
Hari ini adalah hari Minggu, di pagi ini Rachel hendak menyapu latar, saat ia melangkah keluar rumah, betapa terkejutnya Rachel saat mendapati Rafa yang sudah berada didepan rumahnya.
"Lo ngapain pagi pagi kesini?" tanya Rachel berjalan menghampiri Rafa.
"Gue mau ajak lo jalan jalan dihari Minggu ini, mau kan?"
"Mau sih, tapi harus izin dulu ke tante, emang mau kemana?"
"gue cuma mau ajakin lo jalan jalan aja, terserah elo sih mau kemana"
"Ehmm yaudah gue izin dulu ke tante ya" Rachel pun masuk kedalam rumah.
"Tante, boleh ga Rachel main sama temen"
"Kemana? sama siapa?" selidik tante Nindi.
"Sama dia" Rachel menunjuk kearah luar dan tante Nindi pun melihat siapa teman yang dimaksud Rachel.
"Ohh Rafa, yaudah boleh hati hati dijalan ya, mau uang jajan ga?" tawar tante Nindi.
"Ga usah tante, Rachel masih punya uang sendiri kok" tolak Rachel.
Tante Nindi hanya mengangguk, Rachel pun mencium punggung tangan tante Nindi, lalu berjalan menuju kamar untuk mengganti baju dan mengambil beberapa uang didompetnya.
"Berangkat tante, assalamualaikum!!" teriak Rachel.
"Waalaikumsalam" saut tante Nindi yang berada didapur.
"Udah?" tanya Rafa.
Rachel mengangguk dan naik keatas motor Rafa, motor pun segera meluncur menjauh dari rumah Rachel.
Tanpa disadari, Malvin yang sedari tadi berada dibelakang pohon sebelah rumah Rachel, ia memukuli pohon merasa kesal melihat kedekatan Rafa dan Rachel.
"Gue telat!!" gumamnya marah.
****
"Mau kemana nih hel?!" ucap Rafa sedikit berteriak karena ramainya jalanan kota.
"Gue ga pernah jalan jalan, jadi bingung mau kemana, terserah elo aja deh" jawab Rachel.
__ADS_1
"Ke mall mau?" tawar Rafa.
Rachel hanya mengangguk menuruti ucapan Rafa.
Tak lama, sampailah mereka disebuah mall, setelah turun dari motor, Rafa menggandeng tangan Rachel masuk kedalam mall, membuat Rachel malu apalagi melihat Rafa yang hari ini tampak lebih keren dan tampan dari biasanya.
'mikirin apa sih hel, udah sadar diri woi!!' batinnya.
"Makan dulu ya? gue laper, tadi belum sempet makan dirumah" ajak Rafa.
"Iya, serah lo aja" jawab Rachel, Rachel hanya menurut mengikuti apapun ucapan Rafa dan kemanapun Rafa pergi saat ini.
"Pesen aja sana sesuka lo, ntar gue yang bayar" titah Rafa.
"Ehh ga usah fa, gue bayar sendiri.... kalo buat makan mah masih cukup kok" tolak Rachel dengan halus.
"Kenapa sih lo suka banget nolak bantuan orang lain, padahal kan elo lagi dalam keadaan sedikit kekurangan, maaf ya gue bilang begini, tapi gue kagum sama elo" kagum Rafa membuat Rachel malu karena dipuji.
"Dulu, mama gue selalu ngajarin, sebisa mungkin hidup dengan kemampuan kita sendiri jangan berharap dan bergantung pada belas kasihan orang lain atau bantuan dari orang lain" terang Rachel.
Rafa pun mengangguk paham. Lalu Rafa pun melambaikan tangannya memanggil waitres dan memesan makanan untuk dirinya dan Rachel, ia tak menghiraukan tolakan Rachel tadi.
"Bener sih kata lo, tapi gapapa lah sekali sekali gue traktir lo" ucap Rafa dengan menaik turunkan alisnya, Rachel hanya menghela nafas berat.
****
Tak lama, makanan yang dipesan telah tiba, mereka melahapnya dengan nikmat, Rachel memakannya dengan lahap sampai sampai mulutnya belepotan dengan saus yang ia makan.
Rafa tertawa kecil melihat Rachel yang sungguh imut, ia pun mengambil tisu dan mengelap bibir Rachel yang belepotan, Rachel terpaku dengan sorot mata Rafa dari dekat membuat jantungnya tak aman, berdetak lebih kencang.
"Ya ampun hel kayak anak kecil aja" ucap Rafa diiringi dengan tawa kecil.
"Hehe iya" ia mengalihkan pandangannya ke arah makanannya lagi.
Selesai makan, tiba tiba ~
"Rafa!" panggil seseorang yang sungguh asing suaranya bagi Rachel.
Secara bersamaan, Rafa dan Rachel menoleh kearah kanan sumber suara tersebut, terlihat 2 orang remaja sepantaran dengan Rafa dan Rachel menghampirinya.
"Dean, Seno ngapain kalian kesini?" tanya Rafa yang terkejut dengan adanya mereka berdua.
__ADS_1
"Oh.... pantes aja gue ajak main ke warnet lo ga mau, ternyata ini alasan sebenarnya" ucap salah satu dari mereka yang berkulit sawo matang dengan alis tebal, dia bernama Seno.
"Ehh bukan gitu gue tau maksud pikiran lo, ini temen gue kok" jawab Rafa.
"Masa sih? temen apa temen?" goda remaja disebelah Seno yaitu Dean, seseorang bermata sipit, mempunyai pipi yang tembem dan berkulit putih.
"Ishh apaan sih, ini beneran temen gue" jawab Rafa sedikit kesal.
Rachel tersenyum dan tertawa renyah, sebenarnya hatinya sedikit sakit mendengar ucapan Rafa. Sudah lama ia menyembunyikan perasaannya ini pada seseorang yang berada disebelahnya.
"Hai boleh kenalan? gue Seno temennya Rafa, disebelah gue namanya Dean, dia juga temennya Rafa, nama lo siapa?" Seno mengulurkan tangannya dan Rachel membalasnya.
"Nama gue Rachel temennya Rafa juga" jawab Rachel dengan tersenyum tipis.
"Ngapain sih kalian berdua disini, pergi sono husss.... ganggu aja" ketus Rafa.
"Ya ampun gini amat lo fa, yaudah sana lanjutin pacarannya, gue sama Dean pergi ke tempat lain aja, oh ya jangan lupa ntar sore lo main kerumah gue, ga ada alasan lagi!" ucap Seno. Mereka berdua pun berjalan menjauh dari Rafa dan Rachel yang mulai pendekatan.
"Ye" balas Rafa.
"Temen lo seru juga ya fa" ucap Rachel yang masih memandangi Seno dan Dean yang mulai menjauh.
"Iya sih" jawab Rafa.
Mereka berdua pun tertawa bersama.
"Sekarang mau kemana nih? mau belanja ga?" tanya Rafa.
Rachel menggeleng cepat "ga mau ah, gue ga suka belanja membosankan" ucapnya jelas berbohong, karena ia tak ingin merepotkan Rafa yang jelas jelas akan mentraktirnya lagi.
"Ya ampun hel, gue tau yang ada dipikiran lo, gapapa kalo mau belanja" ucap Rafa membuat Rachel membelalakkan matanya.
'apa jangan jangan Rafa juga bisa denger batin orang lain, kayak Malvin dong' batin Rachel.
"Gimana? mau?" tawar Rafa.
"Ga deh, pulang aja lah. atau terserah lo mau kemana lagi asal jangan belanja" jawab Rachel.
"Yaudah, gimana kalo kita ke taman kota aja sambil liat air mancur" ajak Rafa dengan bersemangat.
"Ayok!" balas Rachel.
__ADS_1
~•~