
Di perpustakaan, terlihat Malvin serius membaca buku tentang sejarah penjajahan belanda dan Jepang ke indonesia, Malvin memang suka mempelajari tentang sejarah.
Rachel yang baru memasuki perpustakaan, ia melihat Malvin yang serius membaca buku, lalu ia menghampiri Malvin dan melirik buku yang Malvin baca.
"Ga usah liat liat" jutek Malvin.
"Siapa yang ngeliat, gue cuma mau tanya ke elo" jawab Rachel mengecilkan volume suaranya saat diperpustakaan.
"Hmm"
"Kevin kemana? kok gue ga pernah liat dia dua bulan ini, bahkan ditongkrongan teman temannya juga ga ada?" tanya Rachel penasaran.
"Pindah ke Canada" jawab Malvin dengan nada dingin seperti biasanya.
"Apa? sejak kapan dia pindah? kok gue ga tau.... kenapa dia ga pamit ke gue?" tanya Rachel sangat terkejut.
Malvin merasa sangat terganggu, ia menutup bukunya lalu menatap Rachel dengan wajah datarnya, "Emang penting? elo siapanya Kevin? sampek sampek Kevin harus pamit ke elo.." ucapnya sangat menusuk hati.
Deg!
Hati Rachel sangat sakit mendengar ucapan Malvin yang sangat menusuk. Rachel termenung sebentar meratapi kenyataan yang pahit kalau dirinya hanya seorang siswi kelas bawah yang tidak berharga sama sekali dimata Malvin. Rachel kemudian tersadar saat menyadari kalau dirinya hanya beruntung dapat berteman dengan orang yang kaya raya, yaitu Malvin dan Kevin.
Malvin yang mendengar batin Rachel, ia merasa ada penyesalan telah berkata kejam seperti itu, ada rasa kasihan pada Rachel.
"Yaudah mending lo pergi sono, daripada ntar lebih sakit hati denger ucapan gue" usir Malvin.
__ADS_1
Rachel tersenyum, "Rachel ga sakit hati kok, Rachel malah makin suka sama Malvin.." jawabnya mengubur rasa sakit hatinya.
Malvin menaruh buku yang ia baca dimeja, lalu keluar dari perpustakaan, namun Rachel tetap saja mengikutinya.
"Jangan ganggu gue!" juteknya.
"Gue suka sama elo!" pengakuan Rachel.
"Udah deh jangan ngomong itu, ga punya malu banget!" Malvin memutar bola matanya. "Gue ga suka sama elo!, elo ga bakalan bisa luluhin hati gue!" Lanjutnya sembari menatap tajam.
"Percaya deh gue bakalan bisa taklukin hati elo sebentar lagi" jawab Rachel tersenyum simpul.
"Percaya diri banget lo" Malvin menyilangkan kedua tangannya didada.
"Cewek gila!" bantah Malvin mengeraskan rahangnya lalu pergi meninggalkan Rachel sendiri.
Rachel tersenyum menatap kepergian Malvin, "gue pasti bisa lelehin si es batu" gumam Rachel penuh percaya diri.
Lalu dirinya kembali masuk kedalam perpustakaan untuk membaca buku buku motivasi, sebagai penguat diri.
****
sepulang sekolah, setelah membersihkan badannya, ia menemui tantenya yang terlihat senyum senyum sendiri diruang tamu.
"Rachel, sini..." ucap tante Nindi melambaikan tangannya menyuruh Rachel menemuinya.
__ADS_1
Rachel menghampiri tantenya lalu duduk disebelahnya, tante Nindi tersenyum hangat melihat Rachel.
"Tante kenapa?" tanya Rachel kebingungan.
"Besok kita akan pindah, tante udah bangun rumah.." ucapnya sontak membuat Rachel shock.
"Ap-apa? beneran tante? Alhamdulillah.." Rachel sungguh bersyukur.
"Iya Rachel, kita ga boleh melupakan kebaikan nyonya Silvia ya, karena berkat dia kita bisa sukses seperti ini, bisnis toko kue tante laris berkat kebaikan nyonya Silvia" jelas Nindi.
"Iya tante, tante Silvia juga baik banget sama Rachel, dia beliin Rachel baju dan tas mahal kemarin, Rachel ga akan melupakan kebaikan tante Silvia" jawab Rachel tersenyum hangat.
Tante Nindi mengangguk. akhirnya setelah bertahun tahun mereka berdua tinggal dirumah kontrakan, kini mereka bisa pindah kerumah sah, rumah milik pribadi tante Nindi. mereka berdua terlihat sangat bahagia, karena secepat itu mereka akan pindah.
"Tante rahasiain ini ke Rachel? sejak kapan tante bangun rumahnya itu?" tanya Rachel.
"8 bulan yang lalu, rumahnya 2 lantai tapi ga terlalu lebar" terang tante Nindi.
"Iya tante gapapa, bersyukur banget bisa punya rumah sendiri. Rachel bangga banget sama tante, tante adalah motivasi Rachel.."
"Ada ada aja kamu" balas tante Nindi mencium kening keponakannya.
selama ini tante Nindi membangun rumah tanpa sepengetahuan Rachel, dan rencananya akan dibuat kejutan untuk Rachel yang sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri, selama bertahun tahun ia besarkan.
~•~
__ADS_1