saja yang tau karena mereka teman satu SMP dulu. Bahkan Rachel pun dibuat terkejut saat mendengarnya.
Alya menggeram kesal sembari menggebrak meja, lalu pergi begitu saja.
"Woooo udah jelek murahan lagi, dihh" sorak Rafa.
"Udah udah, tapi dia cantik loh" seru Afan. playboy sekolah.
Rafa hanya diam tak membalas ucapan Afan.
****
"Udah ah lepas vin, gue risih ih!" kesal Rachel.
Menyadari itu, Malvin segera menghempas tangan Rachel dan mengambil tisu disebelahnya lalu mengusap tangannya yang barusan digunakan untuk menggandeng tangan Rachel.
"Segitunya, padahal tangan gue bersih dan wangi habis cuci tangan loh barusan" lirik Rachel.
"Berisik!" ketus Malvin, lalu duduk disalah satu bangku kantin yang kosong.
"Pesen bakso gih!" titah Malvin pada Rachel sembari memberikan uang.
Rachel memutar bola matanya, mengambil uang lembaran hijau dari tangan Malvin. "Iya iya" jawab Rachel.
"Yaudah cepet!"
"Bentar dong, sabar... jadi orang tuh harus sabaran, kalo ga sabar yaudah beli aja sendiri!" oceh Rachel.
"Udah berani sama gue?" Malvin memberi tatapan tajam pada Rachel, membuat Rachel segera berlari memesan bakso.
Baru saja ditinggal Rachel, mak lampir kembali lagi menghampiri Malvin. "Hai Malvin" ucapnya sembari duduk disamping Malvin. Malvin sangat risih dengan kedatangan Alya.
"Apa sih! udah deh pergi jauh jauh dari gue!" bentak Malvin membuat semua mata tertuju pada mereka berdua termasuk Rachel.
"Loh... kok lo kasar sih sama gue" manja Alya membuat Malvin semakin naik darah.
"Minggir!" bentak Malvin lagi, karena Alya semakin menjadi jadi, ia berani memegang lengan Malvin.
__ADS_1
Namun Alya tak menghiraukannya, membuat Malvin marah dan mendorong Alya agar menyingkir darinya.
Akibat dorongan Malvin, Alya terjatuh tepat dikaki Rachel membuat Rachel yang sedang membawa bakso tak seimbang dan tumpah mengguyur Alya.
Sontak semua orang yang ada dikantin tertawa terbahak bahak melihat Alya yang bahas dengan kuah bakso.
Amarahnya memuncak merasa dipermalukan, ia menatap Rachel dengan tajam. Rachel kebingungan ia tak merasa bersalah karena itu juga tidak disengaja.
Alya berdiri dan mendorong Rachel dengan kasar membuat Rachel terjatuh, terjungkal kebelakang.
"Dasar ******! beraninya lo numpahin bakso ke gue! dasar kampungan! cupu! miskin!" bentaknya, semua ucapan kotor muncul dimulut Alya.
Kini seisi kantin terdiam memperhatikan pertengkaran antara Alya dan Rachel, Rachel segera berdiri kembali untuk melawan Alya.
"Dasar cewek yang modal kekuasaan doang tapi ga punya akhlak!.... emang siapa yang numpahin bakso ke elo? elo jatoh ke kaki gue pas gue bawa bakso ya syukur bakso nya jatoh ke elo, berarti itu kesialan lo, bukan kesengajaan gue!" balas Rachel sungguh berani.
"Nyolot aja lo!!" bentak Alya tepat didepan wajah Rachel.
"Yang duluan kan emang elo! gue ga salah! lo nya aja yang egois" balas Rachel.
"Dasar kampungan! udah bosen hidup lo hah!"
"Emang gue kampungan kenapa? tapi gue berakhlak ga kayak elo!" sindir Rachel.
Alya semakin kesal, tangannya pun melayang siap menampar pipi Rachel, namun dengan sigap Rachel segera menangkap tangan Alya dengan senyum smirk, lalu memuntir tangan Alya membuatnya meringis kesakitan.
"Ah! ah! au!! sakit hel!! lepasin!" teriak Alya.
"Rasain lo" Rachel merasa sangat puas.
Melihat kejadian tersebut, semua orang menganga tak percaya dengan Rachel yang selama ini lemah berbuat berani seperti itu.
"Udah! berhenti! Rachel lepasin tangan Alya! Patah ntar tangan dia!" bentak Malvin.
Membuat Rachel terdiam dan melepas tangan Alya. Alya pun duduk dibangku sebelahnya dengan memijit tangannya yang terasa sakit, tak menyangka kalau Rachel berani melawannya.
"Gue selama ini diem lo bully seperti itu al, lo selalu permaluin gue didepan temen temen gue diem!, tapi gue masih sakit hati saat lo ngatain mama gue waktu itu, sakit al! mama gue udah tiada dan lo olok olok mama gue, rasa sakit itu masih membekas al dan gue ga akan jadi Rachel yang lemah lagi!" ucap Rachel dengan tegas, namun matanya berkaca kaca.
"Sekarang lo mau tindas gue lagi? silahkan gue akan terima dan gue akan lawan itu! gue bukan lagi Rachel yang lemah! ingat itu! dan asal lo tau selama ini gue ga punya salah ke elo!" tambahnya dengan nada yang kembali rendah.
Alya terdiam "serah lo mau ngoceh apapun! tapi asal lo tau, gue pastiin lo akan dikeluarin dari sekolah ini!!" ancam Alya, lalu ia berjalan pergi begitu saja.
"Gapapa lo mau keluarin gue dari sekolah ini! yang penting nama mama gue akan slalu harum, dan ga tercemar oleh sampah kayak elo!" balas teriak Rachel agar Alya mendengarnya, namun Alya tak menghiraukannya.
Rafa yang masih ditempat duduknya, ia berjalan menghampiri Rachel.
"Lo gapapa kan hel? ada yang sakit?"
"Engga kok fa" Rachel menggeleng.
"Lo serius dengan ucapan lo itu hel? kalo beneran dikeluarin dari sekolah ini gimana?" tanya Rafa.
Rachel menghela nafas berat, lalu tersenyum seolah olah ia tegar "gapapa kok" ucapnya dengan satai, padahal dalam hati ia sangat ketakutan.
~•~
__ADS_1