
Seorang gadis berpawakan tubuh mungil dengan wajah imut dan rambut dikuncir dua juga poni mangkok menutupi dahi, gadis tersebut duduk sendiri dibangku taman sekolah terlihat sedih dengan menatap sebuah foto seorang perempuan dan laki laki yang terlihat 20 tahun lebih tua darinya.
"Ma, Rachel kangen" lirihnya menatap foto tersebut, matanya sudah berkaca kaca.
Gadis yang kuat terhadap segala kekerasan dan tekanan di lingkungannya sejak kecil, karena status sosialnya yang rendah membuat dirinya tak pernah dihargai dan dipandang sebelah mata oleh orang lain.
"Mama bahagia disana ya, Rachel terus doain mama kok dari sini, mama udah ga ngerasain sakit lagi"
"Hai pa, dari kecil Rachel cuma bisa liat wajah papa dari foto, Rachel pingin banget ngerasain pelukan papa, sejak bayi Rachel belum pernah ngerasain kasih sayang dan pelukan dari papa, tapi Rachel ga berkecil hati, Rachel sayang dan slalu doain papa semoga bahagia sama mama disurga"
Rachel mulai meneteskan air matanya saat teringat semua cacian yang diberikan teman teman kepadanya disaat masih SD, cacian karena Rachel yang tak memiliki ayah sejak bayi.
Nasibnya sungguh sengsara, ditinggal kedua orangtuanya, hidup miskin dan sering menjadi korban pembullyan.
Saat masih di tempat yang sama, dan kedua tangan yang masih memegang foto kedua orangtuanya, tiba tiba Alya dengan kedua temannya datang untuk membuat onar lagi.
Melihat Rachel yang menangis, Alya tersenyum puas, ia telah memiliki sebuah rencana untuk membuat hari sial bagi Rachel.
"Heii" Alya melambaikan tangannya dan duduk disebelah Rachel.
Rachel hanya diam dan masih menunduk, memasukkan foto kedua orangtuanya kedalam saku rok.
"Kok nangis? kenapa?" Alya merangkul dan mencengkram lengan Rachel.
Rachel hanya menggeleng dengan cepat, hendak berdiri namun segera dicegah oleh Nina dan Lisa.
"Kangen papa mama ya?" ledek Alya.
"Jadiin adik angkat lo aja Al, Rachel bisa punya orangtua dan elo bisa punya babu baru" Lisa tertawa kecil.
"Iya bener Al, kan saling menguntungkan tuh" saut Nina.
__ADS_1
"Maaf, gue ga sudi punya adik angkat kayak dia, gue ga pingin punya adik PUNGUT!" Alya menekankan kata Pungut pada Rachel membuat Rachel bertambah sedih namun tak kuasa mengeluarkan air matanya.
"Oh ya kenapa diem aja?"
"Aduh gue haus banget, hel beliin minum dong, tenang gue bayar sendiri gue cuma butuh tenaga lo aja buat beliin" Alya memberikan selembar uang kertas senilai 10 ribu.
Rachel menggeleng pelan "cepet! kalo ga mau, gue bilangin papa biar beasiswa lo dicabut" ancam Alya memberikan tatapan tajam.
"Jangan jangan, iya gue beli sekarang" Rachel mengangguk cepat menyaut uang dari tangan Alya, dan berlari menuju kantin untuk membelikan es.
trio pembuat onar tersebut tersenyum smirk melihat Rachel berlari menuju kantin, entah rencana apa yang mereka buat.
Setelah memesan es nya, Rachel memberikan uangnya, es tersebut seharga 8 ribu dan kemungkinan sisa uangnya 2 ribu tetapi ibu kantin masih diposisi yang sama memperhatikan uang yang diberikan Rachel.
"Ke-kenapa Bu?" tanya Rachel terbata bata.
"Ini uang palsu! kamu mau coba coba nipu ibu ya?! ibu tau kamu itu anak kurang mampu tapi kenapa kamu bisa berbuat seperti ini Rachel, kamu sengaja beli es pake uang palsu ya?!" ibu kantin berbicara dengan keras membuat seluruh murid dikantin memperhatikannya.
"Bu-bukan saya Bu, i-ini perintah Alya, ini uang Alya, sa-saya cuma disuruh aja" Rachel mencoba membela diri.
"Engga Bu dia bohong!" saut Alya yang tiba tiba datang.
"Kalo ga mampu beli es, jangan coba coba beli deh hel, pake uang palsu segala lagi, yang ada bikin diri sendiri malu kan!" teriak salah satu murid membuat semuanya tertawa terbahak bahak.
Rachel hanya terdiam, meneteskan air mata menerima cacian yang diberikan semua orang yang ada disana.
"I-ini Bu ga jadi" Rachel kembali memberikan es yang ia pegang, namun ibu kantin masih terlihat marah pada Rachel tatapannya masih sangat tajam.
"Ini Bu uangnya, es ini buat Rachel" seseorang dengan tubuh tinggi tampan, dan ramah datang membayar es yang dipegang Rachel.
Rachel hanya terdiam menganga melihat seseorang yang ada didepannya tersebut.
__ADS_1
"Kalian kenapa tega menindas yang lemah!! dasar ga tau malu!" bentak seseorang tersebut tepat didepan wajah ketiga gadis pembuat onar.
"Apa apaan sih, pembalap motor liar yang sok cool" bantah Alya dengan tatapan tajam.
Saat akan kembali membalas ucapan Alya, tiba tiba Malvin datang menghentikannya, menghentikan adiknya untuk berbuat onar lagi dilingkungan sekolah.
"Ada apa ini? bubar!" bentak Malvin yang sungguh tegas sebagai ketua OSIS.
Kevin pun menggandeng tangan Rachel membawanya pergi dari kantin dan masih membawa es tersebut.
Mereka duduk dibangku taman yang tadi Rachel tempati, Kevin mencoba menenangkan Rachel yang menangis sesenggukan.
"Udah hel, jangan dipikirin gue bakal slalu ada buat bantuin elo, gue akan jagain elo dari mereka, bahkan gue bisa balas yang lebih dari ini" Kevin merasa sangat kesal dengan sikap teman teman sekolahnya.
"Jangan Kevin, udah ga usah dibalas biar Allah aja yang balas mereka" Rachel mengusap air matanya.
"Iya, ini diminum dulu" Kevin menyodorkan es yang masih ia pegang.
Rachel tersenyum tipis "makasih" ia pun meminum es tersebut, dan Kevin hanya mengangguk pelan.
"Jangan nangis lagi ya, kayak anak kecil aja, lawan mereka jangan takut" Kevin menyemangati Rachel, ia mengelus rambut Rachel dengan lembut.
Rachel hanya mengangguk menghabiskan es yang dibelikan oleh Kevin tadi, lalu tanpa ditanya Rachel pun menceritakan kronologi kasus tadi dengan tangis yang masih sesenggukan.
"Udah gapapa ada gue" Kevin menenggelamkan Rachel kedalam pelukannya, Rachel masih menurut namun tiba tiba ia tersadar dan mendorong Kevin.
"Ga boleh peluk peluk"
"Eh maaf" Kevin tersenyum kikuk dan pamit untuk kembali ke kelas karena merasa malu.
~•~
__ADS_1