Rachel Dan Malvin

Rachel Dan Malvin
Masalah


__ADS_3

Dan terjadilah pertengkaran antara Alya dan Rachel, saling Jambak menjambak dan mencubit satu sama lain bahkan saling cakar juga, tak ada yang mau melerainya, semua hanya melihat pertengkaran kedua gadis tersebut.


Hingga akhirnya, Rafa lah yang melerai mereka, sebagai ketua kelas ia harus bijaksana dalam menyelesaikan masalah ini apalagi mereka bertengkar didalam kelas 11 MIPA A .


Rafa mencoba untuk menengahi mereka berdua, namun malah Rafa yang kena pukul oleh Rachel, kini makin menjadi jadi kedua teman Alya juga ikut campur, mereka berdua melawan Rachel, 1 lawan 3 tentu saja Rachel dan mengalami luka yang lebih parah.


"STOP BERHENTI!!" teriak bu Anggia sebagai wali kelas 11 MIPA A dan Bu Sera sebagai wali kelas 11 MIPA D .


Kedua guru tersebut datang secara bersamaan karena ada salah satu siswi yang melapor ke kantor atas pertengkaran ini.


Mau tak mau, akhirnya mereka menghentikan pertengkaran ini, terlihat banyak luka memar dan cakar diwajah Rachel begitupun diwajah Alya.


Rafa juga mengalami memar diarea wajahnya akibat dari ketidak sengajaan pukulan Rachel tadi, baru kali inilah Rachel kemarahannya memuncak.


Rachel membelalakkan matanya melihat luka yang berada di wajah dan tangan Alya, ia menyadari kesalahannya, mengapa ia menuruti rasa amarahnya hingga merasa bodoh dengan apa yang dia lakukan, masalah kecil yang menjadi pertengkaran.


"Lo ga salah hel, jangan khawatir" bisik Rafa ditelinga Rachel


Rachel mengangguk dan menatap Rafa, ia pun berjalan mengikuti Bu Anggia dan Bu Sera begitu juga dengan Alya dan teman temannya.


"Jelaskan sekarang!" ucap guru BK yang waktu itu menghukum Rachel dan Kevin saat terlambat.


Diruangan tersebut sudah ada 3 guru dan 5 murid, Rachel dan Rafa, Alya dan kedua temannya.


"Dia yang duluan nampar saya pak!" tegas Alya menunjuk Rachel dengan tatapan tak mengenakkan.


Pandangan guru BK tersebut pun beralih pada Rachel membuat gadis tersebut ketakutan akan beasiswanya jika dicabut.


"Bernakah Rachel?" tanyanya.


Rachel pun mengangguk "tapi itu karena dia yang sudah menghina ibu saya yang sudah tiada, pak. ibu saya sudah tiada tetapi dia mengikut campurkan masalah ini" jelas Rachel dengan menunduk.


Kini Alya terlihat panik, namun kedua anak buahnya tetap diam tak berkata apa apa.


"Tapi kan memang begitu pak, pasti ibunya ******, dianya aja begitu" jawab Alya dengan ketus, masih tetap saja melawan.


Rachel mengepalkan tangannya sudah tak tahan ingin memukul, matanya berkaca kaca saat mendengar ucapan menyakitkan dari Alya, sungguh tak berperasaan.


Hatinya sangat teriris mendengar ibunya dihina sejelek jeleknya didepannya sendiri.


"Jaga mulutmu Alya!! kamu anak kepala sekolah kenapa attitude mu buruk!" bentak wali kelasnya sendiri yaitu Bu Sera.


Alya hanya terdiam tetapi hatinya sangat marah mendengar ucapan Bu Sera, namun itu memang kenyataan jika attitude Alya buruk.


"Bodoamat" ucapnya dengan jutek, ia pun tersenyum sinis sambil melipat tangannya santai, membuat Rafa yang duduk disebelah Rachel menggeletukkan giginya geram pada Alya.

__ADS_1


"Rafa jelaskan sekarang dengan sesungguhnya" perintah guru BK.


Rafa menghela nafas, lalu ia mulai menceritakan kejadian yang sesungguhnya, sedangkan Rachel terus menangis hatinya sungguh sakit.


"Perbuatanmu sangat tercela Alya" ucap guru BK menurunkan nada bicaranya.


"Yah terus bapak mau apa? mau hukum saya? saya bisa saja menyuruh nenek saya memecat bapak dari sekolah ini" ancam Alya dengan enteng nya.


Ya Alya sangat berkuasa, ayahnya menjabat menjadi kepala sekolah sedangkan neneknya adalah pemilik sekolah swasta ini.


Rachel sangat terkejut mendengarnya, sedangkan Rafa biasa saja karena ia sudah tau kalau nenek Alya adalah pemilik sekolah ini.


Rachel pun menoleh menatap Rafa meminta pertolongan, Rachel tak ingin keluar dari sekolah ini, ia tak ingin membuat tante Nindi sedih dannjuga kedua orang tuanya yang sudah tiada ikut sedih.


Guru BK terdiam, memikirkan jalan terbaik.


Posisinya kini juga terancam jika berurusan dengan Alya, kini Rachel menangis sejadi jadinya, seluruh badannya bergetar ketakutan.


Ia sangat menyesal dengan perilaku bodohnya tadi akibat terpancing amarah, Rafa pun bungkam, ia tak memiliki kekuasaan apapun, tak bisa berbuat apa apa, apalagi tau kalau apapun keinginan Alya akan dikabulkan oleh neneknya karena Alya adalah anak tunggal yang berarti cucu satu satunya, tak ada lagi saudara atau sepupu.


Alya tersenyum riang, ia tertawa kemenangan bersama kedua temannya.


"Gue ga akan bilang ke nenek soal ini, dan pak Dean ga akan dipecat asalkan Rachel keluar dari sekolah ini!" ucap Alya sungguh berkuasa.


Rachel membelalakkan matanya, ia pun berlutut dikaki Alya memohon agar ia tak dikeluarkan dari sekolah impiannya ini.


"Cihh ogah, siapa suruh udah berani sama gue" Alya mendorong Rachel menggunakan kakinya.


"Rachel bangun!" titah seseorang yang suaranya sangat familiar.


Semuanya menoleh, terlihatlah saudara kembar yang tiba tiba masuk dengan tatapan tajam melihat ke arah Alya.


"Sekolah ini bisa gue beli dalam waktu 15 menit, jadi lo jangan sombong dan seenaknya" ucap Kevin menunjuk Alya.


Rachel menghampiri twins, entah darimana mereka tau tentang kasus ini yang Rachel pikirkan sekarang hanyalah bagaimana caranya agar dia tak dikeluarkan dari sekolah ini.


"Tenang aja, lo ga bakal dikeluarin" ucap Malvin yang tau akan batin Rachel, ia pun mengelus lengan Rachel mencoba menenangkannya.


"Makasih banyak" Rachel mengusap air matanya merasa lega.


Alya semakin marah, ia menggebrak meja didepannya, ia tau kalau keluarga Kevin dan Malvin adalah keluarga terkaya di Asia tenggara ini, untuk membeli sekolah ini, keluarga mereka hanya dapat menjentikkan jarinya dan semua akan beres.


"Malvin, apa lo ga inget gue pernah nolong nenek lo?" bentak Alya.


"Inget, kenapa?" jawab Malvin santai, ia pun duduk disebelah Rachel.

__ADS_1


Alya semakin geram "elo punya hutang Budi ke gue!"


"Kan udah gue bayar. Gue udah mau jadi pacar lo selama 5 bulan, dan itu emang perjanjiannya kan?" jawab Malvin dengan santainya.


Kini Alya terdiam frustasi, apa yang harus ia lakukan sekarang, tanpa pamit ia pun keluar dari ruang BK diikuti dengan kedua temannya.


Rachel masih menangis dengan reflek memeluk Malvin disampingnya, membuat Kevin dan Rafa menganga, kedua laki laki yang menyukai Rachel dibuat terkejut dengan apa yang mereka lihat sekarang.


Malvin hanya diam tak membalas pelukan Rachel tetapi ia tak menolaknya, pelukan Rachel membuat jantungnya berdegup lebih kencang.


"Makasih ya, kalian bertiga udah nolongin gue, gu-gue harus bagaimana buat balas kebaikan kalian" Rachel melepas pelukan Malvin, kini ia menatap ketiga lelaki yang telah membantunya.


"Iya sama sama, kita temen harus saling membantu apalagi elo ga salah, kita harus ngebela yang benar" ucap Rafa merangkul Rachel.


"Iya hel" saut Kevin dengan merangkul Rachel juga, kini Rafa dan Kevin saling tatap berebut Rachel.


"Heem" dehem Malvin membubarkan pertikaian yang akan terjadi tersebut.


Malvin pun keluar tanpa permisi.


"Makasih banyak pak Bu, permisi" ucap Rachel sopan keluar dari ruang BK diikuti dengan Kevin dan Rafa.


Keluar dari ruang BK, Malvin tersenyum sepuas puasnya entah mengapa ia sangat suka Rachel memeluknya.


****


"Ini minumannya, btw kok lo tiba tiba dateng ke sekolah?, kan elo masih sakit" tanya Rachel sembari menyodorkan Aqua yang ia pegang pada Malvin.


Malvin pun meminumnya lalu menjawab pertanyaan Rachel yang sepertinya sudah tak tahan mendengar jawaban Malvin "Gue udah sembuh, gara gara ini" jawab Malvin seraya menunjuk jaket yang ia kenakan.


Jaket pemberian Rachel lah yang dikenakan Malvin saat ini, jaket sederhana nan murah bikinan sendiri dengan warna biru langit yang kalem.


Rachel menganga tak percaya, ia baru sadar jika Malvin sedari tadi mengenakan jaket buatannya yang ia berikan kemarin.


Sebelumnya ia memikirkan Malvin jika tak mau memakai jaket tersebut, namun dugaan Rachel salah.


"Lo pake? beneran?" Rachel terlihat antusias.


"Udah deh jangan lebay, ini aja karena gue suka sama bahannya yang hangat dan lembut, warnanya juga bagus, tepat warna kesukaan gue" jawab Malvin, kini Malvin bisa berbicara panjang lebar hanya dengan Rachel dan Kevin saja.


Meskipun dengan orangtua dan neneknya, ia tak pernah berbicara panjang lebar seperti itu.


Rachel tersenyum senang "oke gue ga peduli apapun alasannya, yang penting gue seneng lo mau pake pemberian dari gue, makasih ya" Rachel bersorak riang.


"Ya" jawabnya sungguh singkat.

__ADS_1


Rachel terdiam, dan kembali menatap Malvin yang mengenakan jaket tersebut semakin terlihat tampan.


~•~


__ADS_2