Rachel Dan Malvin

Rachel Dan Malvin
HP


__ADS_3

Pagi hari, Rachel mengayuh sepeda kesayangannya seperti biasa menuju ke sekolah, setelah menaruh sepedanya, ia pun berjalan tenang menuju kelas, menaruh tasnya dan duduk dibangku nya sembari menunggu bel masuk berbunyi.


Masih lama untuk menunggu bel masuk berbunyi, Rachel pun memutuskan untuk berjalan mengelilingi sekolah untuk menghilangkan rasa bosannya.


Keluar dari kelas, ia melewati 2 ruang kelas yang ketiganya adalah ruang kelas Malvin, ia berjalan sangat pelan mencari keberadaan Malvin, ia menajamkan matanya.


'mungkin dia diruang OSIS atau dia lagi keliling' batinnya dengan melanjutkan berjalan.


Namun setelah ia berkeliling, melihat kelas kelas dan murid murid yang berlalu lalang, ia tak melihat sekilas pun postur tubuh dan wajah tampan Malvin, ia tak menangkap sosok keberadaan Malvin.


Entah kenapa, Rachel tiba tiba merasa kehilangan semangat, ia merasa sepi jika tak ada Malvin.


"Malvin kemana? dia temen gue satu satunya" gumamnya, ia pun berjalan perlahan masuk kedalam kelas.


Namun saat baru 2 langkah ia memasuki kelasnya, tiba tiba Kevin datang memanggil nama Rachel membuat Rachel menoleh ke belakang.


"Ya?"


"Pagi hel, apa kabar?"


"Oh, pagi juga, baik"


"Disini ada Nadia ga?" tanya Kevin yang masih menggendong tas ransel nya.


"Nadia teman kelasnya Malvin?"


"Iya"


Rachel pun melihat kedalam kelasnya, mencari keberadaan Nadia yang dimaksud Kevin.


"Ada, yuk masuk" ajak Kevin.


"Permisi ya, gue masuk ke kelas kalian, soalnya ada yang harus gue bicarain sama Nadia" ucap Kevin pada teman teman kelas Rachel.


"Iya Vin gapapa kok, masuk aja" saut salah satu siswa.

__ADS_1


"Eh Kevin, ada apa cari gue?" Nadia berjalan mendekati Kevin.


"Elo sekertaris kelasnya Malvin kan?"


"I-iya kenapa? gue masuk kelas ini karena ada urusan sebentar, gue kena hukuman ya?" Nadia terlihat panik.


"Eng-enggak kok, gue cuma mau kasih surat ini ke elo, Malvin hari ini izin ga masuk dulu soalnya dia sakit" ucap Kevin yang tak sengaja terdengar oleh Rachel.


Sontak Rachel pun terdiam mematung, ternyata Malvin sakit, pantas saja Rachel mencari ke sekeliling sekolah tak ada.


Setelah Nadia dan Kevin selesai berbincang, Rachel pun menghampiri Kevin yang masih berdiri didepan kelas Rachel.


"Kev" panggil Rachel.


"Eum?"


"Malvin beneran sakit?, dia sakit apa?, salam ya buat Malvin"


"Iya makasih ntar gue sampein ke dia, dia cuma sakit biasa, panas, demam, dan pusing" jawab Kevin.


"Di rumah lah hel, kenapa? elo mau jenguk? elo kangen ya?" goda Kevin dengan tawa kecil.


"Ehh, enggak kok"


"Rachel Rachel, gemesin" Kevin pun mengacak acak rambut Rachel membuat Rachel cemberut.


"Yaudah, gue masuk ke kelas dulu ya, byee"


"Byee"


Setelah Kevin pergi, Rachel pun kembali masuk kedalam kelasnya, ia pun duduk dibangkunya, saat baru saja ia duduk, Rafa datang menghampirinya dengan membawa sebuah tas kecil.


"Rachel, ini buat elo. udah ada nomornya juga disitu, lengkap deh udah di setting juga" ucap Rafa memberikan tas kecil tersebut yang entah apa isinya.


Tanpa berkata apa apa, Rachel pun membuka tas kecil tersebut yang berisikan kotak persegi, ia semakin penasaran dan membuka kotak tersebut yang ternyata isinya adalah sebuah HP android.

__ADS_1


Ia pun menoleh kearah Rafa yang masih berdiri disebelahnya sembari tersenyum simpul menatap Rachel.


"Hp?"


"Iya, lo kan ga punya hp, itu buat elo, hp gue yang lama tapi masih bagus kok, masih bisa dipakai juga, ga ada kerusakan" terang Rafa.


Rachel pun melihat ke sekelilingnya, yang sudah ditatap tajam oleh teman temannya yang berada didalam kelas tersebut.


Seketika, Rachel pun menggeleng menolaknya "maaf, gue ga bisa Rafa, ini.... terlalu bagus, gue masih bisa belajar pakai buku kok, ga harus pakai hp" ucapnya kembali memasukkan handphone tersebut kedalam kotaknya.


Rachel mengembalikan kotak tersebut namun Rafa kembali menaruhnya dimeja Rachel "Lo nolak? gue ngasih tulus loh buat elo" Rafa terlihat sedih.


"T-tapi"


"Gapapa Rachel, terima aja, lagian hp itu ga pernah gue pake lagi kok" terang Rafa.


Karena paksaan Rafa, ia pun tak berani menolaknya lagi, ia takut jika Rafa kecewa, akhirnya Rachel pun mengangguk menerima pemberian Rafa.


"Makasih banyak ya Rafa, elo baik banget" Rachel tersenyum simpul seraya menggenggam tangan Rafa erat.


"Lagi lagi, elo baik banget sama gue, elo slalu bantu gue disaat gue kesusahan, gue jadi ga enak apa yang harus gue perbuat untuk balas kebaikan elo" jelas Rachel dengan mata yang sudah berkaca kaca.


Rafa tersenyum "udah ga usah dipikirin balasannya Rachel, kita temen jadi ga usah ada rasa ga enakan ya"


"Kita temen?"


"Iya lah, kenapa?"


Sontak Rachel menganga, antara senang dan sedih, ia senang jika temannya bertambah tetapi ia juga sedih jika Rafa hanya menganggapnya teman, ia masih memiliki perasaan yang lebih dari teman pada Rafa.


"Ohh gapapa"


"Yaudah gue balik ke bangku depan"


Rachel hanya mengangguk sebagai balasannya, dan bel masuk pun berbunyi.

__ADS_1


~•~


__ADS_2