
Tepat dimalam pertemuan antar keluarga Valerie dengan Lorenzo, semuanya telah berkumpul untuk membahas kelanjutan perjodohan antara Malvin dengan Laura.
"Jadi gimana? apakah pertunangan akan dipercepat?" tanya Adnan.
"Lebih baik secepatnya" jawab Silvia.
"Malvin sama Laura apa udah setuju dengan perjodohan ini?" timpal Kevin sembari melirik kearah saudaranya.
"Ka-kalo saya setuju" jawab Laura.
Kevin pun menyenggol siku Malvin karena sedari tadi cowok itu hanya diam tak berkata apa apa sedikitpun.
"Hah? i-iya setuju" jawab Malvin terpaksa memilih Laura. Sontak membuat Kevin membelalak menatap Malvin.
"Rachel gimana?" bisiknya, Malvin hanya mengendikkan bahunya.
"Baiklah, pertunangan antara Malvin dan Laura akan dilaksanakan Rabu depan" ucap Adnan.
Malvin membelalak dan Kevin tersedak jus jeruknya, kenapa begitu cepat mereka akan bertunangan, bukankah harus ada pendekatan lebih dulu atau saling mengakrabkan diri, karena sebelumnya mereka berdua tidak saling mengenal, melihat wajahnya sekali saja tidak.
Uhuk uhuk!!
"Hati hati sayang kalo minum" ucap Silvia sembari mengelus punggung Kevin.
"Bukankah itu terlalu cepat om, kita belum mengakrabkan diri.." usul Malvin.
"Tidak usah berlama lama, sambil menunggu hari pernikahan kalian, pasti kalian akan akrab" jawab Adnan dengan lembut.
"Emang kapan nikahnya om?" tanya Kevin.
"Nunggu Malvin lulus kuliah dulu" timpal Aiden, Kevin hanya mengangguk.
'entahlah kedepannya seperti apa' batin Malvin ragu memilih Laura yang baru dia kenal.
****
Sesampai dirumah, Kevin mengikuti saudaranya sampai ke kamarnya, Kevin terlihat kesal dengan saudaranya karena telah menerima perjodohannya dengan Laura.
"Ngapain lo ke kamar gue?" sinis Malvin.
Bugh!
Kevin memukul keras pipi kanan Malvin hingga terdapat jejak biru disana.
"Lo apa apaan main pukul gue!!" bentak Malvin.
"Kenapa lo setujuin perjodohan itu?! bukannya tadi elo bilang bakal nolak? gimana nasib Rachel? Rachel udah sengsara dari kecil, dan sekarang elo tambah buat dia sengsara, dia cinta sama elo!"
"Gue ga ada pilihan lain! gue juga kasihan liat Laura"
__ADS_1
Kevin mengacak rambutnya frustasi, "lagi lagi elo sakitin Rachel! ga pernah elo buat dia bahagia! padahal gue udah rela move on dari Rachel demi elo! gue berharap Rachel bahagia sama elo tapi nyatanya dia selalu tersakiti dengan adanya elo!! gue kecewa!" bentak Kevin benar benar kesal pada saudara kembarnya.
"Mulai sekarang elo ga boleh ketemu Rachel lagi! jangan pernah datang kerumahnya atau ke toko kue nya lagi! gue akan jagain Rachel, elo ga usah peduli sama dia lagi! dia punya gue mulai saat ini!" lanjutnya kemudian keluar dari kamar Malvin dengan membanting pintu kamar.
'Rachel maafin gue' batin Malvin.
****
Dipagi hari, sebelum berangkat kuliah, Kevin dan Malvin berada diruang makan hanya berdua, hening dan tanpa percakapan sekalipun.
Tiba tiba seorang gadis yang sangat familiar masuk kedalam rumah mereka, menyapa keduanya dengan wajah ceria.
"Pagi Malvin!! Kevin!!" sapanya.
"Hmm" jawab Malvin.
"Pagi" jawab Kevin dengan nada dingin.
"Aku kesini disuruh sama tante Silvia, bawain bekal buat kamu" ucap Laura sembari memberikan kotak makanan pada Malvin.
"Makasih.... lain kali ga usah repot repot, gue bisa beli" jawab Malvin datar.
"Oke, kamu juga ada kelas pagi?" tanya Laura pada Kevin, Kevin hanya diam tanpa melihat wajah Laura sama sekali, fokus pada makanannya. Merasa dicueki oleh Kevin, Laura hanya tersenyum pahit.
'ganggu aja nih cewek, muak gue liatnya, sok kenal, sok akrab' batin Kevin merasa tidak nyaman dengan kehadiran Laura.
Malvin yang dapat mendengar batin Kevin, cowok itu mendongak dan hanya melihat Kevin dengan wajah yang nampak menjelaskan dirinya memang tidak suka dengan kehadiran Laura.
Laura mengangguk kecil, "Kevin, duluan ya byee"
"Hmmm"
"Setelah Rini, terbitlah Laura" gumam Kevin sembari mengusap kasar wajahnya.
Sehabis makan, para asisten rumah tangga si kembar langsung membereskan piring piring kotor. Sedangkan Kevin, ia langsung menuju ke rumah Rachel untuk mengantarnya ke toko kue sekalian pergi ke kampus.
Sesampai dirumah Rachel, wajah Rachel terlihat murung, matanya sayu.
"Elo kenapa?" tanya Kevin dibuat bingung.
"Gue tadi liat Laura sama Malvin boncengan" jawabnya dengan nada pelan.
Kevin memejamkan matanya sejenak, "Rachel.... udah ya jangan dipikirin lagi, cowok diluar sana masih banyak dan salah satunya gue atau Rafa, pliss jangan pikirin dia terus, dia cuma bisa bikin lo sakit hati, sekarang elo harus fokus buat kesembuhan tante Nindi, kerja yang semangat oke?" terang Kevin sembari memegang kedua pipi Rachel, menatap matanya dalam dalam.
Rachel terdiam, lalu mengangguk kecil.
"Makasih ya, gue akan berusaha move on dari Malvin, karena gue udah tau semuanya, Malvin terima perjodohan itu kan"
Ucapan Rachel sungguh membuat Kevin terkejut, namun sebisa mungkin ia harus bersikap biasa saja didepan Rachel.
__ADS_1
"Elo tau darimana?" tanya Kevin mengernyit.
"Kata pak mamang, dan pak mamang tau dari tante Silvia tadi malam katanya" jawab Rachel.
'waduh! minta dipecat nih pak mamang!' batin Kevin sembari menepuk dahinya.
"Iya hel, Malvin terima perjodohan itu. Makanya elo jangan mikirin dia lagi oke? yaudah yuk gue antar ke toko kue elo, sekalian gue mau ke kampus" Kevin memasangkan helm pada Rachel dan meminta Rachel naik keatas jok motornya.
Setelah Rachel naik ke atas motor, Kevin pun mulai melajukan motornya, membelah jalanan kota menuju toko kue milik Rachel.
****
Sepulang dari kampus, Malvin menjemput Laura yang sama sama sudah selesai kelas, Laura dengan riang berjalan kearah Malvin tak lupa dengan senyum yang selalu terpampang dibibirnya.
"Malvin, aku boleh tanya tanya tentang kamu ga? tentang semua kesukaan kamu" tanya Laura sebelum naik ke atas motor.
Malvin hanya mengangguk, "kita ngobrolnya di taman kota aja" ucap Malvin langsung melajukan motornya menuju taman kota setelah Laura naik keatas jok motornya.
Sesampainya ditaman kota.
"Elo mau tanya apa?" tanya Malvin tetap dengan nada dingin dan wajah datarnya.
"Makanan kesukaan kamu apa? hobi kamu apa? warna kesukaan kamu apa? dan kriteria cewek yang kamu sukai seperti apa?"
"Gue suka rendang sama Kentucky paha ayam, hobi gue basketan, warna kesukaan gue hitam, kriteria cewek yang gue sukai kayak Rachel" jawab Malvin terus terang.
Kata kata yang terakhir membuat Laura terdiam dan menunduk, hatinya sakit saat mengetahui kenyataan kalau memang Malvin menyukai Rachel.
"Rachel sahabat kamu?" tanya Laura.
"Ga cuma sahabat tapi dia juga...." Malvin tak melanjutkan ucapannya, tersadar takut menyakiti hati Laura.
"Tapi apa?" tanya Laura yang sangat penasaran.
"Ntah lah jangan bahas itu"
"Oh it's oke"
'Jadi Malvin sama Rachel memang ada hubungan, Malvin kelihatan ga nyaman banget sama aku, aku jadi pengahalang antara Rachel dan Malvin, maafin aku hel...' batin Laura yang jelas didengar oleh Malvin, namun Malvin hanya diam.
'sebenarnya aku cinta banget sama Malvin, tapi dihati Malvin ada Rachel, dan Rachel juga yang lebih dulu kenal sama Malvin daripada aku, aku hanyalah orang baru yang merusak hubungan mereka, tapi disisi lain aku ga mau menyakiti perasaan papa, kalau aku bertunangan dengan Kevin apa Kevin mau?' batinnya.
"Laura, gue anterin lo pulang ya, gue mau istirahat" ucap Malvin.
"Ehm... anterin aku ke perusahaan papa aja ya, aku baru ingat kalau ada meeting jam 1 siang"
"Ya udah ayo" ucap Malvin berjalan lebih dulu, Laura mengekori Malvin.
Selama diperjalanan, tak ada percakapan sama sekali, keduanya hanya diam fokus dengan perjalanan, gadis itu merasa sangat merepotkan Malvin.
__ADS_1
~•~