
π Rachel kabur!
Ujar wanita itu yang terlihat sangat panik, berbicara dengan wanita lain diseberang sana.
π Lo gimana sih! kok bisa bisanya dia kabur?!
π Ya jangan salahin gue dong!
π Pokoknya kita harus pergi, jauh jauh dari sini!
Balas wanita diseberang sana kemudian menutup telfonnya, tanpa memberikan jeda wanita diseberangnya untuk berbicara.
Ada dua wanita di dalam kamar yang menatap foto Rachel penuh kebencian, disisi lain mereka panik karena pastinya sebentar lagi kasus hilangnya Rachel terungkap, dan dalang dibalik semuanya juga akan tertangkap pastinya, mereka berdua juga termasuk dalam pelaku yang ikut bergantian menyiksa Rachel dengan menutup wajahnya menggunakan topeng.
"Gimana nih lis!" ucap salah satunya begitu panik.
"Pokoknya kita harus kabur sekarang juga!" jawab wanita yang di sebut 'lis'
"Rini terus gimana?" tanyanya lagi.
"Gue ga peduli! pokoknya kita pergi sekarang juga, setidaknya rasa sakit hati gue udah terselesaikan! dia udah ngerebut sahabat kita!" tegasnya.
Kemudian mereka berdua pun membereskan barang barangnya, semua baju bajunya dimasukkan kedalam koper dan berniat kabur entah kemana.
****
Benar sesuai dugaan, wanita yang menculik Rachel selama ini adalah Rini yang bersekongkol dengan dua wanita lainnya, yang sama sama jahat dan licik.
Jarak dari rumah tua ini menuju ke rumahnya di Jakarta lumayan jauh, membutuhkan waktu 3 jam. Sedangkan kedua preman itu terus meminta jatah gajinya, karena selama ini Rini tak membayar upah mereka selama 5 bulan lamanya.
Mereka berdua juga mengancam Rini dan kawan kawannya jika tak segera membayar gaji mereka maka keluarga mereka lah taruhannya. Rini tak bisa membayarnya karena uangnya benar benar habis, sedangkan kedua kawannya tidak ada kabar, sepertinya nomor Rini telah di blokir oleh mereka dan pergi meninggalkan Rini seorang dikota ini.
__ADS_1
****
Malvin terengah engah berlarian sembari menggendong gadis itu keluar hutan, entah mengapa perjalanan begitu sangat lama tak seperti saat dia masuk kedalam hutan.
"Kok gue bolak balik lewat jalan ini sih!" kesal Malvin.
"Turunin gue!" bentak Rachel saat menyadari suara yang tak asing ia dengar itu.
Malvin pun menurunkan Rachel, dan tatapan mereka berdua kini saling bertemu dengan pencahayaan dari handphone milik Malvin.
"Mal-vin" gumam Rachel.
Malvin mengangguk, "akhirnya!! gue bisa temuin elo!! gue kangen banget sama elo!!" riangnya sembari tiba tiba memeluk Rachel.
"Ihh apaan sih, ga usah peluk peluk!" balas Rachel sembari mendorong badan Malvin.
"Elo itu tetep aja keras kepala ya! udah dibantuin ga terimakasih, kita semua cari cari elo! beruntung gue bisa selamatin elo!" kesal Malvin sembari berkacak pinggang.
Malvin membelalak, ternyata dugaannya selama ini benar kalau wanita ular itu yang menculik Rachel, namun dia tak ada bukti untuk melaporkan Rini.
"Untung aja elo masih hidup!" ucapnya kembali memeluk Rachel.
"Ga usah peluk peluk! ba-badan gue.... bau" ucap Rachel mengecilkan volume suaranya.
Malvin terkekeh geli, "gapapa meskipun bau, gue suka" jawabnya kembali memeluk Rachel erat, nyaman sekali rasanya, Rachel tak menolak pelukan Malvin yang beberapa bulan lalu selalu dia pikirkan.
"Ini gimana kita pulangnya?!" tanya Rachel kemudian melepas pelukan Malvin.
"Ga tau, kayaknya kita tersesat deh.." jawab Malvin mengendikkan bahunya kemudian menyoroti cahaya ke sekitar.
"Lah elo tadi datang dari mana? kok bisa sekarang malah tersesat"
__ADS_1
Malvin memegangi kepalanya, "Entahlah, gu-" ucapnya dengan nada yang tiba tiba pelan seperti melemah.
Malvin hampir terjatuh, beruntungnya Rachel menyanggah tubuh besar cowok itu, lalu ia pun menyandarkan tubuh Malvin dipohon.
"Vin... bangun... elo kenapa?" Rachel terlihat begitu panik, ia menyentuh dahi Malvin yang begitu panas begitu juga dengan lehernya.
"Aduh... Malvin demam, gimana ini?"
****
Malvin terbangun dari pingsannya, tubuhnya masih sangat panas dan sedikit pusing, ia melihat awan yang sudah berwarna biru, melihat ponselnya yang menunjukkan pukul 6 pagi.
Ia menoleh ke arah kanannya, melihat Rachel yang tertidur bersandar dibahunya, meskipun Rachel terlihat sangat kurus tetapi gadis itu masih sangat cantik.
Malvin mengusap rambut Rachel, Rachel yang merasakan gerakan dirambutmya, ia membuka matanya perlahan dan melirik ke arah Malvin yang sudah terbangun, tersenyum sembari menatapnya.
"Ehh, gimana keadaan elo?" tanyanya sembari menyentuh dahi Malvin, ternyata badannya masih sangat panas.
"Elo masih demam, gimana ini, apa elo kuat jalan keluar dari hutan ini? ohh gimana kalo naik dipunggung gue, gue gendong elo keluar dari hutan ini dan minta pertolongan..." ucap gadis itu penuh kekhawatiran.
Malvin tersenyum sembari menatap tubuh Rachel dari bawah ke atas, "elo liatin apa?!" bentak Rachel menutupi dadanya.
"Jangan macam macam lo ya!"
"Pikiran lo kotor banget sih! gue cuma liat apa elo kuat gendong gue yang badannya jauh lebih besar dari elo?" ejeknya saat dengan jelas melihat tubuh kurus Rachel.
"Oh.... ya kuat lah" jawab Rachel memalingkan wajahnya, begitu memalukan pikirnya.
"Jangan bodoh bodoh ah! kan ada handphone, tinggal telfon sahabat sahabat elo aja biar mereka kesini"
Rachel membelalak, sungguh ide yang tak terpikirkan olehnya. Malvin pun menelefon Kevin, menceritakan bahwa Rachel telah tertemukan dan memberitahukan letak lokasi dimana mereka berdua kini berada.
__ADS_1
~β’~