
Pukul 6 pagi, Rachel telah siap dengan seragam sekolahnya, selesai sarapan Rachel berpamitan pada tantenya sebelum berangkat ke sekolah.
Ia menghampiri tante Nindi yang kini tengah menata kue kue diwadah "Tante, Rachel berangkat ya" Rachel mencium punggung tangan tante Nindi.
"Iya, hati hati dijalan"
Rachel pun memasang sepatunya dan keluar dari rumah, nampak sudah sepeda kesayangannya yang terparkir didepan rumah.
Saat hendak mengayuh sepedanya, tiba tiba seseorang datang dari arah belakang sembari menepuk pundaknya, membuat Rachel terkejut dan hampir terjatuh.
Ia mengerutkan dahinya saat tau seseorang yang mengejutkannya adalah Rafa, dia mengerucutkan bibirnya membuat gemas seseorang yang melihatnya.
"Maaf" ucap Rafa.
Rachel hanya mengangguk, "yuk berangkat bareng" ajak Rafa.
"Yuk" Rachel terlihat sumringah.
Keduanya pun berangkat ke sekolah bersama sama, mengendarai sepeda masing masing.
Hingga akhirnya, sesampainya disekolah, mereka berdua memarkirkan sepeda nya lalu berjalan menuju kelas bersama sama.
Jalan berdampingan dengan saling mengobrol, kini mereka semakin dekat entah mengapa tiba tiba.
Sesampainya dikelas, Rachel duduk dibangkunya yang berada dibelakang paling pojok sebelah kiri, sedangkan Rafa berada di bangku barisan ke 2 didepan.
5 menit kemudian, bel masuk berbunyi, semua murid masuk kedalam kelas masing masing, mata pelajaran pertama pun segera dimulai.
***
2 jam berlalu, bel istirahat telah berbunyi, Rachel lebih memilih duduk dibangku taman sekolah, sendiri sembari membaca buku yang ia pinjam diperpustakaan.
Saat masih asik membaca, tiba tiba Malvin menghampirinya dengan raut wajah menyebalkan tanpa senyum sedikit pun.
"Apa?" Rachel mendongak menatap Malvin didepannya.
"Cuma mau ngingetin aja, seperti biasa elo kerumah gue"
__ADS_1
"Ngapain? kan belajar bareng nya udah kelar, kita udah selesai olimpiade kan"
"Bukan berarti olimpiade kelar, kontrak Lo juga udah kelar!" Malvin menatap tajam gadis mungil didepannya itu.
"Ehh!"
"Trus emang, gue disuruh apa ke rumah lo?"
"Gue yang bakal pegang perusahaan papa kelak, tugas lo adalah bantu gue nyelesain pekerjaan kantor" titah Malvin
"Kok bisa gue? gue ga tau apa apa tentang perusahaan Vin, gue ga mau buat kesalahan apalagi itu tentang perusahaan milik papa elo" tolak.
"Gue cuma suruh lo buat nata nata semua berkas yang udah gue selesain, juga buat ngambilin keperluan gue"
Rachel pun hanya mengangguk dan ber "oh" ria, kini ia tau maksud Malvin.
"Tapi seperti biasa, gue dibatasi cuma sampai jam setengah 5 sore"
"Iya"
Setelah memberitahu hal tersebut, Malvin pun kembali melakukan aktivitasnya diwaktu istirahat ini, sedangkan Rachel masih melanjutkan membaca sambil menunggu bel masuk berbunyi.
Hingga tak terasa, bel pulang telah berbunyi, menandakan waktu pulang telah tiba, semua murid terlihat bergembira, keluar kelas dengan semangat.
Seperti kemarin, Rachel pulang ditemani oleh remaja yang selama ini mengisi hatinya, yaitu Rafa.
Mereka berdua pulang bersama, menaiki sepeda masing masing, mengobrol diperjalanan dan juga bercanda tawa seakan dunia milik berdua, ucap kalangan para ABG.
Saat telah sampai didepan rumah Rachel, Rachel pun melambaikan tangan pada Rafa dan juga tak lupa menyuguhkan senyum manisnya.
Rafa hanya membalasnya dengan anggukan dan senyuman, sungguh tampannya.
"Assalamualaikum, Rachel pulang!" Rachel nampak ceria saat memasuki rumah sederhananya.
"Waalaikumsalam" saut tante Nindi menghampiri keponakannya.
Tak lupa, Rachel mencium punggung tangan tantenya, seperti yang ia lakukan biasanya.
__ADS_1
"Tante, Rachel minta izin boleh?"
"Mau kemana?"
"Kerumah tante Silvia, so- soalnya ehmm... Malvin sama Kevin minta bantuan aku buat diajarain Matematika" ucap Rachel yang jelas berbohong.
"Beneran?" tanya tante Nindi menyelidik, Rachel hanya mengangguk samar.
"Yaudah boleh, tapi pulangnya seperti jadwal, jangan seperti waktu lalu yang pulang sampai habis Maghrib, ga baik anak perempuan pulang malem dari rumah yang ada anak cowoknya bisa menimbulkan fitnah"
"Iya tante" Rachel tersenyum simpul.
Lalu ia bergegas membersihkan diri, dan kembali mengayuh sepedanya menuju rumah super megah tersebut.
Sesampainya disana, tak asing lagi, pak satpam langsung membukakan gerbang tanpa harus memberikan penjelasan.
"Makasih pak" ucap Rachel sungguh ramah.
"Iya nak"
"Ehm sebentar nak" pak satpam kembali memanggil Rachel, membuat Rachel menghentikan langkahnya.
"Iya?"
"Bapak mau tanya, nak Rachel ini kenapa begitu dekat dengan den Malvin? soalnya dari sekian anak seumuran nak Rachel yang masuk kedalam rumah ini, ga ada yang seakrab dan sedekat ini dengan keluarga twins, apalagi den Malvin yang punya sifat cuek"
"Ah... ehmm... iya pak, ga tau.... mungkin Malvin menganggap saya sahabat" ucap Rachel terbata bata.
"Untung sahabatnya sesopan dan sebaik nak Rachel, bapak berharap kalian tidak hanya sebagai sahabat"
"Ha? terus apa?"
"Kelak menjadi sepasang kekasih yang sakinah mawadah warohmah" canda pak satpam dengan diiringi dengan tawa.
"Ah bapak bisa saja, ya ga mungkin lah pak, saya anak orang ga mampu, ga mungkin bisa bersanding dengan keluarga konglomerat" balas Rachel dengan tawa kecil.
Pak satpam hanya menggeleng, dan Rachel pun kembali melanjutkan perjalanannya, berjalan menuju ke pintu rumah yang jaraknya lumayan jauh dari gerbang.
__ADS_1
~•~