
Di jam pulang sekolah, setelah Rachel mengembalikan buku ke perpustakaan, terlihat Malvin dan Kevin yang sedang mengobrol didepan ruang kelas.
"Udah biar gue aja yang anter Rachel" ucap Kevin.
"Gue aja kev, kan mama yang suruh gue kalau Rachel di anter ke rumah" jawab Malvin.
Terlihat keduanya seperti sedang berdebat mempermasalahkan siapa yang akan mengantar Rachel kerumah mereka.
"Kan lo lagi sibuk vin, udah jangan mengesampingkan hal yang penting, lo masih anggota OSIS loh bahkan ketua, belum dicabut dari OSIS, biar Rachel gue aja yang anter, gue ga bakal ngapa ngapain Rachel kok" jelas Kevin.
"Gue ga yakin, apa mungkin lo masih punya perasaan ke Rachel, lo mau rebut Rachel dari gue?"
"Enggak vin, gue cuma mau anter dia aja kerumah, udahlah lo jangan berfikiran yang buruk terus ke gue, elo kan lagi sibuk sono kerjain urusan lo itu, entar kalo Rachel mau pulang kerumahnya elo boleh anter dia, kalo urusan lo udah selesai"
Malvin berdecak kesal lalu ia pergi meninggalkan Kevin, daripada ia terus menanggapinya dan akan semakin panjang masalahnya.
Rachel yang berada tak jauh dari mereka, lalu Rachel pun berlari menghampiri Kevin saat Malvin telah pergi.
"Maaf ya kev, gara gara gue kalian sampe berantem gini" Rachel menunduk merasa bersalah.
"Udahlah gapapa, yuk gue anter mama udah nungguin"
Rachel mengangguk, "makasih ya udah bantuin gue"
"Iya sama sama hel" Kevin mengacak gemas rambut Rachel.
Keduanya pun menuju ke parkiran sekolah, dan meluncur kerumah mewah keluarga Valerie.
Sampai akhirnya, didepan gerbang telah nampak Silvia menunggu kedatangan Rachel dengan senyum yang terulas dibibirnya. Rachel turun dari motor dan berjalan menghampiri Silvia dan mencium punggung tangannya, lantas Silvia memeluk Rachel seperti biasa, menganggapnya seperti anaknya sendiri.
"Ayo masuk, kamu capek ga? kalo mau istirahat dulu gapapa gih dikamar depan, maaf ya suruh kamu datang kerumah pas pulang sekolah" tanya tante Silvia.
"Eheh gapapa kok tante, ayo langsung masak aja" jawab Rachel.
Silvia mengangguk dan menggandeng tangan Rachel masuk kedalam rumahnya, membiarkan anak lelakinya tetap diatas motor, mereka memang sering masak bersama apalagi akhir akhir ini mereka sangat dekat, Silvia banyak belajar membuat kue dari Rachel.
Kevin menggelengkan kepalanya, "ya ampun mama sampe lupa sama anaknya sendiri" gumam Kevin melihat keakraban Rachel dan mamanya.
"Ayo den, silahkan masuk, apa mau saya parkirkan motornya" ucap pak satpam menunggu Kevin masuk, karena ia masih berada ditengah tengah antara jalan dengan gerbang.
"Ga usah pak, saya parkir sendiri" jawab Kevin lalu memarkirkan motornya dihalaman luas depan rumahnya.
Lalu Kevin pun masuk kedalam kamarnya. mandi, mengganti bajunya, sholat lalu beranjak tidur karena ia merasa sangat lelah.
****
Sampai akhirnya Malvin datang, ia mengintip sebentar Rachel dan mamanya yang asik memasak sembari bercanda tawa agar suasana tidak garing.
Lalu ia pun menuju ke kamar saudaranya yaitu Kevin, melihat Kevin tertidur pulas, ia pun menggoyang goyangkan tubuh Kevin sehingga membuat Kevin terbangun dari tidurnya.
"Tumben lo tidur, kesambet apa?" tanya Malvin.
Kevin bangun dari tidurnya dan duduk dikasur, lalu menatap Malvin. "tadi sepulang sekolah pas gue selesai sholat tiba tiba papa telfon, dan kabarin kalau gue mau dikirim ke Canada kerumah om Erick karena kasus tawuran waktu itu, papa beneran marah dan ga maafin gue..." terang Kevin.
Malvin memutar bola matanya, "ya emang salah lo, lo pantes digituin biar lo sadar ga jadi anak yang bandel dan suka tawuran, kayak preman aja" balas Malvin.
__ADS_1
Nyawanya belum sepenuhnya terkumpul ditambah lagi kabar dia akan dikirim ke canada, dan Malvin tambah memberinya ucapan pedas, ia merasa kesal dan melemparkan bantal ke wajah Malvin.
"Woi!!! lo tau kan gimana om Erick? dia keras, galak, disiplin. Gue ga bisa kayak gitu vin, gue takut.... papa ga galak, tapi kalo om Erick ngeri Vin dia kalo ngamuk kayak singa, serem..." gumam Kevin agar tak ada yang mendengarnya selain dirinya dan Malvin.
"Bodoamat biar lo bisa berubah, emang kapan lo dikirim ke Canada?" tanya Malvin.
"Seminggu lagi, makanya gue langsung lemes. liat deh kamar gue berantakan, gue tadi sempet marah dan energi gue terkuras akhirnya gue tidur kecapek an" terang Kevin lesu.
"Hah!! seminggu lagi? beneran? brarti elo sekolah disana dong?" tanya Malvin benar benar terkejut.
Kevin mengangguk, "tapi kuliahnya di Indonesia kok, gue dikirim cuma setahun aja disana, tapi kalo ga ada perubahan entah sampai kapan gue disana" jawab Kevin.
"Elo kuliah disana juga gapapa sih kev, enakan disana loh universitasnya bagus" ledek Malvin.
"Ahh lo mah! gue lagi panik nih, gue ga mau dikirim kesana"
"Kenapa panik?"
"Gue ga bisa dikekang vin, om Erick tuh galak buanget, gue ga suka tinggal sama orang yang galak plus disiplin kayak dia"
Malvin tersenyum smirk, "salah Lo sendiri, terima nasib, kan udah gue ingetin berkali kali tapi elo tetep ngeyel yaudah, nikmati aja.." Malvin meledek Kevin dengan menjulurkan lidahnya.
Kevin hanya menghela nafas berat, tak terpancing emosi dengan ucapan Malvin.
****
Setelah memasak bersama juga makan malam bersama, Rachel pulang diantar oleh Malvin.
"Makasih, mampir dulu?" ucap Rachel.
"Yaudah byee hati hati dijalan" Rachel melambaikan tangannya, dan Malvin pun pulang kerumahnya.
Rachel pun masuk kedalam rumahnya yang sudah disambut oleh tante Nindi diruang tamu.
"Malvin ya ga disuruh mampir dulu hel?" tanyanya.
"Ga mau tante, langsung pulang aja katanya"
"Yaudah, mandi gih terus sholat.... udah makan belum?" tanya Malvin.
"Oke tante, udah tadi dirumah Malvin"
Rachel pun masuk ke kamarnya menyiapkan baju yang akan ia kenakan malam ini, lalu menuju ke kamar mandi untuk membersihkan badannya, setelah mandi dan memakai baju ia pun melaksanakan sholat Maghrib lebih dulu, dan merebahkan badannya di kamar sembari memainkan ponselnya.
Ia melihat banyak pesan masuk dari Rafa dan Alya, ia pun mulai membuka pesan dari Rafa lebih dulu, banyak pesan dari Rafa yang menanyakan dimana Rachel mengapa tak ada disekolah saat sepulang sekolah.
Lalu Rachel pun membalas chat tersebut dengan sejujurnya ia ceritakan, lalu ia membuka pesan Alya namun belum sempat menjawab ada suara ketukan di pintu kamarnya, tanpa pikir panjang pun Rachel langsung membukakan pintu kamarnya.
Saat telah membuka pintu, terlihat tantenya bersama remaja perempuan yang terlihat familiar.
"Alya" ucapnya.
Alya tersenyum sembari melambaikan tangannya pada Rachel.
"Maaf ganggu, gapapa kan gue main kerumah elo?"
__ADS_1
"Ya gapapa lah, siapa yang ngelarang lagian elo juga udah terlanjur kesini"
"Yaudah hel, tante mau ke dapur dulu ya"
Rachel mengangguk, "yuk al kedepan, kita ngobrol didepan di ruang tamu" ajak Rachel yang hanya diangguki oleh Alya.
"Tumben lo ga chat dulu kalo mau kesini"
"Gue ga punya paketan, yaudah langsung aja kesini tadi gue habis anter sepupu gue ke rumah gurunya, ada les" terang Alya.
"Oh gitu, ehmm gimana tadi, berhasil?" tanya Rachel.
Seketika wajah Alya berubah lesu, ia menunduk kecewa.
"Kenapa al?"
"Malvin nolak gue, jadi gini ceritanya.."
FLASHBACK ON
Saat Malvin kembali menuju ke ruang OSIS setelah perdebatannya dengan Kevin, ia berpapasan dengan Alya yang keluar dari toilet wanita, Malvin melihat Alya namun ia berpura pura seolah tak melihatnya.
Alya pun segera mengejar Malvin yang berjalan cepat menghindarinya, saat telah dekat dengan Malvin, ia pun meraih tangan kanannya sehingga membuat Malvin menghentikan langkahnya dan menghempas tangan Alya, kemudian Malvin pun menoleh bertatapan dengan Alya.
"Vin" panggilnya.
Namun Malvin hanya diam.
"Gue mau ngomong sesuatu yang penting"
"Terus terang aja" balasnya dengan nada dingin tak bersahabat.
"Gu-gue..... gue masih suka sama elo, gue mau kita balikan, please vin gue udah banyak berubah, gue yang sekarang sama yang dulu beda vin, gue mohon" ucap Alya dengan penuh harapan.
"Oh" jawab Malvin lalu pergi begitu saja.
"Vin tunggu, gue pingin balikan sama elo" ucap Alya sembari mengejar Malvin.
Malvin kembali menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah Alya.
"Kalo gue ga mau? lo mau maksa?"
"Ta-tapi vin, ayolah coba kita balikan sekali lagi, gue cinta sama elo, gue sayang banget sama lo vin, tolong ngertiin perasaan gue" ucap Alya dengan mata yang berkaca kaca.
"Gue ga suka sama lo, dan gue ga punya perasaan apapun ke elo" jawab Malvin lalu melanjutkan perjalanannya menuju ke ruang OSIS.
Alya pun terdiam tak ingin lanjut mengikuti Malvin karena ia sudah tau jawabannya, ia lelah, dia pun sadar diri kalau cinta Malvin bukan dirinya melainkan Rachel.
Namun air matanya tak bisa dibendung lagi, ia menangis dengan sejadi jadinya sembari berlari ke toilet.
FLASHBACK OFF
"Al, yang sabar ya.... elo jangan nyerah gitu aja, perjuangin Malvin oke, gue selalu dukung elo" ucap Rachel memeluk Alya yang terlihat sendu.
Mata Alya bengkak mungkin karena ia seharian menangisi kisah cintanya terhadap Malvin, Rachel merasa sangat kasihan dan berinisiatif untuk memarahi Malvin besok.
__ADS_1
~•~