Rachel Dan Malvin

Rachel Dan Malvin
Menghindar


__ADS_3

Pada jam istirahat, Rachel langsung pergi ke perpustakaan untuk menghindari Rafa tidak seperti biasanya yang langsung ke kantin. ia belum siap untuk menjawab pertanyaan Rafa yang kemarin.


Malvin merasa curiga, ada yang aneh dengan sikap Rachel, dengan gerak geriknya juga, ia mencoba untuk mendengarkan batin Rachel namun Rachel mencoba untuk tak membatin karena dia tau kalau Malvin akan berusaha mendengar batinnya.


Selama jam istirahat Rachel habiskan di perpustakaan, berkutat dengan buku bukunya, meskipun ia merasa bosan dan lapar di perpustakaan.


****


Hingga akhirnya tak terasa bel pulang berbunyi, sudah waktunya pulang.


Rachel memasukkan peralatan tulisnya kedalam tas, lalu bersiap untuk pulang. Namun tiba tiba Rafa menahan tangan Rachel membuat Rachel menoleh kebelakang.


"Gimana, udah ada jawaban? gue nunggu" tanya Rafa lembut, tatapannya sungguh hangat, sepasang mata mereka saling tatap membuat Rachel gugup, bingung harus menjawab apa.


Rachel menghela nafas, dan meyakinkan dirinya kalau keputusan yang ia pilih adalah yang terbaik, ia berusaha yakin.


"Maafin gue fa, gue ga bisa" jawab Rachel menunduk.

__ADS_1


Seketika tatapan Rafa sendu, hatinya sakit. Ia menghela nafas berat, "baru kali ini gue ditolak cewek, lo hebat hel. Lo hebat udah bisa buat gue jatuh cinta, karena gue jarang banget bisa cinta sama cewek, yang sering sih gue nolak cewek" ucap Rafa terkekeh pelan.


"Lo marah?" tanyanya dengan nada sungguh pelan.


Rafa mengusap wajahnya, lalu tersenyum menatap Rachel. "enggak kok, gue cuma sedikit kecewa. Cinta emang ga bisa dipaksa, kalo lo emang ga suka sama gue, ya gue ga bisa maksa, itu hak lo.."


"Beneran?" tanyanya lagi, sungguh polos.


Rafa mengangguk sembari tersenyum tipis, "iya hel, gue ga bisa marah ke elo. Lo terlalu imut dan polos, tapi meskipun lo udah nolak gue, kita tetep jadi temen ya, jangan ada rasa canggung dan asing lagi.."


"Oke" jawab Rachel mengangguk lega, ia awalnya sempat berfikir kalau Rafa akan marah dan membenci dirinya karena telah ditolak.


Memang sih Rafa merasa kecewa dan sakit hati, tapi ia tak berhak marah marah dan memaksa Rachel untuk mencintainya, Rafa bukan sosok cowok seperti itu.


"Maafin gue ya fa, gue udah mikir ini semaleman sampek gue ga bisa tidur, dan akhirnya gue tetep ga bisa terima elo, padahal elo selama ini udah baik banget sama gue.... maaf" ucap Rachel merasa tak enak hati.


"Udahlah gapapa, jangan dipikirin lagi ya. Udah yok kita pulang, gue anterin.." balas Rafa tersenyum tulus.

__ADS_1


"Rachel pulang sama gue.." saut Malvin yang tiba tiba datang dan menyaut tangan Rachel.


"Iya, Rachel sukanya sama elo kok.." gumam Rafa melepas tangan Rachel satunya.


Rachel pun mengikuti langkah Malvin, terlihat dari wajahnya kalau dia terpaksa mengikuti Malvin.


****


"Aduh mau kemana sih vin, jangan cepet cepet jalannya woi. Gue belum sempat jawab Rafa.... ga enak kan jadinya gue sama Rafa" ucap Rachel kesal.


"Udah diem! mama minta lo kerumah, dia pingin ajak lo beli keperluan dapur.." balas Malvin.


"Ngapain ajak gue?, kan pelayan rumah lo banyak" ketua Rachel.


"Sewot aja lu, tanya aja sendiri sama mama, dia yang nyuruh bukan gue"


"Gila lu ya.... ya kali gue nyolot ke mama lo, tante Silvia itu udah gue anggap seperti mama gue sendiri" jawab Rachel terpancing emosi.

__ADS_1


Malvin membelalakkan matanya, namun ia mencoba diam. Ia masih melanjutkan langkahnya menuju parkiran sekolah yang jaraknya teramat jauh.


~•~


__ADS_2