Rachel Dan Malvin

Rachel Dan Malvin
Terbongkar


__ADS_3

Malvin yang sudah terbalut emosi, ia hendak menyeberang jalan dan menghampiri Rini diseberang jalan yang belum sadar akan kehadiran 3 cowok itu, gadis itu masih asik dengan amplop coklatnya.


"Rafa!!! cegah dia!" titah Kevin.


Untung saja Malvin belum sempat menyeberang, Kevin dan Rafa menahan tubuh Malvin yang sepertinya sudah sangat sangat marah.


"Santai bro! gue tau lo marah sama dia, tapi jangan main hakim sama cewek, bisa bisa lo masuk penjara!!" ucap Rafa.


Ucapan Rafa ada benarnya, Malvin pun terdiam dan mencoba meredakan amarahnya, mereka pun membuntuti Rini yang ternyata langsung pulang ke rumahnya setelah menerima uang dari om om tadi.


"Yaudah mending kita pulang, udah terlalu malam ntar kalian malah dimarahin sama ortu. Dan elo vin, marahnya ke Rini besok aja ya, gue lelah kalo terus nurutin kalian.." ucap Rafa memijit tengkuknya yang terasa pegal.


Malvin pun mengangguk, "yuk pulang" gumam Malvin pada Kevin.


Kevin pun mengelus punggung kakak kembarnya untuk mencoba menenangkannya, kemudian masuk kedalam mobil, pulang ke rumah.


"Bawa mobilnya pelan aja vin, jangan terbawa emosi, nyawa cuma satu jangan disia siain ntar nyesel" sindir Rafa.


"Ya gue tau!" jutek Malvin.


Sesampainya dirumah.


Malvin dan Kevin masuk kedalam rumah yang ternyata rumah masih kosong tanpa adanya orangtua dirumah, keduanya pun memutuskan untuk langsung masuk ke kamar Kevin dan merebahkan diri dikasur.


"Lo ngapain maksa gue tidur disini?" ketus Malvin. pikirannya sangat kacau saat ini, ia sangat menyesal telah berpacaran dengan gadis murahan itu dan menyia nyiakan Rachel yang benar benar tulus padanya.


"Gue..... gue cuma takut lo bunuh diri gara gara ini, makanya lo disini aja biar kalo lo coba coba bunuh diri gue bisa cegahnya, gue sanggup begadang demi elo" jawab Kevin dengan jujur.


"Apaan sih lebay! gue lebih sayang nyawa gue kali" balas Malvin berdecak sebal. "Lo sejak kapan tau semua kelakuannya si Rini?" tanya Malvin dengan raut wajah serius.


Kevin terdiam sejenak, ia tau pikiran saudaranya memang sedang campur aduk, semua ada. Marah karena kelakuan kekasihnya, marah karena dirinya sendiri yang menyesal telah menyia nyiakan Rachel, dan marah karena Kevin merahasiakan kelakuan Rini dari dirinya.


"Ehmm.... sebulan yang lalu" jawab Kevin pelan.


"Kenapa elo ga bilang ke gue?" tanya Malvin kemudian mengambil bantal yang ia tiduri dan ditutupkannya ke wajahnya.


"Maaf.... karena gue mau lo sendiri yang tau kelakuan pacar lo, jadi kalo gue langsung bilang ke elo sama aja itu omong kosong dan ga bisa buktiin ke elo, makanya gue harus cari bukti biar elo bisa liat sendiri kelakuan dia" terang Kevin.


"Makanya gue udah bilangin. Mulai sekarang, lo kalo pilih cewek harus pastiin dulu dia emang suka tulus atau cuma suka karena kita keluarga berduit, ntar dia cuma manfaatin uang lo doang kayak si ono..."


"Iya kev, gue emang bodoh. Emang cewek mana yang bener bener tulus sama gue?" jawab Malvin.


"Kalo Rachel tau tentang masalah ini. Menurut lo gimana reaksi dia?" tanya Kevin.


"Mungkin dia ketawa" jawab Malvin membuka bantal dari wajahnya kemudian menutupnya lagi setelah berbicara.


Kevin pun mengangguk. "Gimana hubungan lo sama Rachel?" tanya Kevin lagi.


"Ga tau lagi deh, gue pusing ngadepin dia. Tadi siang aja dia minta gue jauhin dia, keliatannya dia benci banget sama gue" jawab Malvin, seperti anak kecil yang ngambek.


Kevin mencoba menahan tawanya karena tingkah saudaranya yang seperti anak kecil.


"Terus gimana dong?" respon Kevin.

__ADS_1


"Ya ngga tau" Malvin mengendikkan bahunya.


Kevin pun tak sanggup menahan tawanya, ia tertawa terbahak bahak setelah mengintip wajah Malvin, entah apa yang lucu dari wajah saudaranya itu.


"Rachel itu baik loh vin" lanjut Kevin saat membaca pikiran Malvin yang kesal pada Rachel karena kini ia malah membencinya dan sepertinya Rachel tak akan memberinya kesempatan membuka hati padanya.


5 menit kemudian.


Tak ada percakapan lagi diantara kakak beradik kembar itu, terdengar suara dengkuran kecil Malvin, Kevin pun membuka bantal yang menutupi wajah saudaranya itu dan terkekeh kecil.


"Yah udah tidur si Malvin" gumam Kevin menutupi wajah Malvin dengan selimut lalu tersenyum dan mengelus pelan kepala Malvin.


Kevin pun keluar dari kamarnya, ia menuju balkon untuk merenungi kakak kembarnya yang terlihat sedih karena percintaannya.


Kevin kira, Malvin bakal sangat sedih dengan mengetahui perilaku kekasihnya yang mengkhianatinya, ternyata tidak. Malvin malah sedih karena Rachel yang membencinya, dan kekecewaannya karena sudah membuat Rachel sakit hati.


"Vin sayang banget elo udah sia siain dia.... cewek yang benar benar tulus nerima elo bukan karena duit malah lo buat hancur hatinya, sekarang lo nyesel kan.... gue juga ikut sedih kalo lo sedih vin" gumam Kevin ikut menenangkan diri.


****


Malvin dan Kevin sampai diparkiran kampus, ternyata mereka berangkat bersama menaiki motor Kevin hari ini. Disana sudah terlihat Rini yang menunggu kehadiran Malvin, karena ia masih butuh penjelasan Malvin yang tiba tiba memutuskan hubungan dengannya tadi pagi sebelum berangkat ke kampus.


"Malvin, kenapa kamu putusin aku? apa salahku? kemarin kita kan masih baik baik aja, kenapa kamu tiba tiba minta putus? aku butuh penjelasan kamu..." tanya Rini yang berlari mengejar Malvin yang berjalan tanpa menggubris pertanyaannya.


Kevin tidak ikut berjalan disebelah Malvin, karena ia tidak ingin ikut campur masalah mereka pagi ini, namun Kevin masih memperhatikan mereka berdua, ia takut jika Malvin melakukan kekerasan pada Rini.


"Malvin putusin si Rini?" tanya Rafa yang baru datang, ada Alya juga dibelakang Rafa yang tak sengaja mendengar percakapan mereka.


Kevin hanya mengangguk.


Sekarang Alya dan Rafa sudah berbaikan, mereka tak lagi seperti dulu yang sering bertengkar, kini mereka bertiga adalah sahabat.


"Jangan!" ucap Kevin bersikap tenang.


"Malvin kamu itu kenapa sih! jawab pertanyaan aku! aku butuh penjelasan kamu yang logis kenapa kamu putusin aku? apa karena kamu mulai cinta sama Rachel jadi kamu putusin aku? dasar cewek murahan, bisa bisanya dia hancurin hubungan aku sama Malvin.." ucap Rini menyangkut pautkan Rachel membuat Malvin menghentikan langkahnya dan menatap tajam cewek disebelah kirinya itu.


"Ini semua ga ada sangkut pautnya sama Rachel!!" bentak Malvin.


Rini terdiam saat Malvin membentaknya.


"Jadi kenapa kamu putusin aku? aku butuh penjelasan kamu. Jangan kayak anak kecil dong vin, kalo ada masalah kita selesain baik baik, bukan putus sebagai jalan satu satunya" desak Rini yang terus mengikuti langkah Malvin hingga semua mahasiswa memperhatikan mereka berdua.


Malvin sangat malas berbicara dengan cewek disebelahnya itu, sangat risih rasanya terus diikuti dia. Ia pun merogoh sakunya dan memasang earphone ke telinganya dan menyetel musik kesukaannya dengan berjalan santai menuju ruang kelasnya.


"Sadar ke diri lo sendiri ya!..." bisik Malvin ke telinga Rini, lalu masuk kedalam kelasnya.


Rini ikut masuk kedalam kelas Malvin, ia masih terus menganggu cowok itu. "Aku salah apa sih vin? masa aku terus yang dengerin apa yang kamu bilang, sebelumnya kan kita ga ada masalah, kenapa kamu minta putus?!" Rini terus menggoyangkan lengan Malvin dengan memasang wajah sedih supaya Malvin mau menatapnya.


Namun Malvin malah sibuk dengan handphonenya.


"Ayolah bilang alasan lo mutusin gue vin!! jangan diem mulu" ucap Rini terus mencari perhatian Malvin, namun Malvin tetap mengabaikannya.


"Ih Malvin!!!!!" teriak Rini mulai hilang kesabarannya, ia menarik tangan Malvin hingga tak sengaja ponsel Malvin terbanting.

__ADS_1


Bruak!!!!


Malvin menggebrak meja, saat ini ia menatap tajam Rini, sepertinya ia mulai benar benar marah, Rini pun reflex langsung mundur perlahan karena takut.


"A-aku ga bermaksud jatuhin hp kamu, aku cuma mau penjelasan kamu.... aku salah apa? kalo kamu bilang alasannya, aku bisa rubah diri aku supaya kamu nyaman lagi sama aku" ucap Rini terus berbicara sehingga membuat Malvin muak mendengarnya.


Malvin pun berjongkok mengambil handphonenya dan berdiri tegak dengan kedua tangan disaku celananya, menatap tajam cewek didepannya yang pucat ketakutan.


"Emang uang semalam kurang ya? sampe elo masih kejar kejar gue. Elo kira gue ATM berjalan?" sindir Malvin.


Rini membelalak saat mendengar ucapan Malvin, ia curiga kalau Malvin sudah tau semuanya.


"Maksudnya apa sih vin? aku ga pernah berfikiran kamu ATM berjalan ku, aku ga ngerti deh...." ucap Rini mencoba setenang mungkin.


Malvin tersenyum membuat Rini lega, namun ternyata Malvin menyodorkan handphonenya menunjukkan sebuah video yang Rafa kirim, bukti saat Rini dan om om semalam didepan tempat hiburan malam. Video tersebut sontak membuat Rini terdiam dan wajahnya sangat pucat saat Malvin telah mengetahui semuanya.


"Udah jelas kan alasannya?" ucap Malvin tersenyum sinis.


"I-itu bukan aku, kamu salah.... mungkin itu orang yang mirip sama aku, lagian itu dari kejauhan kan pasti salah orang" Rini mengelak.


Malvin bergidik geli saat Rini masih terus mengelak dan tak mau menyadari kesalahannya.


"Kan sekarang banyak video hoax, itu mungkin cuma sengaja buat jatuhin aku dimata kamu, aku bukan cewek yang kayak gitu vin..." ujar Rini.


"Ohh hoax ya? padahal ini gue yang rekam sendiri loh, apa mau gue sebarin video ini ke seluruh kampus?" ancam Malvin.


"Ya jangan, ntar mereka ngira itu aku.."


"Katanya bukan elo? kenapa takut.... kalo elo ngerasa itu bukan elo yaudah jangan takut" jawab Malvin yang melihat Rini gemetar. "Ada bukti lainnya juga loh, ada Kevin sama Rafa yang ikut liat dengan jelas kalo itu elo semalam, di tempat kumpulnya wanita malam dijalan anggara, pake baju terbuka warna coklat sama om om pake mobil Lamborghini warna kuning, ya kan?" ucap Malvin memperjelas.


Rafa dan Kevin yang tiba tiba masuk ke kelas Malvin, mereka bertepuk tangan kompak, membuat cewek itu mengepalkan tangannya erat, semakin emosi.


"Hebat ya drama elo, masih ga mau ngaku?" sindir Rafa.


"Kalian fitnah gue! itu gue sama om gue, kebetulan dia nyuruh gue jebak istrinya di tempat maksiat itu, jangan nuduh gue sembarangan!" bantah Rini.


"Cih!! ngaku sekarang lah kalo punya sugar daddy!" seru Rafa dengan tawa menggelagar di kelas.


Kevin berpura pura kaget dengan menutup mulutnya menatap sinis ke arah Rini. "ups"


"Katanya itu bukan elo, tapi kenapa sekarang ngaku kalo itu om lo? kok ga masuk akal sih?!" saut Alya sewot yang tiba tiba datang, ikut campur urusan mereka.


"Udah deh lo ga usah ikut campur! tau apa sih lo tentang gue!" bentak Rini.


"Maling mana mau ngaku ya kan kawan?" tambah Alya.


"Bener tuh!!" jawab Kevin.


"Mending lo ngaku sekarang deh, atau kita akan sebarin video ini ke seluruh anak anak kampus!" ancam Rafa menekankan kata SELURUH ANAK ANAK KAMPUS membuat Rini tak bisa berkutik lagi.


Ternyata sedari tadi banyak anak anak kampus yang melihat kejadian itu, Rini melihat sekitar, ia kini menjadi pusat perhatian, semua tatapan tajam mata anak anak kampus tertuju padanya, banyak hinaan yang ditujukan untuknya.


"Kalian jahat!!" bentak Rini kemudian keluar dari kelas Malvin.

__ADS_1


Malvin, Rafa, Kevin dan Alya pun tersenyum puas, akhirnya setelah sekian lama mereka dapat membongkar kelakuan menjijikkan Rini dan membalaskan rasa sakit hati Rachel.


~•~


__ADS_2