
Sepulang dari rumah Rachel, Malvin terlihat amat kesal, ia mendobrak pintu kamarnya lalu menutupnya dengan membanting pintu sangat keras.
Amarahnya memuncak, tak sempat melepas sepatunya, ia pun merebahkan badannya diatas kasur king size miliknya sembari menatap langit langit kamarnya.
Mukanya kusut dan moodnya benar benar buruk hari ini, mendengar bantingan pintu yang terdengar sampai lantai bawah, sang mama segera berlari menghampiri sumber suara tersebut.
"Apa mungkin Malvin?" gumamnya bertanya pada dirinya sendiri. Lalu ia pun mengetuk pintu kamar Malvin.
"Masuk!" bentak Malvin yang tak tau kalau ibunya lah yang mengetuk pintu kamarnya.
Tante Silvia pun masuk kedalam kamar anak lelakinya tersebut.
"Malvin, kamu kenapa nak?" tanya tante Silvia dengan lembut.
Malvin pun mencoba menenangkan pikirannya, ia menghela nafas dan tersenyum paksa "gapapa kok ma" jawabnya.
"Kalau ada masalah, cerita sama mama ga usah marah marah gitu ya, apa kamu berantem sama Kevin?"
"Enggak kok ma, Malvin emmmm..... cuma kesel aja tadi kucing pipis di motor Malvin" jawab Malvin yang jelas berbohong.
"Oh gitu, yaudah ntar kan bisa dicuci motornya, ga boleh marah marah gitu sama ciptaan tuhan ya, apalagi kucing kan hewan yang ga punya akal pikiran, jadi manusia harus memahaminya" terang tante Silvia.
"Iya ma, yaudah ma Malvin mau istirahat ya capek tadi habis nge-gym"
"Iya" tante Silvia pun keluar dari kamar Malvin.
Setelah mama nya keluar dari kamarnya, ia pun kembali menatap langit langit kamarnya, namun entah mengapa ia melihat samar samar siluet wajah Rachel disana, Rachel nampak tersenyum padanya.
__ADS_1
Nyatanya ia hanya berhalusinasi, Malvin pun mengusap wajahnya kasar, ia sangat frustasi, hanya karna seorang perempuan ia dibuat frustasi seperti ini.
"Ngapain sih lo datang di kehidupan gue hel, lo slalu ganggu pikiran gue, dan lo bikin gue sakit hati pas liat lo deket sama Rafa" gumam Malvin.
"Kenapa sih gue ini, apa jangan jangan gue bener bener udah jatuh cinta sama Rachel, gimana cara ngungkapinnya? masa gue harus nembak duluan? cihh"
"Tapi, emang harus cowok duluan ya yang nembak?" Malvin terlihat frustasi, ia memukul mukul bantal dengan raut wajah bingung dan kesal.
Saat ia melampiaskan kemarahannya, tiba tiba terdengar kembali suara ketukan pintu yang semakin membuatnya marah.
Tok tok tok
Ia pun berjalan membukakan pintu dengan raut wajah yang amat datar.
"Ngapain lo kesini?" tanya Malvin dengan nada dingin seperti biasa.
"Yaudah, tapi pake peralatan mandi lo sendiri, khususnya sikat gigi dan handuk!" jawab Malvin.
"Yaelah, iya iya bentar gue ambil peralatan mandi gue" Kevin berjalan kembali ke kamar mandinya untuk mengambil peralatan mandi.
Beberapa menit .
"Vin!!" Kevin menggedor gedor pintu kamar Malvin.
Malvin berdecak kesal sembari membukakan pintu untuk saudara kembarnya.
Kevin pun masuk ke kamar mandi, dan Malvin menunggunya diluar kamar tepatnya di ruang keluarga.
__ADS_1
"Ganggu aja, gue lagi galau" oceh Malvin.
****
Rafa dan Rachel telah kembali, kini keduanya berada didepan rumah Rachel.
"Makasih ya fa udah ajak gue jalan jalan, gue seneng banget hari ini" Rachel nampak bahagia.
Rafa hanya tersenyum dan mengangguk "iya, gue pulang ya byee" jawabnya lalu menyalakan motornya dan motor pun melaju mulai menjauh dari rumah Rachel.
Saat motor Rafa sudah tak nampak lagi, Rachel pun masuk kedalam rumah, ia membuka kunci rumahnya dan masuk kedalam kamar untuk beristirahat.
Dirumah ia hanya sendiri karena tante Nindi sedang berada di toko kue, ia merebahkan badannya diatas kasur sembari menatap langit langit kamarnya yang sederhana, dan tak lupa tangannya telah memegang sesuatu.
Yaitu foto Rafa yang sengaja ia cetak beberapa hari yang lalu, ia slalu menyelipkan diantara buku pelajarannya dan terkadang didalam tasnya, ia mengambil foto Rafa dari sosial medianya.
Rachel terus memandangi foto Rafa dengan bahagia dan senyum yang slalu tampil dibibirnya, ia tertawa kecil saat mengingat kenangannya bersama Rafa tadi.
Beberapa menit.
"Ishh ntar lama lama gila gue" ucap Rachel lalu menaruh kembali foto Rafa kedalam bukunya.
Setelah menaruh bukunya, ia pun menuju ke dapur untuk mengerjakan pekerjaan rumah karena tadi tante Nindi tak sempat bersih bersih dan langsung pergi ke toko kue.
Mumpung tante Nindi tak ada dirumah, Rachel pun melaksanakan tugas rumah dengan penuh keceriaan sambil menyetel lagu untuk menambah semangat bersih bersih siang ini.
Sungguh hari yang menyenangkan bagi Rachel.
__ADS_1
~•~