
Selama menunggu proses operasi, Aiden mencoba menginterogasi gadis imut didepannya yang pada saat kejadian kecelakaan tersebut, dia bersama Malvin.
"Rachel, bisa kamu jelaskan sekarang?" tanya Aiden dengan lembut, karena tak ingin membuat gadis didepannya bertambah ketakutan.
Proses operasi baru berjalan 15 menit yang tentunya masih lama masa operasi selesai, masih ada waktu untuk Rachel menceritakan kejadian tersebut.
Rachel mengangguk pelan, perasaannya sungguh kacau, jantungnya berdetak kencang, ia sangat ketakutan jika nanti keluarga Malvin malah memarahinya bahkan bisa memenjarakannya.
Akhirnya, Rachel pun menarik nafas dalam dalam dan menceritakannya dengan air mata yang masih terus deras turun.
"Kami tadi mau jogging, kami lari ke alun alun kota menuju tujuan utama yaitu taman kota.... kami sengaja iseng kejar kejaran. Dan tiba tiba ada mobil pick up dengan kecepatan tinggi melaju hampir menabrak Rachel, tapi dengan cepat Malvin mendorong Rachel hingga terpental kebelakang, dan naasnya Malvin yang tertabrak mobil pick up tersebut om" Rachel menceritakan dengan sebenarnya.
"Maafin Rachel om.... hiks hiks.... ini salah Rachel, andai tadi Rachel berhati hati, mungkin ini semua ga akan terjadi hiks hiks... Rachel ga sengaja om.." tangisnya mulai pecah.
Aiden menyeka ujung matanya, lalu ia pun tersenyum sembari mengelus lengan Rachel mencoba menenangkannya "gapapa nak, bukan salah kamu, ini sudah takdir" ucapnya sungguh tulus.
Rachel terisak, merenung sendiri saat Aiden pergi meninggalkannya, dalam hati ia sangat bersyukur telah kenal dengan keluarga kaya yang baik, sungguh tulus dan baiknya ayah Malvin ini.
Lalu ia melihat ke arah tante Silvia yang berdiri disamping Kevin, tepat Silvia juga melihat ke arah Rachel.
"Tante, Rachel minta maaf.." ucap Rachel.
"Udah gapapa sayang, ini bukan salah kamu, kamu jangan nangis lagi ya, kita harus sama sama kuat oke, kita doakan Malvin semoga operasinya berjalan lancar" ucap Silvia berjalan menghampiri Rachel dan memeluknya bagai anak sendiri.
__ADS_1
"Kevin.... maafin gue" ucap Rachel.
Kevin mengangguk pelan, "iya gapapa, lo jangan nangis lagi ya. Oh ya makasih udah buat kita berdua akur, semalam kita baikan dan kita lebih akur sekarang" seru Kevin tersenyum.
Rachel merasa lega "iya" ia mengangguk.
****
Dokter keluar dari ruang operasi, semua langsung terbangun dari duduknya dan menghampiri dokter.
"Gimana anak saya dok?" tanya Silvia.
"Syukur, berkat Tuhan operasinya berjalan dengan baik, berhasil. Sekarang kami akan memindahkan Malvin ke ruang rawat, dia akan sadar beberapa jam lagi, mungkin sekitar 2 jam an" jelas dokter, membuat lega mereka yang menunggu Malvin.
'terimakasih, engkau mendengar doa kami Tuhan..' batin Alya, yang hanya dia satu satunya non muslim diantara mereka.
"Sekarang kita makan yuk, biar papanya twins yang mengurus Malvin ke ruang rawat" ucap Silvia ramah.
Semuanya mengangguk dan berjalan bersama ke kantin rumahsakit, sesampainya disana mereka memesan makanan yang diinginkan masing masing dan duduk dibangku kosong, meja yang telah dipesan.
"Silahkan dipesan, nanti saya yang bayar" ucap Silvia dengan senyum yang terpajang dibibirnya.
"Terimakasih banyak nyonya Silvia" ucap tante Nindi.
__ADS_1
Diikuti dengan Alya dan Rachel, berterimakasih pada tante Silvia.
"Sama sama" jawabnya.
"Ga usah sungkan sungkan mbak sama saya, trus ga usah terlalu formal juga, kita kan temen satu kelas dulu, bahkan kita teman dekat.." Silvia tertawa menujukkan gigi putihnya.
"I-iya" jawab tante Nindi.
Setelah memesan makanan, mereka mencoba mengobrol bersama, mencairkan suasana karena sedari tadi suasana sungguh tegang dan canggung.
Namun Rachel hanya diam dan tak berniat menimbrung pembicaraan, pikirannya masih kacau masih memikirkan Malvin, ia hanya meminum minumannya saja.
Tak lama makanan datang, semua segera melahapnya kecuali Rachel yang hanya diam memperhatikan makanannya dengan pandangan kosong saja.
"Kok ga dimakan hel?" tanya tante Silvia.
"Rachel udah kenyang kok, Tante." jawab Rachel.
"Jangan merasa bersalah terus sayang, Malvin udah baik baik aja kok, dia anak kuat" ujar Silvia.
Rachel tersenyum tipis "Iya tante" jawabnya.
~•~
__ADS_1