Rachel Dan Malvin

Rachel Dan Malvin
Trio Onar


__ADS_3

Sesuai dengan ucapan Kevin kemarin, Kevin datang kerumah tante Nindi untuk menjemput Rachel sekolah.


"Assalamualaikum" Kevin mengetuk pintu rumah tante Nindi berkali kali.


Hingga akhirnya, tante Nindi membukakan pintu rumahnya.


"Eh Kevin, waalaikumsalam mari masuk dulu, maaf nih rumahnya kecil" tante Nindi mempersilahkan remaja yang berada didepannya tersebut untuk masuk kedalam rumahnya.


"Iya tante, gapapa meski kecil"


"Ada kepentingan apa Kevin kesini?"


"Ini tante, Kevin mau jemput Rachel berangkat kesekolah bareng, soalnya sepeda Rachel kan masih ada dirumah saya"


"Oh iya tante lupa, tadi malam Rachel udah cerita ke tante, tunggu sebentar ya tante panggilin Rachelnya dulu"


Tante Nindi meninggalkan Kevin sendiri diruang tamu kecil, ia menghampiri keponakannya yang masih berada dalam kamar entah apa yang sedang dilakukan.


Beberapa menit kemudian, Rachel dan Kevin pun berpamitan untuk berangkat ke sekolah.


Mereka berdua mencium punggung tangan tante Nindi, mengucapkan salam, lalu berangkat ke sekolah.


"Kev, elo ga malu kalo gonceng gue kesekolah?"


"Ngapain harus malu"


"Gue kan anak orang miskin, sedangkan elo"


"Sttt ga boleh bilang gitu, bagi gue elo itu sama, gue ga malu gonceng elo kok, kita itu sama dimata tuhan, jika dimata tuhan kita itu sama maka dimata manusia kita itu juga harus sama" jelas Kevin.


"Gue berteman ga mandang fisik, status sosial, atau agama, kita semua sama, kita teman"


"Makasih banyak ya Kevin, elo mau berteman sama gue" mata rachel dipenuhi dengan cairan bening.


Tak terasa, akhirnya mereka telah sampai disekolah, Rachel memberikan helm yang ia pakai pada Kevin saat diparkiran.


"Makasih ya kev" Rachel tersenyum manis.


"Iya, oh ya gue baru inget, nanti gue ada ekskul futsal nih, elo pulangnya sama Malvin ya ambil sepedanya"


"Oh, iya iya"


"Gapapa kan? maaf ya"


"Iya gapapa kok kev, ntar gue pulang sama Malvin"


"Iya, kalo dianya ga mau bilang ke gue aja biar gue tampol"


Rachel tertawa kecil, wajahnya terlihat sungguh imut, setelah mengobrol dengan Kevin, ia pun berjalan menuju kelasnya, begitu juga Kevin yang ikut berjalan dibelakang Rachel menuju kelasnya.


"Rachel itu imut, senyumnya manis, anaknya polos, baik lagi" gumam Kevin dengan smirk nya, sepertinya Kevin menyukai rachel.


"Gue beruntung kalo bisa dapetin hatinya Rachel, tapi jangan sampe keduluan sama Malvin"


***


Jam istirahat tengah berlangsung, Rachel yang pagi tadi belum sempat sarapan, ia pun membuka bekel makanannya dikantin, dan tenang sendiri memakannya tanpa malu.


Meskipun banyak yang melihat dan mencibirnya karena tak mampu membeli jajanan kantin, tetapi Rachel tak peduli dengan cibiran mereka, ia tetap fokus dengan makannya yang akan membuatnya kenyang.


Cibiran mereka telah sering didengar oleh Rachel, hingga Rachel kebal dengan semua itu, Rachel juga menyadari jika dirinya memang anak kurang mampu dibanding teman temannya jadi terima kenyataan pahit saja.


Saat tengah asik memakan bekel makanannya, tiba tiba sekelompok geng cewek yang sok datang menghampiri Rachel.

__ADS_1


Siapa mereka? siapa lagi kalau bukan Alya, Nina dan Lisa, trio si tukang bikin onar.


Rachek hanya diam menatap kedatangan mereka yang tiba tiba duduk didepannya membawa segelas jus.


"Hai apa kabar? lama nih ga ketemu, sibuk ya?" Lisa memegang dagu Rachel kuat kuat.


"Iya lah sibuk, siswi berprestasi yang habis olimpiade sains, sama siapa?" tambah Nina.


"Sama Malvin, Malvin si ketua OSIS, ketua basket dan juga si tampan pangeran sekolah, ehmm gue liat akhir akhir ini elo deket ya sama Malvin?"


"Deket? mimpi, Malvin ga akan mau deket sama anak GEMBEL kayak dia, mending aja deket sama gue" ejek Alya dengan mendorong bekel makanan Rachel.


"Ups jangan bilang gitu Al, awas ada yang ngelabrak loh"


"Siapa?" Alya menaikkan satu alisnya dengan senyum smirk mengejek.


"Kevin, ehmm sekarang ini kan Kevin sama Malvin dikabarkan deket sama dia, pake pelet apa lo kok bisa mempan, mau kuasai harta nya ya?" sindir Lisa dengan diiringi tawa Alya dan juga Nina.


Rachel hanya menunduk dengan berkali kali mengucap istighfar, sebenarnya hatinya sakit namun itu adalah cobaan, tuhan tidak akan memberikan cobaan melebihi batas kemampuan hambanya.


Rachel masih bisa tegar menerima kenyataan pahit, diejek dan dicibir sana sini oleh semua murid sekolah, juga sering dibully dan body shaming.


Namun Rachel tetap tahan, karena jika menyerah begitu saja, cita cita nya tak bisa ia gapai.


Trio tersebut masih terus mengejek Rachel, juga sudah mulai bermain fisik seperti mencubit lengan Rachel dan juga menjambak rambutnya.


"Al, udah al sakit" rengek Rachel dengan memegangi rambut yang masih dipegang oleh Alya.


"Terusin aja al" saut Nina dan Lisa.


"Dahlah kasihan" Alya melepas jambakannya, lalu ia mengambil segelas jus tadi dan ia siramkan pada bekel makanan milik Rachel yang masih tersisa banyak, Karena Rachel masih memakan 4 sendok saja.


Setelah menyiramkan jus tersebut, mereka bertiga pun tertawa ria dan oergi begitu saja meninggalkan Rachel yang menangis melihat bekel makanannya tercampur dengan jus.


Terpaksa Rachel pun membuang makanan tersebut dengan air mata yang masih mengalir, perutnya masih lapar tapi apa yang harus ia makan, karena hari ini ia lupa tak diberikan sangu oleh tantenya.


Malvin tak sengaja melihat Rachel membuang makanan tersebut ke tong sampah, ia segera berlari menghampiri Rachel.


"Kenapa dibuang?" tatapannya tajam.


Rachel pun menatap Malvin dengan air mata yang masih mengalir.


"Elo kenapa nangis?" kini wajahnya kembali datar.


"Alya sama temen temennya nyiram jus ke makanan gue, padahal gue cuma punya ini, gue tadi lupa ga dikasih sangu sama tante hiks... hiks.."


"Jahat banget sih si Alya, udah elo ga usah nangis kayak anak kecil aja, nih serah kalo elo mau beli apa, tapi inget ntar elo harus kerumah gue jadi babu gue" Malvin memberikan uang sebesar 20.000 pada Rachel.


"Ini kebanyakan" tolak Rachel.


"Udah gapapa"


"Makasih" Rachel mulai tersenyum.


Malvin pun meninggalkan Rachel, ia berniat untuk menghampiri Alya beserta teman temannya namun ia dihadang oleh Kevin.


"Mau kemana?" tanya Kevin.


Melihat sang saudara kembar seperti sedang marah, Kevin berusaha membaca pikirannya.


Kini ia tau kalau Malvin marah akibat kelakuan Alya dan teman temannya pada Rachel.


"Vin jangan vin, jangan bikin masalah, nama lo udah bagus, jangan sampe elo bikin masalah cuma gara gara ini dan nama lo bisa jelek, mending gue aja yang namanya udah jelek dikalangan sekolah" Kevin mengurungkan niatan Malvin.

__ADS_1


"Tapi kev, gue ga mau elo kena masalah karena ini"


"Gapapa lah, lagian Rachel temen kita, gue juga berhak bela dia, gue juga berhak balas perlakuan temen temen ke dia" jelas Kevin.


Malvin pun berhenti berbicara, ia pun berlari kembali ke kelasnya entah apa yang ia lakukan.


Kevin pun menyusul saudara kembarnya tersebut menuju kelas, terlihat Malvin yang sedang menelefon seseorang entah siapa.


Kevin masih menunggunya selesai mengobrol, hingga sambungan telefon telah terputus, Kevin pun memberanikan diri bertanya.


"Telfon siapa Vin?"


"Kepala sekolah"


"Papa nya Alya?"


Malvin hanya mengangguk "elo aduin sikap Alya ini ke papanya?" dan lagi Malvin hanya mengangguk.


"Ohh, aneh kenapa elo tiba tiba jadi peduli sama Rachel? biasanya elo biasa aja bahkan ga peduli sama sekali sama Rachel yang terus terusan dibully"


"Udahlah, gue kan ketua OSIS, gue harus melindungi murid murid sekolah ini, gue harus menjadi ketua OSIS yang bijaksana"


Kevin hanya terdiam dengan ucapan Malvin, namun ucapan Malvin sedikit tidak masuk akal, tak biasanya dia begitu, karena selama ini meskipun dirinya ketua OSIS namun dia tak peduli tentang pembullyan disekolah yang dilakukan oleh Trio pembuat onar.


****


Bel pulang berbunyi, Rachel telah berada diparkiran untuk menunggu kedatangan Malvin.


Sampai akhirnya seseorang yang ia tunggu tunggu telah datang, Rachel tersenyum melihat kedatangan Malvin.


"Ngapain elo disini? nungguin gue?"


"Iya, gue disuruh bonceng lo sama Kevin"


"Kenapa harus gue? Kevin kemana?"


"Ekskul futsal katanya, gue suruh bonceng elo soalnya kan sepeda gue ada dirumah elo, tadi malem Kevin yang anter gue"


Malvin baru ingat kalau sepeda Rachel ada dirumahnya, ia menepuk dahinya dan memperbolehkan Rachel naik keatas motornya, dan diajaknya pulang kerumah untuk mengambil sepeda miliknya.


Malvin menaiki motor dengan kecepatan tinggi, membuat Rachel bergetar ketakutan.


"Jangan ngebut ngebut Vin" Rachel mengeratkan pelukannya pada Malvin.


"Bisa ga sih lo ga usah bawel, dan juga ngapain elo peluk peluk gue modus aja"


"Hiss, gue takut Vin elo naik motor kayak ngajak mati, kalo elo santai gue ga bakal peluk elo gini"


"Ah udah diem"


Beberapa menit kemudian, mereka berdua telah sampai dihalaman depan rumah twins.


Rachel turun dari jok motor Malvin, ia pun segera mengambil sepeda nya yang terparkir digarasi rumah.


Ia tak berani jika mengambil sepedanya sendiri, jadi dia meminta bantuan pak satpam untuk mengambilkan sepedanya digarasi.


"Jangan lupa, nanti elo kesini lagi"


"Iya"


Rachel pun melaju pulang kerumahnya.


~•~

__ADS_1


__ADS_2