Rachel Dan Malvin

Rachel Dan Malvin
Penyelamat


__ADS_3

Cowok itu masih setia menatap indahnya pantai dikala langit jingga, entah menatap senja yang indah itu seperti menggores luka dihatinya. Senja tidak pernah mengingkari janjinya, pergi dan datang esok hari tak seperti seorang insan yang hanya singgah bukan menetap, yang terkadang hanya datang lalu pergi entah kemana, sama halnya seperti pelangi.


Setiap malam dirinya merenung menanti kehadiran Rachel, hanya kesunyian dan bulan yang menemaninya selama menunggu.


Hari hari terus ia lalu dengan penantian, menantikan seorang gadis pujaannya yang menghilang bagai ditelan ombak, tak ada kabar.


"Gue pingin cerita banyak hal sama elo hel, bagaimana tentang perjuangan gue selama ini menunggu kehadiran elo, mencari keberadaan elo kemana mana, gue hampir nyerah hel..." gumamnya sembari mengacak rambutnya frustasi.


"Kehilangan lo udah buat gue hancur hel, apa gue harus ikhlas biar gue bisa kembali tersenyum?, tapi mengikhlaskan itu ga mudah hel, gue masih terus terbayang bayang awal pertemuan dan kenangan kenangan kita. Tanpa adanya elo gue ga bisa senyum seceria dulu, elo udah banyak merubah gue..."


Seperti lukisan yang sangat indah namun tak terjelaskan, sama seperti rasa perih dan kehilangan yang tersamarkan oleh cinta yang sebentar. Belum sempat menggenggam, tapi kehilangan lah yang ia alami. Itulah yang sedang Malvin rasakan saat ini, cintanya bagai ditarik ulur oleh keadaan.


"Akhh!..." pekik Malvin saat merasakan pusing yang begitu hebat.


****


Rachel pura pura tertidur, ia tau kalau wanita itu datang lagi dan berdiri didepannya.


"Bangun!" bentaknya kemudian berjongkok didepan Rachel. "Bauu" cibirnya sembari menyumpat hidungnya menggunakan tangannya.


Rachel tetap memejamkan matanya, ia malas melihat wanita itu yang sangat membosankan baginya, setiap hari datang dan tak henti menyiksanya hingga banyak luka memar disekujur tubuh Rachel.


'kenapa ga ada orang yang bisa nemuin gue sih disini? apa mereka ga peduli sama gue?' batin Rachel terus memejamkan matanya.


"Woi bangun!" bentaknya lagi kemudian mencengkeram kedua pipi Rachel, Rachel pun membuka matanya. Kali ini wanita itu datang tidak bersama penjaga, sehingga mudah untuk kabur pikirnya.


Tangan kanannya langsung membuka topeng wanita itu, membuat kedua manik mata Rachel membulat penuh, begitu terkejutnya siapa wanita yang selama ini menculiknya.


"Elo!" pekik Rachel, sontak membuat wanita itu menampar pipi Rachel begitu keras.


Rachel pun membalas perlakuan wanita itu, ia menekuk kedua tangan wanita itu dibelakang punggungnya, lalu membalas tamparan yang sempat ia terima tadi pada wanita itu, kemudian dengan beraninya Rachel mendorong kasar wanita itu hingga terbentur pada jeruji besi, dahinya berdarah akibat benturan itu dan tak sanggup berdiri, hingga pingsan didalam sangkar, Rachel pun dapat lolos keluar dari sangkar kumuh yang ia tinggali 5 bulan lamanya.


Ia melihat dua penjaga didepan pintu utama, jika ingin keluar dari gudang jelek ini maka Rachel harus melewati pintu utama, tak ada pintu atau jendela lain didalam rumah tak terpakai itu atau lebih tepatnya gudang.


Rachel berfikir sejenak memikirkan jalan keluarnya sembari bersembunyi dibalik pot besar, untung saja wanita itu belum terbangun dari pingsannya.


'tenyata elo berani main sekejam itu, lo sebenci itu ke gue, liat aja gue bakal laporin elo setelah gue bebas dari jeratan elo!' batinnya, emosinya sudah memuncak.


Rachel tersenyum smirk setelah menemukan jalan keluarnya. Ia mengambil mengeruk tanah dengan tangannya, lalu digenggamnya dan berjalan santai menuju dua penjaga itu.

__ADS_1


"Hai!" sapanya dengan lambaian tangan, kedua penjaga itu pun menoleh ke belakang dan melihat Rachel yang terbebas.


Keduanya saling tatap, kebingungan. Apakah bosnya membebaskan gadis itu dengan mudah? karena belum yakin, salah satu penjaga itu mencengkeram tangan Rachel tak membiarkannya lolos dan yang satunya berlari untuk memanggil bosnya.


"Bos pingsan! jangan biarin dia kabur!"


"Telat!" ucap Rachel dengan tersenyum, kemudian menyiramkan tanah yang ia genggam ke kedua mata penjaga didepannya itu, lalu ia menendang alat kelamin lelaki itu hingga dia kesakitan, tak bisa berkutik lagi, sehingga mudah bagi Rachel untuk kabur.


Hari sudah malam, jalanan tidak terlihat, tak ada pencahayaan satu pun, ditambah lagi gudang tempat Rachel dikurung berada ditengah tengah hutan, dan sangat sulit untuk keluar dari hutan itu jika dimalam hari.


Dengan penuh ketakutan, Rachel terus berlari tak akan membiarkan mereka bisa menangkapnya lagi, Rachel berlari melewati pepohonan besar, tumbuh tumbuhan yang menghalangi jalannya, dan jalanan yang terlihat samar samar dengan tanah yang sedikit basah, dengan penuh kayakinan ia terus melewati jalan itu berharap ada orang yang menolongnya.


"Tolong!!!"


"Tolong!!!"


Teriaknya.


****


Malvin masih bersantai didepan pantai, meskipun langit sudah gelap, waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam, namun Malvin tetap tidak ada niatan untuk pulang kerumahnya sebelum menemukan Rachel.


Lelaki itu masih tetap dengan pandangan kosongnya, melihat ombak dimalam hari yang terlihat samar, pikirannya terus dipenuhi dengan bayangan Rachel, rasa penyesalan dan rasa bersalah terus menghantuinya, ia sangat ingin meluapkan isi hatinya pada Rachel.


Tepat sekali pantai itu dekat dengan hutan, entah mengapa Malvin tidak ada rasa takut sama sekali, bersantai dipantai dekat hutan dimalam hari yang gelap tanpa penerangan dan tak ada orang satupun didekatnya.


"Tolong!!!!"


Lagi lagi suara itu terdengar.


'apa itu halusinasi gue?' batin Malvin.


Namun suara minta tolong itu terus terdengar ditelinganya, semakin jelas saat Malvin berjalan mendekat ke arah hutan.


"Tapi mana ada cewek main ke hutan malam malam, sendirian. Kalo bukan ghost" gumam Malvin, bergidik ngeri.


"Tapi kalo itu beneran cewek minta tolong, kalo dia lagi dalam bahaya.... gue ga bantuin dia.... gue bakal ngerasa bersalah banget" ucapnya terus berfikir.


"Aaaaa bodoamat! bentar!!!!" saut Malvin dengan teriakannya, kemudian menyalakan cahaya dari handphonenya dan berjalan perlahan memasuki hutan.

__ADS_1


Gadis itu terus berlari, berharap ada pertolongan, sedangkan dibelakang sana dua orang lelaki bertubuh kekar terus berlari mengejar gadis yang penuh ketakutan itu, air matanya terus keluar saking takutnya.


"Woi!!! elo dimana!!!" teriak Malvin berharap cewek itu mendengarnya.


Rachel terdiam, ia mendengar suara teriakan lelaki dari kejauhan. 'apa ada orang lain disini? gue harus terus cari sumber suara itu' batinnya.


"Woi!!! elo dimana?!! kalo ga nyaut gue tinggal!!!" teriak Malvin, badannya mulai merinding, bulu kuduknya berdiri. Cowok itu mulai takut, ia pikir suara minta tolong tadi bukan berasa dari manusia.


Malvin hendak melangkah mundur, kembali ke pantai.


"Tolongin gue!!!! siapapun elo tolong!!!" balas teriak Rachel.


'itu orang kah?' batinnya, matanya membelalak saat mendengar suara langkah kaki dan melihat gadis yang berlari dari kejauhan.


Malvin mulai melangkah mundur dengan perlahan, karena ia yakin itu bukan manusia, perasaannya bercampur aduk, kali ini ia benar benar takut, tapi ada sesuatu yang mengganjal dihatinya, masih ada keyakinan kalau seseorang yang berlari didepannya adalah seorang manusia.


"Gue disini!! didepan elo!!" teriak Malvin meyakinkan sembari mengarahkan cahaya itu kearah seorang gadis yang berlari didepannya.


Meskipun jaraknya masih lumayan jauh, ia dapat melihat cahaya yang menyentrong, Rachel terus berlari sekencang kencangnya menuju ke sumber cahaya itu.


Dengan tergesa gesa dan keringat dingin yang ia rasakan, gadis itu tak akan menyerah. "Tunggu gue!!! Hah... Hah" teriaknya sembari mengatur nafas.


Tinggal beberapa meter saja dari sumber cahaya itu, namun sialnya sebuah akar pohon besar itu membuat Rachel tersandung dan terjatuh. Dua lelaki dibelakangnya tersenyum puas, gadis cantik ini takkan bisa kabur lagi pikirnya.


"Aw!!" pekiknya.


"Loh! cewek itu kemana?" ucap Malvin mulai panik, ia pun berlari ke arah suara langkah kaki cewek yang berlari tadi.


Tinggal sedikit lagi dua lelaki bertubuh kekar itu meraih kaki Rachel yang hendak beranjak berdiri. Tiba tiba....


Bugh!!


Sang pahlawan penyelamatnya datang dan memukul habis habisan dua orang lelaki itu, dia terlihat penuh amarah. Rachel pun berdiri dan bersembunyi dibalik badan cowok yang wajahnya tak begitu jelas ia lihat.


Bugh!


"Ga usah ikut campur!" bentak lelaki bertubuh kekar itu.


"Pergi sono bocah tengil!"

__ADS_1


Malvin tak menggubrisnya, ia terus memukuli dua preman itu dengan brutal, meskipun hanya sendiri tapi Malvin bisa melawannya hingga kedua lelaki bertubuh kekar itu kewalahan. Saat dua lelaki itu terlihat kesakitan dan lengah, cowok itu pun menggendong Rachel dan berlari membawanya keluar hutan.


~•~


__ADS_2