
Tak terasa sudah pukul 1 siang, Rachel meminta izin pada tante Nindi untuk pergi ke rumah temannya.
Tante Nindi mengiyakannya, mengizinkan Rachel pergi kerumah temannya, karena tante Nindi kasihan melihat Rachel yang sedari tadi membantunya.
Setelah berpamitan, Rachel mengayuh sepedanya kembali menuju ke alamat rumah yang tadi ia datangi.
Sebelum memencet bel, Malvin telah membukakan pintunya, mungkin ia telah melihat kedatangan Rachel dari cctv yang terpasang didepan pintu rumah neneknya.
"Masuk"
saat memasuki rumah nenek twins, ia melihat isi rumah yang sungguh elegan dihiasi dengan barang barang antik yang sudah terlihat sangat mahal.
"Ga usah kaget, nenek gue emang suka koleksi barang antik kayak gini"
"Iya"
Ia pun dipersilahkan duduk diruang tamu, dan mulai menemani Malvin mengerjakan tugas kantornya, sungguh menyebalkan, Rachel hanya duduk diam bagai patung saja.
Begitu lama Rachel hanya terduduk diam disebelah Malvin, sampai tiba rasa kantuknya mulai terasa.
'kalau tau gue dianggurin gini mending bantu tante aja ditoko lebih bermanfaat' Rachel mendengus kesal.
Malvin hanya memutar bola matanya dan menyuruh Rachel membuatkan secangkir coklat hangat untuknya.
Rachel pun menurutinya membuatkan secangkir coklat hangat untuk Malvin, dan terlihat nenek sedang menyendiri di gazebo belakang sambil bersenandung.
Setelah membuatkan secangkir coklat, ia pun memberikannya pada Malvin dan meminta izin untuk menemani nenek sebentar, Malvin hanya mengangguki nya.
"Nek" panggil Rachel dengan lembut.
"Eh cantik, sini duduk sebelah nenek" nenek mempersilahkan Rachel duduk disebelahnya, ia pun menggeser posisinya.
"Ngapain nek? nenek ga istirahat?"
Nenek hanya menggeleng "bosen istirahat terus, ini nenek habis nyiram bunga bunga biar ada aktivitas, tidur terus ga sehat"
"Hehe iya nek, tapi nenek jangan terlalu capek itu juga ga baik buat kesehatan nenek"
"Iya cantik, oh iya kamu itu pacarnya cucu nenek ya?"
__ADS_1
"Eh.... bukan bukan" Rachel menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Tapi kalian kok deket? gapapa loh kalo kamu pacarnya cucu nenek, nenek setuju kamu ramah, baik, sopan" nenek mengelus rambut panjang Rachel.
Rachel hanya tersenyum kikuk, lalu memutuskan untuk kembali ke pekerjaannya.
"Vin, kalo gue dianggurin terus mendingan gue ke toko tante aja, disana pasti banyak pekerjaan yang lebih bermanfaat, bantuin tante" Rachel terduduk lesu.
"Jam 3 elo boleh pulang"
"Yah ini masih jam setengah 2 "
"Ya elo masih harus disini dong"
Rachel berdecak kesal, lalu ia pun mengintip pekerjaan Malvin, sungguh pekerjaan yang tak dipahami oleh Rachel.
"Kalo elo mau bantu, tata berkas berkas ini masukin dalam map, oh ya ditata sesuai urutan disitu ada halamannya buat besok meeting" titah Malvin, Rachel hanya mengangguki nya lalu segera menata dan memasukkan berkas berkas tersebut dalam map.
Berkasnya lumayan banyak, hingga sampai 56 halaman, membuatnya kebingungan.
"Cuma menata berkas berkas ini aja gue udah pusing loh, apalagi Malvin yang tiap hari ngerjain berkas segini banyaknya, ngurusin keuangan perusahaan juga ya ampun" oceh Rachel.
"Iya, gue ga laper kok"
Rachel masih melanjutkan pekerjaannya tanpa ada percakapan lagi, ia benar benar fokus menata berkas berkas tersebut tak ingin sedikitpun ada yang salah karena baginya itu adalah hal penting.
"Kevin mana?" tanya Rachel tiba tiba.
"Dirumah"
"Ga ikut kesini?"
Malvin hanya menggeleng singkat. "Kenapa?"
"dia balap motor" jawab Malvin, ia keceplosan mengungkap rahasia Kevin yang selama ini tak diketahui siapapun.
"Eh salah, dia main game balap motor kayak biasanya" tambahnya dengan buru buru.
"Ohh, gue kira beneran balap motor, ngeri"
__ADS_1
'untung aja Rachel percaya, maafin gue yang keceplosan kev' batin Malvin memejamkan matanya sebentar.
Setelah selesai menata berkas berkas tersebut, Rachel pun kembali duduk diam disebelah Malvin, hingga akhirnya rasa kantuknya mulai hadir kembali, membuatnya tak sengaja tertidur disebelah Malvin dengan kepala yang menyender dilengan Malvin.
"Apa apaan sih Rachel, geli gue" Malvin medorong pelan kepala Rachel, namun tetap saja Rachel masih kembali bersender di lengan Malvin.
Berulang kali Malvin mendorong Rachel namun tetap saja, kini bukan bersender malinkan tidur dipangkuan Malvin, bukan disengaja melainkan Rachel hanya mencari tempat yang nyaman untuk ia tiduri.
Malvin berdecak kesal, dia pun membiarkan Rachel tertidur di pangkuannya, sedangkan dirinya masih tetap fokus pada pekerjaannya yang sudah mulai terselesaikan sedikit demi sedikit.
Hingga tak terasa jam sudah menunjukkan pukul setengah 3 Malvin telah selesai mengerjakan semua pekerjaan kantornya, ia berniat untuk membangunkan Rachel, namun saat menatap wajah imut Rachel, hatinya tergoyah, ia tak tega membangunkan Rachel.
'kasian, selama ini gue udah nyuruh nyuruh dia, biarin mungkin dia capek' Malvin tersenyum tipis menatap wajah cantik Rachel saat tertidur.
Lama kelamaan Malvin ikut mengantuk dan tertidur dengan posisi duduk, membiarkan Rachel tidur dipangkuannya.
Saat Malvin tertidur pulas, nenek berjalan menghampiri mereka melihat cucu dan teman cucunya tersebut, ia tertawa kecil melihat kedekatan mereka.
"Malvin udah besar, bentar lagi dia bakalan nikah, aku berharap semoga anak ini yang bakal jadi pendamping hidup Malvin" gumam sang nenek seraya tersenyum simpul.
****
Jam telah menunjukkan pukul setengah 5 Rachel terbangun, ia terkejut saat tau kalau dirinya selama ini tidur dipangkuan Malvin.
Ia segera melihat semua pakaiannya yang sempurna, takut jika telah diapa apakan oleh Malvin, buru buru ia pun membenarkan rambutnya dan pergi dari rumah nenek Malvin.
"Hel" panggil Malvin yang tiba tiba terbangun saat Rachel membuka pintu.
"I-iya?"
"Udah jam berapa?"
Rachel pun melihat jam dinding yang terpajang di dekat bufet.
"Jam setengah lima, gue pamit pulang assalamualaikum"
"Oh iya, waalaikumsalam"
~•~
__ADS_1