
Setelah kembali mengambil bola, Rafa terlihat terengah engah mengatur nafasnya, karena harus berlari sangat jauh mencari bola itu.
"Nih minum dulu, gue udah beliin Aqua buat lo.." ucap Rachel memberikan sebotol Aqua pada Rafa.
Keringat Rafa terlihat deras bergelucuran diwajah dan lehernya, ia langsung meminum Aqua tersebut untuk menghilangkan rasa haus dan lelahnya.
"Lo terlalu bersemangat sih hel belajarnya, jadi bolanya kebablasan, coba yang santai dan nikmati permainan.." saran Rafa.
Setelah bola sudah berada ditangan mereka berdua kembali, keduanya pun melanjutkan bermain basket, mengajari Rachel cara cara bermain basket.
Hingga akhirnya 3 jam berlalu, Rachel hanya mengerti beberapa saja sekitar 1 atau 2 teknik dalam bermain basket, itupun keduanya sudah merasa lelah, karena Rachel yang sulit mengerti dalam permainan.
"Udah deh gue capek" terang Rachel berulang kali mengusap keringatnya.
"Oke, yaudah balik yuk. Besok lo kerumah gue, belajar basket di lapangan gue sendiri" ajak Rafa.
"Tapi masalahnya, rumah lo dimana? meskipun kita tetanggaan tapi gue kan ga pernah tau rumah lo dimana, takutnya ntar salah rumah"
Rafa mengernyit, "iya juga sih, elo belom pernah ke rumah gue, yaudah besok kalo pas ga ada jam kuliah, gue anterin ke rumah.." ujarnya. Rachel membalasnya dengan anggukan senang.
lalu Rafa menghampiri sekolompok anak anak basket tadi dan mengembalikan bolanya dengan ramah.
"Ini bro bolanya, makasih banyak ya" ucap Rafa.
"Yoi, kok bentar amat mainnya?" tanya salah satunya.
"kasihan temen gue ga terbiasa, kecapek an" jawab Rafa. "yaudah gue pulang dulu ya, byee" ucap Rafa yang hanya dibalas anggukan oleh kelompok anak basket tadi.
__ADS_1
****
Setiap hari dilalui oleh Rachel. Di kampus, Rachel sudah memiliki banyak teman juga banyak pengalaman. Hari ini tepatnya hari Minggu, mata pelajaran kuliah hanya sedikit, membutuhkan waktu 2 jam saja.
Setelah pulang, Rafa mengajak Rachel kerumahnya untuk belajar basket seperti yang Rafa ajak beberapa hari yang lalu, selama ini selalu ada kendala hingga hari ini yang bisa Rafa ajak Rachel kerumahnya.
Sesampainya dirumah Rafa, keduanya turun dari motor dan masuk kedalam rumah megah dengan lantai 2 yang didominasi cat berwarna putih.
Rachel memandang kagum interior rumah Rafa yang tak kalah keren dari rumah Malvin meskipun lebih besar rumah Malvin, Rafa mempersilahkan Rachel duduk di sofa ruang tamunya sambil menunggu dirinya berganti baju di kamar lantai dua.
Sembari menunggu Rafa berganti baju, Rachel berkeliling melihat foto foto yang terpajang didinding. Suasana rumah sangat sepi hanya ada satpam dan satu asisten rumah tangga saja disana yang tersisa. Rumah Rafa yang sepi membuat Rachel yakin kalau orang tua Rafa adalah orang yang penuh kesibukan.
Saat masih asik melihat foto foto tersebut, tiba tiba asisten rumah tangga Rafa datang menghampirinya.
"Maaf, nona ini siapa ya?" tanyanya, seorang wanita yang terlihat berumur 50 tahunan.
"Saya temannya Rafa bu.." jawab Rachel ramah.
"Ngga usah Bu, terimakasih" tolak Rachel seraya tersenyum.
Saat masih ditengah tengah obrolan, tiba tiba Rafa datang lengkap dengan baju olahraganya dan sepatu sport nya dan tak lupa bola basket yang sudah ia pegang di tangan kirinya.
Rafa menghampiri Rachel, keduanya pun langsung berpamitan pada asisten rumah tangganya, dan pergi untuk berlatih basket dilapangan basket pribadi, yang terletak disamping rumah Rafa yang merupakan dibuat area khusus untuk olahraga.
mereka berdua pun memulai bermain basket, mengajari Rachel mulai awal lagi teknik teknik bermain basket.
****
__ADS_1
Sampai akhirnya tak terasa hari sudah menjelang sore, keduanya terlihat sangat bersenang senang meskipun lelah.
Sebelum pulang kerumah, Rafa memaksa Rachel untuk makan dulu dirumahnya, karena sebelumnya ia meminta asisten rumah tangganya masak makanan yang banyak untuk Rachel.
Untuk menghargai si bibi yang sudah masak banyak untuk dirinya, mau tak mau Rachel menerima tawaran Rafa untuk makan bersama dirumahnya, walau hanya berdua dengan Rafa.
"Rumah gue selalu seperti ini hel, sepi" ucap Rafa tersenyum.
Rachel menilik ke sekitar lalu mengangguk.
"Makanya gue seneng banget ajak lo kesini, karena rumah ini ga sepi kalo ada lo" tambahnya membuat Rachel tertawa kecil. "gue kalo ngilangin bosen selalu olahraga sendiri dirumah, kadang main game" tambahnya, curhat, Rachel hanya diam menyimak curhatan Rafa.
selesai makan.
"Rafa, makasih banyak ya elo mau ajarin gue basket.." ucap Rachel tersenyum tulus.
"Iya sama sama" jawab Rafa. "hel, gue heran sama lo ya, kenapa elo masih aja mau jadi apa yang Malvin suka, padahal kan selama ini Malvin ga pernah liat usaha elo, perjuangan elo. dia seakan nutup mata dan ga mau tau tentang apa yang lo lakuin buat dapetin dia.."
"Ya gapapa lah, yang penting gue udah ada usaha buat yakinin dia tentang cinta gue ke dia. tapi gue yakin suatu saat Malvin pasti akan suka gue balik. karena gue udah berusaha keras dan pasti hasilnya juga akan bagus, gue percaya hasil yang gue ambil ga akan mengkhianati usaha keras gue" jawab Rachel.
Rafa terdiam mendengar penjelasan dari Rachel, lagi lagi ia dibuat kagum dengan ketangguhan Rachel yang terus berjuang.
"Iya sih, semangat kejar Malvin ya. gue doain semoga elo berjodoh sama Malvin" ucap Rafa tulus.
"Iya makasih, gue juga doain semoga elo berjodoh dengan jodoh lo sih" balas Rachel membuat kedua sejoli tersebut tertawa.
"Semoga masih ada cewek kayak elo didunia ini hel, dan semoga jodoh gue cewek yang kayak elo. kuat, tangguh dan mandiri" ucap Rafa.
__ADS_1
"Aamiin..." jawab Rachel tersenyum.
~•~